Extras 8 : Abimayu Pakai Motor

816 Words
Aku tahu, sebagai seorang manager di klub voli, aku memiliki tanggung jawab yang besar dalam peran kehadiran di dalam klub. Namun, aku tidak bisa berhenti memikirkan satu soalku yang salah dalam pelajaran IPA. Aku selalu bertekad jika kalah di UTS, maka UAS pun akan mengikuti kekalahan itu. Maka dari itu, aku harus izin dari klub voli dan mendekam di dalam perpustakaan semenjak pulang sekolah. Lagipula, sudah terlalu terlambat jika aku pergi sekarang. Besok adalah hari Sabtu, dan klub voli ikut libur setiap libur sekolah. Maka dari itu, aku menggunakan hal itu sebagai alasan kenapa hari ini aku tidak masuk. Walaupun hal itu membuat Kak Fifah baper dan merasa takut ketika aku tidak masuk, namun aku meyakinkan Kak Fifah jika aku baik-baik saja dan tidak merasa marah karena skorsing 3 hariku di klub. Pukul 7 malam, tepat saat pustakawan selesai dengan ekskulnya, aku akhirnya diusir dari perpustakaan. Perpustakaan yang dekat dengan parkiran membuat aku bertemu dengan Abimayu yang sedang menuju ke parkiran. Aku sempat bertatapan dengan pria itu, namun aku mengabaikan Abimayu pada akhirnya. Sambil memainkan ponselku, aku menunggu angkutan umum di halte dekat sekolah. Mataku tetap terpusat pada ponsel, membaca bagian-bagian yang belum sempat k****a di buku paket IPA, namun sempat kufoto sebelum diusir. Suara motor yang berdiri tepat di depanku, membuatku harus mengedip dan menatap pengguna motor itu. Dan bersamaan dengan aku yang mengangkat pandangan, pengguna motor itu membuka kaca helmnya. "Ngapain?" Tanya dia. Tentu saja, Abimayu yang ada di hadapanku. Dan lagi, bukannya sudah jelas? Jika aku diam di halte, berarti aku sedang menunggu angkutan umum. Yang seharusnya bertanya adalah aku, bukan? "Nungguin angkutan umum?" Jawabku, lebih kepada memastikan pada Abimayu. Takut-takut aku duduk di halte yang sudah kadaluarsa. "Se-malem ini?" Tanyanya lagi. Aku mengedip. "Ini baru jam 7, kan?" "Tepatnya, jam setengah 8 malem. Dan lo cewek. Sendirian." Aku mengedipkan mataku dengan heran. "Ya ..., terus? Pulang dari voli juga kan biasanya jam segini." "Biasanya lo balik sama siapa?" "Kalau enggak sama Laras atau Kak Fifah, gue balik sendiri." "Pake angkutan umum?" "Ya." Abimayu menghela napas panjang. Dia menurunkan kaca helmnya kembali. "Naik." Dia berbicara pada siapa? "Gue?" Dia menyuruhku naik? "Ya iya elo. Emang siapa lagi?" Tanya Abimayu, menghela napas kesal. "Cepetan naik." Ini dia menawariku bantuan atau memaksaku menerima tawaran bantuan dari dia, sih? Dan lagi, bagaimana caranya aku naik motornya? Motornya terlalu besar, dan lagi, "Gue nggak punya helm." Abimayu menghela napas kembali. Dia menatapku dengan seluruh wajahnya yang tertutup helm, terlihat seram di mataku. Abimayu akhirnya turun dari motor. Dia membuka helmnya, tangannya mengacak-acak rambutnya yang sudah acak-acakan karena sebelumnya menggunakan helm. "Wow, itu keren," ucapku saat Abimayu menghampiriku. "Ngomong apaan, sih?" Kesalnya, lalu memakaikan helm full face-nya padaku. "Ini berat." Sungguh berat. Dan sangat berat. Dan lagi, kepalaku seolah ditutup di mana-mana dan membuat kepalaku serasa ditekan. Kenapa orang-orang suka menggunakan helm seperti ini? "Diem, deh. Banyak komplain, lo." Katanya sambil mendongakkan kepalaku untuk mengunci helmnya. "Trus, lo pake apa?" Tanyaku setelah Abimayu menjauh ketika selesai memakaikanku helm. "Gue nggak pake apa-apa." "Hah? Kalau ada polisi gimana?" "Jam segini mana ada polisi, sih?" "Tapi, lo udah punya SIM, kan?" "Gue masih 16 tahun. Mana ada SIM." Aku mengedipkan mataku dengan heran. Sungguh, jika dia tidak memiliki SIM, kenapa dia bisa menggunakan motor di jalanan dengan bebas? Memang, anak sultan itu beda daripada manusia biasanya. Atau, aku yang beda daripada manusia biasanya? Laras pun menggunakan kendaraan tanpa SIM, jika diingat-ingat. "Udah, nggak usah banyak mikir," Abimayu sudah ada di atas motornya, sedangkan aku masih diam di tempat sambil melamun memikirkan bagaimana caranya aku naik motor ini tanpa terjatuh. "Gue takut jatuh," kataku, namun tetap berpikir bagaimana caranya aku naik ke atas motor Abimayu. Apakah aku harus duduk miring atau menghadap ke depan? "Lo nggak pernah naik motor?!" Abimayu malah kesal sendiri. Padahal aku benar-benar bingung cara naiknya bagaimana. "Kak Fifah sama Laras pake mobil," jawabku seadanya. Apa aku terlihat materialis, sekarang? Lagipula, kenapa dia menawariku naik motor disaat aku sedang menunggu angkutan umum? Abimayu menghela napas panjang. Dia mengulurkan tangannya padaku. "Sini. Gue bantuin." Aku menerima uluran tangan Abimayu, lalu berjalan mendekat pada boncengan motor. Wah, tinggi sekali. Tidak cocok untukku yang menggunakan rok sekaligus bertubuh pendek begini. "Kaki lo injek itu." Instruksi Abimayu. Aku menurutinya, menaiki benda yang terlihat seperti pedal. Tangan Abimayu menuntunku untuk naik ke atas motor. Dia menyimpan tanganku di bahunya. Alisku terangkat tinggi saat melihat pengguna motor lain yang juga menggunakan motor yang sama dengan Abimayu. Tanganku kemudian melingkar di perut Abimayu, mengikuti cara pegangan pengguna motor itu. "L-lo ngapain?!" Seru Abimayu, terkesan terkejut. Kenapa dia begitu? Aku hanya pegangan. "Pengguna motor yang sama tadi, pegangannya kayak gini juga." Kataku, menjelaskan. Apa aku salah? Dan kenapa perutnya seperti bernapas dengan kaku? Abimayu berdeham, dia kemudian mulai menggerakkan motornya dan juga menaikkan standar motornya. Mesinnya mulai dinyalakan, dan kami mulai menjauh dari sekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD