Happy Reading.
"Apa yang kau fikirkan?" Aliya tersentak saat seseorang menepuk pundaknya.
"Oppa kukira siapa" Jin tersenyum lalu mengusap pelan kepala sang adik.
"Apa yang kau lamunkan?" Tanyanya sambil mengambil posisi duduk disamping adiknya ini.
"Menurut Oppa 'Cinta' itu apa?" Tanya Aliya polos pada Jin.
"Kau sedang jatuh cinta eoh?" Tanya Jin jail pada sang adik.
"Bukan aku Tzuyu bilang jika dia sedang jatuh cinta pada seseorang. Dan aku ingin bertanya pada Oppa. Bagaimana pandangan Oppa tentang cinta?" Jin tersenyum saat mendengar ucapan sang adik.
"Cinta? Oppa masih belum bisa mencerna dengan baik apa itu cinta. Tapi yang pasti adalah kau akan merasa bahagia jika berada didekat seseorang yang kau anggap Spesial dan itu bisa diartikan sebagai cinta" ucapan Jin membuat Aliya mangut mangut.
"Lalu pengorbanan?" Tanyanya lagi.
"Cinta tidak selalu indah seperti bayangan. Kadang ada juga cinta yang bertepuk sebelah tangan. Walau rasanya sakit tapi menjauh saat orang yang kau cintai bahagia dengan orang lain adalah pilihan terbaik. Dan itu bisa dikategorikan sebagai pengorbanan" jelas Jin.
"Apa Oppa merasa nyaman dengan Jihyo Eonni?" Tanya Aliya.
"Pertama kali Oppa hanya merasa biasa saja pada Jihyo. Oppa tahu jika Jihyo menyukai Oppa tapi Oppa sama sekali tidak tertarik padanya. Ia terus bersabar saat menerima perlakuan datar dan dingin dari Oppa. Dan disanalah Oppa merasa jika Oppa nyaman denganya. Dan berakhir Oppa mencintainya" jelas Jin.
"Apa yang Jihyo Eonni lakukan dulu untuk meluluhkan hati Oppa?" Tanyanya lagi.
"Jihyo terus memberi Oppa perhatian tanpa meminta balasan dari Oppa. Dia juga sering membantu Oppa dari kejaran para yeoja yang menggilai Oppa. Hampir setiap hari dia membawakan makanan atau apalah untuk Oppa" ucap Jin menerawang.
"Jihyo Eonni orang yang sempurana" puji Aliya pada calon kakak iparnya.
"Tapi tak sesempurna dirimu" Aliya tersenyum saat mendengar pujian dari kakaknya.
"Apa seseorang boleh mengharapkan cinta saat orang yang dicintainya memiliki kekasih?" Tanya Aliya serius. Jin tersenyum tipis saat mendengar ucapan sang adik.
"Berharap bukan sebuah larangan Magnae. Tapi apa kau yakin bisa bertahan melihat orang yang kau cintai bahagia dengan kekasihnya. Oppa sarankan kau mengalah saja karena dengan mengalah bukan berarti kau kalah kau hanya mencari kebahagian yang lain. Dan Oppa kira mengalah lebih baik dari pada kau berbuat nekad untuk mendapatkan apa yang kau inginkan" Aliya termenung saat mendengar ucapan Jin.
"Lebih baik kita merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain dari pada dia menderita bersama kita" ucap Jin bijak.
"Apa aku harus pergi dari hidupnya?" Gumam Aliya sangat pelan dan tentu saja Jin tidak akan bisa mendengarkanya.
*
25 Februari adalah tanggal yang paling ditunggu oleh Aliya. Pasalnya tepat tanggal itu ia akan berusia 18 tahun. Senyumnya terus mengembang saat mendengar temannya mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
"Saengil Chukae Baby Chubby" Aliya menutup telinganya saat mendengar suara ledakan balon. Dan benar saja disana Tzuyu, Chaeyoung, Yeri, Dahyun, dan Hani sedang membawa balon masing-masing sambil bersiap-siap untuk meledakkanya. Aliya tersenyum manis saat melihat kelasnya sudah disulap persis seperti tempat yang akan digunakan untuk berpesta.
"Wahhh Bayi gembul ku berulang tahun. Chukaeyo traktir kami makan ya?" Aliya mendengus saat mendengar ucapan Dahyun.
"Hanya traktiran yang ada diotak Eonni? Hadiah untukku?" Tanya Aliya sambil mengulurkan tanganya pada Dahyun.
"Mianhae aku belum membelinya" ucap Dahyun sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau tenang saja aku membawa hadiah untuk Bayi Gembul" Aliya tersenyum cerah saat mendengar ucapan Chaeyoung.
"Mana?" Tanyanya antusias. Chaeyoung dengan percaya diri langsung memberikan sebuah amplop pada Aliya.
"Ini bukan kupon kan? Akk" Aliya memekik saat Chaeyoung memukul kepalanya dengan penggaris.
"Kau fikir aku semiskin itu? Dengan memberikan hadiah kupon padamu?" Aliya tersenyum canggung pada Chaeyoung.
"Mian Eonni---" ucapnya sambil menunjukkan jarinya yang berbentuk V dan langsung membuka hadiah dari Chaeyoung.
"Wah tiket Drama Musical ?" Ia langsung menatap Chaeyoung dengan pandangan berbinar.
"Ini untukku?" Tanyanya antusias.
"Nde itu untukmu. Oh ya tiket itu adalah tiket VVIP. Dan kau bisa menggunakanya kapanpun kau mau dan itu berlaku selama 6 bulan" jelas Chaeyoung dan itu semakin membuat Aliya senang.
"Waahhh Chaeng Eonni memang Daebak" pujinya.
"Jadi hanya Chaeyoung yang terbaik?" Aliya menoleh saat mendengar suara Hani.
"Tentu saja karena hanya Chaeng Eonni yang memberiku hadiah. Maka dari itu hanya Chaeng Eonni yang kutraktir makan"
"Yakh Bayi Gembul Aliya Kim Neo Jinja" Aliya menutup telinganya saat mendengar teriakan yang lain. Sedangkan Chaeyoung hanya terkekeh pelan.
*
"Jim..." Jimin menoleh saat mendengar seseorang yang memanggilnya. Detik berikutnya ia tersenyum manis saat melihat Mina memanggilnya.
"Waeyo?" Tanyanya sambil berdiri dari posisi jongkoknya.
"Aku mengadakan acara makan malam kau mau datang?" Tawar Mina.
"Acara untuk?" Tanya Jimin.
"Hanya makan malam untuk kepulangan Oppa ku. Dan aku juga ingin mengenalkan mu pada kedua orangtua ku" ucapan Mina membuat Jimin tersenyum.
"Apa aku ini Spesial untuk mu Mina Jung? Karena hanya orang yang Spesial yang akan dikenalkan pada kedua orangtua nya?" Pipi Mina bersemu merah karena mendengar ucapan Jimin.
"Lihatlah Pipi mu seperti kepiting rebus kau tahu?" Ucap Jimin sambil tertawa.
"Aish kau mau datang tidak?" Tanyanya kesal.
"Baiklah Nona Jung aku akan datang. Kau puas?" Tanyanya setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Baiklah aku tunggu kau dirumahku jam 8 malam. Awas jika kau terlambat" ucapnya dan langsung meninggalkan Jimin.
*^
Hanya sebuah makan malam biasa yang diadakan oleh keluarga Kim. Karena Aliya sendiri yang menginginkan makan malam untuk perayaan Ulang Tahunya. Dan itupun hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja.
"Wah Adikku benar benar cantik malam ini" Aliya menoleh saat mendengar suara Jin. Ia tersenyum manis pada kakak sulungnya itu.
"Ini juga berkat Jihyo Eonni" ucapnya sambil melirik jail kearah Jihyo.
"Apanya yang karena aku. Aku hanya membantumu menyanggul rambutmu saja Maknae" Ucap Jihyo masih fokus pada tatanan rambut calon adik iparnya.
"Mau menyanggul atau apapun itu tetap saja karena Eonni" kekeh Aliya.
"Terserah"
"Oppa apa sudah ada yang datang?" Tanaynya pada Jin.
"Keluarga Lee dan Jung saja yang baru datang" Aliya mangut mangut mengerti. Detik berikutnya ia mengalihkan fokusnya pada poselnya yang tergelatak dimeja rias.
Dari kemarin Jimin tidak menghubunginya. Bahkan sampai saat ini pria itu belum mengucapkan ucapan selamat padanya. Mungkin dia akan memberiku kejutan saat sampai disini nanti ucapnya dalam hati. Ia memang sengaja tidak memberi kabar pada Jimin, karena acara Makan Malam ini adalah hal wajib yang akan dilakukan jika sedang ada yang ber Ulang Tahun dan baru akan diadakan pesta jika Makan Malam ini sudah berlangsung. Aliya sendiri memang tidak berniat menginginkan pesta untuk acara Ulang Tahunya.
"Kajja kita turun" Ajak Jihyo sambil menggandeng Aliya. Aliya langsung mengikuti langkah Jihyo dan tak lupa membawa ponselnya.
*
"Aish kemana bocah bantet itu?" Tanya Chanyeol kesal sambil melirik jam yang ada dipergelangan tanganya.
"Apa dia masih bersiap Yeolli. Kenapa lama sekali?" Keluh Jungsoo.
"Entahlah Appa aku sendiri tidak tahu" jawabnya.
"Kajja kita berangkat" ajak Taeyeon pada mereka berdua.
"Eomma Jimin belum selesai bersiap" ucap Chanyeol menahan.
"Kalian menunggu Jimin?" Tanya Taeyeon. Dan dijawab anggukan oleh keduanya.
"Jimin sudah berangkat dari setengah jam yang lalu" ucapan Taeyoen membuat mereka kaget.
"Aish...kenapa dia tidak bilang. Kita bisa terlambat jika masih terus menunggunya padahal dia sudah berangkat. Baiklah kajja" mereka tidak tahu. Jimin memang sudah berangkat tapi bukan kerumah yang akan mereka tuju.
****-****
"Mian kami terlambat" ucap Taeyeon sambil memeluk Yuri.
"Gwenchanayo Eonni lagi pula acaranya belum dimulai" balas Yuri maklum.
"Aigo putriku sedang berulang tahun eoh. Saengil Chukae Baby" Aliya tersenyum saat Taeyeon mencium keningnya.
"Gumawo Eomma" ucapnya.
"Oh ya ini hadiah untuk mu sayang" ucap Taeyeon sambil menyerahkan hadiah pada Aliya.
"Seharusnya Eomma tidak perlu repot-repot tapi Gumawo" ucap Aliya sambil menyimpan hadiahnya.
"Saengil Chukae Baby"
"Gumawo Appa"
"Aigi adik Bayiku sudah besar rupanya. Saengil Chukae" ucap Chanyeol sambil mencium pipi Chubby Aliya.
"Gumawo Oppa" balasnya sambil tersenyum.
"Jimin Oppa eodi?" Tanya Aliya karena ia tidak melihat Jimin datang bersama Keluarga Park.
"Dia belum datang?" Tanya Taeyoen kaget. Aliya menggeleng.
"Tapi dia tadi berangkat 30 menit lebih awal dari kami" ucap Chanyeol.
"Mungkin Jimin sedang membelikan hadiah untuk Lil Princes kesayanganya. Lebih baik kita mulai saja acaranya" ucap Jungsoo.
"Apa tidak papa Hyung?" Tanya Jungwoon.
"Tentu saja Cha kita mulai acaranya" ajak Jungsoo.
*
Jam sudah menunjukkan angka 10 malam tapi Jimin belum juga datang dan itu membuat Aliya gelisah. Ia juga sudah beberapa kali menelfon pria itu tapi ponsel pria itu tidak aktif.
"Yeolli coba hubungi Jimin tanyakan dia ada dimana saat ini?" Ucap Taeyeon.
"Nde Eomma" jawab Chanyeol dan langsung merogoh ponselnya yang ada disaku jasnya.
"Ponselnya tidak aktif Eomma" ucapan Chanyeol membuat Aliya lemas.
"Kemana bocah itu?" Tanya Junsoo bingung.
"Mungkin ia masih terkena macet. Kau tenang saja Baby Jimin pasti datang" Aliya hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan Donghae.
*******
"Tae apa kampus kalian mengadakan acara?" Tanya Jin sambil menghampiri Taehyung.
"Anio Hyung. Waeyo?" Tanyanya bingung.
"Jimin belum datang sampai saat ini" ucap Jin.
"Jinjayo?" Tentu saja Taehyung kaget karena makan malamnya diadakan diruang tengah dan saat ini tengah berkumpul dengan yang lain diruang keluarga.
"Jadi Jimin belum datang?" Tanya Nida kaget. Dan hanya dibalas anggukan dari Jin.
"Magnae eodi?" Tanya Lisa.
"Ruang tengah" yang lain langsung melesat menuju ruang tengah untuk menemui Aliya.
******-******
Faktanya memang Jimin tidak datang. Itulah yang Aliya yakini karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tidak mungkinkan macet sampai 2 jam lebih?.
"Masih tidak aktif Eomma" Aliya tersenyum miris saat mendengar ucapan Chanyeol.
"Dia tidak akan datang. Dan sudah pasti dia melupakan ulang tahunku" ucapnya dalam hati.
"Baby Mianhae" Aliya tersenyum tipis pada Taeyeon.
"Gwenchanayo Eomma. Lagipula tidak ada yang menginginkan kejadiran Pria Bantet itu. Ini sudah malam aku pergi tidur dulu eoh" Aliya langsung berlari menuju kamarnya ia bahkan mengabaikan teriakan Ibunya.
Aliya menutup keras pintu kamarnya tubuhnya merosot jatuh kelantai beriringan dengan isakan tangis yang memilukan. Ia membungkam mulutnya agar suara tangisanya tidak terdengar.
"Kenapa ini terjadi padaku?" Ucapnya dengan isakan tangis yang semakin terdengar pilu.
***^***
"Yayay kamchagiya" Jimin mengusap dadanya karena kaget saat melihat ibunya yang duduk disofa.
"Eomma belum tidur?" Tanyanya.
"Dari mana saja kau? Kenapa ponselmu tidak aktif?" Jimin terkejut saat mendengar pertanyaan dingin dari ibunya.
"Eomma kenapa?" Tanyanya lagi.
"Jawab saja pertanyaan Eomma Jim" Jimin menatap ngeri ibunya pasalnya wanita yang telah melahirkanya ini tampak mengeram marah.
"Aku baru saja menghadiri undangan makam malam temanku" ucapnya jujur.
"Kau melupakan sesuatu?" Tanya Taeyeon dingin menatap Jimin sinis.
"Aku tidak melupakan apapun" jawabnya yakin.
"Lihat sekarang tanggal berapa?" Tanya Taeyeon dingin.
"Sekarang tanggal 26 Feb....." perkataan Jimin terhenti ia mengusap matanya memastikan penglihatanya tidak salah.
"Eomma aku......"
"Eomma kecewa padamu Jim. Hampir 3 jam Aliya menunggu mu dan kau dengan seenaknya lebih memilih pergi keacara makan malam temanmu dari pada datang keacara makan malam ulang tahunnya. Dia pasti sangat kecawa saat ini. Eomma tidak berani membayangkan saat ini" Taeyeon menghela nafas saat mengingat Aliya yang langsung berlari kekamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Eomma...aku..."
"Tidurlah ini sudah malam. Lagipula kau harus kuliah besok. Eomma tidur dulu" Jimin memandang punggung ibunya yang semakin menjauh.
"Aish bagaimana bisa aku melupakanya?. Ya Tuhan aku harus bagaimana sekarang?" gumamnya sambil menarik rambutnya frustasi.
"Sial" Jimin mengumpat saat Aliya mematikan sambungan telfonnya.
"Ottokaji....."
T.b.c