Sepanjang perjalanan, kami jarang mengobrol dan hanya berbicara sesekali saja. Aku sendiri sedang berpikir, atau lebih tepatnya mengingat pelajaran-pelajaran IPA yang sudah k****a sebelumnya.
"Sial." Umpatku saat aku melupakan tentang rumus gas metana. Itu adalah hal terakhir yang kupedalami sebelum Abimayu datang dan menawariku tumpangan.
"Kenapa?" Abimayu bertanya.
Aku menyandarkan kepalaku yang terbalut helm di punggungnya. Sambil menghela napas, aku berucap, "Gue lupa rumus gas metana." Jawabku atas pertanyaan Abimayu.
"CH4."
Aku mengedip. Ah ya, aku lupa jika aku sedang dibonceng si jenius ini. "Thanks." Ucapku, benar-benar tidak rela.
"Lo sesuka itu ya, sama belajar?" Tanyanya tiba-tiba. Padahal, aku sedang mulai mengingat kembali pelajaran IPA-ku.
"Yah bisa dibilang gitu." Jawabku kemudian.
"Kenapa?"
"Kenapa, ya?" Aku berpikir sejenak. "Mungkin, karena belajar itu satu-satunya hal yang bisa gue lakuin sebelum sekolah?" Jawabanku yang lebih seperti bertanya.
"Maksudnya?"
"Gue kan baru bener-bener mulai masuk sekolah pas SMP." Kataku, bersamaan dengan motor Abimayu yang berhenti di lampu lalu lintas.
"Hah? Lo dulu nggak sekolah, emangnya?"
"Um. Gue home schooling."
"Masih SD udah home schooling? Manja banget lo."
Aku mendengus geli. "Yah bisa dibilang gue manja juga, sih."
"Lo males sekolah apa gimana?"
"Kebalikannya. Gue malah pengen banget sekolah."
"Trus kenapa lo harus home schooling?"
"Gue punya penyakit jantung sedari kecil. Dan baru SMP gue mulai membaik."
Abimayu terdiam saat mendapatkan jawaban itu dariku. Aku sendiri tidak mengatakan apa-apa. Bukan maksudku untuk membuatnya bersimpati kepadaku. Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku, dan orang-orang yang memiliki hati di sekitarku, akan memberikan reaksi yang sama. Lagipula, kenapa orang-orang selalu terkejut dengan hal-hal yang seperti itu, sih? Itu bukan berarti aku sedang sekarat atau apa, kan?
"Itulah kenapa gue suka voli," kataku kemudian, sedangkan Abimayu masih diam. "Walaupun gue nggak bisa mainnya, tapi ngeliatnya juga udah seger. Gue kan payah dalam berolahraga."
"Siapa bilang lo payah dalam olahraga?"
"Gue sendiri. Gue kan nggak bisa olahraga karna penyakit jantung gue."
"Hm ..." Ucap Abimayu kemudian.
Aku tahu, setiap berbicara mengenai penyakitku, semua orang pasti bingung ingin menjawab apa. Tapi, "Gue juga manusia." Kataku selanjutnya.
Abimayu mendengus. "Emang siapa yang bilang lo alien?"
Aku hanya diam dan tidak menjawabnya. Untunglah dia tidak canggung dalam pembicaraan kita yang selanjutnya.
"Apa lo marah?"
Aku mengedip heran mendengarnya. "Marah kenapa?"
"Soal kemarin dan soal lo yang diskors gara-gara gue."
Aku menggelengkan kepalaku. "Gue jarang marah, sih."
"Trus kenapa lo nggak masuk hari ini? Anak-anak pada nyalahin gue karna lo nggak dateng ke lapangan."
"Gue harus belajar IPA."
"Masih ngurusin pemanasan global itu? Penting amat."
Aku menatap punggung Abimayu dengan tajam. "Gue benar-benar pengen mukul lo sekarang. Kalo nggak di jalan, gue udah pukul kepala lo pakai helm."
Abimayu terkekeh mendengarnya. "Lo bisa bercanda juga."
"Dan dari mana lo mikir kalo gue bercanda?"
"Lo seriusan?"
"Um. Tunggu aja sampe kita nyampe di rumah gue."
"Kejahatan yang direncanakan, tapi kalo rencananya dibongkar ya nggak akan berhasil."
"Dan dari mana lo mikir kalo gue punya satu rencana?"
"Kalau gitu, kasih tau coba rencana lo yang lain."
Aku hanya mendelik padanya. Tentu saja, aku tidak punya rencana lain selain itu. Itu rencana terjahatku selain menendang dengan kaki dan memukul dengan tangan. Tapi memang Abimayu sangat menyebalkan. Bisa-bisanya berkata begitu di depan orang yang menyukai belajar. Apa katanya tadi? Penting amat? Dia tidak tahu saja jika satu soal salah itu bisa membuatku stress. Dan stress tidak bagus untuk jantungku.
"Dari sini ke mana?" Tanya Abimayu saat kita sudah keluar dari lampu lalu lintas yang terakhir.
"Belok kanan aja terus lurus. Lo turunin gue depan komplek aja."
"Lo gila?! Ini dah malem. Mana mungkin gue nurunin cewek di depan komplek?!"
Gila?
Kenapa anak-anak voli suka mengataiku gila? Apa aku memang gila? Aku harus bertanya pada Laras nanti.
"Jadi, lo baru ngerasain sekolah waktu SMP? Makanya lo cuma punya satu temen."
Aku mengangguk. "Laras bukan satu-satunya temen gue. Tapi, dia yang tau gue luar dalem dalam setahun ini. Laras itu baik. Dia kayak malaikat." Kataku, meminjam kata-kata Abimayu kala memuji pacarnya waktu itu.
"Bohong banget. Dia mah rajanya neraka."
"Raja neraka kan cowok, bukan cewek."
"Udah ganti kepemimpinan. Kan emansipasi wanita."
Aku hanya terkekeh mendengar balasannya yang ngaco. "Itu lucu banget."
Sementara Abimayu terdiam seketika setelah aku selesai berbicara. Ketika berbelok ke komplek rumahku, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Aku memegang Abimayu dengan erat. Aku tidak boleh kedinginan. Tidak baik untuk jantungku.
"Abimayu, bisa cepet?" Tanyaku, dan Abimayu mempercepat laju mobilnya dengan segera. "Rumah warna biru itu. Pager item."
Abimayu segera memberhentikan motornya di depan rumahku. Dan aku segera turun dan agak menjauh dari motor Abimayu. Berteduh di atap halaman rumahku sendiri. "Mau masuk dulu?" Tawarku sambil menunjuk rumahku.
Abimayu menggeleng. "Nggak dulu, deh," katanya sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
Aku mencoba melepaskan penjepit helmku, namun tidak bisa. Kenapa susah sekali? Atau memang aku yang katro?
"Bisa nggak?" Tanyanya.
Aku menggeleng dengan pasrah. Abimayu akhirnya mematikan mesin motornya dan turun menghampiriku. Tubuhnya sudah sangat basah. Seragamnya benar-benar sudah banjir. Ya Tuhan, jika begini, aku jadi merasa bersalah.
Abimayu mendongakkan kepalaku, menyentuh penjepit helm yang ada di bawah daguku. Jika saja ini helm biasa dan bukan full face, pasti akan mudah dibukanya.
"Lo masuk aja dulu, deh. Ganti pake baju bokap gue." Tawarku lagi, sangat merasa bersalah ketika air hujan menetes dari rambutnya.
"Nggak usah."
"Nggak papa. Keluarga gue ada di luar negeri. Cuma gue yang ada di rumah. Lo nggak perlu sungkan." Ucapku kemudian. Takut-takut dia seperti Laras yang kadang malas ke rumah kalau ada kedua orangtuaku.
Abimayu mengedip. Dia yang sudah memegang kedua sisi helm di kepalaku, kini terdiam dan tidak lagi mencoba membuka helm yang menempel di kepalaku. Bibirnya yang tadi terbuka setengah, kini mengatup seutuhnya. "Apa lo kayak gini ke semua cowok?"
Aku mengerutkan alis dengan heran. "Maksudnya?"
Abimayu menghela napas panjang. Dia melepaskan helm dari kepalaku dengan pelan. "Kalau cowok lain pasti langsung berpikir negatif tentang itu. Jadi, lain kali, jangan nawarin sembarangan cowok masuk rumah."
"Trus, gue harus gimana setelah ngeliat lo basah-basahan gini gara-gara boncengin gue? Ngebiarin lo pergi gitu aja? Emangnya gue parasit?"
"Lo manusia. Dan lebih baik, lo masuk ke dalem sekarang. Lo bisa balas budi lain kali."
Benar juga sih. Cuaca sudah sangat dingin pula. Aku tidak mungkin memaksa Abimayu jika dia tidak mau. Aku akhirnya mengangguk. "Oke. Hati-hati di jalan." Kataku sambil berjalan ke arah pagar rumahku.
Demi Tuhan, ini sangat dingin. Dan ini sudah malam. Aku tidak bisa lama-lama berada di ruangan yang dingin dengan seluruh tubuh yang basah. Aku harus segera masuk ke dalam jika tidak ingin penyakit jantungku kambuh. Mana aku belum minum obat, lagi.
Sebuah tangan yang dingin sukses menghentikan pergerakanku yang akan membuka gembok pagar. Aku menoleh, dan mendapati Abimayu di belakangku.
Abimayu menghela napas panjang. "Abis ujan reda, gue langsung pulang."
Aku hanya mengedip dengan heran. Abimayu malah bergerak mengambil kunci rumahku dan membuka gembok pagarku. Pagar besi berwarna hitam rumahku pun digeser dalam sekali sentakan. Aku masuk ke dalam, disusul dengan Abimayu yang membuka pintu rumahku dulu, membiarkanku masuk ke dalam rumah. Dan setelah aku di dalam, dia kembali ke luar dan memasukkan motornya ke dalam.