Pintu berderit. Hanna memincingkan mata ketika sinar terang mengenai wajah. Senyum Hanna merekah lebar.
"Astaga Hanna! Aku menunggumu di ruang guru, ternyata dirimu terkunci di sini." Etzu berucap, membuat Hanna semakin tersenyum lebar.
"Sensei!" jerit Hanna kelewat antusias.
"Oh ada murid lain juga. Eh... Takagi?" Takagi disorot, wajahnya tampak terganggu akan pencahayaan yang datang menusuk retina.
Pada akhirnya, Hanna dan Takagi dapat keluar dari gudang sekolah berkat guru pelajaran sejarah itu. Kini, mereka berdua berjalan beriringan keluar dari gerbang. Suasana yang terlingkup begitu canggung, sampai Takagi berjalan menuju tempat parkir mengambil mobilnya sedangkan Hanna berjalan menuju halte untuk menunggu bis.
Langit terwarnai gelap disertai bintang menyebar indah. Hanna memandang luar jendela ketika sudah sampai dan duduk di bis. Senyum tipis terukir mengingat wajah Takagi yang tertangkap dalam retina. Jantung gadis itu mulai bergemuruh. Takagi memang belum berubah.
Hanna tinggal bersama sang nenek. Sekitar lima tahun lalu Hanna mulai memilih hidup bersama neneknya. Umur Hanna menginjak ke-18 tahun. Di tahun sekolah menengah atas akhir ini. Kebetulan Hanna mendapatkan teman sekelas yang Hanna inginkan: Takagi, tidak seperti tahun sebelumnya.
Bersama nenek, maka Hanna harus lebih mandiri dan sering membantu-bantu, seperti memasak makan malam, merawat kebun, membersihkan rumah, atau mencuci pakaian kotor. Begitu banyak pekerjaan yang harus Hanna lakukan, sampai gadis itu sering kekurangan jam tidur. Untuk masalah biaya sekolah, Hanna selalu dikirimkan uang oleh pamannya. Meski Hanna adalah anak yang dibuang. Hanna tetap mendapatkan banyak dana bergelimpah.
* * *
Seperti saat ini. Lagi-lagi Hanna terkantuk-kantuk pada jam pelajaran biologi. Bukannya apa, sesekali penjelasan guru seperti dongeng pada telinganya, terlebih guru tersebut menjelaskan penurunan sifat yang kurang Hanna mengerti pada setiap manusia. Kedua mata Hanna memburam mulai merasa tidak sanggup untuk terus membuka mata. Hanna mencoba memaksakan diri, matanya membesar paksa, namun detik setelahnya kepalanya tetap terjatuh di atas meja dengan kedua mata terpejam nyaman.
Untuk sebentar saja. Batinnya setengah sadar.
"Miura Hanna!"
Terkesiap. Hanna membuka mata lebar. Kepala terangkat cepat, ia menatap wanita berstatus guru biologi itu antara bingung dan kacau. Suasana kelas berubah hening. Dan, Hanna merasa menjadi orang terdungu di dunia. Guru tersebut menghampiri Hanna disertai sorot kemarahan.
Setelahnya Hanna dihukum di luar kelas. Berdiri tanpa boleh mengikuti pelajaran. Hanna menghela napas. Meski dihukum berdiri, kantuknya tetap saja menyerang. Kemarin sehabis pulang sekolah, Hanna menyiapkan makan malam dan membersihkan rumah hingga tengah malam, jelas saja, hal itu membuat dirinya mengantuk.
Hanna mulai memejamkan mata. Menyelami mimpi, dan merasa Takagi memperhatikannya dari dalam kelas. Lelaki Akiyama itu tersenyum mengejek, menatap Hanna geli. Kepala Hanna semakin tertunduk dan hal itu membuatnya terbangun dari tidur berdirinya, Hanna mengerjap, matanya melotot. Gadis itu merengut, menyadari bahwa dirinya memang sedang dihukum oleh guru biologi yang masih menjelaskan tentang pola hereditas. Lagipula, mana mungkin Takagi mengamatinya, Hanna menoleh ke arah jendela, dan benar saja tebakannya. Takagi bahkan sangat fokus melihat papan tulis.
Bel pergantian pelajaran berbunyi. Hanna memperlihatkan wajah sumringah. Guru biologi itu keluar, ia menatap Hanna menggunakan sorot yang berbanding terbalik dengan di dalam kelas--hangat. Hanna dinasehati, kepalanya terangguk pelan, dirinya bahagia hanya karena hukumannya telah selesai dijalankan.
Hanna segera memasuki kelas dan menikmati pelajaran matematika--ralat terpaksa menikmati. Kemudian bel pulang sekolah pun berbunyi. Bel yang paling ditunggu oleh siswi seperti Hanna.
Hanna memakai tas coklatnya cepat. Ia berjalan di koridor untuk menuruni tangga agar mencapai gerbang sekolah. Sebagai penjelasan, kelas Hanna berada di lantai dua, harus menaiki beberapa anak tangga untuk pergi ke sana. Biarpun Hanna terlihat antusias pulang sekolah, gadis berambut biru itu berjalan dengan cukup malu-malu. Hanna agak sulit bersosialisasi atau berhadapan langsung dengan sejenis maupun lawan jenis.
Iris gadis Miura itu membulat saat tanpa pemberitahuan tubrukan keras mengenai bahu. Hanna tidak bisa menahan pekikan. Sebelum jatuh mengenaskan dan bergulingan ke arah tangga, tubuh Hanna ditarik kuat ke belakang, tangannya digenggam erat.
"Kau nyaris membuatnya mati, sialan."
Jantung Hanna berdegup. Wajahnya seketika memanas. Takagi menggenggam tangannya lalu memberhentikan paksa pria yang baru saja menubruk Hanna kasar. Hanna merasa letupan hangat memenuhi seluruh bagian tubuhnya.
"Hanna-chan, kau baik-baik saja?"
Baru saja Hanna merasa di atas langit sebelum Chizue ikut mengintrupsi. Hanna mengangguk dua kali. "Aku... baik-baik saja, Chizue-san."
"Gomennasai... aku sedang terburu-buru mengejar Asahi-sensei."
"Minta maaf pada Hanna-chan, dong!" Chizue berujar, membela Hanna seperti sahabat lama. Hanna jadi terharu dengan pasangan di hadapannya ini.
Pasangan?
Y-ya. Mereka memang pasangan serasi. Chizue yang baik seperti malaikat sedang Takagi yang menyimpan kebaikannya secara tersembunyi. Meski, Hanna tahu kenyataannya begitu, rasa suka pada Takagi masih tidak bisa hilang begitu saja. Rasa suka itu seperti sudah tertanam kuat di relung hati.
Bahu Hanna terguncang, Hanna berkedip mendapati Chizue memanggil namanya tak hanya sekali-dua kali. Keningnya berkerut. "A-apa?"
"Kau memaafkannya belum? Dia sudah mengucapkan permintaan maaf padamu Hanna." Chizue menjelaskan membuat Hanna merasa amat bersalah pada lelaki yang sudah tulus mengucapkan permintaan maaf.
Hanna mengangguk gugup. "Y-ya, te-tentu saja!" jawabnya cepat. Setelahnya pria tersebut melanjutkan urusannya yang tertunda.
Genggaman tangan Takagi terlepas. Sadar atau tidak Hanna terlihat murung dan kecewa.
"Baiklah kalau begitu, kami duluan Hanna-chan. Lain kali, hati-hati!" Chizue melambai, kini tangan Takagi tergantikan oleh genggaman Chizue yang erat, hal itu tak luput dari pengamatan Hanna. Sejoli berpasangan itu mulai menuruni tangga. Hanna memasang wajah masam.
Baru dua langkah ia menuruni tangga. Hanna tersandung. Mengapa hari ini begitu banyak hal menyebalkan terjadi pada dirinya? Pelajaran biologi ia ketahuan tidur, dihukum di luar kelas, kemudian ia ditubruk hingga nyaris jatuh dan sekarang ia sungguh jatuh akibat kakinya sendiri! Hanna mengerang, menutup mata erat.
Tetapi yang terjadi, tidak seperti bayangan Hanna. Ia jatuh menubruk punggung Takagi hingga lelaki itu ikut terjatuh berguling di tangga berakhir, darah merembes keluar di dahi.
Hanna tercengang. Kedua lengannya lecet, hal itu tidak sebanding dengan luka yang diderita Takagi. Kedua lengan Takagi yang sempat memeluk kepala Hanna lemah, terlihat membiru keunguan.
"Takagi-kun! Hanna! Kalian baik-baik saja?"
Hanna terperanjat. Irisnya bergerak gelisah. Semua ini memang salahnya.
Kedua mata Hanna memanas.
"A-Akiyama-san...."
Takagi melirik tajam. Wajah Hanna memelas nyaris menangis. Hanna rasa ia dimarahi pun tidak masalah. Bagaimana ini? Hanna sudah membuat Takagi terluka. Hanna menggigit bibir resah.
"Kau mau mati?!" Suara Takagi mengudara.
Kedua mata Hanna berkaca-kaca. Wajah Takagi menyeramkan sekali. Ia menggeleng. "G-gomennasai Akiyama-san...."
* * *
Hanna mengikuti langkah Takagi untuk dibawa ke UKS. Chizue terlihat begitu cemas, membuat Hanna ingin semakin menangis. Hanna menekan bibir menahan isak.
Chizue berbalik ketika tepat di depan pintu. Senyumnya melebar. "Hanna-chan kau harus pulang!" ucapnya sembari sedikit mendorong bahu Hanna pelan. "Takagi-kun kan kekasihku, jadi, aku yang akan mengurusnya."
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapian, pergilah, Hanna-chan!"
Baiklah, kalau sudah seperti ini, Hanna harus berkata apa lagi? Hanna menatap lekat iris hijau Chizue dengan ragu. Wajah jelas tersirat perasaan khawatir yang amat sangat. "A-Akiyama-san akan baik-baik saja?"
Chizue mengangguk. "Aku yakin seratus persen!" Kedua bahu Hanna didorong lebih menjauh. Chizue kembali melanjutkan. "Kau harus berhati-hati kali ini Hanna. Sekarang, pulang ya. Dan ingat, hati-hati. Oke?"
Hanna menyetujui. Memilih mengikuti apa yang dikatakan Chizue padanya.
Chizue memperhatikan punggung Hanna yang mulai menghilang dari pandangan, wajahnya berubah. Ia melangkah menghampiri Takagi. Di sana, dahi lelaki itu sudah terobati, di tengah perbincangan Chizue dan Hanna. Takagi menyempatkan diri membersihkan lukanya dengan menatap kaca, membalut menggunakan plester yang ia ambil di lemari tempat obat.
"Takagi, menurutmu, bagaimana dengan gadis seperti Hanna?" Pertanyaan itu... berefek Takagi membalas tatapan Chizue penuh. Sorotnya lurus.
Tak ada jawaban yang keluar, Chizue melangkah mendekat, tangannya naik mengusap wajah Takagi pelan. "Kita ini... sepasang kekasih, bukan?" Takagi membungkam hanya dengan satu pertanyaan yang keluar dari bibir Chizue. Karena, Takagi bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
* * *
Esoknya, Hanna mengambil sepatu dan pakaian olahraga untuk pergantian pelajaran penjaskes. Hanna mengikuti teman perempuan lainnya, mengganti seragam dengan pakaian olahraga putih biru disertai lambang sekolahnya itu. Kini, giliran Hanna mengganti sepatu, kakinya berdiri, sedetik setelahnya, tubuhnya jatuh menghantam lantai.
Naoko melihatnya, ia bertanya panik. "Kau tidak apa-apa, Hanna?"
Tangan Hanna bergetar berusaha membuka sepatu, napas tertahan, kedua kakinya berdarah. Kaus kakinya kotor dengan warna merah, di sana ditemukan paku berbentuk pipih yang tercecer. Hanna bahkan tidak menyadari paku tersebut berada di dalam sepatunya.
Kimi menjerit, "Hanna kakimu terluka karena paku!"
Gadis berambut abu-abu berteriak dari luar toilet. "Hei, kalian sedang apa? Sensei sudah datang untuk melakukan pemanasan!"
Kimi dan Naoko merupakan teman sekelas Hanna, saling berpandangan lalu menyorot Hanna khawatir bersamaan. "T-Tidak masalah, aku rasa, a-aku masih bisa menahannya," ungkap Hanna mencoba meyakinkan, ia mengeluarkan seluruh paku di sepatu, lalu memakaikan kembali. "S-Sembunyikan ini dari yang lain ya, Kimi-chan, Naoko-chan," bisik Hanna memelas.
Hanna mengakui ia memang masih bisa menahan nyeri saat berjalan, masih bisa bertahan saat mengangkat tangan melakukan absen, atau melakukan pemanasan. Hanna masih bisa menahan telapak kakinya yang nyeri luar biasa. Hanna masih mempercayai itu. Sampai pemanasan selanjutnya dilakukan, pemanasan berlari mengelilingi lapangan. Hanna tak kuasa menghembuskan napas.
Pada setengah putaran pun, Hanna merasa sudah tidak lagi kuat. Wajahnya memucat, terik matahari menyorot lurus mata mutiara itu. Kelopak mata Hanna menyipit. Kaki begitu amat perih. Detik setelahnya Hanna jatuh, kehilangan kesadaran.
Hanna bisa melihat, bagaimana tubuhnya diangkat oleh seseorang... iris Hanna bergerak menatap wajah yang melakukan aksi mengejutkan ini. Hinata pikir sensei olahraga yang akan melakukannya... paru-paru Hanna tersendat,
lelaki itu...
Takagi.
Mengerang saat sudah mencapai ranjang UKS, otaknya memaksa untuk sadar tetapi tubuh begitu menginginkan Hanna untuk menutup mata. Hanna menggenggam tangan Takagi dengan sisa kekuatan. Matanya bisa melihat, Takagi berbalik, balas menatap.
Takagi... Takaginya... teman masa kecil Hanna.
Jantung Hanna berpacu cepat. Iris berbeda warna itu saling bersinggungan.
"Tidak bisakah, kau lebih memilih aku, Takagi...?" racau gadis itu.
Hening. Yang Hanna tahu, di sisa kesadarannya, Hanna dapat melihat Takagi melepaskan genggaman mereka kemudian pergi ke luar pintu. Hanna tersenyum mentertawai kebodohannya sendiri. Mana mungkin, Takagi melakukan hal tersebut bukan?
Takagi sudah bukanlah Takagi yang dulu ketika senyumnya melebar dengan begitu manis--senyum yang paling dirindukan Hanna, mata menyorot Hanna murka lalu membelanya. Membela Hanna yang ketika itu hancur oleh masalah kelam keluarganya.
Takagi kecilnya sudah berubah.
Setelahnya matanya benar-benar terpejam. Hanna tak sadarkan diri.
* * *
Bel berbunyi. Hanna membuka mata lebar. Kepalanya pusing bukan main, ia melirik penjaga UKS yang tersenyum menyambut, Hanna diberi segelas air yang segera ia terima dan habiskan. Kedua kaki Hanna sudah diobati oleh balutan perban, kedua lengannya yang lecet--akibat kemarin ia tak sempat mengobati setelah jatuh dari tangga--sudah terlumuri obat.
Iris Hanna bergulir, menatap jam dinding dengan wajah terperangah. Sudah pukul tiga sore. Ia tak sadarkan diri sampai memakan waktu cukup lama. Hanna mencoba berdiri, membungkuk sebentar mengucapkan terima kasih pada penjaga UKS di sekolahnya. Sebelum Hanna keluar dan berjalan menaiki tangga menuju kelas, Hanna baru menyadari tasnya beserta roti isi sudah ada di atas meja UKS. Hanna termenung. Apakah ini ulah Kimi dan Naoko?
"A-ano... se-sensei, s-siapa yang menaruh tas dan roti di sini?"
Penjaga UKS berambut pendek itu tersenyum, mengusap rambut Hanna lembut. "Entahlah, aku baru saja datang di sini, tetapi kau sudah diobati beserta tas dan roti isi di sana."
Hanna terdiam. Tidak salah lagi, ini pasti perbuatan Kimi dan Naoko. Hinata harus mengucapkan terima kasihnya. Menggendong tas juga memakan roti isi tersebut, Hanna pamit. Ia harus pulang untuk menunggu bis.
Sebentar, sepertinya Hanna melupakan kejadian saat dirinya masih di ambang kesadaran. Yang Hanna ingat adalah, dirinya jatuh lalu....
Langkah Hanna terhenti.
Tatapannya berubah getir saat, menatap, Chizue mengecup pipi Takagi di luar mobil parkiran sekolah. Pikiran Hanna kacau. Mata meredup. Seharusnya dari awal Hanna memang sadar diri bahwa ia tidak mungkin mendapatkan Takagi Akiyama, seorang Takagi yang nyaris mencapai kata sempurna.
Chizue terlihat tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya dengan begitu manis pada Takagi yang balas menatap tiada berekspresi.
Hanna menelan saliva. Hatinya terasa menyesak dan pilu. Kedua mata Hanna memanas, Hanna memang harus melupakan perasaannya itu.