Stupid

1196 Words
Happy Reading. "Lihatlah sekarang. Akibat sifat keras kepalamu dia jadi begini. Seharusnya kau menuruti saja ucapanku semalam. Dan Demi Dewa Cinta badannya sangat panas Maknae" Dahyun benar-benar histeris saat ini. Bukanya membantu Aliya untuk merawat Jimin. Gadis itu justru mengomel tidak jelas dan semakin membuat Aliya kesal. "Bisakah Eonni diam dulu. Lebih baik Eonni membantuku. Tenagamu hanya akan sia-sia jika kau marah-marah terus" Dahyun mendengus saat mendengar ucapan gadis ini. "Aishh...bocah menyebalkan. Aku tidak mau tahu, jika Taeyeon imo dan Jungsoo samchon tanya kau yang akan kusalahkan" Aliya memutar bola matanya jengah. "Terserah. Bisakah Eonni bawa air hangat kesini dari pada terus bicara tanpa henti dan membuatku tambah pusing" Dahyun merengut dia langsung berjalan sambil menghentakkan kakinya keluar dari kamar untuk mengambil air hangat. Aliya sendiri menatap gelisah kearah Jimin. Tubuh pria itu benar-benar panas. Ia sudah mengganti pakaian basah Jimin dengan baju milik ayahnya Dahyun, tentu saja Ahjuhsi Lee satpam keluarga Dahyun yang memakaikanya. Aliya tidak punya keberanian untuk membuka baju Jimin. Ia juga sudah menyelimuti Jimin dengan selimut tebal. "Aishh..kenapa juga kau melakukan hal yang tolol seperti semalam. Dasar Park Jimin Pabo" umpat Aliya kesal sambil mengusap rambut Orange milik Jimin. "Maknae ini" Dahyun datang dari luar sambil membawa baskom berisi air hangat. "Oh ya aku akan masak bubur dulu. Eonni maukan mengompres Jimin Oppa" Dahyun menggeleng tidak setuju. "Aku saja yang akan memasakkan bubur Jimin Oppa. Kau tunggui saja dia disini" setelah mengatakan itu Dahyun langsung melesat keluar dari kamarnya. Meninggalkan Aliya yang mendengus kesal. "Badanmu panas sekali" Gumamnya sambil mengompres Jimin dengan saputangan yang sudah ia basahi dengan air hangat. "Dasar bodoh" umpatnya pelan sambil menyentuh wajah pucat Jimin. Hampir satu jam Aliya mengompres Jimin dan pria itu belum juga bangun. Bubur yang dibuat Dahyun pasti juga sudah pasti dingin. Dan hebatnya lagi Dahyun pergi meninggalkanya sendiri disini. Gadis pendek itu bilang jika persediaan makanan dirumahnya habis dan ia belum belanja kemarin alhasil mau tak mau Aliya ditinggal sendirian disini. Dan yang lebih manakjubkanya lagi hari ini mereka membolos sekolah tanpa keterangan yang jelas dan Aliya yakin pasti pihak sekolah akan mengabari keluarganya jika ia tak masuk sekolah. "Eunggg...." lenguhan singkat Jimin mengalihkan fokus Aliya. Dilihatnya Jimin sudah bangun dengan mimik muka yang bingung itu menurut Aliya. "Oppa sudah bangun" Jimin menoleh kepadanya. Ia melihat kamar ini dengan pandangan meneliti. "Dimana ini?" Tanyanya dengan suara serak. "Kau lupa Jika semalam kau melakukan hal hebat dengan menunggu seperti orang bodoh diluar saat hujan lebat. Dan yang lebih menakjubkan lagi kau disana selama semalam. Dimana otakmu Huhh?" Aliya tidak bisa menyembunyikan kekesalanya saat mengingat tingkah bodoh pria ini. "Aku hanya ingin minta maaf denganmu" Ucap Jimin sambil menunduk. Dia mengingat semuanya kejadian semalam dimana ia menunggu Aliya didepan rumah Dahyun saat hujan lebat. Dan ia tumbang setelah melihat Aliya keluar dari rumah dengan seragam lengkap. "Kau bolos sekolah?" Tanya Jimin yang melihat Aliya masih menggunakan seragam lengkap. "Menurutmu siapa yang membuatku bolos sekolah?" Tanya Aliya sinis. "Mianhae aku membuat kesalahan lagi" gumamnya sambil menunduk. "Sudahlah jangan difikirkan lagi. Sekarang Oppa makan ini dan segera minum Obat" ucap Aliya sambil mengambil bubur yang ada disamping meja ranjang. "Ini sudah tidak hangat mau kuhangatkan lagi?" Tawar Aliya. Dan dijawab gelengan dari Jimin. "Buka mulutmu" Jimin menurut ia membuka mulutnya saat Aliya menyuapinya. Aliya masih fokus pada pekerjaanya dan Jimin juga sibuk memandangi dirinya. "Ini yang terakhir ya?" Aliya melotot saat mendengar ucapan Jimin. Yang benar saja pria itu baru menghabiskan seperempatnya dan meminta sudah. "Tidak Oppa habiskan ini" ucapnya kekeh. "Aku sudah kenyang Lil...." "Habiskan atau aku akan meninggalkan mu disini sendiri" Jimin menunduk saat Aliya kembali mengancamnya. "Buka lagi mulut Oppa" Jimin menutut ia langsung membuka mulutnya. "Setelah ini Oppa minum obat" ucapnya lagi dan dijawab anggukan oleh Jimin. "Dahyun eodi?" Tanya Jimim saat tidak melohat Dahyun dari tadi. "Belanja" jawabnya singkat. "Dia juga bolos?" Tnya Jimin kaget. "Membolos adalah kesenanganya" jawab Aliya cuek. Asik dengan pekerjaanya akhirnya Jimin berhasil menghabiskan buburnya. Dan saat Aliya menyerahkan obat penurun panas padanya ia hanya menurut. "Aku mengantuk" ujar Jimin. "Tidurlah" Jimin menggeleng saat mendengar perintah Aliya. "Wae..?" Tanyanya bingung. "Nanti kau pergin meninggalkanku jika aku tidur" ucap Jimin jujur. "Aku tidak akan pergi" ucap Aliya tegas. "Kau janji?" Aliya mengangguk saat Jimin kembali bertanya padanya. "Tapi cium dulu" Aliya mendelik saat mendengar permintaan Jimin. "Yakh kau bilang apa chupp.." Perkataan Aliya terhenti saat tiba-tiba Jimin mencium tepat pada bibirnya. Hei apa ini?. Bahkan Aliya masih diam saat Jimin menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Setelah kira-kira 3 menit berciuman akhirnya Jimin melepaskan ciumanya. "Aku akan tidur" Aliya masih belum bisa mencerna apapun, bahkan ia masih saja diam saat Jimin menarik tanganya untuk dijadikan bantal Jimin agar dia tidak pergi bahkan posisinya saat ini setengah tidur. Sampai beberapa saat ingatannya tersadar dengan apa yang Jimin lakukan. "Yakh Park Jimin Pabo itu ciuman pertamaku dan kau dengan seenakanya saja mengambilnya. Park Jimin neo Jinjayo. Bangunnnnnn" Jimin mengulum senyum saat mendengar Aliya berteriak frustasi karena ciumanya. Jimin tidak peduli. *** Setelah berpamitan pada Dahyun dan mengucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf akhirnya mereka pergi dari rumah Dahyun. "Kita kedokter dulu ya?" Tawar Aliya sambil menyetir. "Antarkan saja aku ke Appartement" jawab Jimin. "Waeyo...kenapa Oppa tak mau pulang?" Tanya Aliya pada Jimin. "Nanti saat aku pulang pasti Eomma hanya akan menceramahiku panjang lebar. Dan bukan malah sembuh justru aku semakin sakit" Aliya hanya geleng-geleng kepala saat mendengar keluhan Jimin tentang sifat Taeyoen. Hal biasa. *** "Kenapa kau bolos sekolah Maknae?" Aliya meringis saat memdengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Jin. "Aku bisa jelaskan pada Oppa" ucapnya sambil tersenyum. "Jelaskan" "Jadi semalam....." Aliya menceritakan semuanya pada Jin tentu saja mimus ciumanya tadi. Dia tak ingin mendapat ceramah panjang lebar dari kakaknya. "Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Jin. "Jimin Oppa? Dia ada di Appartementnya" jawab Aliya. "Baiklah sekarang kau bersihkan dirimu dan pastikan kembali keadaan Jimin" "Yakhh...Oppa kenapa aku?" Tanyanya tidak terima. "Kau harus bertanggung jawab. Bukankah kau yang membuatnya berdiri diluar saat hujan lebat selama semalam dan berakhir membuatnya sakit" Aliya menghela nafas saat mendengar perintah Jin, jika sudah begini ia tidak bisa menghindar. "Sial" *** Seperti perintah Jin, Aliya kembali memeriksa keadaan Jimin. Keadaan Jimin lebih baik dari tadi tapi wajahnya masih pucat. "Mau aku masakkan sesuatu?" Tawar Aliya. Salahnya yang kesini tanpa membawa makanan padahal dia tahu jika disini Jimin sendirian. "Temani aku tidur" Aliya hanya mengangguk saat mendengar permintaan Jimin. "Kajja" Aliya langsung menggandeng Jimin masuk kekamarnya. "Tidurlah" Ucap Aliya setelah menyelimuti Jimin. "Kubilang temani bukan menunggu" ucap Jimin merengek. Aliya kembali menghela nafas. Sebenarnya yang salah siapa sih? Kenapa justru dirinya yang harus berjuang keras. Hei kau juga salah. Karena membiarkanya berada diluar saat hujan lebat. kau juga salah Aliya Kim. "Lil Princes" Aliya menyerah Jimin akan sangat manja jika sedang sakit dan ia tak punya cukup tenaga untuk menolak pria ini. Akhirnya mau tak mau ia harus tidur disamping pria ini. "Sekarang tidurlah" Jimin langsung memejamkan matanya dan juga langsung memeluk pingggangnya. Aliya yang melihat itu kembali menghela nafas. Dia kalah telak kali ini. "Park Jimin Pabo" umpatnya sambil memberikan ciuman dipipi Jimin. Pria itu tersenyum dalam tidurnya saat Aliya selesai mencium pipinya. Dan Aliya juga sudah mengantuk akhirnya ia tidur dengan posisi Jimin memeluk pingganya. T.b.c
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD