Hanina berjalan penuh semangat turun dari mobil, ia menatap gedung perkantoran yang bergaya modern di hadapannya. Lumayan besar untuk ukuran perusahaan yang baru saja dirintis, tetapi tak bisa mengalahkan besarnya perusahaan utama keluarga Permana. "Apa saya harus menunggu Nyonya atau bagaimana?" tanya supir dengan kepala tertunduk. "Bapak bisa pulang saja dulu. Nanti saya pulang bersama Attar," ucap Hanina. "Baik, Nyonya." Hanina tersenyum kecil, ia melenggang melangkah memasuki gedung perkantoran di hadapannya. Matanya menatap sekeliling gedung lantai pertama, ia menghampiri meja melingkar yang merupakan meja resepsionis. "Selamat siang, Mbak. Ruangan Pak Attar ada di mana, ya?" tanya Hanina seraya melirik ke kanan dan ke kiri. Wanita yang berada di balik meja dibuat terkejut, me

