Sorry Again

1708 Words
Happy Reading. *** Pandangan mata Aliya menatap lurus kedepan menatap pemandangan sungai Han. Matanya menerawang begitu jauh. Suhu udara yang dingin tak ia perdulikan lagi. Ingatanya berputar saat kejadian pagi tadi. "Jangan pernah menangis karena seorang Namja" ucapan Taehyung tergiang kembali diingatanya. "Apa aku harus melepaskan ini?" Gumamnya sambil menyentuh kalung bintang yang ada dilehernya. Helaan nafas panjang kembali terdengar dari mulutnya. Greepppp "Mianhae" tubuh Aliya menegang, ia tahu betul pemilik lengan kekar yang tengah memeluk tubuhnya dari belakang ini. "Aku kembali mengingkari janjiku lagi. Mianhae Lil Princes" Aliya menahan nafasnya saat Jimin ini menelusupkan wajahnya pada ceruk lehernya. "Bicaralah....." Jimin berucap begitu lirih. Ia tak mau kembali bertengkar dengan gadis ini. Bodoh seharusnya ia tak usah berjanji jika tak bisa menempati. Taehyung pantas memukulnya. Mana ada seorang kakak yang akan diam saja saat melihat adik yang begitu disayanginya disia-siakan oleh seorang namja. Jimin mengaku salah, ia lupa akan janjinya pada Aliya karena tiba-tiba Mina menelfonya dan mengatakan jika orangtuanya ingin bertemu. Saking senangnya dia bahkan melupakan seorang yang tengah menunggunya. Wajah Aliya berubah dingan pandangan matanya begitu datar tangan yang tadi ia gunakan untuk memegang kalung yang ada dilehernya kini sudah ia lepaskan. "Kim....." Aliya tak menolak saat Jimin membalik tubuhnya hingga mereka berhadapan. Bahkan Aliya hanya diam saat Jimin menyentuh wajahnya. "Maafkan aku. Kau boleh menghukumku, jika kau belum puas kau bisa meminta Taehyung untuk memukulku kembali. Tapi ku mohon maafkan aku" Jimin tak peduli yang ia inginkan adalah mendengar ucapan maaf dari bibir Aliya. Tapi ia semakin takut saat melihat wajah Aliya yang tanpa ekspresi. Bolehkah Aliya menangis? sungguh ia tak tega melihat wajah Jimin. Luka lebam menghiasi setiap inchi wajahnya bahkan Aliya bisa melihat sebuah plester melekat pada kening pria Orange ini. "Kau bisa meminta apapun dariku aku janji akan mengabulkan semua keinginanmu tapi kumohon maafkan aku" Mata Aliya berubah dingin. Ia menatap Jimin dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Ia menahan tangan Jimin yang ada diwajahnya. "Untuk terakhir kalinya. Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi dihadapanku" Jimin merasakan dirinya seperti tersambar petir. Pandangan matanya kosong ia menatap gadis ini dengan pandangan tak percaya. "Kau bercandakan Kim?" Tanya Jimin dengan suara bergetar. Tapi ekspesi dingin Aliya seolah menyadarkan Jimin jika ini benar-benar nyata. "Semoga kau bahagia dengan Mina" setelah mengatakan itu Aliya langsung menghempaskan tangan Jimin. Dia langsung berlari menuju mobilnya dan buru-buru meninggalkan sungai Han. Seolah tersadar Jimin langsung mengejar mobil Aliya. "Aliya tunggguuuuuu......." mobil Aliya melaju begitu kencang ia bahkan mengabaikan teriakan Jimin yang memangilnya. Tubuh Jimin jatuh berlutut ditanah. Ia menatap mobil Aliya yang semakin menjauh. Air matanya lolos begitu saja. Kesalahan yang ia buat terlalu besar hingga Aliya tak mau memaafkanya. Jimin menggeleng ia tak mau berakhir seperti ini. Hujan yang tiba-tiba turun seolah menjadi penyamar isak tangisnya. "Aku lebih memilih kehilangan semuanya dari pada harus hidup tanpa menemuimu" ucap Jimin sambil bangkit dari posisinya. Ia tak mau kehilangan gadis kecilnya. Aliya tetap Aliya dan dia harus tetap berada disisinya selamanya. Egois Jimin tak peduli jika orang-orang menganggapnya Egios. Ia menginginkan Aliya tapi dia sendiri belum mengerti arti dari ini semua dan keinginan ini tak bisa diubah oleh siapapun bahkan Mina sekalipun. Jimin langsung berlari menuju Mobilnya. Jimin tak sadar jika ada sepasang mata yang melihat semua dan mengawasinya kejadian tadi. Mina jatuh berduduk ia sadar semua yang ia takutkan akhirnya terjadi. Ada rasa yang tersembunyi dari kata adik kakak yang mereka jalin. Mina tak buta ia bisa melihat dengan jelas. Jimin bukan hanya menganggap Aliya sebagai seorang adik ada rasa cinta tersembunyi disana dan juga sebaliknya. Mereka berdua sama-sama memiliki perasaan cinta. Mina sadar jika Aliya sudah lama memiliki rasa itu dapat dia lihat saat pertama kali ia bertemu dengan Aliya. Gadis itu memandang Jimin dengan pandangan yang tak biasa. Tapi Mina saat itu masih menyangkalnya sampai kejadian tadi terjadi. Gadis itu bahkan memohon pada kakaknya untuk berhenti memukul Jimin dan kenyataan seolah manampar Mina dimana tadi Jimin berteriak frustasi setelah mendengar ucapan Taehyung. Dan ia semakin yakin saat melihat kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya. "JIMIN MENCINTAI ALIYA DAN BEGITUPUN SEBALIKNYA" "Aku harus bagaimana?" Ucapnya semakin terisak. ^^^ "Mau Oppa antar?" Aliya menggeleng saat mendengar tawaran Taehyung. "Aku berangkat sendiri saja. Aku pergi dulu Oppa" ucapnya sambil mencium pipi Taehyung. Memang hari ini hanya ia dan Taehyung yang sarapan Ke-3 Kim yang lain belum pulang dari Dubai. Aliya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia melirik datar pada ponselnya yang terus bergetar. Tertera nama Jimin disana jangankan mengangkat melihatpun Aliya malas. Setelah kira-kira 30 menit akhirnya ia sampai disekolah. Setelah mengambil tas dan juga Handphone dan memastikan mobilnya terkunci ia segera berjalan keluar dari area parkir dan menuju kelas. "Lil Princes...." Aliya menghentikan langkahnya ia tak berniat berbalik. Hanya satu orang yang memanggilnya dengan panggilan seperti itu. "Kau telat" Aliya menatap datar Jimin yanh ada didepanya. "Kau sudah sarapan? Mau sarapan bersama? Oh ya Oppa punya tiket Drama musical kau mau ikut nonton? Atau kau ingin Oppa temani belanja?" Jimin tak menyerah ia masih mencoba berbicara pada gadis itu. Tapi pandangan dingin dan datar Aliya seolah menamparnya. Seumur hidupnya baru kali ini Aliya menatapnya dengan pandangan yang begitu dingin. "Atau kau ingin jalan-jalan? Bagaimana kalau kita ke Lotte Word?" Aliya masih bungkam ia tak berniat membalas ucapan Jimin. "Kimmm......." Aliya menoleh kebelakang dapat ia lihat jika Yuta dan Ten berjalan menghampirinya "Oh kau tak sendirian. Anyeong sunbae" mereka berdua menyapa Jimin ramah tentu saja mereka tahu Jimin adalah alumni sekolah ini dan Jimin banyak menyumbang perhagaan pada sekolah ini jadi wajar jika mereka mengenal Jimin. "Tzuyu menunggumu" ucap Ten memberi tahu. "Dahyun juga seperti orang gila dari tadi dia terus berteriak menyuruh kami mencarimu" adu Yuta lucu. "Dimana mereka?" akhirnya setelah lama diam akhirnya Aliya bicara. "Parkiran" koor mereka. "Aku mau belanja kalian ikut?" Tanya Aliya menawarakan. "Bolehkah kami ikut?" Mereka berdua bertanya begitu antusiaa pasalnya jarang Aliya mengajak mereka belanja. "Nde kalian bertugas membawa barang belanjaan kami mengerti" Aliya langsung pergi dari sana ia bahkan seperti tak menganggap keberadaan Jimin. Ten dan Yuta dibuat bingung oleh keadaan ini. Mereka melirik Jimin dengan canggung. "Kami pergi dulu sunbae. Anyeong" mereka berdua langsung berlari mengejar Aliya. Jimin seolah merasakan jika udara diparu-parunya direnggut secara paksa. Hampir 20 tahun hidupnya baru kali ini Aliya mengabaikanya. Bolehkah Jimin jujur ia lebih suka melihat Aliya yang merengek padanya dan meminta ini itu dari pada Aliya bersikap datar seperti tadi. "Ottokaji......" *** Sifat dingin dan datar Aliya tak membuat nyali ciut, ia terus berusaha meminta maaf pada Aliya. Bahkan akhir-akhir ini terus mengabaikan Mina. Aliya adalah yang utama saat ini. "Maafkan aku Hyung" Jimin menoleh saat mendengar suara Taehyung. "Tak seharusnya aku melakukan itu padamu. Jika kau tak terima kau bisa memukulku balik" Sesal Taehyung. "Dan berakhir membuat Aliya semakin membenciku. Lupakan. aku sudah melupakan semuanya Tae. Aku memaklumi apa yang kau lakukan. Tidak ada seorang pun didunia ini yang mau melihat adiknya terluka bahkan aku sekalipun" Taehyung menatap Jimin dalam diam ia tak pernah melihat Jimin se lemas ini. "Kau ada masalah?" Jimin tersenyum saat mendengar pertanyaan Taehyung. "Aliya yang tak mau bicara padaku itu adalah masalah terbesarku saat ini" Taehyung terkejut saat mendengar ucapan Jimin. Dia kira Jimin sedang ada masalah dengan Mina tapi justru apa yang dia fikurkan salah. "Aku akan bicara padanya......" "Tidak perlu biarkan ini menjadi masalahku saja. Cukup lihat dan awasi saja. Aku tak ingin kau ikut campur. Aku pergi dulu" ^/^/^ Jimin memarkirkan mobilnya pada pegunungan pinggiran kota Seoul. Ia baru saja bertanya pada Hani dimana keberadaan Aliya dan Nona Choi itu bilang jika Aliya kemari. Setelah kurang lebih 15 menit berjalan akhirnya Jimin sampai ditempat tujuan. Matanya meneliti setiap penjuru bukit ia tak menemukan sosok yang ia cari. Dan ia tersenyum manis saat melihat seorang gadis yang berseragam lengkap yang turun dari rumah pohon yang ada disana. "Magnae awasss......" Jimin berteriak saat melihat tangga pijakan Aliya tampak sedikit rapuh. "Argghhhhhh" Hupppp "ahkkkkk" Jimin menangkap tubuh Aliya yang terjatuh. Dan posisinya saat ini adalah Aliya menindih tubuhnya. "Gwenchanayo?" Jimin bertanya panik pada Aliya sebenarnya yang sakit Adalah dia karena pada dasarnya tubuhnya yang jatuh ketanah. "Yakh kenapa kau meraba tubuhku dasar Byuntae...." Aliya berteriak kesal karena Jimin meraba tubuhnya. Walaupun Jimin bermaksud untuk memastikan keadaanya tapi tetap saja Jimin meraba tubuhnya. Jimin tersenyum saat mendengar gerutuan gadis itu. Akhirnya setelah sekian lama gadis itu kembali berbicara padanya walaupun dengan mengumpat. "Yakhhh....kau mau apa?" Aliya berteriak panik saat Jimin menarik tubuhnya dan berakhir dia duduk dipangkuan Jimin. "Aku hanya mau memastikan jika kau baik-baik saja" jawab Jimin sambil tersenyum. "Yakh lepaskan aku Byuntae" Jimin tersenyum simpul detik berikutnya ia mendorong Aliya berbaring. "Yakhhh...kau mau apa?" Aliya berteriak panik saat Jimin mendorong tubuhnya ketanah. "Menurutmu?" Ucap Jimin sambil tersenyum mesum. "Yakh...Park Jim.....chupppp" Aliya membelalakkan matanya saat Jimin kembali mencium bibirnya. Oh No ini ciuman mereka yang kedua. Dan kali ini terasa lebih manis dari yang pertama. Aliya harus menahan nafasnya saat Jimin membalik tubuhnya hingga dia yang berada diatas. Dan Jimin tiba-tiba Jimin menarik tubunya untuk duduk akhirnya posisinya saat ini adalah mengangkang dipangkuan Jimin. Jika dilihat posisi mereka saat ini mereka tampak seperti sepasang kekasih. "Ini lebih manis dari yang dulu" ucap Jimin setelah mengakhiri Ciumanya. Aliya menatap Jimin kesal. Buru-buru ia bangkit dari posisinya. "Kau mau kemana?" Tanya Jimin sedikit berteriak. "Berisik...." ucap Aliya kesal. "Yakh tunggu aku" Jimin langsung mengekor dibelakang Aliya. "Wae?" Tanya Jimin saat melihat Aliya melirik tajam dirinya. "Kau naik dulu" "Wae?" "Aishhh naik saja" akhirnya Jimin menurut, ia naik duluan. "Hati-hati" seru Jimin saat melihat Aliya menaiki rumah pohonya. Dengan sedikit bantuan dari Jimin akhirnya Aliya bisa naik. "Ini indah" Aliya hanya melirik datar kearah Jimin. "Sini Baby Gembul" Aliya mendelik saat mendengar panggilan Jimin. "Yakhh....." Aliya kembali memekik saat Jimin menarik tubuhnya kepelukanya. "Diam dan nikmati ini" ucap Jimin mengistruksi. **** "Jimin tak ikut latihan?" Tanya Mina. "Dia ada urusan" jawab Taehyung singkat. Mina menatap Taehyung curiga ini sedikit aneh. Biasanya Jimin akan bilang padanya jika tak ikut latihan tapi ini. "Oke Guys kita mulai latihanya" **** Jimin tersenyum saat melihat Aliya yang tertidur dengan imut dipelukanya. Tadi setelah adu mulut sedikit akhirnya yeoja ini tidur karena kelelahan. "Jangan lagi marah padaku ehm" ucap Jimin sambil mengeratkan pelukanya pada Aliya dan mengusap pipi chubby gadis ini. "Tidur yang nyenyak Lil Princes" ucap Jimin sambil ikut memejamkan matanya menyusul Aliya tidur. T.b.c
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD