Happy Reading.
"
"5 tahun Aliya. 5 tahun. Kau fikir itu waktu yang singkat. Bagaimana bisa kau Melakukan hal sial dengan menyembunyikan mereka dari aku. Sebenarnya kau wanita atau iblis. Kau melakukan sesuatu yang tidak pantas seorang ibu lakukan. Mereka darah dagingku dan aku berhak penuh atas mereka. Aku berhak Aliya. Kenapa kau egois seperti ini?!"
Aliya diam, menerima semua kemarahan Jimin. Ia tau dirinya salah tapi tidak ada yang bisa dirinya lakukan. Ini yang terbaik, walaupun menurutnya. Aliya tidak mungkin membongkar semuanya pada Jimin. Tidak mungkin Aliya mengatakan kebenaran ini bukan?
"Bagaimana jika aku memisahkan mereka darimu. Seperti yang kau lakukan padaku? Katakan apa yang akan kau lakukan?"
Tubuh Aliya bergetar mendengar ucapan Jimin. Memisahkan mereka? Tidak bisa. Jimin tidak tau alasan sebenarnya dari apa yang Aliya lakukan. Jimin tidak tau.
"Kau tidak pantas disebut ibu dengan melakukan ini. Tidak pantas"
Dan Jimin meninggalkan Aliya yang diam membeku, mencerna semua kata-kata Jimin dengan kekosongan. Kenapa justru dirinya yang disalahkan? Ini bukan kesalahannya sepenuhnya? Aliya tau salah karena bermain api dengan Mina hingga gadis itu dendam dan mengancamnya. Tapi memisahkan Jimin dan anak mereka juga bukan kehendak Aliya. Ini karena paksaan Mina. Aliya tidak punya kuasa untuk menolak itu.
****
Aliya memasuki kamar yang digunakan Kedua buah hatinya. ia mendapatkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Ji Twin tampak tidur nyaman dengan memeluk tubuh kokoh Jimin. Dengan pelan ia menghampiri ketiga orang itu.
Ji Twin tampak nyaman dipelukan Jimin. Aliya tak munafik mengakuinya. Ia juga sangat merindukan Jimin. Tapi rasa takutnya masih terlalu kuat. Ia tak mau terlibat dalam suasana mencekam seperti 5 tahun lalu.
Padahal Jimin begitu terlihat mempesona saat tidur, sisi keayahanya muncul begitu saja. Aliya selalu memimpikan keluarga yang utuh bersama Jimin, tapi rasa takut itu tidak hilang sama sekali.
****
Aliya termenung dibalkon kamar. Pandangan matanya lurus kedepan.
"Kau tak berniat melompat dari sana kan?" Aliya menoleh saat mendengar suara Jimin yang mengistruksinya.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Jimin mengangkat bahunya acuh.
"Aboniem mengijinkanku masuk" Aboniem? Aliya tak salah dengarkan!.
"Mereka tengah menyiapkan pernikahan kita" mata Aliya kembali terbelalak. Secepat ini kah? Tanyanya tak percaya dalam hati.
"Jangan harap kau bisa lari lagi. Karena sudah pasti Eomma tidak akan membiarkanya lagi" Aliya melupakan satu hal. Taeyeon pasti akan mempercepat semua ini saat sudah tahu kebenaranya.
Dengan langkah santai Jimin menghampiri wanita yang masih shock ini. Tanganya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Bukan hanya Mina. Kau yang tak ingin menikah muda kan? juga menjadi alasanmu untuk pergi dariku?" Jimin mengulang perkataan Hani tadi.
Jimin merengkuh tubuh Aliya dalam pelukanya. Dia menghirup aroma tubuh yang sudah 5 tahun ini tak ia rasakan.
"Sekali saja berhenti bersikap egois! Jauhkan segala fikiran burukmu tentangku, aku tak meminta banyak darimu. Cukup terima aku menjadi ayah untuk anak-anak kita dan juga suami yang baik untukmu" Aliya masih belum mencerna semuanya.
Jika kalian mengira Aliya melakukan ini karena tak ingin menikah muda, kalian salah. Ini semua ia lakukan karena perkataan Mina 5 tahun yang lalu.
"Kau pasti melihat semuanya kan? Jimin memang memutuskan hubunganya denganku. Tapi apa kau fikir melupakanku adalah perkara yang mudah? Bagaimana pun cerita akhirnya. Aku tetap cinta pertama Jimin. Kau pasti pernah mendengar kan jika cinta pertama adalah hal yang paling susah untuk dilupakan. Kau pasti tahu benar artinya. Dan satu lagi. Kau terlalu banyak bahagia dan sekarang saatnya menderita. Aku tau jika kau hamil anak Jimin. Akan kupastikan anakmu terluka jika sampai kau kembali pada Jimin. Ingat itu Aliya Kim. Jangan harap bisa bersama dengan Jimin. Tidak akan"
Mina berucap begitu sinis padanya 5 tahun yang lalu. Dia tak menceritakan ini pada yang lain. Karena ia fikir ini adalah privicy. Bahkan saat Ji Twin sudah lahir Mina mencoba beberapa kali untuk mencelakai anak-anaknya. Itulah yang membuat Aliya enggan untuk kembali.
"Jika aku tak bisa memilikinya. Kau pun pasti tak akan bisa. Ingat itu baik-baik!" Mina selalu mengancamnya dengan berbagai cara. Aliya bukanya takut tapi dia hanya tak ingin nyawa anak-anak nya dalam bahaya.
"Nyawa mereka dalam bahaya" Jimin melepaskan pelukanya saat mendengar ucapan Aliya.
"Apa maksudmu?" Tanyanya bingung.
"Wanita sial itu mengancam nyawa anak-anakku. Dia tak ingin aku bersama denganmu. Dia bahkan mencoba mencelakai mereka setiap waktu" dahi Jimin berkerut bingung.
"Siapa yang kau maksud?"
"Mina, Jung Mina! Dia masih menginginkan mu dalam hidupnya. Dia mencoba menakutiku dengan mengancam nyawa anak-anakku. Aku tak mau dia mencelakai anak-anakku" Jimin menatap Aliya yang masih histeris.
"Apa maksudmu?" Tanya Jimin bingung.
"Mina mengincar nyawa anak-anakmu Oppa"
****
Jimin mengusap wajah Aliya dengan lembut. Setelah menenangkan Aliya akhirnya Aliya berhasil tidur.
"Mina mengincar nyawa anak-anakmu Oppa"
Jimin menatap Aliya dengan pandangan lembut. Ia tak menyangka jika Mina akan melakukan hal yang sangat mengerikan seperti ini. Dia kira Mina sudah benar-banar melepaskanya. Tapi apa yang dia fikirkan ternyata salah.
"Kali ini biarkan aku melindungi kalian" ucap Jimin sambil mengecup kening Aliya dengan sayang. Setelahnya ia mengeratkan pelukanya pada tubuh ramping wanitanya ini.
****
Seperti biasa jika Ji Twin berkumpul suasana ramai pasti akan sangat mendominasi.
Jika biasanya Ji Twin akan menenpel pada Aliya kini kedua bocah itu sudah beralih menempel pada kakek-neneknya. Bahkan sepertinya kedua bocah itu melupakan ketidak hadiran ibunya diruang makan ini.
"Mau ini sayang?" Ji Yoon mengangguk saat Teyeon bertanya padanya.
"Hyunieee juga mau" ucap Ji Hyun manja.
"Makanlah" mereka menatap sayang kearah bocah kembar itu.
"Mom belum bangun?" Akhirnya sisulung menanyakan kahadiran sang ibu juga.
"Sepertinya masih tidur dengan Daddy kalian" mereka tahu jika Aliya dan Jimin tidur bersama semalam.
"Itu mereka" tunjuk Jihyo pada Aliya dan Jimim yang baru turun dari tangga.
"Pagi sayang" Jimin memberikan kecupan sayang pada kening kedua anaknya.
"Pagi Dad" koor mereka kompak.
"Mian kami bangun telat" ucap Aliya tak enak.
"Gwenchana Saeng, aku yakin kalian pasti kelelahan" Aliya tahu arti kelelahan yang dimaksud Taehyung.
"Sarapan dulu aku akan membicarakanya dengan yang lain. Dan jangan khawatirkan apapun mengerti?" Aliya hanya mengangguk saat Jimin mencium keningnya.
"Aku ada perlu dengan mu Hyung dan kau juga Tae" ucap Jimin sambil menatap kedua calon iparnya ini.
"Wae Jim?"
"lebih baik kita bicarakan ini disamping. Tak enak jika yang lain tahu" mereka yakin jika ada yang tidak beres disini.
****
"Jadi ini alasan Maknae bersikeras ingin membesarkan Ji Twin sendirian" ucap Jin tak percaya.
"Dia bicara padaku hanya saja tidak sejujur ini. Aliya menyembunyikan kebenaran ini padaku" ucap Taehyung sambil menerawang jauh. Aliya juga berbohong padanya.
"Dia baru bicara denganku semalam Hyung. Itupun berkat paksaanku" ucap Jimin memberi tahu.
"Aku tak menyangka jika Mina selicik itu" ucap Taehyung tak percaya.
"Dia terlihat ramah dan juga baik" nilai Jin saat mengingat sosok Mina 5 tahun yang lalu.
"Aku akan meminta Jongin untuk menyelidiki ini semua. Dia pasti masih mengincar nyawa Ji Twin dan Aliya. Dan aku tak akan membiarkam ini sampai terulang lagi. Kalian cukup fikirkan pernikahan kalian yang sudah didepan mata ini. Mengerti?" Mereka berdua mengangguk saat mendengar ucapan Jin.
****
"Kau suka Chagi?" Aliya hanya terseyum tipis saat mendengar pertanyaan Taeyeon tentang gaun yang ia kenakan.
"Kau pasti akan sempurna dengan pakaian apapun" puji Taeyeon sambil menatap Aliya.
Drettt.....drettt....Aliya mengalihkam fokusnya pada ponselnya yang bergetar. Ternyata ada pesan yang masuk kedalam ponselnya.
xxxx667
Kau sudah kembali ternyata. Nikmatilah waktumu bersama mereka untuk sementara waktu lalu nikmatilah kesedihan abadi yang akan ku berikan untuk mu.
Wajah Aliya langsung pucat pasi dan itu tak luput dari pandangan Taeyeon. Dengan cepat ia mengambil ponsel yang dipegang calon menantunya ini.
"Siapa ini?" Tanya Taeyeon setelah membaca pesan yang berisi ancaman untuk calon menantunya.
"Jung Mina" Aliya berucap begitu lirih dan beruntung Taeyeon mendengarnya.
****
Jimin langsung berlari kedalam rumah keluarga Kim setelah mendapatkan pesan dari ibunya jika Aliya baru saja mendapat ancaman dari nomor yang tidak dikenal.
"Eomma Aliya mana?" Tanya Jimin dengan nafas yang terengah-engah.
"Dikamar dengan anak-anakmu" tanpa fikir panjang Jimin langsung berlari menuju kamar untuk menyusul Aliya dan anak-anaknya.
****
Saat tiba dikamar Jimin dihadapkan dengan pandangan yang begitu menyedihkan. Aliya tengah memeluk kedua buah hatinya yang tengah tertidur sambil terisak pelan.
"Oppa....." Jimin langsung merengkuh wanita ini dalam pelukanya.
"Aku janji tak akan membiarkanya melukaimu" janji Jimin yang mencium sayang kepala Aliya. Jimin merasakan jika tubuh calon istrinya bergetar hebat. Sepertinya ancaman Mina membuat Aliya benar-benar takut. Ya Tuhan bagaimana bisa Jimin selengah itu? Dirinya membiarkan Aliya melewati ini selama ini? 5 tahun Aliya menahan ini sendiri.
"Aku takut jika dia melukai anak-anakku" ucapnya sambil terisak.
"Aku akan melidungi mu" ucap Jimin tegas. Dirinya takut jika Aliya kembali terluka, Jimin akan melakukan apapun untuk membuat keluarganya utuh. Apapun itu.
****
Aliya tampak berjalan santai menuju kantor Jimin. Pria itu memintanya datang. Baru saja ia memakirkan mobilnya di basemant. Seseorang sudah membekap mulutnya terlebih dahulu. Dan detik berikutnya ia jatuh karena kehilangan kesadaranya.
"Bawa dia" ucap seoarang laki-laki dengan masker hitam.
*****
Jimin kalang kabut saat tahu jika Aliya diculik. Aliya lepas dari pengawasannya dan dengan mudah seseorang menculik calon istrinya.
"Jika kau ingin calon istrimu selamat. Temui aku digudang kampus Kyunghee" setelah mendapatkan pesan itu tanpa babibu Jimin langsung menuju gudang yang dimaksud oleh si penculik. Jin, Hoseok dan Taehyung juga mengikuti Jimin. Sementara Chanyeol akan menghadap pihak polisi.
Saat tahu jika ibu mereka hilang Ji Hyun langsung histeris. Ia terus berteriak sambil memanggil nama ibunya. Dan beruntung Ji Yoon bisa menenangkan sang adik.
"Mom pasti baik-baik saja. Kau lihatkan jika Dad sudah menyusul Mom. Lagipula samchon Jin dan yang lain juga ikut. Jadi Hyunie tak perlu khawatir" ucapnya menenangkan sang adik.
"Hyunie takut Oppa" ucap Ji Hyun sambil memeluk erat kakaknya.
"Ada Oppa disini, Hyuniie tak perlu khawatir eoh" mereka semua menatap haru pada kedua bocah ini. Ji Yoon begitu terlihat dewasa dari anak seusianya.
***
Aliya menatap tak percaya pada sosok laki-laki yang ada didepanya.
"Andai saja dulu kau menerimaku mungkin aku tak akan senekad ini" pandangan Aliya berubah benci.
"Kau manusia iblis Jack" Jackson tersenyum masam. Ya dia bersedia bekerja sama dengan Mina untuk memisahkan Aliya dan Jimin. Saat pertama kali melihat Aliya, Jackson sudah jatuh hati pada gadis itu. Tapi saat tahu jika Aliya mencintai Jimin, Jackson langsung patah hati seketika. Disaat itulah Mina meracuni fikiranya dengan hal yang tidak-tidak.
Dan mereka juga yang membuat Jimin tak pernah datang saat ada acara dengan Aliya dulu. Mereka sudah bekerja sama sejak 5 tahun yang lalu.
Jackson memang pernah mengungkapkan perasanya pada Aliya, tapi Aliya menolaknya karena ia mencintai Jimin dan disaat itulah Mina memanfaatkan keadaan patah hati Jackson untuk mencapai tujuanya.
"Maaf" Aliya menatap benci Jackson. Maaf? Jangan harap.
"Bajingan sialan, kau iblis laknat. Lepaskan aku!" Jackson terluka dengan makian Aliya. Sungguh dirinya tidak bisa menerima kemarahan Aliya. Dirinya masih sangat mencintai Aliya.
*****
Jimin memasuki gudang itu dengan kawalan para penjaga gudang itu. Matanya menajam saat melihat Aliya yang diikat pada sebuah kursi.
"Kalian apakan calon istriku hah?" Jimin berucap begitu berang.
"Diamlah jika kau ingin melihat nyawanya tetap aman"
"Sialll"
****
"Lama tak bertemu Jim" Jimin memandang penuh benci pada Mina. Wanita laknat.
"Kau tak merindukanku?" Tanya Mina sambil menghampiri Jimin.
"Kau wanita iblis" Mina tersenyum simpul saat mendengar ucapan Jimin.
"Kaulah yang membuatku menjadi seperti ini" ucap Mina sambil menghampiri Aliya yang duduk terikat.
"Kau mencintai wanita ini?" Tanya Mina sambil menjambak rambut Aliya.
"Jika kau berani melukainya, kupastikan kau akan menyesal seumur hidupmu Jung Mina" ucap Jimin penuh penekanan disetiap katanya.
"Ahhh ya aku ingin mengenalkan kau pada seseorang. Keluarlah" Jimin menatap tak percaya kearah Jackson yang berjalan ragu kearah mereka. Jadi Jackson juga terlibat disini. Mereka semua manusia laknat. Keduanya iblis.
"Kalian bekerja sama?" Tanyanya tak percaya.
"Mian Jim" ucap Jakcson sambil menunduk. Sesungguhnya bukan ini yang Jackson inginkan.
"Andai kau tak merebut wanita yang dicintainya. Mungkin dia tak akan melakukan ini" ucap Mina memanasi.
"Kau mencintai Aliya?" tanya Jimin kaget.
"Nde aku mencintai Aliya, tapi justru dia mencintaimu" Jimin kira selama ini Jackson hanya main-main dengan Aliya. Tapi lihatlah sekarang. Jackson benar-benar serius dengan Aliya. s**t.
"Kau yang memaksaku melakukan ini Jim. andai saja kau tak merebut wanita yang kucintai mungkin aku tak akan memisahkan mu dengan anak-anakmu selama ini" jadi ini alasan Jackson menjelek-jelekan Aliya selama ini. Karena Jackson tak mau jika dirinya kembali dengan Aliya.
"Kau keterlaluan Jack. Selama ini aku menganggap mu sebagai seorang saudara. Dan kau dengan tega melakukan ini padaku. Kau bajingan Jack" maki Jimin berapi-api. Jimin merasa ditipu. Manusia laknat seperti Jakson tidak pantas disebut saudara.
"Mian Jim" Mina yang melihat ini Jackson mulai melemah langsung kembali menyadarkan Jackson.
"Dia sudah melukai perasan mu dengan merebut wanita yang kau cintai Jack. Jika dia memang menganggapmu sebagai seorang saudara dia tak akan melakukan ini padamu. Dia hanya berbicara omong kosong padamu. Dia melakukan ini dengan sengaja. Kau harus tahu" Jimin menatap berang kearah Mina.
"Aku tak mentangka jika pernah mencintai wanita iblis sepertimu. Setiap detiknya aku menyesali waktu yang kubuang hanya untuk wanita sial sepertimu" Mina mengeram saat mendengar ucapan Jimin yang menghinanya.
"Lalu apa kau fikir aku tak sakit hati saat melihat mu begitu mesra dengan Aliya saat kita masih berpacaran. Dan dimana otakmu? kau tidur denganya saat kau masih menjadi Namjachingu-ku! salahkah jika aku meunutut balas atas sakit hatiku" teriak Mina tak terima.
"Aku akan menghabisi wanita ini" ucap Mina penuh benci.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Jackson saat melihat Mina yang tengah mencekik leher Aliya.
"Wae? Ini adalah kesepakatan kita. Lalu kenapa kau mau melarangku?" teriak Mina tak terima.
"Kita akan memisahkan mereka bukanya membunuh mereka" teriak Jackson mengingatakan.
"Apa bedanya?" Teriak Mina.
"Tentu saja beda. Dimana otakmu Jung Mina? Jika tahu begini aku tak akan pernah sudi bekerja sama denganmu" Selagi Mina dan Jackson berdebat. Ternyata yang lain bergerak cepat diluar gudang. Jin memberikan arahan untuk menembak kaki mereka.
"Sekarang"
"Dorrrr....dorrrr...."
"Akhhhhhhh" mereka langsung menerobos masuk Mina dan Jackson jatuh tumbang karena tembakan itu. Dan dengan cepat Jimin memukul seseorang yang memegangnya. Dan melepaskan ikatanya pada Aliya.
"Oppaa....." Jimin langsung menarik Aliya kepelukanya.
"Kau tak papa?" Aliya mengangguk dalam isakanya. Dirinya takut dengan apa yang dilakukan Mina dan Jakson.
"Maknae" Jin langsung menarik Aliya kepelukanya. Apalagi dengan Aliya yang menangis. Jin takut terjadi sesuatu pada adiknya.
"Mian karena Oppa lama" ucap Jin sambil membelai pucuk kepala Aliya.
Mina melihat luka tembakan yang ada dikakinya. Ia mengeluarkan pisau yang ada dibalik bajunya. Dengan pandangan tajam ia melirik Jimin yang tengah mengusap rambut Aliya yang ada dipelukan Jin.
"Ini lebih baik" gumamnya penuh penekanan disetiap ucapanya.
"Andwaeee.....srekkkkk..."
T.b.c