"Kenapa muka lo ditekuk gitu, hah?" tanya Aqila pada Seza.
"Kenapa? lagi berantem lo sama si Altha?" tanya Aqila lagi.
Seza menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak sama sekali. Bukan Fandra yang buat gue bad mood," bantah Seza.
Aqila menaikkan sebelah alisnya. "Ya terus siapa?" tanya Aqila tak sabaran.
"Itu si Danu. Ngeselin banget tau gak," Seza cemberut.
"Si cowok jadi-jadian itu?"
Seza mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa dengan dia? kenapa dia jadi buat lo kesel? diapain emangnya sama dia?" tanya Aqila penasaran.
"Mulutnya lemes banget tau gak, dikit-dikit nyindir gue, dikit-dikit nyindir Fandra. Sumpah nyinyir banget. Ngeselin banget!! gue jadi pengen nabok kalau dia nyinyir gitu, tapi gue masih mikir, gue masih punya otak, ya kali gue maki-maki dia di depan banyak orang," jelas Seza panjang lebar.
"Ya itu lo nya yang bodoh. Kenapa lo gak langsung maki-maki dia aja? kenapa ngeluhnya sekarang? kenapa lo keselnya sekarang? sekarang tuh gak ada dia. Coba kalau pas ada dia langsung lo babat tuh mulut lemesnya, kan abis itu dia kapok, gak berani lagi nyinyir ke elo," Aqila semakin mengomeli Seza.
"Memangnya cowok lo itu gak belaian lo apa? apa dia diam aja liat lo dinyinyirin sama si mulut lemes?" tanya Aqila geram.
"Isss ... kalau Fandra ya jelas belain gue lah. Bahkan dia marahin si Danu, dia juga ngajak Danu berantem. Gue aja yang gak enak hati. Gue takut kalau gue bakalan dihujat sama orang-orang sekampus karena Fandra dan Danu bertengkar. Ya kalau bertengkarnya karena gue kan nama gue juga yang jelek," jelas Seza menggebu-gebu.
Aqila memutar bola matanya malas.
"Kalau gitu sabar, gue yang balas. Nanti kalau lo nongkrong sama Altha dan ada dia, gue bakalan ngasih dia pelajaran," balas Aqila.
"Uda deh gak usah, entar jadi ribut,"
"Halah!! diem, gue gak terima kalau dia mojokin lo terus!! Aqila kan bertindak, secepatnya!!" ucap Aqila tak ingin dibantah.
"Lo mah gitu, kalau gue cerita dikit lo nya terus ngamuk-ngamuk. Kan gue gak mau ini jadi perdebatan," Seza cemberut, dia malas ribut.
"Bukan perdebatan, Seza. Bukan dikit-dikit ngamuk. Lo kan kenal sama gue. Berapa lama sih lo uda sahabatan sama gue? masa gitu aja lo gak paham. Gue itu paling gak suka yang namanya sahabat gue dihina-hina, dipojok-pojokin, bawaanya pengen babat abis orangnya aja. Paling anti gue," jelas Aqila berapi-api.
"Ya tapi kan gue gak mau elo dimusuhi sama si Danu. Lo kan tau Danu kek apa mulutnya, gue gak mau lo sakit hati karena dia," balas Seza sejujurnya.
"Perasaan gue juga selalu dihina dia. Kalau jumpa sama gue dia selalu cari gara-gara, dia selalu mojokin gue. Gue juga punya dendam pribadi sama dia. Ditambah elo dipojokin dia, mana gue terima. Santuy aja, entar gue mojokin dia gak bawa-bawa nama lo kok. Lo nikmati aja. Dia mah gak bisa didiemin. Kalau didiemin makin menjadi tuh mulut lemesnya," Aqila kekeuh dengan kemauannya.
Seza menghela nafasnya. "Awas loh, hati-hati," ujar Seza mengingatkan.
Aqila menaikkan sebelah alisnya bingung. "Awas? awas apa?" tanya Aqila bingung.
"Awas jatuh cinta," jawab Seza singkat.
Aqila mengerutkan dahinya bingung. "Hah? awas jatuh cinta? maksudnya?" tanya Aqila bingung.
"Ya awas jatuh cinta aja. Jangan terlalu membenci. Kata orang-orang benci itu singkatan dari benar-benar cinta. So, jangan terlalu benci sama si Danu, bisa jadi nanti di masa depan dia jodoh lo," jelas Seza panjang lebar.
Uhukkk uhukkk ...
Aqila langsung terbatuk-batuk. "Heh!! jangan sinting ya lo! enak aja mulut lo ngomong begitu, kalau ngomong tuh disaring dulu lah. Mual gue dengernya."
Seza terkekeh geli. "Ngapain juga mual? yang gue ucapin ada benarnya kok. Itu sih yang gue tau. Sepengalaman gue dan sepengatahuan gue, orang-orang yang terlalu membenci ujung-ujungnya jadi cinta."
"Terkecuali gue. Gue gak termasuk, Seza! idihhh ... gak mau gue, amit-amit. Lo bayangin aja kalau gue sama di Danu jodoh, bisa ancur deh rumah tiap hari gue sama dia perang. Bisa darah tinggi gue dengar mulut lemes dia tiap hari." Aqila bergidik ngerih.
"Nahh loh, ini aja dibayangin kalau entar jodoh. Ahh uda tanda-tanda tuh. Uda ada sinyal kalau nanti bakalan bisa akur terus saling cinta. Asekk ... bisa dobel date deh kita," Seza tersenyum lebar. Dia membayangkan jika dirinya bersama Altha dan Aqila bersama Danu. Sepertinya seru juga. Ramai dan gak akan garing pastinya.
"Iih kampret! apaan sih! ya apa salahnya ngayal? lo tau lah gue, apa-apa yang dikata orang langsung gue khayalin. Uda ahh jangan bahas si mulut lemes. Mual gue." Aqila memegang perutnya, seolah-olah benar-benar mual.
Seza tersenyum menggoda. "Mual atau deg-deg ser? jangan-jangan itu mual karena ada ribuan kupu-kupu terbang dalam perut lo," ledek Seza.
Pletak!!
Aqila langsung menjitak kepala Seza.
"Heh! mulut lo ya! bahasa lo uda kek penulis novel aja. Uda deh, jangan ngeledikin gue terus. Mikir aja tuh cara balas dendam ke si Danu, biar gue yang merealisasikannya." Aqila melarikan topik pembicaraan.
"Halah! lari dari topik pembicaraan. Tapi sejauh-jauhnya eh Danu juga yang diomongin. Ck, semakin jelas aja tanda-tanda jodohnya," ledek Seza lebih gencar lagi.
"SEZAAAA SAZKIAAA MADAA!! GUE BACOK YA LO!!" teriak Aqila kuat. Kesabarannya sudah habis.
"Nah nahh ... nah sini bacok gue kalau berani. Ini nih gue kasih kepala gue. Nahh nahh bacok nah." Seza menundukkan kepalanya di depan Aqila.
Aqila mendengus kesal. Seza benar-benar membuat emosinya meluap-luap.
Pletakk!! pletakk!!
"Awsss!!! sakit, Aqila bangke!" Seza meringis kesakitan. Memegangi kepalanya yang dijitak kuat oleh Aqila.
"Baru gue jitak aja lo kesakitan. Apa lagi gue bacok, auto mati gentayangan dah lo," balas Aqila cuek.
"Teman b*****t!"
Pletak!!
"Anjir!! sakit bibir gue, dasar Aqila gila!!" Seza langsung memegangi bibirnya yang terasa panas dan pedih karena disentil oleh Aqila.
"Mampus! makanya mulut jangan kotor," ujar Aqila kesal.
"Iih gak ngaca ya lo? emang mulut lo gak kotor? itu bahasa lo kasar bener. Gue juga belajar dari lo kali," elak Seza tak mau disalahkan.
"Ya cukup gue aja! gue emang gini, perawakan gue juga mendukung kalau gue ngomong kasar. Lah elo? coba ngaca. Gak cocok tuh mulut lo ngomong kasar. Lo itu cocoknya klemak-klemek, menye-menye," balas Aqila membela diri.
"Iih emang aneh ya lo. Gila bin sinting. Apa hubungannya gue sama penampilan? gue biasa aja, make jeans, make blouse lengan pendek, ada yang salah?" tanya Seza kesal.
"Salah lah. Lo cocok jadi kalem, elegan, kek tuan puteri yang ada di TV tuh."
Seza geleng-geleng kepala. "Ahh serah lo lah, emang aneh ngomong sama lo. Bikin sinting." Seza menyerah, tak ingin melanjutkan obrolannya lebih panjang, begini saja sudah kesal setengah mati.