Aku tahu, semenjak Laras datang ke kantin secara tiba-tiba, pasti akan ada masalah yang akan timbul di masa depan.
Bukan, bukan. Maksudku, bukan di-bully oleh temanku sendiri. Namun, bukti bahwa Laras tahu di mana aku berada saat itu, adalah sesuatu yang pasti menimbulkan sesuatu lagi di masa depan. Aduh, aku bingung harus menjabarkannya bagaimana. Masalahnya, Laras tahu aku bersama Abimayu pun, itu dari orang lain. Aku pun bahkan tidak mengabarinya sama sekali tentang itu. Dan, apa kalian mengerti apa arti dari semua itu?
Ya, aku dan Abimayu sudah menjadi bahan obrolan satu sekolah.
Sial. Masalahnya, aku sudah sangat hidup tenang dengan peran figuranku. Dan please, jangan membuatku ikut-ikutan ada dalam kategori antagonis ataupun protagonis yang lain. Sungguh, biarkan aku jadi figuran!
Ini terjadi ketika pagi hari, saat seperti biasa, aku bersama dengan Laras yang berjalan di sampingku. Kami baru datang ke sekolah, pagi itu. Belum menyimpan tas di kelas, dan sedang dalam perjalanan ke kantin.
"Zee! Zee!" Bisik Laras di sampingku.
"Hm." Jawabku tanpa menoleh padanya. Aku sedang membaca buku catatanku, karena saat ini, UTS semester kedua dimulai. Senin yang sibuk, memang. Hanya Laras yang santai-santai saja menghadapi UTS. Walaupun UTS sekolah ini memang diadakan dengan sangat santai, sih.
"Itu Si Dekil, Zee! Ceweknya Abi!"
"Hm? Mana?"
"Ya kagak ada di buku, dodol! Liat ke depan lah, bego!"
Aku mengangkat wajahku, mencari-cari si Kania yang tidak terlihat di pandanganku. "Yang mana, sih?" Tanyaku, lupa bentukan wajah Kania padahal sebelumnya pernah bertemu saat bersitegang dengan Abimayu.
"Itu tuh!! Yang gendut kayak babon, mukanya bulukan, rambutnya kayak sapu itu!"
"Gendut? Berat badan Kania naik?" Heranku, padahal terakhir kali bertemu, dia bentukannya kecil dan ringkih. Lebih kecil daripada aku. Aku bahkan takut mematahkan salah satu tangannya ketika aku menyentuhnya.
"Ugh!" Laras mendelik kesal. Dia menunjuk Kania yang sedang bercengkerama dengan temannya. "Itu tuh! Masa lo lupa sih sama si buruk rupa itu?!"
"Oh iya, Kania." Ucapku datar, kemudian kembali menatap buku catatanku.
"Ntar, pas gue kasih aba-aba, lo dorong Si Bulukan itu ke sini ya, Zee!! Ntar gue jegal kakinya sampe muka busuknya kena tembok!"
"Oke." Aku menjawab sambil mengubah halaman bukuku. Hm, kira-kira, soal tentang persamaan linear muncul tidak, ya?
"Sekarang, Zee! Sekarang!"
Aku mengangkat wajahku. Mataku dan mata Kania bertabrakan. Aku mendorong Kania ke arah Laras. Laras dan Kania sama-sama menjerit dan akhirnya Laras bukannya menjegal kaki Kania, malah mendorong Kania hingga terjatuh ke lantai. Aku menghela napas panjang dan menggeleng ketika melihat Laras yang mengernyit jijik dan mengibas-ibaskan tangannya seolah Kania adalah virus menjijikkan.
"Nia!" Jerit temannya yang bersama Kania. Omong-omong, Kania ternyata punya teman? Kukira dia tidak punya teman.
"Ih! Jijik banget ya ampun!!" Laras mengompori. Kami sudah menjadi bahan tontonan, sekarang. Lagi-lagi aku menggeleng. Sambil mengembuskan napas panjang, aku kembali membalik halaman bacaanku.
"Lo apaan, sih?!"
Aku mengedip terkejut. Bukuku jatuh dari tanganku. Aku menatap bukuku sejenak sebelum mengangkat pandanganku, melihat sang pelaku yang sudah mendorong bahuku dan membuatku menjatuhkan buku. Tunggu dulu. Aku kelihatan?
"Eh anjing! Lo ngapain dorong-dorong temen gue?!" Laras meng-coverku. Dia berdiri di depanku, membalas teman Kania yang mendorongku sebelumnya. Sementara aku? Aku melamun sejenak, terkejut karena biasanya mereka selalu menganggapku tidak ada.
"Temen lo duluan tuh yang dorong temen gue!"
"Wow," ucapku tanpa sadar. Takjub karena aku benar-benar terlihat. Aku berjongkok, mengambil bukuku yang jatuh. Dan saat berdiri, pandanganku bertabrakan dengan pandangan Kania. Berarti, aku benar-benar terlihat, ya, sekarang?
"Ya temen lo ngalangin jalan, tau nggak?! Temen gue mau lewat! Lagian, rakyat jelata tuh nggak pantes nginjek lantai! Pantesnya nginjek lumpur tuh sana!"
"Lah ngalangin jalan apaan?! Jalanan luas, kali! Temen lu tuh yang emang niat nyelakain Kania!!"
"Dih! Bacot lu! Temennya rakyat jelata aja belagu!"
"Rakyat jelata juga Kania bisa pacaran sana Abi! Lu enggak! Makanya lu sama temen lu sirik, kan, sama Kania?!"
Tunggu sebentar. Aku? Bagaimana bisa mereka berasumsi seperti itu?
"Hah?! Lu ngoceh apaan sih?!" Laras mulai mendorong bahu teman Kania itu. "Ngapain bawa-bawa temen gue, hah?! Ngajak ribut lu sama gua?!"
"Lah emang bener, kan?!" Teman Kania malah menatapku dengan dengki. Aku salah apa? "Dia maksa-maksa minta anter Abi, sok sakit masuk UKS dan modusin Abi biar bisa ditraktir di kantin."
"Woy! Woy! Woy!" Aku mulai bersuara. Benar-benar terkejut dengan rumor yang menyebar dengan seenaknya itu. Sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya. "Jangan ngada-ngada, ya. Asumsi yang nggak berdasar itu, bisa dipidanakan atas pencemaran nama baik."
"Lah emang iya, kok!" Si teman Kania berkata sinis. "Udah nyebar kali kalo lu tuh p***k yang godain Abi!"
"Eh anjing ya b*****t!" Laras tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia melemparkan tasnya pada wajah si teman Kania. Laras, tindakan kekerasan juga bisa dipidanakan, sayang. Lagipula, sejak kapan kamu bisa mukul orang gitu? Pingsan lagi aja, udah.
"EH GILA YA LO!" Jerit si teman Kania. Dan aku melotot saat dia malah menjambak rambut Laras. Laras menjerit, dia balas menjambak rambut si teman Kania. Dan mereka malah saling menjerit dan menjambak rambut.
"GILA LO YA!!"
"ELU TUH NGGAK WARAS!!"
Aku bingung harus bagaimana. "Ras, udah, Ras!" Kataku, diam di tempat karena bingung dengan situasi ini.
"b*****t YA LO!"
"ELO TUH YANG b*****t!"
"DIEM LO RAKJEL!"
"LO SAMA AJA KAYAK TEMEN LO! DASAR PENGGODA!"
Dan tentu saja, mereka tidak mendengarkan. Dan lagi, kenapa orang-orang hanya bertepuk tangan dan berteriak mendukung?! Jika aku tidak bisa membantu, setidaknya kalian yang harus membantu, wahai manusia yang tidak berperikemanusiaan!
"Kalau kalian kayak gini, bisa seenggaknya diskors sama sekolah selama beberapa hari. Tapi karna kalian masih di bawah umur, kalian nggak bisa dipidanakan. Siapapun yang menang, akhirnya bakal rugi dua-duanya." Jelasku, dan tetap tidak membuat mereka berhenti.
"LEPAS NGGAK?!"
"ELO DULUAN YANG LEPAS!"
"IH ANJING!!"
"AA SAKIT! SAKIT!"
Kania maju, dia mencoba memisahkan temannya dan Laras. Namun, Laras malah menjambak rambut Kania. Laras bisa sekali mencari kesempatan seperti itu.
"DASAR DEKIL! ELO KAN YANG NYEBARIN RUMOR NGGAK JELAS ITU?!"
Kania meremas kuat seragam Laras, dan membuat Laras tercekik kerah lehernya sendiri. "Kania!" Seruku, meraih tangan Kania. "Lo sebaiknya jangan ikut campur dan—"
"Minggir!" Teriak Kania, melepaskan tangannya dariku. Tenaganya kuat juga.
Namun aku tidak boleh menyerah. Laras bisa mati kalau kerahnya terus mencekik lehernya. "Dua lawan satu itu nggak adil!" Seruku, kembali meraih tangan Kania dengan genggaman tangan erat.
"IH MINGGIR!!"
Aku melotot saat Kania mendorongku kuat-kuat. Kakiku terjegal oleh kakiku yang lain, membuat pijakanku oleng dan tubuhku terbang ke belakang.
"ZEE!!"
Teriakan Laras yang menggema, seolah menandakan bahwa aku tidak terselamatkan lagi. Aku memejamkan mata kuat-kuat, berharap tembok koridor berubah menjadi jeli dan empuk. Atau berharap tasku membesar dan membuat seluruh tubuhku terselamatkan.
DUGH!
Suara tubuh yang beradu dengan tembok terdengar. Aku bertanya-tanya apa aku pingsan atau bagaimana? Atau jangan-jangan, tembok benar-benar menjadi empuk?!
"Akh ...."
Suara itu membuatku membuka mataku dengan pelan. Suara sorak sorai dari dukungan orang-orang pun tidak terdengar lagi. Laras pun tidak menjerit-jerit lagi. Namun anehnya, kenapa semua mata tertuju kepadaku?
"Lo nggak papa, Zee?"
Dan seketika itu, aku merasakan dekapan yang mengurungku dengan erat. Tangan besar seorang pria ada di kepalaku, dan yang satunya melingkar di perutku. Aku mendongak, dan mendapati Abimayu yang menundukkan kepalanya ke arahku.
"Abimayu ..." lirihku, terkejut.
Abimayu melepaskan pelukannya, dia memegang kedua lenganku dan menatapku dari atas kepala sampai ke ujung kaki. "Lo nggak papa, kan? Nggak ada yang luka kan?"
Aku mengernyitkan alisku. Mataku menatap tembok di belakang Abimayu, kemudian kembali menatap pria itu. Sudah dipastikan, dia menolongku.
"Lo bego apa gimana, sih?!" Bentakku.
Abimayu terlihat terkejut karena aku membentaknya. Dia malah terkekeh pelan, sementara aku masih duduk di antara kedua kakinya. "Lo kok malah marah, sih, gue tolongin?" Kekehnya.
Dan tentu saja, Abimayu tidak boleh kenapa-kenapa. Dia sangat amat tidak boleh kenapa-kenapa. "Bentar lagi ada camp dan abis camp ada turnamen! Kalau bahu lo kenapa-kenapa, gimana?!"
"Malah ngomongin voli. Seenggaknya, makasih dulu, kek, ke gue."
"Makasih karna nolongin gue, tapi plis yah, nanti lagi dipikir ulang buat nyelakain diri sendiri! Bahu lo tuh penting! Gue cuma bakal benjol doang atau lecet, bahu gue luka pun nggak masalah! Tapi kalo lo beda, bego!"
Abimayu lagi-lagi kembali terkekeh. Dia ini senang, ya, kalau terluka? "Masa gue diemin liat manager gue mau kejedot tembok?"
"Ya makanya pikir pake logika, kata gue juga! Gak usah ngorbanin diri segala! Emangnya lo Iron Man, apa?!"
"Ya tapi tetep nggak mungkin—"
"Bi ...."
Suara lirihan itu membuatku menoleh, dan mendapati Kania yang menatap Abimayu dengan pandangan terluka. Dia kembali terlihat ringkih. Ke mana perginya tenaga besar yang tadi?
"Nia!" Abimayu tersentak berdiri. "Nia aku bisa jelasin—"
Kania tidak mendengar penjelasan Abimayu. Dia pergi saat menunjukkan air matanya pada Abimayu.
"Nia!"
Aku segera berdiri, menjambak kuat rambut Abimayu yang akan menyusul Kania. "Mau ke mana lo?"
"Aw! Aw! Zee!! Sakit, Zee!"
"Ke UKS sekarang," ucapku sambil menyeret kepalanya.
"Tapi Kania! Kania gimana?!"
"Abimayu, gue nggak akan ngulang omongan gue lagi, ya!" Kesalku. "Pikir pake logika! Kalo lo nggak punya logika, kejar Kania sekarang, dan kondisi lo ketauan belakangan. Kalo lo punya, ke UKS dulu, trus kejar Kania."
Aku kemudian melepaskan jambakanku. Abimayu menoleh padaku, sementara aku memandangnya dengan penuh ketegasan. Menunggu jawabannya. Abimayu terlihat menelan ludahnya dengan susah payah sebelum berucap, "oke, ke UKS dulu."
Dan tentu saja, Laras ikut dengan senang hati.