Kita Putus

1110 Words
Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu berganti. Hubungan Seza dan Altha masih seperti biasa. Meskipun banyak rintangan yang datang dalam hubungan mereka, tapi Altha dan Seza masih bisa mempertahankan hubungan mereka. Sifat Seza semakin ke sini semakin manja. Dia sangat bergantung pada Altha. Apa pun yang dilakukannya harus ada ikut campur tangan Altha. Awalnya memang Altha yang salah karena terlalu memanjakan Seza. Dan karena kebiasaan itulah Seza berubah, dia tak bisa lagi menjalani hari-harinya tanpa Altha. Bahkan sekedar hal kecil pun Seza tetap masih bergantung dengan Altha. Contohnya saja Seza yang tak pernah ingin mengambil barang-barangnya walaupun posisinya dekat dengan dirinya, dia lebih nyaman jika Altha yang mengambilkan itu untuknya. Awalnya juga Altha senang dan bahagia karena Seza bertanggung pada dirinya. Namun semakin ke sini dan semakin banyak ejekan serta cemooh yang dia dapatkan, membuat Altha sedikit berubah pikiran. Altha siap melakukan apa pun untuk Seza, namun kadang-kadang Seza tak tau waktu dan tempat. Dia selalu menyuruh Altha di depan umum, dan jika Altha tak mau menurutinya, Seza selalu mengancam ingin putus. Alhasil meski harga dirinya di depan orang-orang turun, Altha tetap menuruti Seza. Dia lebih takut kehilangan Seza dari pada kehilangan hara dirinya. Terkadang Altha malu jika diejek terus-terusan oleh teman-temannya sekampusnya, tapi ya mau bagaimana lagi? ini demi orang yang dicintainya. Altha juga kadang merasa bosan dan jengah, tapi dia tak bisa membubarkan hubungan yang ia rajut dengan cinta begitu saja. "Sayang, aku mau nyalonin jadi Presma," ungkap Altha pada Seza. Saat ini dia dan Seza sedang berada di kantin. "Oh ya? kenapa kamu mau nyalonin jadi Presma? tujuannya apa? dan apa yang buat kamu tergiur jadi Presma?" tanya Seza sambil menyanggah dagunya dengan tangannya. "Ya aku mau nyalonin karena menurut aku untuk jadi Presma itu aku cocok. Lagi pula orang-orang banyak yang nyaranin aku buat jadi Presma, mereka bilang aku cocok dan pasti akan klop kalau jadi Presma. Melihat bagaimana riwayat aku di kampus ini, kegiatan aku di kampus maupun di organisasi. Mereka bilang aku aktif dan punya jiwa pemimpin. Itu sebabnya mereka nyuruh aku nyalonin diri jadi Presma," jelas Altha panjang lebar. Seza mengangguk mengerti. Memang Altha adalah orang yang sangat aktif. Altha aktif di organisasi, di acara-acara kampus, dan dia juga sering ditunjuk menjadi ketua panitia acara yang kampus laksanakan. "Yaudah kalau itu keputusan kamu. Aku cuma bisa dukung aja. Selagi kamu enjoy dengan itu, yaudah aku izinin. Tapi asal jangan ngomel di tengah jalan ya. Jadi Presma itu banyak tugas dan tanggung jawabnya, otomatis juga kamu bakalan sibuk dan pasti capek dengan itu. Jadi kalau nanti kamu mengeluh, atau ngomel-ngomel gak jelas, gak bakalan aku mau dengerin. Itu kan keputusannya kamu," balas Seza yang sudah mewanti-wanti. "Iya, sayang. Aku gak akan ngeluh kok. Apa lagi ngomel-ngomel sama kamu. Aku cuma butuh kamu untuk menyenangi aku aja, aku butuh kamu untuk selalu ada di sisi aku, dukung aku terus. Kasih nasihat kalau aku lagi ada di jalan yang salah. Begitu aja aku uda cukup." Altha tersenyum, mengelus puncak kepala Seza dengan sayang. "Iya-iya. Tolong ambilin tas aku itu dong," mata Seza mengarah ke bangku yang ada di samping Altha. "Ya ampun, kamu kan sampe buat ambil sendiri. Masa gitu aja make nyuruh aku sih. Ambil sendiri gih, jangan terlalu pemalas." Altha menolak. Seza mengerucutkan bibirnya, menatap tajam ke arah Altha. "Ooh gitu, kamu uda gak sayang sama aku lagi? kamu gak mau nurutin apa yang aku mau lagi?" tanya Seza kesal. "Oke kalau gitu, kita putus aja. Buat apa punya hubungan kalau yang satunya gak sayang? uda lah hubungan kita sampai di sini aj-" "Ehh!! apaan sih?" potong Altha cepat. "Ngapain bawa-bawa putus? cuma karena gak diambilin tas malah ngancam putus. Apaan sih kamu? aneh banget. Ngapain gitu-gitu coba? senang kamu kalau pisah sama aku, iya?" tanya Altha geregetan. Dia paling tak bisa mendengar kata-kata putus dari mulut Seza. "Ya abisnya kamu, gitu aja gak mau ngambilin. Aku cuma minta ambilin tas, bukan minta duit 2 milyar. Emangnya susah banget ya? kalau gitu mah tandanya kamu gak sayang lagi, gak perhatian lagi sama aku. Nah kalau gak sayang dan perhatian lagi untuk apa hubungan kita diteruska-" "Sttt!!!" Altha langsung membekap mulut Seza. "Jangan ngomong gitu lagi! aku gak suka!" ujar Altha menuntut. "Kamu juga bisa ambil sendiri? apa ribetnya? tangan kamu juga sampe kan ambilnya? dan kalau itu yang jadi masalah, oke bakalan aku ambilin. Bakalan aku turuti apa aja yang kamu mau, asal kamu jangan bilang-bilang putus, jangan bilang-bilang udahan," Altha menatap Seza serius. "Aku gak suka dengarnya. Aku gak suka dengar kata-kata pisah. Hal yang gak pengen aku dengar dan aku pikirkan adalah perpindahan hubungan kita. Itu gak akan terjadi, aku paling anti dengan itu. Jadi aku mohon, jangan bicara tentang itu, aku gak suka!" tegas Altha serius. Seza memutar bola matanya malas. Kenapa Altha jadi marah dengannya? toh yang awalnya salah kan Altha Altha mengambil tas Seza di atas bangku yang ada di sampingnya dan sekitar berjarak 6 jengkal dari Seza berada. "Ini tas kamu," Altha memberikan tas itu pada Seza. "Jangan pernah kamu ulang kata-kata itu lagi. Aku gak suka!" peringat Altha tegas. Seza memutar bola matanya malas. Dia sudah bad mood karena di omelin Altha. Seza berdiri, mengambil tasnya, lalu kemudian dia pergi meninggalkan Altha sendirian. "Hey!! mau ke mana kamu?" teriak Altha mengejar Seza. "Enak aja marah-marah ke gue. Mama papa gue aja gak pernah marah ke gue. Lah dia? dengan seenak jigong dia marah-marah ke gue!! ck, kampret!!" Seza mengomel sepanjang jalan. Dia benar-benar pada Altha. "Seza!! tunggu!! kamu mau ke mana? ayo kita jalan!" teriak Altha yang sedang mengejar Seza. Suasana kampus sangat ramai, dia kesusahan untuk mengejar Seza yang malamnya sangat cepat. Seza langsung berjalan menuju parkiran. Untung saja dia bawa mobil tadi. Firasat Seza mengatakan kalau dia harus bawa mobil. Dan ya, firasatnya memang benar. "Seza!!" di parkiran sudah lengang, membuat Altha bisa lebih leluasa mengejar Seza. Karena Altha sudah dekat dengannya, Seza langsung buru-buru masuk ke dalam mobilnya. "Seza tunggu dul-" Brakk!!! Seza menutup pintu mobilnya kuat. Lalu dia langsung menghidupkan mesin mobilnya. Melihat itu membuat Altha semakin panik dan berlari sekuat tenaga mengejar Seza. Tokk tokk tokk ... "Seza!! buka pintunya!! kamu mau ke mana? ayo turun, jangan ngambek gitu dong. Kan seharusnya aku yang kesel sama kamu. Kok malah kamu yang marah sih?" Altha bicara lewat kaca mobil Seza. Tokk tokk tokk!! "Seza!! ayo buka!" Altha kembali mengetuk-ngetuk kaca mobil Seza. Karena kesal, Seza langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "SEZA!!!!" teriak Altha kuat saat mobil Seza meninggalkannya. "Arghhh!!! anjir!!! kenapa jadi dia yang marah!!!" Altha menjambak rambutnya kesal. "Dasar perempuan!!" gerutu Altha kesal. Dia langsung berjalan menuju mobilnya, berada di kampus membuatnya semakin kesal. Lebih baik pulang dan menenangkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD