"Ahn!" Azizah mendesah, menggelinjang saat Abimayu menyentuh p****g payudaranya, menjepitnya dan memainkannya dengan jari. "Bi ..."
"Yes," Abimayu mendesah, dia kembali menggerakkan pinggulnya, membuat kejantanannya kembali merasakan kewanitaan Azizah. "Call my name, Zee ...."
Tangan Abimayu menyelip ke punggung Azizah, melepaskan pengait bra milik Azizah.
"ZEE!!! UDAH BALIK?!!!!"
Gerakan Abimayu yang akan menyingkirkan bra Azizah pun terhenti. Azizah sendiri membuka matanya lebar-lebar. Napasnya masih terengah. Dia terduduk, membuat Abimayu yang berada di atasnya terjengkang ke belakang. Abimayu mencoba meraih tangan Azizah saat wanita itu akan menaikkan resletingnya.
"Tunggu—" Abimayu terlambat, Azizah sudah menutup tubuh terbukanya itu dengan sempurna. Kembali, Abimayu mencoba menahan Azizah yang akan turun dari sofa. "Lo nggak perlu—" dan Abimayu lagi-lagi terlambat karena Azizah sudah berjalan ke arah pintu. Abimayu menggeram kesal. Dia memukul sofanya keras-keras. "Sial!"
Pintu rumah Azizah dibuka. Dan di pagar, sudah ada Larasati yang berdiri dengan pakaian dugemnya. "Laras! Hujan udah reda?" Tanyanya di depan pintu.
"Udah! Gue baru mau main! Lo tadi pulang sama siapa?"
"Oh ya? Hati-hati di jalan. Gue tadi dianter Abimayu."
Abimayu melotot mendengar jawaban yang luar biasa jujur dari Azizah. Demi Tuhan, apa wanita itu tidak bisa berbohong sedikit saja?! Bagaimana jika Larasati tahu keberadaan Abimayu yang masih di dalam rumah ini?!
"WHAT?! SUMPAH DEMI APA LO, GILA?! KOK GUE NGGAK DIAJAK?!"
"Um. Nggak muat, Ras. Cuma bisa bonceng satu orang. Tadi gue kehujanan."
"SUMPAH?! LO NGGAK PAPA KAN?!"
"Um. Gak papa."
"Ya udah syukur kalo gitu. Gue pergi dulu ya! Udah ditungguin anak-anak. Lo besok harus jelasin tentang ini ke gue!"
"Um. Hati-hati di jalan." Jawab Azizah, kemudian berdadah ria pada Larasati. Tanpa menunggu Larasati pergi dari depan rumahnya, Azizah pun menutup pintu dan kembali ke hadapan Abimayu.
Abimayu sudah diam, menunggu keputusan Azizah yang akan melanjutkan kegiatan tadi atau tidak. Abimayu bahkan sudah mengangkat sebelah alisnya saat Azizah hanya berdiri menatapnya dengan datar.
"Ngapain?" Tanya Azizah kemudian. Tatapan bergairahnya menghilang sepenuhnya, dan kini sudah menatap Abimayu dengan tanpa ekspresi. "Hujan udah reda." Katanya kemudian, saat Abimayu masih diam saja di tempatnya.
"Trus yang tadi gimana?" Tanya Abimayu blak-blakan, mengikuti kebiasaan Azizah selama ini.
"Ah yang tadi?" Tanya Azizah, dan diangguki Abimayu dengan semangat. Azizah menghela napas panjang. Dia bersidekap d**a. "Itu kebiasaan lo kan?"
Abimayu mengedipkan matanya berkali-kali. "Maksudnya?"
"Waktu di gudang voli. Cewek yang bukan cewek lo."
Bibir Abimayu terkatup rapat. Entah kenapa, melihat Azizah yang tidak b*******h lagi dan mengungkit hari di mana Abimayu dicium tiba-tiba oleh perempuan lain, terasa menyebalkan saat dibahas. "Itu terpaksa, dan bukan gue yang pengen."
"Jadi, sekarang lo cium gue karna keinginan lo sendiri?"
Abimayu mengedip. "Bisa dibilang begitu."
"Gue nggak tertarik," ucap Azizah datar. "Gue selama ini terus jadi figuran, dan nggak tertarik buat jadi pemeran antagonis."
"Gue nggak tau apa yang lo omongin, tapi gue udah terlanjur berdiri!" Kesal Abimayu sambil mendelik.
"Berdiri? Lo kan dari tadi duduk."
"Bukan gue yang berdiri, tapi ini!" Geram Abimayu sambil menunjuk kejantanannya yang mengeras di balik daster.
Azizah mengedipkan matanya berkali-kali. "Itu apa?" Tanyanya sambil melihat kejantanan Abimayu tanpa malu.
"Alat reproduksi pria."
"Yang diawali dengan huruf p?"
"Ya."
"Kenapa bisa kayak gitu?"
Abimayu tersenyum, menahan kesal. "Karena ini alat reproduksi pria! Yang dimasukin ke dalam lobang reproduksi wanita! Do you understand?"
"You mean ... s*x?" Ucap Azizah, mengernyitkan alisnya dengan jijik.
Abimayu menganggukkan kepalanya. "Yup."
Azizah menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "No s*x before marriage."
"Tapi kita udah pemanasan!"
"Maksudnya?"
"Ya—" Abimayu terlihat bingung menjelaskannya. "Kita tadi udah menuju ke s*x. Kita udah OTW buat nge-sex."
"Jadi, gue udah nggak perawan?"
"Masih perawan! Tapi—"
"Ya udah berarti lo pulang," kata Azizah sambil berjalan ke arah kamar mandi, mengambil seragam Abimayu yang berada di dalam mesin cuci. Mesin cuci sudah berhenti bekerja, yang menandakan jika cucian sudah kering.
Abimayu kali ini benar-benar berdiri, menghampiri Azizah yang berjalan cepat ke kamar mandi. "Ya tapi, gue udah berdiri, Zee. Lo harus tidurin!" keluhnya sepanjang perjalanan.
"Tidurin aja sendiri. Gue denger itu terjadi setiap pagi pada pria." Kata Azizah santai sambil mengambil pakaian Abimayu yang berada di dalam mesin cuci.
"Iya, sih, tapi—" ucapan Abimayu terpotong saat Azizah memberikan seragam kering Abimayu kepada pemiliknya.
"Tapi, yang tadi namanya pemanasan?" Heran Azizah. Tangannya bersidekap saat menatap Abimayu. "Cukup menyenangkan. Gue bahkan masih ngerasa ngilu sampe sekarang."
Sial. Kata-kata vulgar lagi. Jika begini, Abimayu benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi. Azizah begitu seksi saat mengucapkannya. "Jadi—"
"Tetep nggak," tolak Azizah datar, berjalan melewati Abimayu. "No s*x before marriage udah jadi prinsip gue sedari kecil. Lo lakuin sama Kania aja."
"Gue nggak bisa!"
"Kenapa nggak bisa?"
"Gue nggak mau ngerusak Kania!"
Azizah menghentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap Abimayu yang berada di belakangnya. Matanya memincing pada Abimayu. "Lo nggak mau ngerusak Kania, tapi lo mau ngerusak gue?"
Abimayu mengedipkan matanya berkali-kali. "M-maaf."
Azizah mengangguk saja. "Yah itu wajar. Sifat dasar manusia memang jahat," katanya, terang-terangan mengatai Abimayu jahat. Azizah kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. "Jadi, pikirin ini lagi, Abimayu. Kita udah membahas tentang cinta, sebelumnya. Lo bilang Kania satu-satunya. Dan kalo lo cinta sama Kania," Azizah menoleh pada Abimayu yang masih berdiri di tempatnya. "Cukup berperilaku setia."
Dan kata-kata itu sukses menghantam Abimayu sepenuhnya. Sungguh, di sekitar Abimayu, pria itu dikenal sangat setia dan seseorang yang bisa menahan gairahnya. Abimayu bersikap cuek pada wanita lain, dan hanya berlaku manis pada Kania.
Tapi kenapa? Setelah Azizah datang ...
... Abimayu tidak bisa menjadi dirinya sendiri.
AKAN DINEXT SAAT VOTE SAMPAI 140 DAN KOMEN SAMPAI 20!!!
Tugas aku apa kabar woy