Extras 1 : Azizah Ziana

1688 Words
Ada satu kutipan yang langsung kusetujui saat membacanya di dalam buku. Sebuah kutipan dari buku karya Thomas Hobbes, yang menyatakan jika: sifat dasar manusia adalah jahat. Well, walaupun saat itu aku membacanya selewat saja, namun aku tahu kalau kutipan itu ada benarnya. Atau memang sangat benar? Aku mengakui, sifat dasarku pun jahat. Berkali-kali aku ingin melakukan sesuatu yang melanggar norma, namun aku menahannya dan melakukan yang sebaliknya. Kupikir, semua orang pasti begitu, bukan? Karena kita manusia yang tidak selalu mengikuti kata hati. Jadi, tidak salah ketika aku berpikir jahat terlebih dulu. Karena tindakan selanjutnya yang terjadi, tidak harus sama dengan apa yang kita pikirkan. Menjadi sahabat dari seorang pemeran antagonis, membuatku tahu jika tidak selamanya orang jahat di mata orang lain, bersikap sama jahatnya ketika bersama teman-temannya. Kebetulan saja, aku berteman dengan seseorang yang selalu mengikuti kata hati. Temanku, Larasati Kira. Biasa dipanggil Laras. Dia tidak lebih dari seorang pemeran antagonis yang selalu julid pada pemeran utama yang sekarang menjadi pacar pemeran paling utama. Abimayu Kai Damian. Lelaki yang sangat populer luar biasa. Selain memiliki nilai yang luar biasa pula, dia juga pemain voli yang luar biasa dan jangan lupakan wajahnya yang terbilang luar biasa pula. Jangan lupakan juga dengan kenyataan jika dia pemilik warisan Kai Group yang bahkan memiliki kerabat dari perusahaan luar negeri bernama Damian Corporation. Ya, dia pemeran utama yang sempurna. Perempuan yang menjadi pacarnya juga bukan orang biasa. Bisa dibilang, perempuan itu sangat cantik dan baik, katanya. Pemeran utama yang tadinya anak biasa saja dan tiba-tiba menjadi populer setelah menjadi pacar Abimayu. Aku, temanku, Abimayu dan pacarnya sama-sama murid baru. Kami baru saja mengakhiri semester kemarin dan memasuki semester 2 pembelajaran. Abimayu sudah disebut-sebut sebagai Si Jenius ketika dirinya sudah menjadi pemain inti dan voli. Dan sialnya— Sret!! Maaf. Tanganku tidak sengaja meremas kertas kuat-kuat saat memikirkan semester kemarin, namaku tepat berada di bawah namanya. Ya, aku juara 2 dalam skala sekolah. Sedangkan dia juara 1. Tepat di atasku. Sial. Dia mencuri tempatku begitu saja. Apa tidak cukup menjadi pemeran utama?! Kenapa dia harus mengambil tempatku juga?! "... Tuh kan! Lu juga kesel kan, sama tuh cewek?!" Kata Laras dengan berapi-api. Ini sudah sejam, dan temanku ini masih belum selesai membicarakan pacarnya Abimayu yang bahkan tidak kuketahui namanya. "Hm." Kataku acuh sambil melanjutkan menulis catatanku. "Abi buta apa gimana sih?! Kok mau-maunya dia sama cewek biasa dan mukanya lebih jelek dari gue itu?!" Laras melanjutkan ceritanya. Ah, omong-omong, dia duduk di atas meja dengan aku yang duduk di kursi dan tetap menulis dengan konsisten. "Gimana sih cara tuh cewek ngedeketin Abi?! Padahal, gue yang lebih gigih ngedeketin Abi! Gue bahkan lebih cantik dari dia! Apa mungkin tuh cewek pake pelet?!" Yah, aku tidak bisa mengatakan kalau ucapannya salah. Karena pada dasarnya, aku tidak tahu wajah pacarnya Abimayu itu seperti apa. Bukan berarti aku belum pernah melihatnya. Hanya saja, aku gampang melupakan wajahnya. Pernah sekali, aku mengingat wajah orang itu. Saat Laras menunjuk wanita itu dengan dengki dan beberapa jam kemudian, aku tidak sengaja menabraknya di lorong. Karena aku tidak tahu siapa namanya, mulutku tidak sengaja berkata, "Ah, si Jalang itu?" Jangan salahkan aku. Mulutku berkata sendiri, dan aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Laras hanya sering menceritakan perempuan itu dengan kalimat, Jalang itu, Cewek jelek itu, Si dekil itu, Cewek sialan itu, Cewek itu. Jadi, aku tidak tahu yang mana nama cewek itu sebenarnya. Dan dia langsung kabur setelah menatapku dengki setelah aku berkata Si Jalang Itu padanya. Setelahnya, aku menceritakan pengalamanku pada Laras. Laras hanya tertawa dan bertepuk tangan dengan heboh. Dia bahkan tumben-tumbenan memujiku. "Zee, ngantin yok!" Aku menggeleng. "Gue disuruh Kak Fifah buat ngatur buku di perpus. Lo duluan aja." "Kenapa Kak Fifah ngajak lo ke perpus mulu sih?! Kenapa nggak ngajak lo liat latihan anak-anak voli?" "Karna gue cuma tertarik sama buku." Jawabku. Singkat, padat, dan jelas. Dan tentunya, Laras berdecih kesal setelah mendengar ucapanku. Kak Fifah adalah kakak kelas 3 yang merangkap sebagai asisten perpustakaan, dan juga manager di klub voli. "Yaudah, kita bareng aja. Lu ke perpus, gue ke kantin." "Oke." Jawabku. Dengan segera, aku menutup buku di meja. Catatanku sudah selesai dan kebetulan sekali, Kak Fifah sudah memberikan pesan agar aku segera menyusulnya ke perpustakaan. Ah, bagi yang tidak tahu, Kak Fifah adalah perempuan. Perempuan paling normal yang kutemui karena dia bukan penggemar Abimayu. Aku bahkan merasa mendapatkan soulmate ketika kami sama-sama menatap jijik pada para penggemar Abimayu yang sering berkerumun seolah sedang kedatangan presiden. "Sial! Akun kesepuluh gua diblokir dong sama Abi!!" Teriak Laras saat kami sedang berjalan di lorong. "Sepuluh?" Tanyaku sambil mengedipkan mata beberapa kali. "Bukannya udah dua puluh?" "Sepuluh!!" Balas Laras sambil menggeram. Matanya memelototiku sejenak sebelum memelototi layar ponselnya. "Buat akun lagi deh!!" Serunya dengan semangat. Aku mendengus geli melihat kelakuan temanku satu ini. "Kok lo pantang menyerah banget sih? Kan masih ada cowok yang lebih ganteng daripada Abimayu." Laras melotot padaku. "LO NGOMONG APA SIH?!!!!!" Teriaknya heboh, tepat di depan wajahku. "ABI ITU BUKAN CUMA GANTENG! DIA JENIUS DAN KAYA RAYA!! SUSAH NYARI COWOK YANG NORMAL GITU DI DUNIA NYATA!! DIA TUH COWOK w*****d-w*****d YANG JADI IDAMAN SEJUTA UMAT!" "Oh. Waw. Hebat." Ucapku datar. "Lagian nih ya! Yang nggak normal itu elo sama Kak Fifah!! Mana ada cewek yang kebal gitu sama pesona seorang Abimayu?!" Aku mengedip kembali. "Nggak normal? Jadi, yang normal adalah ketika gue suka sama Abimayu, tapi ketika ada yang jadi pacarnya Abimayu, lo dan para penggemar Abimayu itu malah ngebully pacarnya? Padahal, suka sama Abimayu itu berarti cewek normal." Laras cemberut. "Ih!! Bukan gitu maksudnya gue!! Maksudnya gue, gapapa Abimayu punya pacar, asal pacarnya itu gue! Bukan cewek nggak jelas itu!" Aku menghela napas panjang. "Gue paling nggak ngerti perasaan rumit yang lo omongin. Apa lo yakin kalo perasaan lo itu cinta?" Tanyaku, yang sukses membuat Laras menghentikan langkahnya. Laras mengeraskan wajahnya. Matanya menyorot kesal. "Lo tau apa tentang perasaan sih, Zee? Lo bahkan nggak punya perasaan!" Serunya dengan nada meninggi, lalu tersentak sendiri mendengar ucapannya. "Zee! Maaf, gue—" Tanganku yang menyentuh bahunya, sukses membuat Laras menghentikan ucapannya. Aku tersenyum tipis. "Lo tenang aja Ras. Gue nggak tersinggung, kok. Lo sendiri yang bilang kalo gue nggak punya perasaan." "Zee, gue—" "Itu bukan sindiran," ucapku, datar. "Lo tau sendiri gue suka blak-blakan. Itu bukan sindiran. Gue ngomong serius." Laras cemberut. Dia terlihat seperti tidak bisa berkata-kata lagi. "Lo pergi ke kantin gih. Gue kan belok," kataku, dan tanpa menunggu balasannya, aku berjalan ke lorong kanan dengan santai. "Zee, gue ikut—" "Kalo lo ikut, lo yang bakal canggung sendiri. Jadi, gausah." Kataku, walaupun begitu, aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang berlari di belakangku. "Tapi Zee—" Aku menghentikan langkahku. Tanpa membalikan tubuh, aku menengok dengan tatapan datar pada Laras. "Gak usah. Budek ya lo?" Laras tersentak. Ah, tidak. Lebih tepatnya lagi, dia merinding? Memangnya aku semenyeramkan itu? "Yaudah gue ke kantin ya!! Babay!!!" Serunya sambil berbalik dan berlari menjauh. *** Laras tidak sepenuhnya salah. Aku bisa disebut dengan orang yang tidak memiliki perasaan. Jika dihadapkan orang yang kecelakaan atau dihadapkan dengan orang-orang yang sedang bertengkar, aku adalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang mengabaikan hal tersebut. Aku lebih memilih mengurusi urusanku sendiri daripada ikut campur dengan urusan orang lain. "... Mau nggak?" Pertanyaan itu membuatku berkedip cepat, keluar dari lamunanku yang sekejap itu. Aku segera menyelipkan ke rak buku, salah satu buku yang sinopsisnya sedang k****a. Aku menoleh ke samping, dan mendapati Kak Fifah sedang tersenyum kaku. Senyum yang penuh dengan kelicikan, selama 3 bulan aku mengenalnya. "Apa tadi?" Tanyaku ulang. "Babubabubabibebeber baru nggak?" Well, kalian tidak salah membaca. Nyatanya, Kak Fifah berbicara dengan mulut tertutup di awal, dan mulai terdengar jelas di akhir kalimat. "Kakak ngomong bahasa apa? Bahasa alien?" Tanyaku, datar. Kak Fifah malah tertawa terbahak-bahak yang dibuat-buat. "Kakak tadi nanya, babubabubabibebeber baru nggak?" "Nggak." Kataku, walaupun tidak tahu sebenarnya Kak Fifah bertanya apa. Kak Fifah kembali tersenyum kaku. "Mau ya?" "Nggak." "Mau dong, Zee." "Nggak, Kak." "ZEE!! GUE BENER-BENER MOHON AMAT SANGAT SAMA LO!!" Teriak Kak Fifah tiba-tiba. "KALO LO MAU, GUE BISA SUJUD DI HADAPAN LO ASAL LO SETUJU!" Aku mendelik kesal. "Kakak aja nanyanya nggak bener gitu. Gimana kalo gue ditawarin—" "Jadi manager!" Aku mengangkat sebelah alisku dengan heran. "Manager? Manager apa?" "Voli!" Aku menatap Kak Fifah dengan datar. "Saya menolak." Kataku datar. "JANGAN LANGSUNG NOLAK GITU!!" "Kak, ini perpus!" "CUMA LO MANUSIA NORMAL DI DUNIA INI, ZEE!" "Oh." "ZEE!!" "Kak!!" Kali ini aku benar-benar berteriak karena kaget. Kak Fifah tiba-tiba benar-benar bersujud di hadapanku. Tidak, lebih tepatnya dia malah memeluk kakiku sambil menangis dengan air matanya yang deras. "Kak!!" Panikku. Kalau begini caranya, aku tidak bisa kabur. "Lo harus tau gimana capeknya gue, Zee," Kak Fifah menangis sesenggukan. "Udah seminggu ini gue nyari manager baru dan gue nggak nemuin satupun yang normal!! Mereka cuma dateng buat teriak-teriakin si Abimayu Sialan Bangsad Sekali itu! Gue setres, Zeeeee!! HUAAAA!!" "Kak!" Aku berjongkok, mencoba melepaskan tangan Kak Fifah yang memeluk kuat kakiku. "Cuma lo harapan gue, Zee! Cuma lo adik kelas 1 yang nggak normal yang gue kenal!" Aku menatapnya datar. "Tadi dibilang paling normal, sekarang dibilang nggak normal." "ZEEE!!! PLIS BANGET INI MAH AKU NGGAK KUAT PISAN LUAR BIASA SOK HAYANG NAKOL JELEMA NU TEBARALEG ETA!" Nah, keluar juga bahasa aliennya. "Kak?" "Plis, Zee... Gue memohon dengan amat sangat!" Aku menghela napas panjang. "Kalo gue nolak?" Kak Fifah tidak menjawab dan malah menatap pelukan tangannya pada kakiku. Tentunya, menyatakan jika dia takkan melepaskanku sebelum aku menjawab ya. Aku menghela napas panjang. "Kalo gitu, gue liat aja dulu gimana cara kerjanya. Dan untuk keputusan selanjutnya, tergantung gue nyaman di sana atau enggak." Kak Fifah masih belum melepaskanku. Dia malah menatapku dengan pandangan memelasnya. Orang ini! Dia tidak menerima jawaban apapun selain ya, ya?! Aku menatapnya datar. "Atau gue jawab nggak dari sekarang aja tanpa mempertimbangkan apapun?" Kak Fifah malah cemberut. "Kak!" "Kalo gitu rekam dulu!" "Apanya?" "Omongan lo tadi! Bilang dulu!" "Kak. Nggak percayaan banget sih sama gue." "Ini karna gue udah putus asa luar biasa, tau nggak?!" "Separah itu?" "HUAAA NGINGETNYA AJA GUE NGGAK MAU!!" AKAN DINEXT SAAT PART NEXT-NYA SELESAI DITULIS
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD