“Pak—Pak, saya belum selesai bicara, Pak. Tunggu dulu!”
Arunika masuk ke dalam lift langsung bergegas menyusul. Tangannya menahan pintu lift yang hampir tertutup, lalu ia melangkah masuk dengan napas sedikit terengah. Pintu logam itu menutup perlahan, meninggalkan mereka berdua di dalam ruang sempit yang hanya dipenuhi cahaya putih dingin dan pantulan bayangan mereka pada dinding stainless.
Mahadewan berdiri dengan tenang di sudut lift, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia tidak menoleh sedikit pun ketika Arunika masuk, seolah keberadaan gadis itu tidak terlalu penting untuk diperhatikan.
Arunika menelan ludahnya, lalu memulai dengan suara yang masih berusaha dijaga tetap tenang.
“Pak, saya sudah bilang saya mau membantu Noelle. Saya akan tetap datang ke rumah sakit, menemani dia saat pengobatan, bahkan membuatkan camilan yang dia suka. Tapi… saya tidak harus tinggal di apartemen Bapak.”
Mahadewan akhirnya menoleh sedikit. Tatapannya datar. “Tidak harus?”
“Iya,” jawab Arunika cepat, berusaha terlihat yakin. “Saya bisa tinggal di kos dekat sini atau dekat rumah sakit. Saya tetap bisa datang kapan saja kalau dibutuhkan. Tidak perlu tinggal satu atap.”
Lift bergerak naik perlahan.
Mahadewan menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan, tawa yang terdengar lebih seperti ejekan daripada hiburan. “Kamu pikir saya menyuruh kamu tinggal di apartemen saya karena saya tertarik pada kamu?”
Kalimat itu membuat Arunika terdiam sejenak.
“Jangan terlalu percaya diri, Arunika. Kalau saya tertarik pada perempuan, pilihan saya tidak akan jatuh pada seseorang yang bahkan tidak bisa membuka kulkas di dapur saya.”
Wajah Arunika langsung memerah, antara malu dan kesal. “Bukan itu maksud saya—”
“Alasan kamu harus tinggal di apartemen saya bukan karena kamu menarik. Tapi karena kamu merusak sesuatu yang sangat penting. Kamu tidak lupa ‘kan?”
“Pak, saya sudah minta maaf soal itu! Saya tidak sengaja! Kita juga sudah punya kesepakatan.”
“Dan sekarang kondisinya rusak karena kopi yang kamu tumpahkan.”
“Tapi kan bisa diperbaiki—”
“Restorasi,” potong Mahadewan. “Dokumen itu harus melalui proses restorasi arsip supaya bisa dipulihkan.”
Arunika terdiam.
Mahadewan menyilangkan tangan di d**a. “Selain itu,” lanjutnya, “kakek saya meminta saya menulis ulang kajian hukum yang berkaitan dengan jurnal tersebut. Saya butuh seseorang yang cukup cerdas untuk membantu risetnya.” Tatapan pria itu kembali menilai Arunika dari ujung kepala hingga kaki. “Kebetulan kamu cukup pintar untuk itu.”
“Jadi… saya harus tinggal di apartemen Bapak hanya karena itu?”
“Ini bukan permintaan, Arunika.” Suaranya turun satu tingkat. “Ini perintah.”
Kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.
“Hidup saya bukan milik Bapak,” serunya. “Saya bahkan sudah berbohong pada Noelle demi membantu Bapak.”
Mahadewan menatapnya tanpa ekspresi. “Kalau begitu kita hentikan saja semuanya.”
Arunika langsung membeku.
Mahadewan melanjutkan dengan nada yang tetap dingin. “Beasiswa akan saya cabut kembali.”
Arunika terdiam.
“Semua anggota BEM yang terbukti melakukan korupsi akan saya proses secara disiplin.”
Wajah Arunika mulai pucat.
Mahadewan menambahkan satu kalimat lagi dengan suara yang jauh lebih pelan. “Dan soal jurnal yang kamu rusak… mungkin sebaiknya saya laporkan juga pada Adipati Jagat, kakek saya.”
Lift berhenti. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan lorong privat yang sunyi dengan lantai marmer putih mengilap. Mahadewan melangkah keluar tanpa menunggu Arunika, namun gadis itu tetap mengejarnya dengan langkah cepat.
“Pak, tunggu—” Langkahnya tersandung kaki sendiri. “Ah—!”
BRUK.
Tubuh Arunika jatuh di lantai marmer lorong itu. Rasa nyeri langsung menjalar dari pergelangan kakinya. Kopernya bahkan menindih tubuhnya sendiri.
“Shh… sakit…” desisnya sambil memegangi kaki.
Mahadewan yang sudah hampir masuk ke dalam unit penthouse berhenti. Ia menutup mata sejenak, menghela napas panjang seperti seseorang yang sedang mencoba menahan kesabaran terakhirnya.
Beberapa detik kemudian ia berbalik. Pria itu berjalan kembali mendekati Arunika, lalu berjongkok di depannya.
“Ah, duh, sakit.” Kali ini Arunika sulit berdiri.
Mahadewan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan nada datar, “Kalau kamu tinggal di apartemen saya…”
Arunika mengangkat wajahnya.
Mahadewan melanjutkan satu per satu. “Beasiswa kamu dikembalikan.”
Arunika terdiam.
“Biaya hidup kamu saya tanggung.”
Ia masih tidak bergerak.
“Jurnal yang rusak tidak akan saya permasalahkan.”
Napas Arunika semakin berat. Mahadewan menambahkan kalimat terakhir. “Dan anggota BEM yang melakukan kesalahan tidak akan saya proses.”
Lorong itu mendadak terasa sangat sunyi. Arunika menunduk. Pikirannya berputar, menimbang semuanya sekaligus.
Akhirnya…
perlahan… ia mengangguk.
Mahadewan tidak berkata apa-apa lagi.
Namun detik berikutnya tubuh Arunika tiba-tiba terangkat dari lantai. “Pak?!”
Mahadewan sudah menggendongnya begitu saja. “Pak! Turunkan saya!”
“Diam,” ucapnya singkat. “Pergelangan kaki kamu keseleo.”
Arunika masih berusaha meronta, tetapi Mahadewan bahkan tidak terlihat kesulitan menahan gerakannya.
“Kalau kamu terus bergerak, kamu malah memperparah lukanya.”
Arunika akhirnya berhenti melawan, hanya mendengus kesal. “Koper saya…”
“Nanti saya suruh orang bawakan.”
Mahadewan membawa gadis itu masuk ke dalam penthouse satu lantai yang luas itu. Pintu tertutup perlahan di belakang mereka, meninggalkan lorong sunyi yang tadi menjadi saksi bagaimana hidup Arunika berubah arah sekali lagi.
****
“Masih sakit, Bu?” tanya Mbak Wita sambil memijat perlahan pergelangan kaki Arunika.
Sentuhan tangannya hati-hati namun cukup kuat untuk meredakan tegang pada otot yang tadi terkilir. Arunika yang duduk di sofa ruang tamu penthouse itu berkali-kali mencoba menarik kakinya dengan rasa tidak enak.
“Sudah tidak terlalu, Mbak… tidak usah dipijat lagi,” ucapnya canggung.
Namun Mbak Wita langsung menahan pergelangan kaki itu dengan lembut. “Tidak apa, Bu. Biar saya yang memijatnya. Kalau keseleo dibiarkan, nanti malah tambah sakit.”
Nada bicaranya hangat dan santai, jauh dari kesan canggung seperti yang dirasakan Arunika. Gadis itu akhirnya menghela napas kecil, menyerah dan membiarkan Mbak Wita melanjutkan pijatannya.
“Terima kasih, Mbak,” ucapnya pelan.
Mbak Wita tersenyum sambil tetap fokus pada kakinya. “Jangan sungkan sama saya, Bu. Pak Dewan sudah bilang kalau Bu Arunika sekarang tinggal di sini. Jadi apa pun yang Ibu butuhkan, bilang saja. Itu sudah tugas saya.”
Arunika sedikit terkejut. “Tugas Mbak?”
“Iya,” jawabnya ringan. “Pak Dewan bilang Ibu harus dilayani dengan baik. Jadi jangan canggung. Anggap saja rumah sendiri.”
Kalimat itu membuat Arunika sedikit kikuk. Rumah sendiri? Rasanya aneh sekali mendengar kalimat itu di tempat yang bahkan satu hari lalu ia tidak pernah bayangkan akan tinggal di dalamnya.
Namun ia tetap mengangguk kecil. “Iya… Mbak.”
Setelah beberapa menit, rasa nyeri di pergelangan kakinya mulai mereda. Mbak Wita akhirnya berhenti memijat, lalu berdiri sambil mengibaskan tangannya pelan.
“Sudah lumayan. Nanti kalau masih sakit, saya kasih minyak lagi.”
Arunika tersenyum kecil. “Terima kasih, Mbak.”
“Sekarang saya antar Ibu ke kamar dulu. Biar bisa istirahat.”
Mbak Wita kemudian menarik koper besar Arunika yang tadi diletakkan di dekat sofa. Arunika pun berdiri perlahan, masih sedikit berhati-hati pada kakinya.
Penthouse itu ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Di bagian depan terbentang ruang tamu besar dengan sofa berwarna krem yang menghadap jendela kaca tinggi dari lantai sampai langit-langit. Cahaya siang masuk lembut menembus tirai tipis, memantulkan kilau pada lantai marmer putih yang hampir seperti cermin.
Di sisi kiri terdapat dapur modern dengan island besar dari batu granit putih, sementara ruang makan berdiri elegan dengan meja panjang yang cukup untuk delapan orang. Di sisi lain bahkan terdapat kolam renang memanjang dengan air biru jernih, seolah menyatu dengan pemandangan langit Jakarta.
Namun Mbak Wita tidak mengarah ke sana. Ia justru berjalan menuju sebuah lorong panjang di sisi kanan ruangan.
“Kamarnya di sini, Bu.”
Arunika mengikuti langkahnya.
Lorong itu terasa lebih tenang dan privat. Lampu dinding menyala lembut di sepanjang jalur, sementara karpet panjang berwarna abu muda meredam suara langkah mereka.
Di kiri dan kanan lorong terdapat empat pintu kamar.
“Ini kamar semua,” ujar Mbak Wita sambil membuka salah satu pintu.
Begitu pintu terbuka, Arunika langsung melihat kamar yang cukup luas dengan nuansa putih yang bersih dan lembut. Tempat tidur besar dengan seprai putih, meja kecil dengan lampu emas elegan, serta lemari pakaian minimalis berdiri di sudut ruangan.
“Di dalam sudah ada kamar mandi juga,” lanjut Mbak Wita sambil menunjuk pintu di sisi kiri.
Arunika mengangguk. “Terima kasih, Mbak.”
Mbak Wita kemudian menunjuk dinding di sebelahnya. “Kalau kamar Pak Dewan di sebelah sini.”
Arunika spontan menoleh. Hanya satu dinding yang memisahkan mereka. Entah kenapa pikirannya langsung terasa sedikit berat.
“Saya siapkan makan siang dulu ya, Bu. Ibu istirahat saja. Kalau butuh apa-apa panggil saya.”
Arunika tersenyum sopan. “Tidak perlu apa-apa, Mbak. Terima kasih.”
“Baik.”
Setelah itu Mbak Wita pergi kembali ke arah dapur, meninggalkan Arunika sendirian di kamar barunya.
Arunika menutup pintu pelan. Ruangan itu terasa tenang, bahkan terlalu tenang. Wangi lembut seperti bunga putih memenuhi udara, membuat suasana kamar terasa bersih dan damai.
Ia berjalan perlahan mengelilingi kamar. Interiornya sederhana namun sangat elegan. d******i warna putih berpadu dengan aksen emas pada gagang lemari, lampu meja, dan bingkai cermin besar di dekat meja rias.
Semua tampak begitu rapi dan mahal.
“Gila…” gumamnya pelan.
Arunika kemudian berjalan menuju pintu kaca besar yang mengarah ke balkon. Ia mendorongnya perlahan. Udara siang yang sejuk langsung menyambut wajahnya.
Balkon itu cukup luas dengan lantai kayu terang. Beberapa pot bunga menghiasi sisi pagar kaca transparan dengan mawar putih, lavender, dan tanaman hijau kecil yang tertata rapi.
Dari sini, seluruh Jakarta terlihat seperti hamparan bangunan yang tidak ada habisnya. Gedung-gedung tinggi menjulang, jalan raya tampak seperti garis panjang dengan mobil kecil yang bergerak perlahan di bawah sana.
Arunika memejamkan matanya sejenak.
Menghirup udara segar yang bercampur aroma hujan dari langit mendung.
Aneh. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Ia bahkan tanpa sadar tersenyum kecil. Namun suara lain tiba-tiba memecah ketenangan itu.
“Jangan merem terus ketiduran. Nanti kamu jatuh, saya yang repot.”
Arunika langsung membuka matanya. Ia menoleh ke samping.
Dan benar saja. Di balkon sebelah, Mahadewan berdiri santai sambil bersandar pada pagar kaca. Balkon itu jelas lebih luas dari miliknya, bahkan terdapat sofa outdoor dan meja kecil di sana.
Pria itu sedang merokok. Asap tipis melayang di udara yang mendung.
Arunika tersenyum hambar. Baru juga beberapa menit merasa tenang. Ia lupa bahwa kamar di sebelahnya adalah milik pria menyebalkan itu. “Maaf,” ucapnya singkat.
Mahadewan hanya menghembuskan asap rokok perlahan.
Tatapannya tetap lurus ke arah langit Jakarta yang mulai kelabu. “Bagaimana kaki kamu?”
“Sudah lumayan.”
“Nanti sore kita ke rumah sakit, dan menginap disana menemani Noelle.”
“Iya, Pak.”
“Berusahalah terlihat sangat baik di depannya. Besok ia akan mulai lagi terapinya.”
Hening. Angin balkon berhembus pelan. Arunika menatap pemandangan kota lagi, berusaha mengabaikan keberadaan pria itu. Namun dalam hatinya ia tahu satu hal.
Mulai hari ini… ia benar-benar harus hidup di bawah satu atap dengan Mahadewan. Dan itu terasa seperti awal dari masalah yang jauh lebih besar.