“Ar? Arunika, bangun! Kenapa lo tidur disini sih?”
Arunika yang tengah terlelap itu dipaksa bangun, guncangan ditubuhnya sangat mengganggu hingga matanya terbuka perlahan. Agak menyipit sebab tirai sudah disibakan, sinar matahari masuk dan itu sangat mengganggunya membuat Arunika berbalik badan memunggungi sumber gangguan.
“Ish, jangan tidur lagi, Ar! Bangun gak?! Nanti ada satpam keliling baru tahu rasa! Mau dilaporin ke dekan kalau lo tidur di secretariat padahal gak ada acara?”
Seketika Arunika langsung mendudukan dirinya, matanya terbuka mencoba untuk fokus. Sore kemarin setelah dirinya diusir, Arunika mencari tempat untuk berteduh. Namun satu-satunya tempat yang memungkinkan bisa ia jadikan tempat tidur adalah sofa di secretariat BEM. Kuncinya juga ia pegang, jadi ia diam-diam kesini tanpa sepengetahuan satpam di depan, sebab ada aturan bahwa pengurus BEM tidak boleh menginap kecuali ada acara, itu disebabkan karena sebelumnya di Himpunan Mahasiswa Fakultas Teknik sempat menjadikan secretariat mereka sebagai tempat berpacaran, beritanya viral hingga aturan tersebut pun berlaku.
Restika sedari tadi menunggu Arunika mengumpulkan kesadarannya. Berdiri dengan tangan terlipat di daada. Niatnya kesini untuk mengambil charger laptop yang tertinggal, tapi malah melihat sang ketua BEM tengah terlelap di sofa. “Gue lihat ada koper di depan. Lo diusir?”
“Iya, makannya tidur disini dulu. Lagian kan ini hari minggu, jadi biarin gue disini dulu. Mau tidur. Nanti sore gue baru pindah.”
“Pindah kemana? Lo emang punya duit? Gue yakin enggak sih, kan diusir sama Paman Bibi lo juga pasti karena gak ada duit ‘kan?”
Arunika terkekeh. “Pinter banget lo nebaknya. Bener loh.”
“Gak usah cengengesan, ini nasib lo gimana, Ar? Lo mau tinggal dimana. Mana kita bentar lagi mau ngadain Forum Debat. Jangan sampe lo nyari kerja sampingan terus posisi coordinator gak ada.”
“Enggak lah, lo tenang aja. Gue ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, mana mungkin gak bertanggung jawab,” ucap Arunika meraih botol air di meja dan meminumnya. “Gue mau ke kosannya si Lisa dulu kayaknya. Disana ada dapur ‘kan? jadi gue bisa sambil bikin cookies juga.”
“Lo gak tau ‘kah si Lisa udah dapet temen sekamar?”
Arunika langsung diam, padahal Lisa satu-satunya kenalan yang bisa ia tumpangi hidup sementara waktu. Restika tidak memungkinkan karena ia juga punya teman kostan.
“Mau gue pinjemin duit? Sebenarnya gue juga gak banyak sih, pinjem aja sama yang lain. Atau pake duit BEM aja dulu. Gimana?”
“Enggak,” jawab Arunika cepat.
Ia tidak akan pernah mau memakai uang BEM untuk keperluan pribadi. Hanya saja, kemana ia akan pergi sekarang disaat uang pun tidak ia miliki sepeserpun? Kemudian dalam benaknya tiba-tiba teringat kalimat yang disampaikan oleh Mahadewan, “Fokus pada Noelle, maka saya akan berikan apa yang kamu mau. Apa kamu juga perlu saya berikan biaya hidup? Kamu miskin bukan?”
Awalnya terasa hina dan menyebalkan, tapi kini Arunika merasa sangat membutuhkannya.
“Yang bener nih lo mau gimana? Gue ada nih duit 100rebu buat lo dulu. Mau dipake?”
Bukannya menjawab, Arunika malah meraih ponselnya di saku hendak menghubungi seseorang, tapi….. ponselnya mati.
“Udah jatuh, tertimpa tangga pula. Sial banget sih hidup lo, Ar. Itu kayaknya hape begitu karena ketindihan deh sama lo.”
Terkadang jika hal seperti ini terjadi, Arunika bertanya pada dirinya sendiri, “Apa bene rya gue pembawa sial?”
****
“Oma sama Opa gak kesini?” tanya Noelle dengan mata berbinarnya saat Mahadewan menyuapinya.
“Masih sibuk, secepatnya kesini kok.”
“Kak Nika?”
“Hmmm? Arunika?”
Noelle mengangguk sembari membuka kembali mulutnya. “Katanya mo kesini, kan minggu, Pah….,” rengeknya, kakinya mulai bergesekan dengan selimut, tampak jelas akan menangis sebentar lagi.
Sebenarnya pertanyaan ini sudah dilontarkan berapa kali oleh Noelle pada pengasuh dan perawatnya, Mahadewan bahkan sengaja menghindarinya. “Sebentar lagi kesini, masih sibuk, ada tugas kuliah.”
“Ouhh… masih belajar?”
“Iya, masih belajar.” Padahal anak itu tidak bisa dihubungi oleh Mahadewan, membuatnya kesal sekali. Awas saja kalau bertemu nanti. “Jangan ceritakan tentang Kak Arunika pada Oma dan Opa ya?”
“Huh? Kenapa?”
“Jadi rahasia kita dulu. Ingat tidak dulu Papa kasih adek apa kalau jaga rahasia?”
Matanya langsung berbinar. “Boneka?”
“Iya, ade mau yang besar ‘kan? Tapi rahasiakan ini ya.”
Anak itu langsung mengangguk, kemudian menggeleng lagi. manik hitamnya kini tampang bimbang dan bingung. “Tapi….. kenapa harus rahasia? Kan nanti Tante Arunika jadi Mamanya Noelle kan?”
“Oh iya, tapi Noelle harus sembuh dulu. Nah, selain itu juga dijadikan kejutan untuk Oma dan Opa. Jadi rahasiakan kalau di aitu pacarnya Papa, oke? Mereka juga sibuk dan banyak pekerjaan, bagaimana kalau nanti tiba-tiba disuruh menikah? Noelle masih di rumah sakit, tidak bisa ikut acara pernikahan ‘kan?”
Anak itu langsung cemberut seketika. Sementara Mahadewan merasa sedikit lega, setidaknya kekacauan ini tidak akan sampai keluar. Cukup sampai Noelle sembuh saja, setelah itu jikapun Arunika pergi, maka Mahadewan akan mudah mengajaknya jalan-jalan ke luar negara dan bertemu dengan wanita yang mungkin akan benar-benar menarik hatinya.
Kalau harus sampai dengan Arunika, rasanya tidak mungkin. Jauh sekali dari typenya. Tapi Mahadewan sangat membutuhkannya sekarang ini. Bahkan beasiswa yang sudah ditarik pun sampai akan dikembalikan, demi kesembuhan sang anak yang sebenarnya tidak diketahui oleh public.
Yang mereka tahu, bahwa Cakra Jagat belum memiliki cucu. Terlalu rumit untuk diceritakan.
“Tolong jaga Noelle dengan baik, jangan sampai kalian bicara hal yang tidak penting lagi,” pesan Mahadewan pada pengasuh dan perawat disana.
“Baik, Pak.”
Meninggalkan rumah sakit setelah Noelle terlelap, Mahadewan menyetir hendak kembali ke apartemen untuk istirahat. Noelle di rumah sakit pun mendapatkan ruangan terbaik, bahkan Sebagian dinding di cat dan tidak beraroma antiseptic sama sekali. Bisa saja Mahadewan tetap disana, tapi ia merasa perlu mengisi lagi tenaganya.
Lampu-lampu jalanan mulai berpendar, langit Jakarta berubah menjadi jingga. Itu tandanya macet akan segera tiba dalam pergantian waktu ini. Makannya Mahadewan menyetir dengan cepat. ingin segera istirahat. Saking lelahnya, mobil berenti di depan lobby kemudian kunci diserahkan pada penjaga disana untuk diperkirkan.
Dan mungkin campur tangan takdir juga, dimana Mahadewan biasannya tidak mau masuk lewat lobby. Tapi kali ini ia melangkah di lantai marmer yang memantulkan cahaya chandelier keemasan, dengan jendela-jendela besar layaknya bangunan istana.
Langkahnya terhenti melihat sosok yang tidak asing. “Ini dia yang susah dihubungi,” gumamnya sambil mendekat pada Arunika yang tengan dudu, ia tampak mengantuk, kepalanya bersandar pada koper besar di depannya. “Koper?”
Mendengar suara langkah, Arunika pun mengangkat pandangan dan langsung berdiri. “Pak Dewan.”
“Kenapa kamu disini?”
“Saya menunggu bapak. Ada hal yang harus saya bicarakan dengan bapak.”
“Kamu susah dihubungi.”
Arunika mengeluarkan ponselnya yang menampilkan layar putih blank. “Sekarat, Pak.”
Mahadean berdecak. “Mau apa?” tanya pria itu sembari menyilangkan tangan di daada. “Datang pada saya dengan koper dan ponsel yang rusak, pasti ada yang kamu inginkan bukan?”
Arunika menelan salivanya kasar. “Boleh bicara di dalam?”
“Disini saja, saya mau langsung istirahat begitu masuk ke dalam. Mau apa? Jangan bertele-tele.”
“Sebelumnya bapak menawarkan juga untuk membiayai kehidupan sehari-hari saya, bukan? dan ada kondisi mendesak dimana saya tidak bisa lagi tinggal dengan kerabat. Maka dari itu, saya…. Mau menerima tawaran bapak.”
Arunika berucap sambil menunduk, enggan menatap pria tinggi dihadapannya ini sebab yakin tatapan yang dilayangkannya adalah tatapan penuh ejekan. Kemarin sudah menolak dengan tegas dengan harga diri yang tinggi, sekarang memohon.
Benar saja, terdengar suara kekehan mengejek dari pria tersebut. “Oke, saya berikan kamu biaya hidup. Tapi masalah tinggal, kamu akan tinggal di apartemen saya.”
“Apa?!” matanya langsung terangkat, menatap kaget pada pria yang sepertinya tidak bercanda. “Kenapa harus satu atap dengan bapak?”
“Supaya saya mudah menghubungi dan juga mengatur kamu. dapur saya juga lengkap, kamu bisa membuat berbagai cookies dan camilan lain untuk Noelle.”
“Saya akan mencari tempat yang dekat dengan apartemen bapak. Kostan disekitar sini juga banyak.”
“Uang jajan akan saya berikan tiap minggu.”
“Bahkan yang dekat rumah sakit pun ada kostan, Pak,” ucap Arunika masih enggan kalah. “Saya tidak akan jauh-jauh mulai sekarang.”
“Sampai Noelle sembuh.” Tapi Mahadewan benar-benar mengabaikan ucapan Arunika, ia hanya melanjutkan kalimatnya yang terpotong oleh paniknya Arunika. “Baru kamu keluar dari apartemen saya.”
“Saya tidak bisa.”
“Yasudah, selamat menjadi tunawisma.”
“Eh, Pak. Bapak mau kemana? Saya belum selesai bicara. Pak?!”
Sialannnnn! Hidup arunika sepertinya akan penuh dengan emosi mulai sekarang.