Aku masih teringat penglihatan yang kusaksikan semalam. Walau berulang kali kuyakinkan diri sendiri bahwa apa yang kulihat bisa saja salah. Tetapi, aku masih merasa khawatir pada Ayah. Sesuai janji Teresa, kami berempat berangkat mengunjungi Ayah. "Naik apa kita?" tanya Johan. "Tenang saja. Sudah kupersiapkan." Teresa menunjuk sebuah Jip hitam, yang terparkir di halaman rumah. "Nah, bagaimana? Tidak buruk, kan?" Teresa terlihat puas dengan jipnya. Tanpa membuang waktu, kami segera bergegas. Teresa bertugas mengemudikan jip, ditemani Johan yang duduk di sampingnya. Sementara aku duduk di bagian belakang bersama Awan. Sungguh keadaan yang membuatku canggung. Di sepanjang perjalanan Awan hanya diam. Awan langsung memasang headphone di kepala. Jelas, hari ini dia tidak ingin bicara padak

