Ketika melihat Abimayu, yang berada di pikiranku hanyalah satu. Rasa dendam. Benar. Laras benar. Aku bukannya bodoh, tapi aku dibego-begoin oleh pria ini. Jadi, pria ini punya akal bulus untuk menjebakku masuk ke dalam perangkapnya. Aku tidak bodoh. Pokoknya, aku tidak bodoh. "Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu, sih?" Tanya Abimayu yang baru saja selesai pemanasan di lapangan cabang sebelum ke lapangan utama. Aku mengedipkan mataku dan menatapnya datar. "Abimayu, gue harap lo kalah." "Hah?!" Ucapnya dengan pandangan tidak terima. "Lo apaan, sih?! Kenapa ngomong gitu?! Lo mau tim sekolah kita kalah?" "Nggak. Cuma lo yang kalah, yang lain menang." "Mana bisa begitu?! Gue calon ace di sini!" "Gue nggak tau lo ngomongin apaan tapi yang pasti, orang nggak beradab kayak lo nggak boleh

