Dikta mencengkeram erat pergelangan tangan Hanin, memastikan Hanin tidak akan bisa dengan mudah melepaskan diri dan kabur. Biasanya Hanin akan diam saja saat mendapat kekerasan dari Dikta, tetapi sekarang Hanin tidak ingin lagi seperti itu. Dia berusaha memberontak, berkali-kali meronta agar genggaman Dikta terlepas. Namun, perbedaan tenaga membuat Hanin kesulitan melepas diri. “Lihat … kamu itu cuma sampah yang gak bisa ngapa-ngapain. Tanpa kekuasaan dari aku, kamu bukan apa-apa Hanin,” cemooh Dikta dengan senyum sinis. “Lebih baik urungkan niatmu itu.” “L-lepas!” Dikta tak mendengarkannya, ia malah menarik Hanin untuk semakin mendekat dan mencengkram dagunya. “Baiklah, karena kamu sudah mendengar rencananya. Aku akan mengubah penawarannya.” “Bagaimana kalau kamu bertahan sedikit la

