Selimut Pak Dekan

1876 Words

Arunika tidak tahu, kenapa tubuhnya merespon seperti ini. Demam tiba-tiba datang, atau… ini memang panas yang wajar? Atau memang karena jam sudah menunjukan tengah malam, jadi pikiran memang tidak normal? Sebab Arunika malah menikmatinya. Bagaimana…. Lidah itu masuk, bibir bawahnya dilumat hingga terasa lembab, bibir atasnya dijilat beberapa kali. Mulutnya terbuka, membiarkan Mahadewan memporakporandakan isinya. Pria itu seolah merubuhkan benteng pertahanannya, lidahnya membelit lidah Arunika, mengabsen deretan gigi, terus melumat berulang-ulang seolah kehausan hingga saliva menetes ke bawah. Hanya beberapa detik bibir terlepas untuk menghirup udara, setelahnya kembali dilumat. “Hmmphhhh!” Arunika bahkan belum bernafas dengan benar. Tangannya memukul bahu Mahadewan untuk membiarkannya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD