Option

1329 Words
Happy Reading. "Mianhae Min! Aku tak bisa menyembunyikan ini semua. Jujur aku merasa bersalah padamu tapi ini memang kenyataanya" Mina tersenyum miris saat mendengar ucapan Jimin. Setelah tiga hari pria ini tak bisa dihubungi. Tiba-tiba Jimin datang dan menceritakan semua tentang perasaanya. "Aku tidak terkejut dengan pengakuanmu Jim. Jauh sebelum kau mengatakan ini aku lebih dulu menyadari jika kau memang mencintai Aliya! Dari caramu menatapnya aku sudah bisa menyimpulkan itu" Jimin menunduk saat mendengar ucapan Mina. Tanpa Jimin sadari Mina mempertahankannya dengan tatapan dalam dan aneh. "Aku tak menuntut banyak padamu justru aku ingin minta maaf" ucap Mina. "Kenapa kau ingin minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf padamu" Mina menggeleng saat mendengar ucapan Jimin. "Aku pernah meminta Aliya menjauhimu" Jimin terkejut saat mendengar ucapan Mina. "Aku begitu cemburu pada kedekatan kalian. Jika ada Aliya disisimu kau seolah melupakanku. Keistimewaan yang kau berikan padanya membuat aku iri. Dia begitu berharga dimatamu dan itu membuatku tak nyaman. Aku bahkan dengan terang-terangan mengungkapkan itu didepanya dan berakhir dia benar-benar menghindarimu. Aku sadar saat dimana kau yang berteriak histeris setelah mereka keluar dari ruangan Dance waktu itu. Kau tampak seperti seorang Namja yang histeris saat ditinggal Yeojachingu-nya. Dan puncaknya aku sadar saat kau menjelaskan posisi Aliya dihidupmu beberapa waktu yang lalu" Mina mengambil nafas pelan dengan senyum asam. "Maaf karena kelakuan lancangku Aliya menjadi menjauhimu. Tapi sekarang aku tak akan menghalangi kalian lagi.! Kejar dia katakan yang sebenarnya tentang perasaanmu! Dan segera ikat dia jika kau tak ingin dia direbut Namja lain. Dan aku akan benar-benar melepasmu" Jimin mengangkat wajahnya. "Teman?" Mina mengulurkan tanganya pada Jimin. "Min..." "Teman?" Jimin menyambut tangan Mina dengan senyum manis. "Teman" "Sekarang kau temui dia dan katakan yang sebenarnya. Dan bisakah kau menyampaikan ucapan maafku padanya?" Jimin mengangguk. "Aku akan menyampaikanya. Gumawo Min! Aku pergi dudu! Anyeong" Jimin langsung berlari menjauh dari Mina. Begitu punggung Jimin sudah tak terlihat Mina langsung jatuh kelantai. Isakan tangis mulai terdengar dari bibirnya. Bohong jika ia rela jika Jimin mengakhiri hubungan mereka. Ia sangat mencintai Jimin dan Jimin adalah cinta pertamanya! Tapi itu tak bisa merubah apapun! Jimin sudah menemukan gadis yang benar-benar dia cintai. "Apa aku sanggup melakukan ini. Menyakitimu? Kau terlalu jahat padaku Jim. Aku melakukan semuanya untukmu dan ini balasannya! Kau jahat" *** "Hayoooooo" Aliya memekik saat seseorang mengagetkan dirinya. "Oppaaa....." Jimin terkekeh saat melihat wajah kaget Aliya. "Melamunkan aku ya?" Tanyanya sambil membawa Aliya kepelukanya. "Jangan terlalu percaya diri Tuan Park" ucapnya kesal. "Terserah" "Oppa dari mana?" tanyanya sambil membawa Jimin duduk disofa. "Bertemu seseorang" "Nugu?" Tanyanya bingung. "Mantan kekasihku" "Mantan.....Oppa sudah berak....." "Nde aku sudah mengakhirinya" Aliya tidak percaya saat mendengar ucapan Jimin. Secepat itukah?. "Lalu Mina Eonni bagaimana?" Tanyanya penasaran. "Dia menerimanya dengan baik. Dan ternyata dia juga sudah tahu jika aku mencintaimu" Aliya tentu saja kaget saat mendengar pengakuan Jimin. "Dan dia diam saja?" Jimin mengangguk. "Wahhh....dia benar-benar punya rasa sabar yang tinggi ternyata" puji Aliya takjub. "Heii...kenapa kau tak bilang jika Mina pernah memintamu untuk menjauhiku?" Tanya Jimin ingat. "Untuk apa aku bilang. Lagi pula yang dilakukan Mina Eonni benar! Mana ada Yeoja yang tahan saat melihat Namjachingu-nya memperhatikan gadis lain dari pada dirinya. Walaupun itu adik" ucap Aliya membenarkan tindakan Mina. Jujur ia tak merasa marah dengan kelakuan Mina. Menurutnya itu wajar jika dilihat dari cara pandang wanita. "Tapi kau benar-benar menjauhiku! Itu yang tak kusuka" ucap Jimin kesal. "Tapikan sekarang tidak" jawabnya polos. "Haisshhhh....sudahlah. aku mengantuk" Ucap Jimin. "Tidur saja sana" balas Aliya sambil melepaskan pelukan mereka. "Temani" Aliya memutar bola matanya jengah. "Kau sudah sangat besar untuk ditemani tidur Tuan Park" Jimin menggeleng tak setuju. "Aku memang sudah besar tapi untuk urusan menemaniku tidur itu tak bisa diubah! Lagipula ini bisa menjadi ajang latihan kita jika sudah menikah nanti" Aliya mendengus kesal saat mendengar ucapan Jimin. Tanpa berkata apa-apa dia langsung menuju dapur. "Yakh...kamarnya ada disana. Bukan disitu" Aliya hanya melambaikan tanganya cuek. "Aishhhh...benar-benar" Jimin justru ikut menyusul Aliya kedapur. Dan melupakan niatnya untuk tidur. *** Aliya menatap pantulan dirinya dalam cermin kamar mandi. Wajahnya pucat pasi dengan keringat yang keluar dari pori-pori wajahnya. Ia mengusap perutnya yang seakan terasa diaduk-aduk. Sejak tadi pagi ia tak berhenti muntah dan yang ia muntahkan hanya air liur saja. "Siallll.....apa mungkin aku hamil?" ucap Aliya sambil menatap pantulan dirinya. Aliya tak kaget karena dirinya dan Jimin sering melakukan hubungan intim. Dan Aliya juga tak terlalu takut akan hal itu. Paling nanti hanya Jimin yang akan diadili. Dia hanya perlu pura-pura menangis dan mereka semua pasti akan segera menikahkan mereka. "Tapi aku tak mau nikah muda" gumanya kesal. "Heiiii...Park Jimin junior kau ada didalam ya?" Dasar bodoh mana bisa dia menjawab. Belum pasti juga dirinya hamil dan main berbicara dengan perutnya. "Aku juga tak mungkin memeriksakan ini kedokter. Relasi Appa sangat banyak. Dan sama saja aku cari mati. Menyebalkan" ucapnya lagi. Aliya tampak berfikir detik berikutnya ia tersenyum manis. "Kau benar-benar jenius Kim" ucapnya bangga sambil keluar dari kamar mandi. **** Tzuyu, Dahyun, Chaeyoung, Yeri dan Hani menatap was-was kearah kamar mandi. Tadi tiba-tiba Aliya menelfon mereka dan meminta mereka untuk membelikan tespack untuknya. Tentu saja mereka kaget. Bahkan tadi Dahyun sempat mengamuk pada Aliya. Tapi bukanya takut gadis iti justru bersikap sangat cuek. "Kenapa dia lama sekali?" Ucap Tzuyu kesal. "Bagaimana jika Aliya benar-benar hamil. Lalu bagaimana nanti jadinya?" Tanya Chaeyoung panik. Mereka langsung berlari menuju Aliya saat gadis itu keluara dari kamar mandi. "Otte?" Tanpa banyak bicara Aliya langsung menyerahkan Tespack-nya pada mereka. "Astaga....." "Aku mau pingsan..." "Bagaimana ini bisa terjadi...?" "Bagaimana jika kedua orangtuamu tahu?" "Ini anak Jimin Oppa. Bagaimana bisa?" Hebat hasilnya adalah tepat positive dan Aliya hamil anak Park Jimin. "Yakhh...bagaimana kau bisa hamil anak Jimin Oppa?" Aliya menatap datar keaah Yeri. "Salah sendiri kenapa dia terus memintaku bercinta dengan-nya" mereka shock saat mendengar jawaban santai Aliya. "Hei kau masih 18 tahun" ucap Tzuyu. "Apa bedanya 18 tahun atau 28 tahun toh itu sama-sama saja" balasnya cuek. "Taeyeon imo pasti akan segera menikahkan kalian dan Jimin Oppa pasti akan babak belur ditangan Jin Oppa, Taehyung Oppa, Hoseok Oppa dan Yeolli Oppa" ucap Hani menarawang. "Tentu saja! Park bantet itu berani meniduri Magnae bahkan sampai hamil" ucap Chaeyoung. "Aku tak bisa membayangkan ini" guman Dahyun frustasi. Aliya sendiri tidak merasa takut dengan kehamilanya. Yang ia bingungkan adalah bagaimana caranya untuk menyembunyikan ini dari Jimin. Bisa gawat jika Jimin tahu. Dia pasti akan segera diseret kepelaminan oleh pria itu. "Aiggooo...Park Jimin junior tumbuh dengan baik ne disana. Dan bisakah kau bantu Mom menyembunyikan ini dari Dad? Mom tak mau nikah muda. Restui Mom ne? Kau kan anak baik iyakan?" Dasar Aliya gila. *** "Tumben kau mau tak makan sayur?" Ucap Jin menilai saat melihat piring adiknya yang tak ada satupun sayur. "Ini pasti karena dia" monolog Aliya sambil menyentuh perutnya yang masih datar. "Kau baik sayang?" Aliya mengangguk saat ibunya bertanya padanya. "Kau juga semakin gendut" Aliya mendengus saat mendengar ucapan Taehyung. Tentu saja ia gendut karena porsi makanya sudah meningkat 3 kali lipat. Oh ya Jimin belum tahu tentang kehamilanya. Entah kapan dia akan memberitahukan tentang keberadaan janin ini pada Jimin. Yang pasti ia menunggu waktu yang tepat. Entah itu kapan dia sendiri tak tahu. *** Aliya berjalan santai disekitar taman Kyunghee. Akhirnya setelah sekian hari ia berdebat dengan fikiranya. Diputuskan jika dia akan berkata jujur pada Jimin. Setelah bertanya pada beberapa mahasiswa tadi akhirnya Aliya tahu jika Jimin sedang berada di taman. "Kemana dia?" Tanya kesal karena dari tadi dirinya sudah berputar putar dan tak menemukan keberadaan Jimin. "Ohhh....." perkataan Aliya terhenti. Matanya menatap tajam kearah ujung taman. Itu Mina dan Jimin. Keduanya berciuman! Aliya bersumpah jika keduanya berciuman dengan sangat mesra. Aliya meremas kertas yang ada ditangannya. Matanya memanas melihat itu. Bagaimana bisa dirinya mengatakan kebenaran tentang kebenaran ini pada Jimin jika Jimin saja seperti ini. Berciuman dengan perempuan yang notabenenya adalah mantan kekasih. Benar kata pepatah, cinta pertama memang sudah dilupakan. Dan itu terjadi pada Jimin. Mata Aliya tidak kuat membendung air matanya saat melihat Mina menyunggingkan senyum sinis padanya dan merangkul pinggang Jimin lebih erat. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD