01. You're The First
Hanna menyukainya. Hanna menyukai lelaki berambut hitam itu. Iris pekat, sikap dingin, sorot tajam. Hanna menyukainya. Hanna begitu sangat menyukainya. Meski begitu, takdir tidak pernah mempersatukan mereka. Lelaki itu bernama panjang Akiyama Takagi, memiliki hubungan kekasih dengan Chizue Kaneko yang merupakan anak perusahaan terkenal. Hanna sering memperhatikan mereka berdua. Mengalah lebih dahulu walau sudah tahu tidak memiliki peluang.
Ini mungkin terdengar sedikit aneh, tapi percayalah Hanna jatuh cinta pada Takagi sebab memiliki alasan juga. Alasan yang selalu dirinya simpan dalam diam, dan di hatinya sendiri.
Perempuan berambut biru itu seringkali mengamati perilaku Takagi, dirinya yang cerdas, dirinya yang pandai matematika, dirinya yang sering berdiri di depan kelas untuk menjawab soal di papan tulis, dan dirinya yang wah. Hanna selalu memperhatikan bagaimana Takagi berlari mengejar lawan, menendang bola sampai mencapai gawang, bermain basket hingga sering memasukan bola ke ring, memukul bola voli dengan hebat, bermain drum ketika pentas seni tiba.
Hanya ada Takagi. Dan akan terus Takagi.
Hanna selalu melihat Takagi. Namun, seberapa banyak ia berharap, Takagi tak pernah berbalik untuk menghadapnya, mengenalnya, melihat Hanna seperti Hanna melihatnya. Takagi tak pernah menyukainya, yang lelaki itu tahu hanyalah tawa Chizue yang mempesona. Gadis berambut seperti kelopak bunga yang sering memenangkan olimpiade sekolah.
Hanna sadar, menjadi pemeran utama dalam cerita, sangat bukan dirinya. Ia hanya seorang figuran. Seorang yang tidak diperlukan dalam cerita.
Hingga Hanna mengalami satu kesialan yang--baiklah Hanna mengakui--yang sangat disyukurinya. Ini terdengar gila, tetapi Hanna menyukainya. Mereka berdua dihukum membersihkan kelas, setelah terlambat memasuki gerbang sekolah. Hanna bersorak dalam hati.
Kalau tahu begitu, ia akan terlambat setiap hari agar bisa bersama Takagi seperti ini.
Hanna menyapu, sedang Takagi hanya duduk tak acuh memegangi ponsel. Lelaki itu terlihat tidak peduli akan hukumannya. Ia memilih membalas pesan yang terus masuk, tanpa mempedulikan teman sekelasnya yang kewalahan.
Berbeda dengan si Akiyama, Hanna menahan degupan jantungnya yang menggila. Berdua di kelas, bersama Akiyama Takagi merupakan mimpi yang tak pernah ia bayangkan. Hanna menahan senyum. Tak menghiraukan tubuh terbanjiri keringat, hati Hanna tetap terasa hangat.
Sorot Hanna berganti sendu ketika, Takagi berdiri dan berjalan menuju pintu yang Hanna yakini, lelaki itu akan meninggalkannya sendiri. Tentu saja menyusul Chizue yang selesai menjalani ekstrakulikulernya. Hanna menelan saliva kasar. "...a-ano...."
Menggenggam sapu mengerat. Iris bergerak gelisah. Kepala tertunduk dalam. "Ki-kita sedang dihukum be-berdua." Hanna melanjutkan kata-katanya gugup. Rasanya gadis itu ingin menangis saja, saat Takagi tak sekalipun berniat berbalik hanya untuk mendengar perkataannya, oh lebih tepatnya bisikan.
"Ta...ehm, Aki-yama-san...."
Hanna mengintip di balik poni, apakah Takagi akan tetap meninggalkannya? Apakah lelaki itu akan marah dan bersikap dingin padanya?
Terlonjak. Mendadak Takagi membalikkan badan, menyorot Hanna lekat.
"Kau tidak keberatan Chizue datang kan?"
Hanna mengerjap, "A-apa?"
Belum sempat Hanna memproses apa yang diucapkan Takagi, gadis berambut merah muda itu datang membuka pintu lalu memeluk Takagi erat. Hanna meremas ujung roknya kuat. Ah... Hanna kau memanglah terlahir menjadi sebuah penonton bukan yang ditonton, batin gadis itu.
"Hai, kau teman sekelasnya Takagi-chan ya?" Chizue berujar semangat, Hanna terdiam. Pikirannya termenung dengan ungkapan gadis itu memanggil Takagi dengan akhiran-chan. Uh. Iri sekali.
"Berhenti memanggilku seperti itu, Chizue."
"Biarkan saja!" Chizue menjulurkan lidah meledek. Takagi memutar bola mata malas.
Lihat, mereka sungguh sangat serasi sekali. Apa yang diharapkan Hanna? Ingin merusak hubungan mereka begitu saja? Jahat sekali.
Hanna menggigit bibir, irisnya membulat ketika menemukan Chizue mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Hanna menengadah lugu.
"Aku Kaneko Chizue, kau?"
Chizue sendiri bahkan begitu baik. Hanna meringis. Jantungnya berdenyut. "H-Hanna."
"Hanna saja?"
"M-Miura Hanna..."
"Oh!" Chizue terkekeh. "Nah Takagi, sekarang kau harus membantu Hanna-chan, sana!" Chizue mendorong memaksa Takagi.
Lelaki itu melipat tangan angkuh. "Tidak mau."
Chizue kesal bukan main, ia semakin mendorong Takagi gemas. "Kubilang bantu, Takagi-chan, cepatlah!"
Takagi mulai kehilangan keseimbangan. "Hei-hei aku bisa jatuh Chizue."
Dan benar saja, Takagi jatuh. Ia menubruk tubuh Hanna hingga menghantam lantai. Hanna mengaduh, jantungnya kembali bertalu kencang ketika merasakan kedekatannya pada Takagi begitu sangat--bagaimana menjelaskannya? Takagi berada di atasnya, memenjarakan tubuh Hanna dengan kedua lengan menahan berat badannya sendiri. Hanna terhipnotis. Iris Takagi masih sehitam dulu. Kelam dan gelap. Itulah salah satu alasan mengapa Hanna tergila-gila pada Takagi. Warna irisnya sungguh menawan. Hanna berubah membeku, sadar Takagi meneliti wajahnya.
"Takagi-kun, Hanna-chan. Kalian baik-baik saja?"
Hanna meringis. Tubuh Takagi menjauh. Hanna mengambil napas berat. Chizue mengulurkan tangan membuat Hanna kembali menengadah. Tersenyum canggung merasa bersalah. Hanna menerima ulurannya, lalu berdiri.
"Gomen ya, Hanna-chan."
Hanna mengangguk, tersenyum.
"Kau baik-baik saja?"
Hanna kembali mengangguk, senyumnya melebar sebagai tanda bahwa ia benar-benar baik-baik saja.
Seperti ada yang memperhatikannya. Hanna menoleh, mendapati Takagi yang bahkan masih membersihkan debu di seragamnya yang sempat jatuh. Sebenarnya Hanna berimajinasi apalagi? Mana mungkin kan Takagi tadi memperhatikannya. Hanna merutuki kebodohannya sendiri.
"Baiklah, karena aku merasa bersalah. Aku akan membantumu, Hanna-chan. Bagian mana lagi yang harus dibersihkan?"
Hanna tersenyum lebar, semburat merah mewarnai pipi, mata menyipit. "A-arigatou...."
* * *
Setelah itu, mereka bertiga bisa menyelesaikan hukuman dengan cepat. Kelas sudah berubah menjadi bersih, mereka bisa pulang dengan tenang. Hanna memperhatikan punggung Takagi dengan punggung Chizue yang berjalan di depannya.
Gadis berambut biru menyorot redup. Menyenangkan sekali hidup seperti Chizue, hidup bergelimpangan harta dan memiliki kekasih yang begitu baik dan pengertian. Hanna menghela napas melanjutkan perjalanan.
"Eh, Hanna, kau tidak membawa mobil?"
Hanna menoleh, balas menatap Chizue. "A-Aku menaiki bis."
Chizue mencubit pipi Hinata seperti teman lama, gemas sendiri dengan pipi bulat kemerahan itu. "Mau kami antar? Tidak usah sungkan, kau tahu, ini mobil Takagi loh, aku yakin, lelaki es ini tidak akan keberatan." Chizue menyengir.
Hanna mengusap pipi mengaduh. "Ta-Tapi...."
"Please?"
Jika menuruti Chizue itu sama saja dengan memilih menjadi satu-satunya orang asing di dalam mobil. Memang lebih baik menaiki bis seperti biasa.
"Tidak usah, a-aku sudah terbiasa menaiki bis, Chi-Chizue-san...."
Chizue menghela napas kecewa. Melihat itu membuat Hanna merasa bersalah. "Ta-tapi lain kali a-aku akan mempertimbangkannya."
Kaki Hanna kembali berniat melangkah, sebelum Takagi mengintrupsi.
"Naiklah. Aku tidak keberatan."
Hm?
Apa katanya? Hanna tidak salah mendengar bukan? "A-apa?" Jeda, senyum kaku terukir. "T-Tidak perlu, aku sudah biasa menaiki bis."
"Ah, sayang sekali!" ujar Chizue sedih. Kakinya berniat memasuki mobil, tetapi iris hijau Chizue menemukan, Takagi masih saja berdiri menatap Hanna, membuat Hanna bergeming tak bisa berkutik. Auranya mengintimidasi.
"Naik." Takagi berujar dingin.
Kening Chizue berkerut, mengapa kali ini Takagi terlihat begitu pemaksa sekali? Kepalanya menoleh menatap Hanna yang ketakutan. Chizue berusaha menarik tangan Takagi, ia menggenggam jemarinya, mencoba mencairkan suasana.
Hanna harus bagaimana? Ia menggigit bibir tidak paham akan sikap yang ditunjukkan Takagi padanya. Apa lelaki itu marah? Ia berdiri dengan kikuk. "A-ano..."
"Sudahlah Takagi-chan, tidak perlu sampai memaksa Hanna. Mungkin Hanna memang lebih nyaman menaiki bis." Chizue membujuk. Senyumnya terukir cerah. "Ya, kan, Hanna?"
Hanna mengangguk cepat. Kelegaan hadir, akhirnya, Takagi memilih meninggalkan Hanna juga. Mungkin, Hanna telah melakukan kesalahan tanpa ia sadari. Memilih tidak memikirkannya, ia berjalan menuju halte.
* * *
Pikiran Hanna melayang menuju awal pertama ia memiliki rasa pada si Akiyama angkuh berwajah dingin itu. Saat itu Takagi memiliki iris hitam yang lebih hangat dan polos dibandingkan sekarang. Iris itu begitu gelap, sangat gelap sampai membuat Hanna tak bisa berpaling atau berkedip ketika menatapnya. Senyumnya terkesan jelek juga tidak ikhlas, tetapi Hanna tergila-gila akan hal itu--ya tergila-gila akan sosok Takagi yang kecil.
Bis datang, ia melangkah menaiki tangga bis sebelum tangannya ditarik paksa oleh seseorang hingga membuat keseimbangan Hanna turun. Hanna menoleh, hampir saja tubuhnya jatuh. Matanya membulat menemukan Takagi bingung.
"Apa kita pernah bertemu?"
Pertanyaan itu. Hanna tidak berharap apa-apa lagi. Takagi sudah memiliki Chizue, untuk apa Hanna menjelaskan semuanya?
Iris mereka saling menubruk, dan sejujurnya Hanna sungguh menyukai warna yang tergambar jelas di iris Takagi yang membingkai wajahnya. Hanna menggeleng pelan, senyum terukir tipis. "T-Tidak...." jawabnya sedikit gugup--yah anak baik-baik seperti Hanna tentu saja tidak pandai berbohong--Pandangan Hanna turun, baru menyadari bahwa tangan Takagi masih menggenggam erat pergelangannya. Pipi Hanna diam-diam bersemu. Bis kembali berjalan, sepertinya Hanna harus menunggu bis lagi setelah ini.
"Kau tahu aku memiliki Chizue bukan?"
Jantung Hanna bergemuruh, napasnya tercekat. Hanna tahu, sangat tahu. Tidak perlu untuk memperjelas semuanya karena Hanna sadar akan hal itu. Hanna mengangguk, senyumnya kaku. "Y-ya... a-aku tahu A-Akiyama-san...."
Hanna dapat melihat Takagi memandanginya tajam. "Aku tahu ini memalukan, kau tidak mungkin menyukaiku kan Miura?"
Ah...
Di sini, terasa perih.
Suasana berubah hening, semilir hembusan angin meniup rambut mereka berdua. Dari awal Hanna memang tidak boleh berharap. Harusnya memang begitu. Tetapi, setelah Takagi mengatakan secara terang-terangan seperti ini, hati Hanna tetap saja terasa terluka, tergores, lalu menimbulkan rasa nyeri luar biasa. Menyedihkan sekali ya hidupnya ini.
Iris Hanna bergerak gelisah, telapak tangan berkeringat dingin. Mengambil napas panjang Hanna mencoba menjawab seperti biasanya--harus seperti biasanya. "Te-tentu saja tidak... me-mengapa Akiyama-san berpikir seperti i-itu?"
"Kau pikir aku bodoh?"
Kedua mata Hanna berkaca-kaca dipaksa seperti ini, membuat nyali Hanna menciut. Kepala Hanna menunduk dalam, "Go-Gomen..." paraunya.
Takagi melepas genggamannya, membuat Hanna harus menghadap wajah lelaki itu begitu dekat ketika bahunya dicengkeram oleh Takagi kuat. Baiklah, katakan Hanna gadis aneh tidak tahu diri. Ia masih saja menyempatkan diri mengagumi wajah Takagi dengan lebih dekat. Iris hitamnya semakin menghipnotis sang gadis.
"Jaga batasanmu denganku." Hanya tiga kata itu, satu kalimat, dan yang terjadi selanjutnya ialah Hanna ditinggal sementara lelaki itu mengendarai mobilnya meninggalkannya sendirian di halte bis.
* * *
Esoknya sehabis pulang sekolah, Hanna mendapatkan sebuah tugas untuk mengumpulkan semua makalah ke dalam ruang guru. Lalu mengambil ribuan kertas HVS di gudang untuk keperluan guru-guru nanti. Karena Hanna, terkenal sebagai siswi penurut juga bertanggung jawab. Tak segan guru-guru menyuruhnya akan banyak hal keperluan. Hanna juga jarang mengeluh mengakibatkan guru-guru senang akan sifatnya.
Menunduk, Hanna mulai membereskan beberapa berkas dan mengambil kertas HVS begitu banyak tanpa menghitung. Mendengar suara pecahan kaca, Hanna refleks berteriak, memeluk kertas HVSnya kencang. Tak lama, Hanna dikejutkan Takagi berlari tergesa-gesa menghampiri. Hanna baru menyadari bahwa bola basketlah yang menjadi alasan mengapa Takagi berlari ke sini. Karena, gudang sudah jarang terpakai, kaca pada ruangan pengap ini pun menjadi lebih rapuh. Untuk itu, benda tersebut mudah hancur akibat pukulan bola basket yang berat. Hanna mengangguk, menganalisa sendiri.
Mengingat tujuannya berada di gudang, Hanna melanjutkan mengambil beberapa lembar HVS. Ingin cepat-cepat kembali ke ruang guru lalu pulang dan tidur dengan nyenyak.
"Miura! Mengapa pintu ini tidak bisa dibuka?"
Hanna menoleh, mendapati Takagi yang berusaha menendang pintu. Melihat hal tersebut, iris Hanna terbelalak. "Ku-kuncinya ma-masih menempel di l-luar pintu."
Takagi melotot.
Ditatap seperti itu, Hanna mengeratkan pelukannya pada beberapa lembar HVS. Hanna dapat melihat betapa susah payahnya Takagi berusaha keluar, ia berkali-kali menubruk menggunakan tubuhnya.
"A-Akiyama-san sendiri, mengapa menutup pintunya?" Karena, Hanna tidak merasa menutup pintunya tadi.
"Aku tidak menutupnya. Setelah mengambil basket, pintunya tertutup sendiri dengan tiba-tiba." Takagi menjelaskan, ia berbalik, mulai menggeser kursi, merebut paksa tumpukan HVS dari tangan Hanna untuk dirinya pijak agar dapat mencapai jendela.
"Kertas HVSnya menjadi kotor...." bisik Hanna.
Takagi terlihat menyerah setelah melihat ke luar jendela. Hanna menengadah, menyorot Takagi tersinari senja kemerahan begitu pas. Sekali lagi, jantung Hanna bergemuruh tidak karuan. "Kenapa?"
"Tak ada orang di lapangan."
Mereka berdua terjebak. Berdua, lagi, seperti ketika hukuman di kelas itu. Takagi terlihat menduduki kursi, sebelum itu ia kembali menyerahkan tumpukan lembar HVS yang sudah kotor oleh jejak sepatunya pada Hanna.
Takagi mengambil ponsel di saku, dan Hanna bisa menebak lelaki itu sedang menghubungi Chizue--kekasih tercinta. Diam-diam Hanna merasa cemburu begitu saja.
"Tidak ada sinyal," katanya.
Hanna masih memeluk HVS, menahan rasa lapar ketika perutnya terasa meminta asupan. Ia duduk di lantai.
"HVS itu untuk apa?" tanya Takagi memecahkan keheningan.
Hanna menjawab kalem. "Guru...." Dan kembali, suasana menjadi hening.
Penerangan mulai meredup, senja berubah menjadi kegelapan gulita malam. Tubuh Hanna bergetar ketika retinanya hanya menemukan kegelapan yang tersinari tipisnya cahaya. "A-Akiyama-san, ka-kau masih di kursi?" tanyanya memastikan. Jangan bilang, tiba-tiba Takagi menghilang diculik hantu akibat terlalu tampan?
Hanna menelan saliva. "A-Akiyama-san?" Memorinya kembali berputar saat dirinya terkunci dalam ruangan lalu tamparan mengenai pipinya di tengah gelap. Hanna mulai tremor. "Akiyama-san?"
Masih tak ada sahutan. Mata Hanna hampir menangis. "Takagi...."
"Diamlah. Aku sedang mencari saklar lampu." Suara Takagi terdengar, intonasinya terkesan dingin sekaligus membuat Hanna menghembuskan napas tenang. Hanna tersenyum. Yah, setidaknya Hanna tidak perlu khawatir akan traumanya, karena Takagi ada di sisinya, seperti saat itu. Saat dulu, Takagi membuat Hanna jatuh cinta di usia belia.