XI : PULANG

1561 Words
XI : PULANG Pintu perpustakaan sudah di buka. Temennya Rizal memang bisa diandalkan dan sangat cepat tanggap dalam hal seperti ini. Mungkin juga dia tidak bisa duduk diam ketika Rizal ada di sini. Penjaganya juga untungnya ada di sana dan membantu Rizal juga Adisti keluar dari sana. Selanjutnya, yang dilakukan oleh Adisti adalah mengucapkan terima kasih kemudian pergi dari sana. Jika berlama – lama di sana mungkin saja dia akan pulang dalam keadaan gelap gulita di dalam rumahnya nanti. Rumah kakek dan neneknya tentu saja. Mereka tidak ada di rumah dan Adisti tidak menyalakan lampu karena tidak membayangkan kejadian seperti ini bisa terjadi kepadanya. Tentu saja tidak. Bagaimana dia bisa membayangkannya? Berduaan dengan Rizal selama kurang lebih empat jam? Tidak terbayangkan memang. Selanjutnya juga Adisti pulang sambil menunggu apapun angkutan umum yang lewat di halte bis di dekat kampusnya. Dia tidak mengendarai kendarannya. Biasanya dia diantar kakeknya dan pulang dengan angkutan umum yang sudah biasa ia naiki. Bukannya tidak punya kendaraan sendiri. Adsiti diberikan mobil ketika umurnya tujuh belas tahun. Belajar mobil dan sudah siap untuk berkendara. Namun, karena bayangan ibu dan ayahnya masih ada, Adisti tidak pernah mau lagi mengendarainya setelah itu. Sebenarnya, Adisti sedikit menyesali hal itu. Karena dari sini, Adisti benar – benar ingin langsung membawa mobilnya mulai besok. Jika saja hari ini niatan membawa mobil itu ada, mungkin dia tidak akan bingung dengan hal yang sekarang sedang ia bingungkan. Ketika Adisti baru saja membuka aplikasi taksi online setelah menunggunya untuk bisa mengunduh, suara klakson membuat kepalanya melihat ke depan. Ada Rizal dengan motor gedenya. “Belom balik?” tanyanya pelan ketika sudah ada di dekat Adisti. Seketika ada hal baik yang Adisti rasakan. Dia mungkin saja bisa minta Rizal mengantarnya pulang atau sekedar mengantarnya sampai menemukan angkutan umum yang masih beroperasi saat ini. Waktu sudah menunjukkan waktu pukul tujuh lebih lima belas menit. Mungkin masih ada harapan untuk Adisti. Selanjutnya, yang dilakukan oleh Adisti adalah berdiri mendekati Rizal. Namun, ketika ada di samping motor gede milik Rizal, Adisti mundur selangkah. Dia benar – benar tidak bisa naik dan ada di atas sana. Di atas boncengan motor gede yang sedang dipakai Rizal. “Belum. Nunggu bis atau angkot.” Kata Adisti pelan sembari tersenyum canggung. Mungkin saja, mungkin saja jika Rizal memang menawarkannya untuk tumpangan pulang, dia akan naik ke motornya walaupun harus terpaksa. Namun, jika iya, Adisti akan bingung naiknya bagaimana. Motor biasa aja Adisti masih suka ribet sendiri apalagi motor segede ini. Rizal mungkin diam namun dirinya mengamati gerak – gerik Adisti yang sebentar – sebentar mundur seakan ragu untuk meminta tolong padanya. Mata Adisti tidak berhenti menatap motornya daripada Rizal sendiri. “Oy, Zal. Masih di sini aja lo.” Kata orang yang tadi membukakan pintu untuk Adisti dan Rizal. Dia menepuk punggung Rizal sedikit keras membuat Rizal menatapnya malas. Dia hanya tersenyum cengengesan. “Sori.” Katanya pelan. Lalu detik berikutnya, Rizal menatap motor yang dipakai temannya itu dan dia mematikan motornya sendiri. “Tuker motor lah.” Katanya llau mendorong paksa orang yang tadi memukul punggung Rizal cukup keras untuk keluar dari motornya. “Eh, Zal kenapa?” tanya orang itu heran namun tetap saja berjalan kea rah motor yang dipakai Rizal tadi lalu duduk di atasnya. “Udah, sono balik.” Kata Rizal lagi menepuk – nepuk punggung orang itu sampai dia menyalakan mesin dan berangkat dari sana. Adisti yang melihat kejadian itu ebnar – benar tidak eprcaya pada apa yang ia lihat. Rizal bertukar motor dengan motor matic yang menurut Adisti masih aman jika Rizal mengajaknya untuk pulang bareng. “Yuk naik.” Kata Rizal enteng. Adisti melongo, “huh?” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sepanjang perjalanan malam itu, Adisti benar – benar diam. Duduknya yang menghadap langsung ke punggung Rizal yang dilapisi dengan jaket kulit hitam yang bahkan wanginya bisa sampai ke hidung Adsiti itu membuatnya diam. Angin malam mengusap – ngusap pipinya yang sedikit tirus dan anka rambut yang tidak terikat dengan baik itu berterbangan mengikuti arah angin yang bahkan meninggalkan kesenangan sendiri sepertinya. “Kemana lagi?” tanya Rizal di balik helmnya. Untung saja helm Rizal yang dipakainya sekarang tidak full face yang bisa saja menghambat komunikasi antara kedua belah pihak. “Lurus aja.” Kata Adisti di belakang Rizal. Cukup jauh sampai – sampai Rizal harus menanyakan hal yang sama pas berhenti di lampu merah. “Gimana, Dis?” tanya Rizal pelan sambil menengokkan sedikit kepalanya ke belakang. Momen ini, rasanya Adisti benar – benar tidak percaya akan terjadi. Duduk di belakang Rizal, di bonceng di motornya -ya, bukan motornya secara harfiah- namun, tetap saja, di depannya Rizal mengendari motor. Milik temannya. Maka dari itu, tetap saja ini adalah moment yang paling tidak bisa dibayangkan orang – orang termasuk Adisti sendiri. “Lurus aja, Kak.” Kata Adisti pelan setelah mencubit lengannya sendiri. Dia benar – benar tidak bermimpi dan masih menjadi dirinya sendiri sekarang. Bersama Rizal yang bahkan sangat jauh berbeda dengan yang orang – orang katakan. “Huh?” kata Rizal dengan sedikit sentakan. Adisti memajukan sedikit kepalanya untuk berbicara lebih dekat dengan Rizal, “lurus, kak.” Kata Adisti lagi. Selanjutnya Adisti tidak mendengar apa – apa lagi. Anggukkan dari kepala Rizal yang dilapisi helm itu sudah menandakan jika Rizal mendengarnya dengan baik. Untuk saat ini, Arizal benar – benar membawanya pulang. Setelah sadar akan hal ini bisa saja memuaskan hati Dena, lagi – lagi Adisti berfikir keras. Apakah dia pantas untuk mendapatkan kebahagiaan seperti ini? Mendapatkan hal yang bahkan tidak seharusnya ia dapatkan dari orang yang bahkan bukan miliknya? Dia menarik nafasnya. Untuk sekarang, biarkan saja dulu. Nanti, akan dipikirkan lebih lanjut olehnya. “Yang mana rumah lo?” tanya Rizal lagi ketika sudah mendekati rumah Adisti yang diberitahukan oleh Adisti sebelumnya. Adisti menatap ke depan, “itu yang lampunya mati semua.” Ucapnya sangat ringan di mulutnya. Setelahnya Rizal benar – benar menatap rumah dengan lampu yang mati. Padahal sebelah – sebelahnya menyala seperti biasanya. “Sendirian lo?” tanya Rizal setelah berhenti di depan rumah kakek dan neneknya Adisti. Adisti mengangguk kecil, “kak, boleh minta tolong lagi ga?” tanya Adisti yang menatap rumahnya lalu beralih kea rah Rizal. “Apaan?” tanya Rizal. Adisti sebenarnya ragu untuk meminta bantuan tapi bagaimana lagi. “Bisa temenin masuk ga sampe lampunya nyala semua?” PROMO YA KAK SEDIKIT ... "Nggak apa-apa kok, Ra. Santai aja. Aku cuma butuh kepastian aja kalau besok jadi. Takutnya kamu pindah haluan mau jalan sama Erika. Hehe." Meski terdengar tawa dari Adinda, Humaira tau jika Adinda tak ingin dirinya membatalkan janji. "Nggak kok. Nanti aku tetep penuhi janji ke kamu. Tenang aja ya." "Iya, Humaira. Aku tenang kok. Aku percaya kalau kamu nggak bakal ingkar janji. Nanti hubungin aja kalau kamu mau berangkat." "Siap, Din. Nanti aku kabarin." Panggilan itu pun terputus dan Humaira langsung meletakkan ponselnya ke meja belajar. Ia fokus ke buku yang sudah ia siapkan dan mempelajarinya dengan tekun. Entah apa motivasinya belajar segiat itu. Yang terpenting motivasinya tidak ingin mengalahkan Adinda atau menjatuhkan Adinda seperti Erika. .... Yuda termenung menatap langit malam yang tampak kelabu. Sepertinya akan turun hujan malam ini. Mendadak ia teringat dengan Adinda. Gadis pendiam dan sangat cuek itu membuatnya khawatir. Ya, ia khawatir jika ada sesuatu yang membuatnya merasa tak nyaman. Akan tetapi, pikiran buruknya tentang Erika menghilang saat tau jika Erika mulai bisa berteman dengan siapapun. Ia pikir Erika akan sulit mendapat teman. Ternyata Humaira mau saja berteman dengan Erika. Terlebih jika Humaira itu sangat sulit membuka portal pertemanan dengan siswa baru. Tapi dengan Erika, Humaira bahkan membiarkan Erika main ke rumahnya. "Baguslah kalau dia udah mau berteman sama sekelasnya. Biar nggak sama aku terus. Semoga aja Erika nyaman di sini dan punya banyak temen. Ah, jadi temen yang pinter juga." Yuda terkekeh sendiri dengan apa yang ia bicarakan sendiri. Setelah itu, ia bangkit dari balkon dan mengambil gitar. Setelah itu memetikkan jemarinya dengan lihai. Membentuk alunan nada yang indah. Banyak kisah yang terukir dari nyanyian itu. Rasanya menghangatkan dan membuat pikiran menjadi tenang. Meski sekarang, Yuda sedang di landa kekacauan hati. Tiba-tiba saja hujan turun. Memberi kesejukan yang mendalam. Yuda tersenyum sendu melihat hujan turun begitu deras. Nyaman dan damai. Sekelebat wajah seseorang muncul. Sosok yang membuatnya susah tidur beberapa hari ini. "Dia benar-benar mengalihkan duniaku." ... Setelah makan malam bersama, Erika langsung bergegas masuk ke kamar. Ia ingin menyendiri dan berbaring ria di ranjang. Rasanya ia sungguh lelah karena harus berpikir tentang rumus matematika yang rumit. Sebenarnya ia tak suka belajar terlalu giat. Tapi seseorang membuatbya harus belajar dengan giat. Ia sangat berambisi ingin menyudahi semua cerita Yuda tentang gadis itu. Entah mengapa ia tak suka mendengar Yuda selalu membanggakan tentang sosok itu. Padahal ia dan Yuda hanya berteman. Tapi ia tetap tak paham akan apa yang terjadi. Baru saja ia ingin mendengarkan musik dengan headset, sesuatu di luar menahan niatnya itu. Ia bangkit dari ranjang lalu membuka tirai jendela kamarnya yang ada di lantai dua. Erika tersenyum lebar melihat ke arah jendela. Guyuran hujan dan petir yang menggelegar memenuhi gendang telinga. Ia selalu berharap bahwa hujan turun hingga besok. "Yey! Akhirnya hujan. Semoga besok juga hujan!" . ..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD