Extras 17 : Abimayu Malas

1720 Words
Saat Kak Fifah pergi entah ke mana, latihan akhirnya dilanjutkan oleh kapten tim. Setelah mereka berseru, "ADEUHHH!!" pada Kak Ridwan, akhirnya mereka menuruti perintah sang kapten. Aku sendiri duduk di panggung kecil yang ada di sana. Panggung yang disediakan oleh sekolah entah untuk apa, dan aku tidak penasaran sama sekali. Yang membuatku penasaran, adalah Abimayu yang duduk di belakangku. Kakinya berada di antara tubuhku, dan aku sendiri berada dalam kurungan kakinya. Masalahnya, "Lo nggak akan latihan?" "Hm?" Abimayu malah menyahut dengan nada bertanya. "Nggak ah. Males." "Kapten nggak akan marah?" "Nggak akan, paling. Dia lagi seneng gitu." Benar juga apa yang Abimayu katakan. Kak Ridwan terlihat senang saat sedang latihan. Bibirnya melengkung berkali-kali walaupun dia akhirnya serius pada latihan. "Kenapa dia seneng gitu?" Tanyaku kemudian. "Mungkin, lo ngasih tau sesuatu yang penting buat dia," katanya dengan kaki yang bergerak maju-mundur di sekitar kakiku. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan mulai menulis skor anak-anak voli kembali. Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang membuat Kak Ridwan senang. Dan tidak tahu juga apa yang sudah kuberitahu padanya, padahal kami belum bercengkerama selama latihan voli. Tentunya, aku tidak penasaran juga apa yang membuatnya senang. Mungkin, ada hal baik yang terjadi padanya hari ini. "Tadi ...." Aku mendongak, menatap Abimayu yang tadi berbicara. Namun aku hanya dapat melihat dagu Abimayu dari pandanganku. Dia tinggi sekali, berarti. Aku kembali menulis, sedangkan Abimayu menyimpan dagunya di kepalaku. Dia suka sekali pada kepalaku atau bagaimana? Tapi, Kak Fifah juga kadang menyimpan kepalanya di kepalaku, sih. Laras juga sering memainkan rambutku. Sepertinya, semua orang terpesona dengan kepalaku. Kepalaku wangi kah? Omong-omong, "Tadi kenapa?" Tanyaku kemudian tentang ucapannya sebelumnya. "Konsepsi tentang fatamorgana," katanya. "Dari mana lo dapetin itu?" "Thanks karna lo, gue jadi dapet konsepsi tentang cinta," kataku, dan mengumpat di dalam hati saat malah menulis kata konsepsi di dalam jurnalku. "Intinya, lo membuka mata gue buat dapetin kesimpulan." "Tapi kenapa lo pilih fatamorgana?" "Just ... suddenly," jawabku, mencoret-coret semua catatan hari ini yang gagal karena diajak mengobrol oleh Kak Fifah dan Abimayu. "Fatamorgana itu ilusi optik. Fatamorgana juga bisa dibilang khayalan. Jadi, cinta itu khayalan." "Cinta itu khayalan? Kenapa bisa gitu?" Aku mengangguk, membuat kepala Abimayu berada di atasku bergeser, lalu kembali pada tempatnya. "Manusia jatuh cinta pada apapun. Benda, ide, seni dan manusia. Kalau dipikir pakai logika, benda cuma benda. Kenapa harus dijaga sedemikian rupa? Benda mana bisa sakit, bukan? Tapi, manusia mencintai benda itu walaupun benda itu nggak berguna sama sekali." Abimayu mendengus. Dia memajukan tubuhnya, membuat punggungku menyentuh dadanya yang hangat. Apa dia tidak sadar jika seluruh tubuhnya dipenuhi keringat? "Gue kadang suka kalo lo ngoceh panjang lebar. Tapi gue kurang ngerti juga kenapa lo bisa penasaran sama sesuatu sampe sebegitunya. Maksud gue, kenapa lo harus nyari tau sampe ke kesimpulan-kesimpulannya gitu?" Aku mengedip, menyimpan jurnalku di samping, dan memperhatikan para pemain voli yang sedang bermain. "Gue dulu mau jadi penulis." "Dulu? Mau jadi penulis?!" Abimayu terdengar kaget. "Seriusan? Itu cita-cita lo?" Aku mengangguk. "Dulu, itu cita-cita gue," atau masih? Aku tidak tahu karena, "gue nggak pernah bisa nulis bagian romansanya." Karena aku tidak bisa bersosialisasi, tentu saja. Aku hanya mengetahui tentang cinta dari sekitarku dan juga buku. Aku juga jarang membaca novel walaupun cita-citaku penulis. Menjadi penulis, adalah sesuatu yang mungkin bisa kulakukan untuk mencari uang jika kondisiku masih seburuk dulu. Jadi, penulis hanya impian sekilasku saja. Impian kepepet. Abimayu malah terkekeh, membuat dadanya yang menyentuh punggungku bergetar. "Udah nebak, sih, gue. Trus, cita-cita lo sekarang apa?" "Kuasa hukum," aku menjawab tanpa ragu. Tersenyum, saat memikirkan akan bekerja dengan kakakku. Kakakku memiliki firma hukum sendiri di Jakarta ini. Dan dia tidak pernah pulang sekalipun setelah itu. Ibu dan ayahku sering bertemu dengan kakak jika ada urusan pekerjaan, tapi, kakakku bahkan tidak pernah bisa mengangkat panggilan teleponku barang sebentar saja. Saat ulang tahunku pun, dia hanya mengirimkan seseorang untuk memberikanku hadiah. "Kuasa hukum?" Abimayu merespons jawabanku. "Makanya lo terobsesi sama nilai?" "Terobsesi?" Aku sedikit tidak terima dengan kata-kata terlalu kuat itu. Aku melepaskan kepala Abimayu di daguku, kemudian berbalik hanya untuk menatapnya dengan pandangan tidak terima. "Gue jatuh cinta!" Kataku tegas. Jatuh cinta dan terobsesi, sangat jauh berbeda. Terobsesi adalah keinginan yang kuat, namun cinta adalah adalah fatamorgana dan saat ini. Aku terobsesi pada belajar, namun aku jatuh cinta pada nilai. Kerena nilai adalah hasil dari proses yang sementara. Tapi, kenapa Abimayu terlihat terkejut karena reaksiku? Tentu saja, aneh sekali memang melihatku yang jarang-jarang marah dan meneriakkan sesuatu. Maaf-maaf saja tadi suaraku meninggi tapi aku memang tidak terima jika dia menyalah artikan rasa cintaku pada nilai. Terobsesi adalah kata yang terlalu kuat. Aku terobsesi hanya pada belajar. Belajar adalah duniaku. Kalau nilai, hanya fatamorgana. Hanya saat ini. Dan di masa depan, aku akan mengalahkan Abimayu. Dan lagi, "Kenapa muka lo merah gitu?" Aku mengedip. Wajahnya padahal tadi biasa saja tapi kenapa sekarang semuanya memerah hingga ke telinga? Apa jangan-jangan— "lo sakit?!" Panikku sambil menyentuh keningnya. Abimayu malah tersentak dan menepis tanganku dengan kasar. "Lo apaan sih?! Mau modusin gue, ya?! Pake pegang-pegang segala!" Dia malah marah dan menggeser duduknya menjauh dariku. Apa aku sudah berbuat salah? Tapi untunglah dia ternyata tidak sakit. Bahaya karena Senin nanti adalah UTS dan hari Jumatnya kita pelatihan camp. Lalu, kenapa pipinya bisa memerah? "Cie, lagi ngapain, nih?" Aku berbalik, dan mendapati Kak Ridwan yang mendekat. Handuk tergantung di lehernya, dan keringat mengucur dari keningnya. Aku segera turun dari panggung. "Bentar. Gue ambilin minum—" "Tunggu," Kak Ridwan menyentuh tanganku. Dia menahanku yang akan pergi mengambil air untuknya. "Daripada itu, bisa gue nanya sama lo?" Aku mengedip dan menghadap ke arahnya. "Gue nggak benci lo, sih, Kak. Tapi rasa suka gue sama lo bukan dalam konteks itu." Kataku, takut-takut dia berniat menyatakan perasaannya padaku. Teringat ucapan Caesar yang sebelumnya. "Hah?" Kak Ridwan malah mengernyitkan alisnya dengan tidak mengerti. "Lo ngomong apaan, sih, Zee?" Kekehnya. Bukannya dia suka padaku? Omong-omong, kenapa dia masih memegang tanganku, sekarang? "Ada apa emangnya, Kak?" Akhirnya, aku memutuskan untuk menanyakan maksud dan tujuannya memegang tanganku. Kak Ridwan melepaskan genggamannya, dia sedikit mendekat padaku. Matanya seperti was-was saat melihat anak-anak voli. "Fifah cerita apa aja sama lo?" Cerita? "Banyak." Jawabku. Dia mau menanyakan apa sebenarnya padaku? "Maksud gue, yang tentang gue," Kak Ridwan menunjuk dirinya sendiri. "Dia cerita apa aja sama lo?" Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Tentang Kak Ridwan? Apa ya? Oh! "Kak Ridwan pernah nangis waktu kelas 1 karena telat masuk sekolah—" Kak Ridwan melotot. "Bukan yang itu! Maksud gue, perasaannya dia ke gue." Oh ..., tentang itu, ternyata. "Gue dilarang kasih tau ke elo." Kataku kemudian. Kak Ridwan malah terkekeh pelan. "Kan gue udah terlanjur tau, Zee ...." "Oh ya? Tentang apa, emang?" "Dia suka gue dari kecil, kan?" "Kok Kakak bisa tau?" Bukannya itu rahasia? "Kan elo yang ngasih tau," kekehnya. "Jadi, karna udah terlanjur, lo cerita semua aja ya. Gimana?" Aku mengedipkan mataku berkali-kali. "Kenapa harus? Kak Ridwan suka sama Kak Fifah?" Kak Ridwan mengulum bibirnya. "Lo blak-blakan banget ya, Zee." "Um," jawabku. "Kak Fifah taunya lo suka sama Kania." "Kania?!" Kaget Ridwan. Aku juga mendengar kekagetan yang sama dari Abimayu yang berada di belakangku. Kak Ridwan melotot. "Teori dari mana, tuh?" Aku menggelengkan kepalaku. "Tanya Kak Fifah aja." Kak Ridwan menghela napas panjang, terlihat frustrasi. "Lo pikir Fifah bakal jujur? Kita sahabatan udah dari lama, tapi dia masih tetep punya banyak rahasia dari gue." "Oh gitu." "Jadi, kenapa dia bisa salah paham?" "Salah paham tentang apa?" "Kania, Zee ... Kania ..." Kak Ridwan berucap lelah. "Katanya, lo pernah nganterin Kania pulang. Trus pernah jalan bareng." Dan aku baru sadar sekarang, kalau mengantar pulang saja, bisa membuat salah paham sebesar itu. Lagipula, kenapa Kania mau dianter pulang oleh Kak Ridwan? Dan tunggu. Jadi, pemeran antagonis dari cerita Kak Fifah adalah Kania? "Ya ampun," Kak Ridwan malah tertawa kecil. "Dia salah paham cuma karena itu doang?" Aku mengedipkan mataku berkali-kali, seketika teringat ucapan Laras. "Kata Laras, cowok nganterin cewek tuh ada 3 jenis. PDKT, pacaran dan selingkuhan." "Tapi niat gue kan cuma nganterin pulang doang. Kasian kan anaknya. Lagipula, dia udah punya Abi waktu itu." Aku menganggukkan kepalaku saja. Kali ini aku menghadap Kak Ridwan sepenuhnya. "Sekarang gue tanya," Kak Ridwan fokus padaku seketika. "Lo mungkin nggak pernah nganter pulang Kak Fifah karena dia punya kendaraan sendiri. Sifat Kak Fifah juga sulit didekati walaupun dia udah nolak banyak cowok—" "Dia nolak banyak cowok?!" "—tapi, coba lo bayangin Kak Fifah yang dianter pulang cowok, dan jalan bareng cowok. Apa reaksi lo kalau itu terjadi?" Kak Ridwan terdiam sesaat setelah aku berbicara, sementara aku terus memperhatikan Kak Ridwan yang mengernyit tidak suka. "Gue ..., nggak suka, sih." Aku menganggukkan kepalaku pelan. "Itu jawabannya. Daripada nganterin Kania, kenapa nggak pesenin gojek aja? Lagipula, di halte sering ada angkutan umum, kok. Kalau Kania nggak ada duit buat naik angkutan umum, ya kasih duit aja." "Lo ngomong seolah Kania pengemis, tau nggak?" Kata Abimayu yang berada di belakangku. Sejujurnya, "gue sedikit cemburu sama Kania." Walaupun itu terjadi sangat dulu sekali. "Ce-cemburu?!" Tanya Abimayu. Entah sejak kapan, dia sudah ada di sampingku dan memelototiku. "K-kenapa bisa?!" "Dia dapet beasiswa, kan?" Tanyaku pada Abimayu, dan langsung diangguki. "Gue sedikit khawatir karna itu. Gue pikir dia pinter, tapi ternyata dia lebih bego daripada Laras." Laras saja berada di 20 besar, dan pacar Abimayu berada di sekitar ... 70 besar? Aku lupa. Dulu Laras pernah membicarakannya denganku. Jauh sekali dari ranking umumku dan ranking umum Abimayu. Sementara Abimayu, daripada terlihat marah karena aku menjelek-jelekkan pacarnya, dia malah cemberut dan pergi dari sana dengan hentakan kaki yang kuat. "Kenapa dia?" Heranku. Kak Ridwan malah terkekeh pelan. "Hidup dia lagi complicated, kayaknya." Katanya sambil berlari menjauhiku dan menghampiri Abimayu. Kak Ridwan terlihat menepuk bahu Abimayu dan berbisik. "HAH?! SIAPA?! GUE?! SAMA SI DATAR ITU?!" Abimayu tiba-tiba berteriak kencang, sementara Kak Ridwan menepuk bahunya lagi sambil tertawa. "Nggak!! Sama sekali enggak!! Cinta gue cuma Kania! Titik!" Aku mengernyit dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Aneh sekali mereka. Dan lagi, Kak Fifah ke mana, sebenarnya? Tapi tunggu. Aku mengedip, dan menatap Kak Ridwan yang berlari ke sisi lain lapangan dengan senyum yang masih terukir di wajahnya. Aku baru sadar. Jadi, yang membuat Kak Ridwan senang hari ini adalah karena dia tahu kalau Kak Fifah menyukainya? Wow. Kisah cinta mereka akan menuju ending, sepertinya. AKAN DINEXT SAAT VOTE SAMPAI 180 DAN KOMEN SAMPAI 80!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD