Extras 2 : Pemeran Utama

1558 Words
Kak Fifah Lo langsung ke lapangan aja, Zee Gue ke ruang klub dulu sama anak-anak voli Nungguin Abimayu Sialan Bangsad Sekali lama banget datengnya Jam pulang sekolah, biasanya aku selalu langsung pulang atau ke perpustakaan terlebih dahulu. Tapi sekarang aku langsung pergi ke lapangan indoor di mana tempat klub basket dan voli biasanya bermain. Lapangan di sekolah ini terdiri dari indoor dan outdoor. Untuk outdoor sendiri, memiliki lapangan khusus klub lari juga. Karena klub lari di sekolah ini sering mendapatkan medali emas. Lapangan voli sangat sepi ketika aku memasukinya. Pintu lapangan kututup, dan jaring voli sudah ditempel di lapangan. Aku berjalan menuju panggung yang ada di dalam lapangan. Namun, suara benda jatuh sukses membuatku menghentikan langkah dan menoleh ke samping. Tanpa dapat kucegah, mataku melotot melihat pemandangan itu. Ini Indonesia. Dan di sana adalah gudang(?) atau semacam janitor klub. Namun, yang mengejutkan bukanlah tempatnya yang gelap. Yang mengejutkan adalah Abimayu yang sedang berciuman dengan seorang perempuan. Aku menetralkan ekspresiku. Tatapanku penuh cemooh melihat pemandangan itu. "Ini Indonesia, dan norma di sini beda sama luar negeri." Tanpa kusangka, Abimayu malah mendorong pacarnya sekuat tenaga dan menatapku penuh dengan tatapan terkejut. "Lo?! Kenapa lo ada di sini?!" Tanyanya panik luar biasa. Aku mengedip heran. Kenapa dia malah memarahiku dan bukannya menolong pacarnya lebih dulu? Apa pacarnya yang sedang kesakitan itu tidak penting untuknya? Abimayu terlihat sangat marah. Dia melangkahi pacarnya? Well, aku pun merasa aneh, maka dari itu aku menggunakan tanda tanya saat melihat Abimayu melangkahi tubuh pacarnya yang kesakitan dan menghampiriku dengan emosi. Abimayu memegang kedua tanganku dengan erat. "Lo! Awas aja kalo lo ngasih tau Kania!" "Kania?" Siapa Kania? Apa teman sekelasku? Kenapa juga aku harus memberitahu Kania? "Ah, oke." Kataku. Oke saja dulu. Karena aku pun tidak tahu Kania-Kania ini siapa. "Bohong!!" Lah, napa dia malah makin marah? "Awas aja kalau lo fitnah gue dan ngasih tau tentang ini ke pacar gue!" Kali ini, aku mengedip terkejut. Walaupun aku harus mendongak karena ketinggiannya. "Hah?! Cewek itu bukan pacar lo?! Lo ciuman sama—" "Gue nggak ciuman sama dia!" "Tapi tadi—aw!" Aku tersentak nyeri ketika Abimayu malah mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku. Pandangan Abimayu menajam. "Gue. Nggak. Ciuman. Dia maksa gue!" Ah, sial. Benar-benar sialan. Aku selalu bertanya-tanya kenapa Kak Fifah sangat membenci Abimayu dan memberikan sebutan-sebutan kotor terhadap laki-laki ini. Ternyata, ini sebabnya. Dia sangat menyebalkan. Aku kembali mendongak. Tatapanku menatap mata marahnya lurus-lurus. "Abimayu Sialan Bangsad Sekali, apa begini cara lo ngebujuk saksi buat nggak bersaksi?" Tanyaku, datar. "Well, lo malah bikin gue pengen ngelakuin hal sebaliknya." Abimayu malah mengeraskan rahangnya. Wajahnya malah makin emosi. "Yah, kalaupun lo bersaksi, lo nggak punya bukti, bukan?" Ah, ternyata begini rasanya. Ketika emosi sudah terpancing dan bibir tiba-tiba menyunggingkan senyum miring. "Ah, bukannya cewek itu cukup untuk jadi bukti?" Ancamku penuh omong kosong. Karena selain aku tidak melihat wajah perempuan itu dengan jelas, aku pasti akan melupakan perempuan itu cepat atau lambat. Abimayu mengernyitkan alisnya dengan tidak suka. Matanya masih menyorot tajam padaku, yang kubalas dengan tatapan datar. "Apa rencana lo sebenernya? Kenapa lo bisa ada di sini?" "Seharusnya, gue yang tanya. Kenapa lo ada di sini dan ciuman sama cewek lain sedangkan anggota klub yang lain ada di ruang klub?" Abimayu tersentak. "Kenapa lo tau—" "Zee, si Abimayu Sialan Bangsad Sekali itu nggak dateng-dateng dan—" Aku dan Abimayu sama-sama menoleh ke arah pintu ketika suara Kak Fifah terdengar menggema. Terlihat di sana Kak Fifah dan anggota-anggota klub lain yang terhenti di depan pintu masuk. "Kalian ..." Kak Fifah tentunya menunjuk kami berdua. Entah ke mana si cewek itu soalnya pintu sudah terbuka dan aku tidak melihat Kak Fifah memegang gagang pintu. "... Ngapain?" Aku tersenyum pada Kak Fifah. Senyum penuh kemarahan. "Kak, gue baru masuk ke sini dan langsung ngedapetin alasan buat nolak posisi ini." "Apa?!" Kak Fifah memberikan respon terkejut yang berlebihan. "Kok gitu?!" Aku masih mempertahankan senyum penuh kemarahanku. "Bisa tanya adik kelas kesayangan Kakak? Dia kayaknya nggak ngerti bahasa Indonesia." Aura gelap yang tidak pernah kurasakan dari Kak Fifah tiba-tiba hadir. Aku seolah bisa melihat api yang berkobar di sekitar tubuh Kak Fifah. "Abimayu?" Tanya Kak Fifah dengan penuh ancaman. Abimayu yang tidak merasa terancam malah bertanya dengan santainya. "Dia temennya si Cewek Sialan itu kan Kak? Ya mana mungkin gak gue usir?" Api di sekitar tubuh Kak Fifah malah makin berkobar. Semua terjadi dengan cepat. Seolah seperti potongan foto ketika Kak Fifah lompat, menendang kepala Abimayu dengan kuat hingga terjatuh ke permukaan lantai. "AW! NAPA GUA YANG DIHAJAR?!" "APA LO NGGAK BISA NANYA DULU SEBELUM BULLY ADIK KELAS IMUT GUE?!" "HAH?!" "HAH HEH HOH HAH HEH HOH!! MAU GUA HAJAR NYAMPE MULUT LO CUMA BISA NGOMONG KATA HAH DOANG?! HAH?!!!" "GUE SALAH APA ANJIR?!! WOY BANTUIN!!!" "BERISIK, BEGO!!" BUGH! "BHWAK!" Keributan itu terus berlangsung. Sedangkan aku? Aku masih terdiam karena terkejut dengan kelakuan Kak Fifah yang baru aku tahu. Demi Tuhan, kupikir Kak Fifah hanyalah kakak kelas yang suka cengar cengir tidak jelas dan kebetulan saja menyukai buku, sama sepertiku. Dan lagi, dia bahkan terbang sampai bisa menendang wajah si Abimayu. "Ada cewek!" "Deketin bego! Deketin!" "Oi! Lo pada nggak liat si Abimayu sampe disiksa gitu?" "Cantik tapi!" "Bule woy bule!" Tentu saja, aku bisa mendengar suara yang bersahutan itu. Aku menetralkan ekspresiku dengan segera, dan menatap datar para pria yang ada di sana. Ada sekitar ... 12? Ah, 10? Entahlah. Terlalu banyak pria yang ada di sana. Dan sedari tadi, Kak Fifah bersama mereka? Hebat sekali bisa mengatur 10 orang pria. "Udah jangan diliatin, Bego!!" seru seorang pria yang berada di barisan paling belakang. Dengan sekuat tenaga, dia memukul kepala belakang 2 orang yang tadi membicarakanku. Pria itu tersenyum. Wajahnya terlihat dewasa. Mungkin, dia adalah anak kelas 3? "Maaf atas keributan ini," katanya sambil garuk-garuk kepala dengan kaku. "Padahal lo baru masuk, tapi mungkin mereka bikin lo nggak nyaman, ya?" "A-ah, nggak, kok." "Lo manager barunya ya?" "Y-ya." Eh? Eh?!!!!! Apa tadi?? "Lo bilang apa?!" Kak Fifah tentu saja mendengarnya. Entah bagaimana caranya, kakak kelasku yang aneh itu tiba-tiba sudah berada di sampingku. "Iya?! Tadi lo ngeiyain?!" Aku menatap Kak Fifah dengan datar. "Nggak. Kakak salah denger." "Eh?!!! Nggak mungkin! Kalian juga denger, kan tadi?!" Sial. Tentu saja, para pria itu mengangguk. Kompak, lagi. Semuanya menganggukkan kepala. "Kak, gue—" "Gimana?" Kak Fifah memotong ucapanku. Bibirnya tersenyum lebar. "Tim voli gue, seru kan?" Aku terdiam sejenak. Kata kerja seru, sepertinya tidak afdal untuk menggambarkan tentang situasi ini. Lebih ke pada ....? "Aneh, yang ada." Kataku. Kak Fifah malah tertawa lepas. "Seru kan? Tim voli, sama menariknya kayak Larasati kan? Makanya, lo betah sama dia." Aku mengedipkan mataku dengan heran. "Maksudnya?" Kak Fifah tersenyum. "Suatu hari, lo pasti bisa ketawa. Walaupun bukan Larasati orang yang bikin lo ketawa. Voli, keseruannya juga bisa bikin lo dapetin hal-hal yang baru, Zee." Apa-apaan ini? Kenapa Kak Fifah malah ceramah panjang lebar seperti ini? Aku menghela napas panjang dan melipat kedua tanganku di depan d**a. "Kak, dilihat gimanapun, mustahil buat gue bisa bersosialisasi dengan baik sama orang-orang di sini. Selain gue sering ngomong pedes, gue juga nggak bisa ngatur kesebelas orang ini." "Ah, lo nggak perlu ngatur mereka," kata pria garuk-garuk kepala yang tadi memukul kepala orang. "Gue kapten di tim ini. Dan anak-anak di sini, gue yang atur." Aku mengedip dan menatap Kak Fifah kembali. "Dari manapun keliatannya, nggak mungkin untuk gue buat jadi manager di tim—" "HAH?! MANAGER?!" Si Abimayu yang sudah babak belur tiba-tiba muncul. Wajahnya sangat mengesalkan saat menunjuk wajahku. "Kak, lo kagak tau ni cewek siapa?! Dia temennya si yang bully pacar gue!" "Maksudnya, Larasati?" "Yah, gue gak tau siapa nama si tukang bully itu. Tapi yang pasti, gue nggak setuju kalau ni orang jadi manager!" Kata Abimayu, masih menunjukku. Dan apa tadi? Ni orang? Attitude nya di mana? Aura hitam Kak Fifah kembali. "Abi, belum puas dihajar?" "Lagian, napa harus ni orang yang lo pilih sih?! Napa nggak pacar gue aja?!" Ni orang lagi? "Lo bercanda?! Yang ada lu berdua malah pacaran bukannya latihan!" "Gue profesional, ya! Nggak mungkin gue pacaran di tengah latihan!" "Sampe lu mati pun, gue nggak percaya." "Napa gua yang mati?!" Pekik Abimayu, kesal. Dia kembali menunjukku. "Pokoknya, gue nggak mau sama ni orang! Ni orang tuh—" "Pendek banget ya, otak lo," kataku, memotong ucapannya. Tentu saja, si Abimayu menatapku dengan kesal. "Hah?!" Ucapnya, tidak kalem. Mataku menatap lurus-lurus pada wajahnya. "Mengkotak-kotakkan seseorang hanya karna berteman sama orang yang nggak lo suka, itu cuma dilakuin sama anak kecil." Abimayu melotot. "Apa lo bilang?!!" "Seperti yang lo denger," kataku, menatapnya tajam. "Anak kecil." Ulangku. "Sialan—aw!!" Abimayu yang akan menghampiriku, dijambak oleh Kak Fifah hingga pria tinggi itu bahkan terjatuh di atas permukaan lantai. "Kak!! Bantuin gua napa!!" Kata Abimayu pada si kapten. Aku mendengus. Merasa puas melihat si Abimayu terkapar di atas lantai hanya karena dijambak oleh Kak Fifah. Aku kembali melipat kedua tangan di depan d**a. Aku yang sedang berdiri, menatap Abimayu yang terkapar. Aku tersenyum miring. "Kak, gue mau jadi manager." Abimayu tentu saja langsung menatapku kesal saat aku mengatakannya. Senyum miringku melebar. "Kayaknya, seru buat ngeliat anak sok-sokan kayak dia, ada di bawah gue." Ah, tidak. Cerita ini, tidak berubah alur. Aku tetaplah figuran. Tetaplah seorang Extra. Karena bagaimanapun akhirnya, berapa kalipun seorang Extra mengganggu kehidupan pemeran utama, pemeran utama tetaplah akan menjadi pemeran utama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD