Latihan voli sebenarnya dilakukan tiap hari saat pembelajaran. Namun, selama 3 hari ini, Fifah menyuruh Azizah untuk tidak datang dulu ke klub voli. Fifah ingin Abimayu mendinginkan kepalanya dulu, dan karena klub voli lebih membutuhkan Abimayu daripada Azizah, maka dengan bersedih hati, Azizah mengiyakan saran dari Fifah.
Dan total, sudah hari ke-3 Azizah tidak datang ke klub voli. Dan besok, dia mulai kembali melakukan kegiatan di klub voli. Namun, siapa sangka kalau Azizah akan bertemu Abimayu di tempat ini.
Ya, kantin.
Dan sialnya, di stand yang sama. Stand minuman.
Kedua orang itu berhadapan dengan aura yang sama-sama gelap. Abimayu menatap Azizah dengan tajam, dan Azizah menatap Abimayu dengan dingin.
"Gue yang duluan nyampe." Kata Azizah, datar.
Abimayu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. "Gue ngerasa di sini sedetik lebih dulu daripada lo. Jadi, gue duluan."
"Total 10 detik sebelum lo dateng ke sini. Gue duluan."
"Gue."
"Gue."
"Gue!"
"Gue!"
"Gu—humph!" Ucapan Abimayu terpotong saat seseorang tiba-tiba membekap mulutnya.
"Udah! Lo nggak bisa ngalah sama cewek, apa?" Seorang pria, yang datang tiba-tiba dan membekap Abimayu itu berucap. Pria yang terlihat ramah itu tersenyum pada Azizah. "Sori yah. Anaknya lagi PMS."
Abimayu melepaskan bekapannya. Dia melotot pada pria itu. "Berengsek! Gue doang yang—humph!"
"Berisik! Lo nggak malu, apa?! Diliatin orang kayak gini." Kata pria itu lagi. Tersenyum lagi pada Azizah.
Azizah membalas senyuman pria itu dengan anggukkan singkat. Dia kemudian berjalan maju, mengisi barisan yang tadi berkurang.
"ZEE! KOK LO NGGAK NUNGGUIN—" teriakan yang menggema seisi kantin itu terhenti. Larasati melotot saat melihat Abimayu yang dibekap dan Azizah yang acuh-acuh saja di depan Abimayu.
Azizah menoleh untuk menatap sahabatnya itu. "Lo ngobrol lama banget sama Firman. Lo buang 3 menit dari 30 menit jam istirahat gue."
Larasati mendekati Azizah, menghindari tatapan Abimayu yang memelototinya tanpa henti. "U-udah belum?" Tanyanya, kemudian berbisik pada Azizah. "Lo nggak merinding ya, dipelototin gitu sama Abi?"
"Hah?" Heran Azizah pada Larasati. Dia melirik Abimayu sejenak sebelum barisan kembali berkurang. Sekarang, sudah giliran Azizah yang memesan. "Beli cappucino—"
"Cappucino-nya nanti aja, Bu!" Larasati memotong. Dia segera mengamit lengan Azizah.
"Hah?! Tapi—"
"Udah, nanti aja!" Kembali, Larasati memotong sambil tersenyum singkat pada Abimayu. "Duluan ya, Abi-ku sayang! Reno!" Ucapnya dan pergi sambil menarik Azizah dari sana.
"Laras, cappucino gue!"
"Nanti aja, bego! Lo nggak liat Abimayu ngeluarin aura hitam, hah?!"
"Hah?! Ras—"
"SYUTTT!!"
Melihat kepergian itu, membuat Reno, sahabat dari Abimayu pun membuka bekapan mulut Abimayu. Dia menatap heran pada 2 orang yang kabur itu, kemudian pada Abimayu yang masih mengeluarkan aura hitam dengan pandangan yang tidak berhenti menatap Azizah. "Lo ada masalah apa sama temennya Lestari?"
"Hah?!" Abimayu malah bertanya sewot sambil menatap kesal pada Reno. "Siapa maksud lo?"
"Itu. Yang cewek cappucino itu."
Abimayu berdecih. Dia mengalihkan pandangannya ke depan. "Nggak ada." Katanya, kemudian memesan minuman yang diinginkannya.
"Bu, cappucino-nya satu, s**u coklatnya satu." Kata Reno pada penjual di sana.
"Ngapain lo beli cappucino?!" Sewot Abimayu, memelototi sahabat satu-satunya itu. "Lo mau ngasih si Azizah itu minuman ini, kan?!"
Reno mendelik. "Udah jelas. Ngapain nanya?" Katanya, kemudian beralih pada penjual kantin. "Bu, yang coklat esnya yang banyak ya! Abi yang bayar!"
"Hah?! Napa gue—woy, anjing! Lu mau ke mana b*****t?!" Ucapan Abimayu terpotong saat temannya itu tiba-tiba berbalik pergi meninggalkan Abimayu di stand minuman.
"Gua punya nama ya, goblog!" Balas Reno sambil berlalu pergi. Sial, seharusnya Abimayu tahu tujuan Reno saat dia menanyakan tentang Azizah dan juga membelikan cappucino untuk perempuan itu. Si playboy b******n itu!!
"Berengsek!" Kesal Abimayu. "Bu, semua minumannya nggak jadi deh!"
Ibu penjual itu terlihat kaget dan menatap Abimayu tanpa bisa berkata-kata.
Abimayu melihat 3 blender di sana dan 2 di antaranya sudah memulai operasi memblender minuman yang dipesan Abimayu dan Reno. Sedangkan yang satunya lagi sudah dimasukkan es. Abimayu menghela napas panjang. "Jadiin aja deh, Bu."
Ya, Abimayu sudah terlambat. Dan melihat Reno yang sudah duduk di meja yang sama dengan Azizah, maka sudah dipastikan bahwa Abimayu sudah sangat terlambat.
***
"Halo!"
Sapaan itu tidak membuat Azizah mengalihkan pandangannya dari buku IPA yang sedang dipelajarinya. Namun, berbeda dengan Azizah, Larasati menyambut sapaan itu dengan semangat.
"Reno! Kenapa? Ada apa? Abimayu gue mana?!"
"Gue boleh ikut duduk di sini? Dia lagi ngantri minuman. Nanti juga ikut gabung, kok."
"Serius?! Ya boleh dong Reno! Apalagi Abimayu-nya gue ikutan!" Ucap Larasati dengan semangat sambil cekikikan.
"Betewe, temennya nggak akan dikenalin nih?" Tanya Reno kemudian, kali ini membuat Azizah segera mengangkat wajahnya.
Azizah mendapati Reno sedang tersenyum ramah, sedangkan Azizah tetap mempertahankan wajah datarnya. "Nama gue Azizah. Biasa dipanggil Zee."
Senyum ramah Reno melebar hingga matanya tidak terlihat. "Wow. Nama yang bagus. Gue Reno. Kebetulan, gue temennya Abimayu. Hahaha!"
Azizah mengedip, kemudian mengangguk. "Oh."
Reno terkejut sejenak. Namun dia mencoba mempertahankan senyum lebarnya. "Serem juga, ya, responnya."
"Serem dari mananya?"
"Eh? Gue cuma bercanda, kok. Nggak usah dibawa ke hati."
"Gue nggak tersinggung, kok," kata Azizah, kembali mengedip. "Soalnya, gue nggak kayak lo. Yang tetep maksain senyum walaupun nggak bener-bener senyum."
Kali ini Reno benar-benar terkejut. Dia kehilangan ekspresi senyumnya saat menatap Azizah.
Azizah sendiri santai-santai saja saat memakan siomay yang sudah dipotong. "Lagian, gue cukup terkesan sama lo yang bisa ngejek sambil senyum lebar gitu."
"Ngejek?" Tanya Reno sambil mengernyitkan alisnya.
"Um," Azizah mengangguk dan menelan makanannya. "Seseorang yang ngejek sambil senyum, trus waktu lawan bicaranya tersinggung, lo bisa tetep senyum sambil bilang gausah baper. Dan orang-orang di sekitar lo pasti nganggep itu candaan, walaupun lo berniat serius waktu ngejek."
Reno terdiam sejenak. Dia kemudian menatap Larasati yang sedang makan dengan santai. Seolah, Azizah sudah biasa berkomentar apapun pada orang lain walaupun orang tersebut baru pertama kali bertemu dengan Azizah. Reno mendengus geli. "Gitu, ya? Kalian cocok banget." Katanya.
Azizah mengernyitkan alisnya tidak mengerti. "Gue nggak tau itu pujian atau ejekan. Tapi, apa lo tau penyebab utama pemanasan global? Gue salah di satu soal itu."
"Kalian udah mulai UTS?"
Azizah mengangguk. "Cuma IPA aja yang duluan. Soalnya, guru IPA gue mau ikutan penelitian gitu di hutan."
Reno berpikir sejenak. Kerutan di dahinya bahkan sampai terlihat. "Bukannya plastik?"
"Gue ngisi itu dan salah."
"Lestari ngisi apa?"
"Dia ngisi C. Produksi kertas. Dan namanya Larasati, bukan Lestari. Tapi itu juga bukan jawaban yang mustahil karna kertas dibuat dari pohon."
Kerutan di wajah Reno bertambah. "Gue bingung juga, sih, kalo itu. Menurut lo gimana, Bi?" Tanyanya kemudian, bersamaan dengan Abimayu yang baru saja datang dan menyimpan minuman dengan raut wajah kesal.
"Menurut gue, lo emang sahabat terbangsat yang gue kenal." Kata Abimayu dengan geraman kesalnya. Dia duduk di sana dengan sorot mata malas.
"Abi-ku sayang!!" Ucap Larasati dengan senang. Karena bagaimanapun, kali ini Abimayu duduk di depannya karena semua kursi di meja tersebut sudah terisi.
"Berisik, b***h!"
"Iih!! Abi mah gitu deh! Jahat banget sama aku!"
"Laras, ini pembicaraan serius," kata Azizah, sambil menghentikan tangan Larasati yang sudah merayap mendekati tangan Abimayu. "Abimayu, menurut lo?"
"Hah?" Sewot Abimayu. Matanya bahkan memandang rendah pada Azizah dengan raut wajah songong.
"Apa penyebab utama pemanasan global?"
"Hah?!!!" Kali ini Abimayu bertanya dengan benar-benar heran, bukan karena sengaja ingin songong pada Azizah.
"Pilihannya ada industri ternak, industri pabrik, sampah plastik, produksi kertas dan sampah vinyl."
Abimayu menahan napasnya sebelum kemudian membuangnya keras-keras. Dia mengocok minumannya dengan cuek. "Industri ternak." Jawabnya sambil minum dengan santai.
Semua orang di sana terdiam. Tidak menyangka dengan jawaban yang keluar dari mulut Abimayu.
"Industri ternak?" Reno memastikan dan diangguki oleh Abimayu. "Kayaknya nggak mungkin, deh. Masa embek, sapi, kerbau dan hewan-hewan ternak lainnya bisa jadi tukang pemanasan global? Apa mungkin si bapak salah ngasih opsi, ya? Harusnya ada pilihan akibat ulah manusia."
"Bodo amat. Apa yang Abi-ku sayang ucapkan itu selalu benar!" Kata Larasati sambil cengar cengir. Tangannya yang sudah tidak ditahan Azizah, kini merayap kembali dan mulai mencolek-colek tangan kekar Abimayu.
"Iya juga, ya," kata Azizah, lebih pada dirinya sendiri. "Gas metana dan gas lainnya dari kotoran hewan ternak, bisa berpengaruh buat penipisan lapisan ozon. Kalau sampah plastik penyebab utama dari pencemaran laut. Kertas dan produksi pabrik bisa menghilangkan banyak pohon. Vinyl sebelas dua belas sama sampah plastik. Jadi, pilihan terakhirnya cuma industri ternak. Cih. Walaupun Si Sialan itu bener, tapi malah bikin gue kesel!"
"Woy, gue denger, tau," kata Abimayu yang memperhatikan Azizah ketika wanita itu terus mengoceh tentang pemanasan global. "Dan lagi, lo ngapain nyari tau tentang itu?"
Azizah menatap Abimayu dengan kesal. Dia mendelik dan membuang wajah dari Abimayu. "Orang jenius nggak perlu tau."
"Woy! Gue udah ngasih tau jawabannya dan balesan lo ke gue gini?!"
"Bodo amat. Cih."
"Cih?! Cih lagi?!" Kesal Abimayu sambil tertawa tidak percaya. "Woah, lo bener-bener nyebelin, ya!"
Azizah hanya mendelik kesal.
"Udah, udah, nggak usah berantem!" Kata Reno, menengahi. Dia kemudian menggeserkan minuman cappucino ke hadapan Azizah. "Buat lo. Tadi kan lo nggak jadi mesen gara-gara kita."
Azizah mengedip. Dia menatap kopi, Reno, kemudian Abimayu. Dia kembali menatap Reno lagi. "Nggak diracunin kan—"
"Woy!!" Kesal Abimayu, kali ini sudah berdiri dan menatap kesal pada Azizah. Namun Reno menahan perutnya agar Abimayu tidak mendekati Azizah.
Reno tertawa kecil. "Nggak kok. Tenang aja. Itu gue yang mesen, tapi Abimayu yang bawa."
Azizah kembali menatap cappucino, kemudian menatap Reno kembali. "Nggak diludahin kan—"
"Sialan!!" Geram Abimayu, kali ini akan maju mendekati Azizah jika saja Reno tidak berdiri untuk menahannya.
"Kalo respon ni anak kayak begini, berarti nggak diapa-apain kan, minumannya?" Kata Reno sambil tertawa. "Kita balik ke kelas duluan ya! Si Abimayu ini nggak bisa gue atur lagi, soalnya."
Azizah mengangguk. Dia meminum cappucino-nya dengan senang sambil melambaikan tangannya pada Reno. "Makasih! Dadah Reno!" Katanya pada Reno yang mulai pergi dari meja mereka.
Reno mendorong Abimayu dengan susah payah karena Abimayu bersikeras menatap Azizah dengan wajah premannya. "Udah deh Bi! Aneh banget kelakuan lo!"
Abimayu berdecih. Dia kali ini berjalan sendiri tanpa didorong Reno. "Gue yang bayar, tapi lo yang di dadahin. Pake senyum seneng gitu segala."
Reno mendengus geli. "Lo ini sebenernya kesel karna apa? Kok kedengarannya kayak cemburu sama gue."
"Hah?!! Ngomong apa lo, Sialan?!"
"Biasa aja dong anjing. Lebay banget deh."
"Di hati gue cuma ada Kania! Selamanya Kania! Cinta mati gue, Kania!"
"Iya, iya, gue tau. Berisik, tau nggak?!"