Abimayu's 6 : Azizah VS Abimayu

1710 Words
Pertama kali bertemu dengan Azizah, yang dipikirkan Abimayu hanya satu, "Dia temennya si Cewek Sialan itu kan Kak? Ya mana mungkin gak gue usir?" Ya, teman dari Larasati. Perempuan yang membuat pacar Abimayu yang bernama Kania, selalu dibully. Bukan sekali dua kali Kania dibully oleh Larasati. Hampir setiap minggunya, Larasati selalu mengusik Kania. Yang paling parah adalah ketika Kania resmi menjadi pacarnya Abimayu saat akhir semester 1. Larasati bahkan sudah terkenal menjadi si tukang bully padahal masih duduk di kelas 1 SMA. Dan yang selalu mengikuti Larasati ke mana-mana adalah Azizah. Nama Azizah sangat jarang terdengar. Bahkan, nama Azizah hampir tidak dikenal satu sekolah. Azizah hanya terkenal sebagai “temennya Laras”, “gengnya Laras”, “anak buahnya Laras”. Maka dari itu, Abimayu pun hanya tahu Azizah sebagai teman dari sang antagonis. Sebatas, figuran dari cerita mereka. Namun, akhir-akhir ini Azizah selalu kelihatan. Pertama, adalah tatapan membunuhnya saat melihat rangking sekolah di papan pengumuman. Tentu saja, tatapan itu mengarah pada Abimayu. Namun, Abimayu bahkan tidak tahu nama Azizah. Jadi, Abimayu tidak tahu kalau Azizah kesal karena kalah dari Abimayu. Kedua, saat Azizah tiba-tiba muncul di klub voli dan memergokinya berciuman. Ketiga, saat Azizah marah-marah padanya. Hingga Abimayu berpikir kalau Azizah sengaja pura-pura membencinya karena ingin dilihat oleh Abimayu. Agar Abimayu tertarik padanya. Tapi, yang dibahas oleh Azizah malah tentang juara sekolah. Tidak nyambung sekali. Keempat, jika dipikir-pikir, Azizah malah tidak pernah mencoba mendekatinya sama sekali. Padahal, ada voli yang bisa dijadikannya untuk alasan bercengkerama dengan Abimayu. Namun, Azizah tidak menggunakannya. Kelima, Azizah tidak pernah berusaha menyentuh sejengkal pun tubuh Abimayu, malah Abimayu yang selalu memegang tangannya. Abimayu juga yang selalu mencoba mendekatinya. Dan keenam, saat Azizah tersenyum pada orang lain. Kekagetan Caesar juga dirasakan oleh Abimayu. Well, ya. Abimayu meleng karena kaget melihat senyum manis perempuan yang selalu menatap orang-orang dengan ekspresi datar itu. Ketujuh, saat Azizah menyentuh wajahnya tanpa permisi. Azizah menyentuh wajahnya dengan tekanan, tidak ada lembut-lembutnya sama sekali. Namun, Abimayu tetap bisa merasakan kelembutan tangan itu. Ketika jemari Azizah menyentuh kedua telinganya. Rasa geli dan berdebar menjadi satu. Namun, rasa geli dan berdebar yang dirasakan oleh Abimayu bukanlah seperti yang dirasakannya pada Kania. Abimayu yakin, ini bukan cinta. Abimayu hanya merasakan cinta pada Kania. Sedangkan pada Azizah ... Ini seperti ..., sebuah nafsu? Abimayu membuka matanya lebar-lebar. Dia memundurkan langkahnya, kaget sendiri saat menyadari bahwa dia tadi sedang mencium Azizah. Azizah pun sama kagetnya. Perempuan itu menyentuh bibirnya sendiri, matanya menatap Abimayu dengan terkejut. Napas Abimayu menderu panik. Dia menyentuh bibirnya sendiri, dan terus memundurkan tubuhnya. "Enggak! Maksud gue—" "ABI!!" Azizah dan Abimayu sama-sama terkejut. Walaupun Azizah hanya tersentak dan berbalik ke belakang, sedangkan Abimayu langsung ngacir sembunyi di balik tembok saat mendengar suara Kak Fifah. "ABI!!" Azizah turun dengan terburu-buru, tentu saja. Ikutan panik dan takut-takut kalau hal itu tentang voli. Bagaimanapun, dia adalah manager. "Ada apa, Kak?" Tanya Azizah, saat sudah hampir berada di lantai bawah. "Si Abi mana?! Dia ke mana?!" "Dia di atas." Jawab Azizah, tentu saja membuat Abimayu yang mendengarnya terkejut. Abimayu takut dipukuli Fifah. "Anjir, suara gue kurang kenceng, gitu?! Dia nggak tau apa kalo ini urusan penting?!" Kesal Fifah. "Kenapa emang?" Tanya Azizah lagi. "Ceweknya lagi dipukulin rame-rame!" Abimayu tersentak. Matanya melotot. Dia berlari ke bawah dengan secepat mungkin. Demi Tuhan, kalau bisa, Abimayu akan loncat dari atas! "Oh! Itu dia! Abi—" Abimayu langsung mencengkeram kedua bahu Fifah. Tatapannya menajam. "Di mana dia?" Pertanyaan itu membuat Fifah yang belum menyelesaikan ucapannya pun, terdiam. "DI MANA?!" Fifah tersentak. "Gu-gudang belakang! Gue tadi ke sana buat—" Abimayu segera pergi dari hadapan Fifah tanpa mendengarkan penjelasan Fifah sama sekali. "Duh, gimana nih?" Tanya Fifah pada Azizah. "Di sana ada temen lo, lagi. Si Laras!" "Kak," kata Azizah, mengerutkan alisnya. "Laras nggak mungkin mukulin orang. Laras benci kekerasan." "Iya, tapi dia ada di sana, Zee! Selama ini dia cuma nyiram-nyiram, kan? Kenapa sekarang jahilinnya pake kekerasan?" Dalam hati, Azizah ikutan bertanya-tanya tentang mengapa bisa terjadi kekerasan seperti ini. Selama mengenal Larasati sebagai teman pertamanya di Jakarta, Azizah cukup tahu banyak hal mengenai Larasati. Termasuk, alasan mengapa Larasati tidak bisa menggunakan kekerasan. Azizah menatap Fifah dengan ekspresi datarnya. "Kak, anterin gue ke sana." Fifah mengangguk. Anak-anak voli sudah ikut mengejar Abimayu lebih dahulu. Ada sebagian yang bahkan tidak mengejar sama sekali dan kembali latihan. Hanya biang gosip yang ikutan untuk menyusul Abimayu. "Tadi, gue tuh mau ngambil lap pel di gudang," kata Fifah saat mereka di sela perjalanan. "Lap pel klub basket dipinjem sama anak lain. Dan gue nggak tau lap pel-nya ke mana. Jadi, gue ke gudang deh nyari lap pel yang lain. Eh, malah ketemu anak-anak lagi bully si Kania. Sampe ditendang-tendang gitu, Zee." Azizah mengangguk. Dia makin berpikir jika ada yang tidak beres dengan yang terjadi saat ini. Azizah sangat mengetahui tentang Larasati. Larasati, tidak akan pernah bisa melayangkan anggota tubuhnya untuk berniat melukai orang itu hingga berdarah. Fifah dan Azizah akhirnya sampai di gudang. Namun anehnya, di sana hanya ada Larasati yang sedang menunjuk-nunjuk Kania, dan Kania yang berlindung di belakang tubuh Abimayu. Azizah segera masuk ke dalam gudang. Pandangan orang-orang di sana segera beralih pada Azizah. "Zee!" Panggil Larasati, terkejut. Azizah mengabaikan Larasati. Dia segera menatap Abimayu. "Asal lo tau, Laras nggak suka kekerasan. Jadi—" "Lo pasti belain dia karna dia temen lo!" Potong Abimayu. "Kalian semua emang sama aja!" Azizah mengerutkan alisnya dengan kesal. "Sifat lo yang kekanakan itu, kenapa nggak lo perbaiki sekarang, Abimayu?" "Hah?! Gue ngomong fakta! Orang-orang jahat kayak kalian—" "Seharian, gue ada di klub voli," Azizah gantian memotong perkataan Abimayu. Pandangannya menajam. "Atas dasar apa lo berasumsi kalo gue sama Laras sama aja? Gue bahkan nggak nyentuh Kania lo sama sekali." "Itu karena lo ngebelain dia!" "Itu, karena gue tau gimana luar dalamnya temen gue," kata Azizah, menatap tajam pada Abimayu yang dibalas sama tajamnya oleh pria itu. "Kenapa lo nggak tanya sama cewek lemah lo itu? Paling, Laras cuma nyiram dia aja kan?" "Iya! Gue cuma nyiram dia pake air aja!" Laras ikut dalam perdebatan. Dia kembali menunjuk Kania. "Lo ngomong kek! Masih punya mulut, kan?!" "Laras, diem," kata Azizah, datar. "Kalo lo nunjuk dia kayak gitu, cowok bego yang lo suka ini cuma bakal mikir kalo lo tuh ngancem cewek lemahnya yang berhati malaikat itu." Lanjutnya dengan sindiran. Suasana kali ini berubah total. Dari perdebatan mulut, menjadi perdebatan mata antara Azizah dan Abimayu. Saling menatap dengan tekanan yang menyatakan permusuhan. Masalah ini adalah masalah antara Kania dan Larasati, seharusnya. Namun, karena Azizah adalah sahabat Larasati yang mengetahui trauma yang dimiliki oleh Larasati, maka sudah seharusnya Azizah melakukan apa yang seharusnya teman lakukan. Sedangkan Abimayu, tentu saja di sini untuk melindungi pacarnya yang habis dibully itu. Seluruh pakaian Kania kotor dan ada tanda-tanda injakan di seragamnya. "Zee, Bi, udah dong..." Kata Fifah yang menjadi orang ke sekian dalam menengahi perdebatan ini. Akan menjadi masalah jika Azizah dan Abimayu bermusuhan disaat mereka berada dalam satu klub. "Udah ya? Udahan. Tadi ada orang selain Laras, kok di sini. Beneran!" Abimayu mengeraskan rahangnya. Matanya masih berkilat marah menatap perempuan yang lebih pendek darinya itu. "Mau dia yang mukulin atau enggak, dia tetep salah." Katanya dengan penuh penekanan. "Oh enggak," Azizah tersenyum miring sejenak sebelum dia menetralkan ekspresinya menjadi datar. "Kalau tersangka ternyata nggak bersalah, dia nggak boleh dijadikan terdakwa." Suasana semakin panas. Semua yang menonton kejadian tersebut juga tidak mau menengahi keadaan panas ini. Apalagi melihat Azizah yang terlibat di dalamnya. Seorang Azizah yang diketahui anggota klub voli sebagai orang yang menyeramkan karena jarang tersenyum. "Udah dong, guys," Fifah kembali menengahi. "Kania, lo kasih tau aja deh. Iya atau enggaknya si Laras mukul lo." Kania malah makin sembunyi, berlindung dibalik tubuh Abimayu. "Bi, aku mau pulang." Bisiknya dengan lemah. Azizah mendengus. "Gitu ya, cara lo mengalihkan topik?" katanya, tentu saja pada Kania. "Tapi, baguslah. Lo nggak berusaha berbohong. Lo, emang malaikat, ya?" Ucapnya, datar dan mencekam. "Zee, udah." Kata Fifah. "Laras, kita pulang," ucap Azizah, tetap menatap tajam pada Abimayu. "Tapi dia belum—" "Sekarang." Potong Azizah, beralih menatap tajam pada Larasati. Larasati hanya cemberut. Dia menghentakkan kakinya, keluar dari gudang yang dipenuhi orang-orang itu. Kembali, Azizah menatap Abimayu. "Gue yakin lo sedikit banyak tau sifatnya Laras. Dia nggak pernah mengelak tentang rumor ataupun kelakuan buruk dia selama ini. Jadi, waktu dia bilang dia nggak ngelakuin hal itu, seharusnya, lo bisa berpikir pake logika, Abimayu." Katanya, kemudian berbalik dan pergi dari kerumunan tersebut. Disusul dengan Fifah yang segera mengejar Azizah. Abimayu menghela napas kasar. Dia mengendurkan kepalan tangannya, kemudian berbalik menatap Kania. "Nia, aku anter pulang, ya?" Kania mendongak dengan matanya yang berkaca-kaca. Kepalanya mengangguk, dan bibirnya mengulas senyum. "Iya." *** "Lo serius nggak mukulin si Kania, Ras?" Tanya Fifah ketika mereka dalam perjalanan ke kelas Larasati. Tas Larasati masih di kelas dan Azizah berencana pulang bersama Larasati. "Iya, Kak! Beneran!" Kata Larasati dengan kesal. "Gue cuma nyiram dia dan nunggu di luar! Gue nggak tau kalo si Kania lagi dipukulin sama kakak kelas!" "Trus kenapa tadi gue liat lo ada di dalam gudang, bukannya di luar?" Tanya Fifah kembali. Membicarakan perihal sebelum Fifah kembali, saat Fifah memergoki Kania dipukuli. "Paling, dia cuma nyoba nyegah kakak kelas itu berlaku lebih jauh," kata Azizah, menjawab. Bagaimanapun, dia sangat tahu kelakuan sahabatnya satu itu. "Laras punya phobia liat kekerasan. Dia bisa pingsan kalo liat yang tonjok-tonjokkan sampe berdarah." "IHHH ZEE!! JANGAN BONGKAR AIB KEK!" Kesal Larasati, sambil menggoyangkan tubuh Azizah. Sedangkan Azizah sendiri tertawa. "Gue masih inget waktu lo nangis karna di film romance-nya ada adegan tonjok-tonjokkan." "ZEE!! MONYET! GUE CEKEK, YA!" Teriak Larasati kuat, dan tentu saja merealisasikan ucapannya dengan mencekik Azizah sambil menggoyangkan kepala Azizah. Azizah tertawa makin kencang, sedangkan Fifah melongo kaget melihat Azizah yang tertawa selepas itu jika bersama Larasati. "Maju! Maju! Lama, lo!" "Elu tuh cerewet!" "Elu tuh berisik!" "Elu!" "Elu!" "Kalian ..." Kata Fifah, memotong pertengkaran singkat itu. "Beneran baru kenal setahun?" Azizah mengedip. Dia menyentuh dagunya, berpikir. "Kalau dihitung, kita hampir berteman selama 2 tahun. Kurang 6 bulan." "Wow," kata Fifah sambil tersenyum. "Hebat juga kalian bisa sedeket itu." "Um," angguk Azizah. "Tapi itu termasuk tahun waktu dia bully gue. Jadi, kayaknya nggak salah kalau kita temenan baru setahun." "WOY ZEE!! TERUS AJA BUKA AIB GUE!!" Azizah hanya tertawa membalas ucapan Larasati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD