Happy Reading.
Riruk piruk kota America tampak kelihatan ramai pagi ini. Banyak kendaraan yang berlalu lalang disepanjang jalan juga jangan lupakan para pejalan kaki yang mondar mandir. Suasana ramai seolah menjadi hal yang sangat biasa bagi Amerika. Jika dijalan sangat ramai disebuah rumah kecil dipinggiran kota pun sangat ramai akan teriakan seseorang.
"Opppaaa.....aku belum selesai" bocah bermata bulat itu tampak berteriak pada kakaknya.
"Kau mau bawa apa lagi Hyuniee? Koper kita sudah tidak muat jika kau terus mengisinya dengan barang-barang rongsokan milikmu itu" bocah laki-laki itu berucap begitu kesal pada sang adik.
"Aku tak mau ada yang kurang. Lagipula apa susahnya sih membawa ini?" Bocah perempuan itu menggembungkan pipinya karena kesal. Ciri khas sang ibu sepertinya menurun padanaya.
"Sudah cukup! Oppa tak mau menanpung barang bawaan-mu lagi! Jika kau membutuhkan itu kita bisa membelinya di Seoul nanti dan tak perlu membawanya dari sini! Kau faham Park Ji Hyun" Ji Hyun menghela nafas pasrah. Jika sudah begini dia tak bisa lagi membantah kakaknya.
Dengan sedikit kesal ia membanting beberapa barang bawaannya kelantai dan langsung duduk disofa.
"Pagi Ji Twinnnnn" mereka berdua menoleh saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Uncle Tae....." Ji Hyun langsung berlari menghampiri Taehyung. Dan dengan sigap ia menangkap bocah perempuan itu dalam gendonganya.
"Hati-hati sayang! Kau bisa jatuh jika tidak hati-hati" Ji Hyun hanya menunjukkan Eyesmile yang sangat mirip dengan ayahnya.
"Sorrryyyy....." Taehyung hanya bisa geleng-gelang kepala. Dengan Ji Hyun yang ada digendonganya ia langsung berjalan menghampiri bocah laki-laki yang dari tadi menatap mereka.
"Selamat datang Samchon" Taehyung tersenyum manis saat mendengar sapaan Ji Yoon. Bocah ini begitu sopan dan sangat dewasa berbanding balik dengan Ji Hyun yang manjanya juga sangat luar biasa.
"Sudah siap sayang?" Ji Yoon mengangguk. Memang dirinya sudah siap.
"Lisa imo tak ikut?" Taehyung menggeleng saat mendengar pertanyaan Ji Yoon. Lisa sedang menyiapkan penikahan mereka yang akan di gelar bulan Oktober mendatang.
"Mom belum selesai?" Mereka berdua menganggukan kepalanya. Ibu mereka masih sibuk dikamar.
"Baiklah kalau begitu. Biar Ahjuhsi Han yang membawa koper kalian ke mobil dan kita susul Mom kalian oke? Kajja Yoonie" Taehyung langsung berjalan sambil menggandeng Ji Yoon sedangkan Ji Hyun ada digendonganya. Baru saja mereka mau naik tangga seorang wanita dengan menggunakan celana jeans warna hitam dan kemeja putih keluar dari kamar.
"Ohhh...Oppa sudah datang?" Sapanya sambil turun dari tangga.
"Baru saja sampai dan langsung kemari" Taehyung baru saja dari London dan langsung pergi LA untuk menyusul adik dan juga keponakanya ini.
"Tidak ada yang tertinggal sayang?" Ji Twin menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kita berangkat sekarang. Hyuniee turun dari gendongan Samchon Tae kau tahu kan dia pasti lelah karena baru saja dari London" Ji Hyun langsung meringsut turun dari gendongan Taehyung ia tak mau mendengar perintah ibunya untuk kedua kalinya. Bisa menjadi masalah jika itu sampai terjadi.
"Baiklah! kajja kita berangkat"
****
"Taehyung tak pulang Lis?" Tanya Hoseok pada adiknya.
"Dia masih menjemput seseorang" Hoseok menganggukan kepalanya saat mendengar ucapan adiknya ini.
"Oppa tak marah jika aku menikah duluan?" Hoseok terkekeh saat mendengar pertanyaan adiknya.
"Tidak. Walaupun aku lahir duluan itu tak menjadi hukum jika aku harus menikah dulu. Lagipula entah itu kau atau aku yang menikah duluan kukira tak menjadi masalah toh intinya sama saja" Lisa tersenyum lega saat mendengar ucapan sang kakak.
"Apa Oppa menunggu Maknae pulang dulu?" Hoseok tersenyum tipis.
"Kau pasti tahu dengan benar apa yang aku fiirkan Nyonya Lalisa Kim" pipi Lisa memerah saat kakaknya mengganti marganya menjadi marga Taehyung.
"Sudahlah kau ikut Oppa ke Rumah Keluarga Kim tidak? Jika kau ikut cepat ya!" Ucap Hoseok.
"Oppa aku ikut" Lisa langsung berlari mengejar kakaknya. Ia ingin ikut kerumah calon mertuanya.
***
Taehyung mengusap pipi Chubby sikembar dengan perasaan sayang. Mereka tengah tertidur karena kelelahan. Jika sekilas dilihat sudah bisa dipastikan jika ini anak siapa. Wajah Ayah sikembar sangat mendominasi dari pada wajah ibunya. Hanya dagu bulat sang ibu yang diturunkan kepada mereka sedangkan yang lain adalah milik ayahnya.
"Aku takut jika jika semuanya semakin buruk" Taehyung diam membisu saat mendengar ucapan takut adiknya. "Jangankan kau Maknae. Oppa juga takut, Oppa tidak pernah berfikir jika gadis itu akan melakukan hal sejauh ini" monolog Taehyung dalam hati. Kamu tahukan siapa ayah dari mereka?. Yup...Park Jimin lah orangnya.
Saat tahu jika Aliya hamil. Taehyung langsung murka. Ia bahkan sempat mau menghabisi Jimin saat itu juga. Tak perlu Aliya memberitahunya tentang itu. Taehyung sudah bisa menebak jika Jimin adalah ayah dari janin yang dikandung Aliya. Karena Mina yang sudah kembali ke Jepang dan Jimin semakin aneh saat kepergian Adiknya. Adiknya tak akan mungkin membiarkan orang asing menyentuhnya. Karena pada dasarnya ia tahu jika adiknya masih mencintai Jimin.
Aliya memohon pada Taehyung untuk tidak memberitahukan tentang kehamilanya pada Jimin. Karena dia juga salah disini. Dia ingin membesarakan anaknya sendiri. Taehyung jelas tidak percaya dengan ucapan Aliya. Itu terlalu klise. Akhirnya dengan paksaan dan ancaman darinya akhirnya Aliya berani jujur. Dan dengan sialnya Taehyung justru terjebak janji tidak boleh mengatakan kebenaran itu pada siapapun. Jelas ini ulah Aliya.
Teman-temanya sering mengunjunginya. Dan semua keluarga tahu tentang kehadiran Ji Twin. Hanya keluarga Park yang tidak tahu. Jika sampai Taeyeon dan Jungsoo tahu Aliya bisa langsung diseret ke altar oleh mereka. Dan itulah yang tak ia inginkan untuk saat ini.
"Jangan bebani dirimu dengan fikiran aneh-aneh. Nanti kita putuskan jika sudah sampai di Seoul" Sebenarnya Aliya tak ingin kembali Taehyung lah yang memaksanya untuk kembali. Dan mau tak mau Aliya hanya bisa menurut.
"Tidurlah" Aliya menuruti ucapan Taehyung. Ia langsung memejamkan matanya karena juga sedikit lelah. Lagipula perjalan mereka masih panjang
****
Setelah menempuh perjalanan sekitar 12 jam akhirnya mereka sampai di bandara Incheon. Ji Hyun masih digendong Taehyung sementara Ji Yoon digandeng ibunya.
"Kajja kita kesana. Ahjuhsi Shin sudah menunggu disana" Aliya mengikuti langkah sang kakak.
"Tuan Muda, Nona Muda" mereka menghampiri lelaki paruh baya yang melambaikan tangan kepada mereka.
"Lama tak bertemu Ahjuhsi! Bagaimana dengan keadaan Ahjuhsi saat ini?" Tanya Aliya pada pria paruh baya itu.
"Seperti yang Nona lihat! Saya baik-baik saja. Oh ya apa ini Putra-Putri anda" tanya Ahjuhsi Shin sambil melihat kearah Ji Twin.
"Ah. Nde Ahjuhsi. Sayang kenalkan dirimu pada Harabojie Shin" Ji Yoon langsung membungkuk.
"Anyeonghaseo Harabojie. Park Ji Yoon imnida" ucapnya sopan. Benar-benar mirip dengan Tuan Muda Park. Monolognya dalam hati.
"Mian Ahjuhsi sepertinya Ji Hyun kelelahan" ucap Taehyung tak enak.
"Gwenchana Tuan Muda. Nona Muda Park pasti masih lelah karena perjalanan yang panjang" ucap Ahjuhsi Shin maklum. Ji Hyun sendiri masih nyaman tidur digendongan Taehyung.
"Baiklah! kita pulang sekarang"
***
Jimin menatap malas pada setumpuk berkas yang ada di mejanya. Dengan sedikit kesal ia melepas kaca mata bacanya. Ia mengusap matanya yang sedikit berair karena terus membaca dari tadi.
Senyum diwajahnya mengembang saat melihat sebuah figura yang terletak pada mejanya tanganya dengan cepat mengambil figura tersebut. Difigura itu berisi fotonya dan Aliya yang tengah berpelukan sambil tertawa. Foto itu diambil saat mereka berlibur ke Vila keluarga Chaeyoung 5 tahun silam.
"Kau pasti semakin cantik saat ini. Aku masih menuruti keinginanmu untuk tidak bertanya pada siapapun tentang keberadaanmu. Tidak kah kau merindukanku?. Kau tahu Kim? ini sangat berat untukku! Hampir setiap pagi aku harus bangun dalam keadaan hampa karena tak melihatmu disisiku. Aku begitu iri pada kemesraan yang ditunjukan yang lain padaku. Hah... Aku merindukanmu" Jimin mengusap foto Aliya dengan perasaan sayang.
"I Love You More Aliya Park"
***
Begitu sampai dikediaman keluarga Kim, mereka disambut dengan hangat. Kebetulan juga keluarga Jung ada disana. Ji Hyun dan Ji Yoon juga sudah pindah posisi. Mereka tengah digendong oleh Seohyun dan Yuri.
"Setelah lama tak bertemu kau semakin berat sayang" Ji Yoon menunduk malu saat mendengar ucapan istri dari Jung Yong Hwa ini.
"Ji Hyun lelah?" Ji Hyun mengangguk saat Yuri bertanya padanya.
"Baiklah! Seo kita antar mereka kekamar" mereka langsung menuju kamar yang disiapkan untuk Ji Twin sebelumnya.
"Kau pasti lelah. Istirahatlah sayang" Aliya menggeleng saat mendengar ucapan Ayahnya.
"Aku mau menyusul yang lain disamping Appa" ucapnya sambil berlalu.
****
"Aku boleh memakai ini Maknae?" Aliya mengangguk saat mendengar ucapan antusias dari calon kakak iparnya.
"Aku memang menyiapkanya khusus untuk Eonni. Dan juga yang samping itu untuk Jihyo Eonni" ucapnya sambil meletakkan Jus Jeruk di hadapan Hoseok.
"Gumawo Pink" Aliya hanya mengangguk saat mendengar ucapan Hoseok.
"Apa ini cocok?" Aliya mengangguk saat mendengar ucapan Jihyo.
"Tentu saja! Aku sudah menyiapkanya khusus untuk Eonni. Joy Eonni dan Hoseok Oppa juga ada" ucapnya sambil duduk.
"Ji Twin tidur?" Aliya menganggimuk saat mendengar ucapan Hoseok. Keduanya ditidurkan oleh Yuri dan Seohyun.
"Kenapa tak memberi kabar jika pulang?" Aliya menoleh saat mendengar suara Jin.
"Aku baru sampai" ucapnya sambil memberi pelukan hangat untuk kakak tertuanya.
"Ji Twin?" Tanyanya
"Tidur"
"Magggnnnnaaaeee......"
"Nyonya Zhang itu benar-benar menyebalkan. Kenapa dia berteriak-teriak begitu. Dia fikir ini hutan" ucap Aliya kesal karena teriakan Hani yang terdengar dari ruang Makan.
"Yakhh....kenapa kau tak bilang jika sudah sampai? Dan kenapa kau membatalkan jemputanku?" Aliya mendengus saat mendengar pertanyaan Hani yang begitu banyak.
"Yang pentingkan aku sudah sampai" ucapnya sambil memeluk Hani.
"Wae......?" Tanya Aliya saat melihat Hani gugup
"Ehm...itu....ada Keluarga Park yang kesini" Aliya membelalakkan matanya karena kaget. Ia memang mengira akan bertemu Keluarga Park. Tapi tak menyangka akan secepat ini.
"Jelaskan yang sebenarnya pada mereka. Kau juga tidak bisa menyembunyikan ini selamanya. Lambat-laun mereka juga akan tahu. Mereka harus tahu jika Ji Twin adalah cucu mereka. Suka tak suka itulah yang harus kau tanggung. Dan juga siapkan mentalmu untuk menghadapi kemarahan Jimin. Dia akan kesini nanti malam" Aliya samakin gugup saat mendengar ucapan Jin. Ya Tuhan apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya bicara pada Keluarga Park? Dan bagaimana bisa dirinya menghadapi kemarahan mereka nanti? Aliya menjambak rambutnya frustasi.
"Tidak bisakah kalian membantuku?" Mereka menggeleng dengan kompak.
"Aishhh bagaimana ini" teriak Aliya frustasi.
****
Benar yang dikatakan mereka. Aliya harus menerima konsekuensi yang ada. Dia bahkan sangat merasa tak nyaman karena Taeyeon terus meliriknya dengan tajam setelah ia menyelsaikan penjelasanya tadi.
"Ya Tuhan lindungi hamba-mu ini" monolog Aliya dalam hati.
"Dimana mereka saat ini?" Aliya harus susah payah menelan ludahnya karena mendengar pertanyaan yang begitu dingin dari mulut Taeyeon.
"Mereka ada dikamar, Eomma" setelah mendengar jawaban Aliya, Taeyeon langsung menuju kamar yang dimaksud oleh Aliya. Baru beberapa berjalan Taeyeon sudah berhenti.
"Yeolli hubungi Jimin. Katakan padanya jika Anak dan calon istrinya menunggunya disini" Sial, setelah mengahadapi kemarah ke-4 Park ini Aliya harus menghadapi kemarahan satu Park lagi.
"Apa yang harus kulakukan?" ucapnya sambil melirik Taeyeon dan yang lain menuju kamar anaknya.
***
"Datanglah kemari jika kau ingin menemui anak dan calon istrimu" itulah yang Jimin dengar dari mulut kakaknya. Ia sangat bingung dengan ucapan Chanyeol.
"Siapa yang dimaksud Chanyeol Hyung?" Ucapnya sambil fokus kejalan untuk menuju kadiaman keluarga Kim.
Kebingungan Jimin terjawab saat melihat. Sepasang bocah kembar yang ada dipangkuan ayah dan ibunya. Dan juga ia bisa melihat Aliya yang menatapnya dengan takut.
Tanpa fikir panjang ia langsung menuju wanita itu. "Kau datang Jim?" Jimin 100% mengabaikan sapaan Jin. Matanya menatap tajam kearah wanita yang selama ini ia rindukan.
"Halmonie dia siapa?" Jimin menoleh saat indra pendengaranya menangkap suara kecil yang begitu menggemaskan.
Semuanya, semua yang ada diwajah kedua bocah itu begitu mirip denganya.
"Kenapa dia sangat mirip dengan Oppa?" tanya Ji Hyun sambil memperhatikan Jimin.
"Kau ikut denganku" tanpa fikir panjang Jimin langsung menyeret Aliya menjauh dari mereka. Ia butuh penjelasan dengan segera.
T.b.c