Hai, Kakak.

1939 Words
"TERESA!" teriak wanita itu. "Berani-beraninya kau memanggil kakakmu sendiri dengan nama langsung?" Dijitaknya kepala Awan. "Dasar tidak sopan! Seharusnya kau panggil 'kakak'." Aku tidak yakin dengan pemandangan yang ada di hadapanku ini. Awan? Diperlakukan seperti itu? Luar biasa! Kuamati wajah perempuan yang telah menyelamatkan kami. Wajahnya cantik seperti bidadari. Rambutnya lurus sebahu, dengan belahan tengah. Kalau dia ikut pemilihan putri kecantikan, aku yakin dia pasti menang. Tapi kalau dilihat dari kepribadiannya yang menurutku sangat keras-berbeda dari penampilan fisiknya yang seperti bunga mawar-dia lebih mirip komandan perang militer. "Omong-omong, apa dia yang dimaksud dengan Oracle?" Wanita itu melihatku dengan raut muka penasaran. "Ya, dialah sang Oracle," jawab Johan. "Masih perlu banyak latihan." Awan mendapatkan jitakan untuk ke sekian kalinya. Awan mengelus-ngelus kepalanya. "Hentikan itu!" "Teresa, ini Pelangi." Johan memperkenalkanku pada Teresa. Awalnya dia hanya diam termangun memperhatikanku dari ujung kaki hingga kembali ke kepala. Lalu segera saja dia berlari memelukku dengan gembira. "Ya Tuhan, dia imut sekali!" ucap Teresa. "Kamu kelas berapa Dek?" tanyanya padaku. Itu pujian atau bukan? Sepertinya bukan. Adek! Apa diriku sama sekali tidak memancarkan pesona anggun seorang wanita? "Aku bukan anak kecil!" teriakku. Teresa semakin girang dan mengelus kepalaku seperti seekor kucing. "Duh, manisnya. Jadi pengen punya adek cewek deh," ucapnya penuh kebahagiaan. Aku hanya bisa menghela napas pasrah. "Maaf ya, kakakku parah." Teresa menjitak kepala Awan. Awan protes dengan perlakuan kakaknya. Dalam hati aku berkata, mungkin inilah yang dinamakan hukum karma. Tuhan memang adil. *** Sepulangnya dari expedisi rawa malam itu, segera kubersihkan seluruh badan. Membayangkan kejadian itu masih membuatku bergidik. Kalau saja saat itu Teresa tidak datang tepat waktu, akan seperti apa jadinya kami bertiga? Melihat Teresa melenyapkan musuh dalam waktu sekejab, membuatku takjub. Dari seberang ruangan terdengar suara gaduh. Aku pun keluar melihat sumber kebisingan tersebut. Ternyata, asal kebisingan itu dari Teresa dan Awan yang tengah bertengkar. "Jadi adikku yang manis, bisa kaujelaskan semua ini?" Teresa tersenyum penuh makna sambil menjatuhkan hantaman ke dinding. Dinding yang terkena hantaman Teresa bernasib malang. Remuk, dan meninggalkan lubang menganga. Kekuatan Teresa itu mengerikan untuk perempuan biasa. Dari kejauhan Johan memanggilku. "Pelangi!" panggil Johan. "Cepat ke sini! Segera berlindung." Aku bingung dengan kelakuan Johan. Untuk apa juga, dia bersembunyi di bawah kolong meja? Seperti anak kecil yang tengah main petak umpet. Kubungkukkan badanku, mencoba melihat Johan, "Kamu ngapain?" tanyaku. "Teresa marah. Gara-gara insidenmu kemarin." "Mala?" Johan menganguk. Ternyata soal itu, padahal sudah kuikhlaskan jauh-jauh hari. Kenapa masih dipermasalahkan? Selain itu, wajah Johan yang ngumpet di bawah kolong meja sungguh imut. Membuatku ingin tertawa. Teresa berbalik melihat Johan. "Johan sayang, apa kau bersedia membantu Awan menjelaskan semua ini?" Aku dan Johan membatu melihat tatapan maut Teresa. Sepintas, aku seperti melihat ada sepasang sayap hitam di punggung Teresa. Serta bayangan api yang menyala-nyala di belakangnya. "Pelangi, habislah sudah hidupku." Johan terlihat tak berdaya melihat tatapan maut Teresa. Teresa duduk di sofa sambil menyilakan kedua lengannya. Awan dan Johan duduk bersimpuh di bawah sambil memegang kedua telinga. Layaknya anak sekolah dasar yang tengah dihukum oleh ibu guru karena nakal. Sungguh beruntungnya diriku tidak perlu melakukan hal yang sama. "Benar-benar, bagaimana kalau malam itu aku tidak datang tepat waktu?" Teresa menatap Awan dan Johan. "Apakah kami boleh berdiri? Sumpah! Kakiku sepertinya sudah mati rasa," rengek Johan dengan wajah yang sudah pucat pasi. "Benar, aku sudah tak tahan. Please, jangan jadi kakaknya bawang putih." Awan dengan tampang super BT menatapku penuh dengan kedengkian (aku bisa merasakannya karena dia memang selalu begitu terhadapku). "Kenapa cuma aku dan Johan saja yang harus bersimpuh?" protes Awan pada Teresa. Teresa menghela napas kemudian menyunggingkan sebuah senyum maut pada Awan. "Aku tidak yakin kau itu adikku." Dijitaknya kepala Awan. Aku hanya bisa menahan tawa melihat ketidakberdayaan Awan kali ini. Entah kenapa rasanya aku puas! Bisa kudengar diriku dalam alam khayalan tengah menari-nari sambil bersorak-sorak gembira melihat penderitaan Awan. Teresa memegang boneka yang dipakai Awan untuk memanggil Mala "Awan sayang ...," ucap Teresa. "Kau tau 'kan, kalau Mala itu Hunter level tiga. Terlebih lagi dia itu bukanlah manusia biasa. Apa kau sengaja ingin membunuh Pelangi?" Ya, mungkin dia memang berniat seperti itu, bisikku dalam hati. Tunggu sebentar! Dia bukan manusia? Lalu dia itu apa? Jin? Iblis? Genderuwo? Atau Kolong Wewe? "Tunggu sebentar," sergahku. "Apa maksudnya dengan bukan manusia? Tolong jelaskan padaku?" Kulihat Johan mulai menghela napas panjang. "Jadi begini, Mala itu setengah peri." Peri? Apa Johan tidak sedang berbohong kepadaku? Pantas saja dia bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal (menyerang manusia biasa yang tidak berdaya seperti aku), lalu hal baiknya dia membenciku. "Bagaimana bisa? Lalu di mana letak keanggunan dan sayap-sayap transparan yang berkelap-kelip itu?" ucapku sembari menggerak-gerakkan tanganku seolah-olah aku punya sayap. Awan tertawa terbahak-bahak melihat perbuatanku. "Kau terlalu banyak menonton Barbie, ya?" "Diam!" bentakku pada Awan. Awan mulai menaikkan sebelah alisnya sembari memamerkan senyuman jailnya padaku. "Diam?" ucapnya sambil melirikku. "Tumben." Untuk sesaat, rasanya napasku tertahan di tenggorokkan. Walaupun sebenarnya aku tidak menyukainya, namun, jika Awan tersenyum seperti itu. Aku selalu kehilangan kemampuanku untuk berpikir jernih. "Adaw!" pekik Awan. Teresa menjitak kepala Awan, sementara Johan menahan tawa melihat perbuatan Awan. Kemudian Teresa mulai menatap Johan kembali untuk mempertanyakan hal yang sempat tertunda gara-gara diriku. "Johan, kau tahu perbuatan adikku yang tidak bertanggung jawab ini. Kenapa diam saja?" Teresa tersenyum penuh arti pada Johan (Teresa benar-benar terlihat mengerikan, aku berani bersumpah melihat kobaran api di belakangnya). "Bukan begitu." Pada saat ini, sepertinya Johan berusaha untuk melindungi diri dari amukan Teresa. "Aku sungguh tidak tahu-menahu mengenai insiden ini." Awan melirik Johan yang tengah memasang wajah tidak berdosanya untuk melindungi diri dari amukan Teresa. "Traitor!" "Yah sudahlah, sekarang itu tidak penting lagi." Teresa mulai menekankan jari telunjuknya ke arah boneka Mala. Posisi Awan dan Johan benar-benar terjepit. Mungkinkah Teresa akan menghukum mereka berdua. Tapi, tunggu sebentar! Ini terlalu berlebihan. "Kakak," ucapku pada Teresa. "Maafkanlah mereka berdua. Toh, aku baik-baik saja kok." Walau tak yakin Teresa mau mendengarkanku. Diliriknya kedua cowok yang jelas sudah tidak berdaya. Teresa memicingkan pandangannya pada Awan kemudian dia kembali menatapku. Teresa mengelus-elus dagunya seperti seorang detektif, kedua alis Teresa saling beradu menciptakan kerut di keningnya. "Karena Pelangi yang memintanya, apa boleh buat." Johan nampak lega mendengar ucapan Teresa, sementara Awan masih terlihat suntuk dengan perlakuan kakak perempuannya. "Jadi Pelangi, aku ingin kau melakukan sesuatu." Teresa merapalkan sebuah mantra dan dari dalam kedua tangannya muncul sebuah bola cahaya berwarna biru laut. "Coba kau sentuh ini!" Awalnya aku sedikit takut. Takut apabila kusentuh bola itu, akan muncul mahluk mengerikan yang akan memakanku. Mengingat insiden yang kualami karena Awan. Begitu kusentuh bola cahaya tersebut, ternyata, permukaan bola itu begitu halus, seperti menyentuh cermin. Sensasi dingin menjalar ke seluruh ujung jemariku. "Apa yang kaulihat?" tanya Teresa padaku. "Lihat?" tanyaku bingung. "Coba kaubayangkan sesuatu. Dan jika kau benar orang yang dimaksud oleh Madam Eline. Maka bola ini akan memperlihatkan sebuah Vision padamu. Vision itu bisa berupa hal-hal yang ingin kau ketahui. Masa lalu bahkan masa depan. Apakah kau mau mencoba?" jawab Teresa. Kuambil bola cahaya itu dalam genggamanku. Kupusatkan pikiranku jauh ke dalam sinar-sinar yang tercipta di dalamnya. Mula-mula cahaya yang kulihat berwarna perak lalu kelabu. Kemudian muncul berbagai cahaya warna-warmi yang berputar-putar. Cahaya itu mulai membentuk sesosok pria yang kurindukan. Ayah.... *** Kediaman Bapak Prayoga, 22:30 Seorang pria paruh baya tengah duduk santai di ruang keluarga. Dibukanya koran serta majalah yang bertumpuk di atas meja. Suasana begitu hening, sesaat pria itu teringat pada Pelangi, putri semata wayangnya. Diambilnya sebuah album foto bersampul ungu. Dipandangnya foto Pelangi ketika berumur lima tahun. Kala itu Pelangi memakai dress putih dengan renda di bagian dadanya. Pelangi kecil tengah tersenyum memeluk ibunya, untuk sesaat pria itu merasakan kehilangan. Ting! Tung! Terdengar bunyi bel. Pria itu segera berdiri menghampiri pintu. Dibukanya pintu utama. "Salut!" sapa sesosok hitam yang berdiri di hadapannya. Pria tua itu membeku melihat tamu yang mengunjunginya malam ini. "Kau?" Pria itu hendak berusaha kembali menutup pintu. Di pegangnya gagang pintu. Wusss. Pria itu terjungkal. "Beginikah cara Anda memperlakukan tamu?" Sosok hitam itu menyibakkan tudung yang menutupi wajahnya. Terlihat raut muka cowok berumur dua puluhan. Wajahnya begitu rupawan, namun di balik ketampanannya, tersembunyi aura membunuh yang begitu kentara. "Aku tak akan kaget melihat Anda bersikap seperti itu." Pria itu melangkah semakin mendekat. "Apa yang kauinginkan dariku?" Cowok itu berjalan ke arah kumpulan foto Pelangi. Diambilnya sebuah foto. Dia tersenyum. "Anda tahu apa yang kuinginkan?" "Pergi!" teriak si pria tua. Si cowok menggelengkan kepala. "Kenapa Anda bersikap begitu dingin?" Diliriknya kembali foto Pelangi. "Ah! Ke manakah kira-kira si gadis ini tengah bermain?" "Jangan berani kau sentuh Pelangi!" Pria itu mendapatkan pukulan telak di perutnya dari salah satu pengikut cowok. Pria tua menggeram kesakitan akibat nyeri yang ia rasakan di ulu hatinya. "Pelangi...," ucapnya dengan nada renyah. "Aku akan segera menemukannya. Lalu, permainan petak umpet ini sudah saatnya untuk diakhiri." Cowok itu menyentuh setangkai bunga mawar putih yang ada di atas meja. Mawar itu layu, mengering kehilangan kecantikan dan pesonanya. "Aku tak akan membiarkan itu terjadi!" bentak si pria tua. "Oh, aku yakin Anda akan bicara seperti itu." "Aku pastikan dengan kedua tanganku." Pria tua mulai mengambil tongkat yang ada di sampingnya dan berlari ke arah cowok. "Hah ...," keluh si cowok. "Mengapa Anda senang sekali memberikanku pilihan yang begitu sulit?" Cowok itu menjentikkan jari. Sulur kegelapan muncul dari bawah. Bergerak menelan si pria tua. Perlahan tetapi pasti si pria tua hilang ke dalam ketiadaan. *** "Ayah!" teriakku. Aku kaget dengan pemandangan yang kulihat, tanganku gemetar hingga menjatuhkan bola kaca yang tengah kupegang. "Apa yang kaulihat?" tanya Teresa. "Ayah!" Aku tak kuasa menahan tangis. "Aku harus pulang, ayahku dalam bahaya!" ucapku terbata-bata. Aku berlari keluar rumah. Tanpa peduli Awan dan yang lainnya, satu hal yang ada di dalam benakku: selamatkan Ayah! "Pelangi!" Johan memegang lenganku, berusaha menghentikanku. "Tenanglah, ayahmu baik-baik saja." "Tidak!" teriakku. "Mereka, mendatanginya. Aku melihat mereka menyakiti Ayah." Air mataku semakin mengalir deras membasahi pipi. "Jika kita tidak segera bergegas, aku takut bila Ayah." Aku tak sanggup mengucapkan kemungkinan terburuk. Diriku benar-benar kacau. Perasaan sedih terus menekan jantungku. Aku sangat takut kehilangan Ayah. "Johan lepaskan aku!" pintaku pada Johan. Alih-alih melepaskan genggamannya dari lenganku, Johan langsung memelukku. "Tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja." Pelukan Johan membuatku semakin sedih. Johan mengingatkanku pada Ibu, ketika aku menangis, dia akan segera memelukku dan berkata, "Semua akan baik-baik saja." Awan dan Teresa keluar menyusul kami berdua. Saat ini, aku tidak peduli dengan apa yang akan Awan katakan padaku. Aku bisa menerima semua olok-oloknya. Teresa membelai kepalaku, "Tenanglah, besok kita akan pergi mengunjungi rumahmu. Kita pastikan bahwa ayahmu baik-baik saja." "Dasar cewek berhati lemah!" ucap Awan. "Awan apa yang kauucapkan!" bentak Teresa. "Dia lemah." Awan nampak tidak peduli dengan apa yang tengah menimpakku. Aku hanya bisa diam, mendengar komentarnya yang menusuk hati. "Awan, apa kau sudah gila?!" Johan tidak terima dengan kelakuan Awan. "Memangnya kenapa? Dia harusnya sadar dengan konsekuensinya." "Awan!" teriak Teresa. "Hentikan!" "Dari awal, dia harusnya paham dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang jelas akan ia terima. Jika dia berhati lemah, jelas dia akan gampang diperdaya oleh Immortal. Mungkin dia akan menuruti seluruh perintah Immortal hanya demi keselamatan seorang manusia, dan menyampingkan kewajibannya untuk menyelamatkan seluruh manusia." Plak! Tamparan mendarat di pipi Awan. "Hentikan semua omong kosong ini!" bentak Teresa. "Tapi, memang benar 'kan?" teriak Awan. "Awan!" Teresa kembali mendaratkan tamparan di pipi kanan Awan. Semburat warna merah membekas di pipi Awan. Sehari ini Teresa sudah menampar Awan sebanyak dua kali, aku dan Johan tertegun melihat reaksi Teresa yang terbilang keras kepada adiknya. "Awan, maaf." Kedua mata Teresa berkaca-kaca. Awan terdiam sejenak menatapku, kemudian dipandangnya kembali Teresa. Pada akhirnya Awan hanya menggelengkan kepala, dia membalikkan badan mengacuhkan perasaan bersalah Teresa. Kedua tangannya mengepal seolah menahan hasrat untuk membalas Teresa. "Kakak, kau benar dan aku salah." Awan langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan kami bertiga terdiam dalam sepi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD