BACA BAB SEBELUMNYA, ADA TAMBAHAN ALUR (8/12/2021)
X : RIZAL TERNYATA …
“Gue kira orang kayak lo ga pinter boong.” Kata Rizal tiba – tiba.
Adisti menatap Rizal yang sedang meluruskan pinggangnya dan kemudian menatap Adisti dingin.
Yang ditatap Rikini menggeleng pelan, “aku ga bohong kok kak.” Kata Adisti kemudian menatap Rizal yang sekarang wajahnya berubah menjadi wajah bertanya, “aku beneran lagi ngerjain tugas kelompok kok.” Ucap Adisti membela diri.
“Benarkah?” tanya Rizal kini menopang wajahnya dengan punggung tangan kedua tangannya di atas meja masih dengan tatapan bertanya yang bahkan Adisti merasa jika ia sedang berhadapan bukan dengan Rizal.
Adisti merasa jika Rizal yang sedang ia hadapi adalah orang yang berbeda dengan Rizal yang diketahui ceritanya dari orang – orang. Rasanya Rizal yang diceritakna banyka orang adalah sosok yang super dingin bahkan tidak banyka bicara. Rizal yang Adsiti dengar adalah Rizal yang hanya dengan tatapannya bisa membuat orang – orang terutama kaum wanita meleleh dibuatnya.
Tapi hari ini, detik ini juga, Adisti merasa bahwa Rizal yang ia dengar berubah 180 derajat. Tatapan Rizal sekarnag adalah tatapan orang – orang yang iseng terhadap orang. Tatapan yang diberikan Rizal adalah tatapan yang bahkan kesenangan sudah menjahili orang lain. Walalupun Adisti tidak melihat langsung orang – orang yang memiliki tatapan seperti Rizal sekarang, setidaknya Adisti sering melihatnya di drama korea yang sering kali ia tonton jika sedang tidak ada kerjaan atau banyak pikiran yang membuatnya harus melihat orang – orang yang berbunga – bunga atau bahkan orang yang bersedih – sedih untuk menaikkan moodnya.
Adisti sekarang berdiri di samping Rizal dengan membawa buku tulisnya yang ia gunakan untuk mengerjakan tugasnya. Semua tugasnya tertulis di sana dengan sangat rapi dan tertata. Kemudian, dia benar – benar memperlihatkan apa yang ia tulis kepada Rizal beserta nama anggota yang ada di dalam kelompoknya.
“Kok mau – maunya sih lo sekelompok sama mereka?” tanya Rizal yang sudah melihat nama – nama anggota kelompok Adisti.
Adisti hanya menaikkan bahunya dan kembali lagi ke tempat duduknya dan melanjutkan menulisnya yang tinggal sedikit lagi. Dia benar – benar hampir selesai mengerjakannya sendirian.
“Ga tau, dosennya yang nyuruh.” Kata Adisti kembali menulis lagi tugasnya dan mulai tenggelam di sana.
Tidak lama setelah itu, Adisti menjatuhkan penanya dan menjatuhkan kepalanya juga ke atas meja. Dia benar – benar lelah hari itu. Ditambah lagi dia harus memikirkan cara keluar dari sini. Penjaga mungkin saja akan malam hari mengontrol ke daerah sini.
Daerah perpustakaan jarang sekali dikontrol karena orang yang menjaga sekolah terkadang tidak melihat siapa – siapa di sini. Tidak banyak juga yang berkeliaran di sini sewaktu siang. Mungkin itu yang menjadikan penjaga kampus tidak memeriksa perpustakaan dari awal. Siang saja jarang pengunjung apalagi malam hari.
Jika Adisti bisa keluar malam hari berkat penjaga sekolah, dia tidak akan menemukan bis angkutan umum lagi yang menuju ke rumahnya. Dia mungkin harus memesan ojek online. Dan itu sama sekali tidak membantu Adisti. Dia benar – benar tidak bisa menggunakan motor untuk perjalanan pulang saat malam. Mobil apalagi, banyak kasus anak – anak kampusnya yang bercerita jika naik mobil pesan online malam hari dan sendirian, mereka bisa saja di bawa ke sana atau ke sini. Ke tempat yang sepi. Membajak semua hartanya atau bahkan dirinya sendiri.
Menyeramkan.
Banyak sekali yang harus dipikirkan oleh Adisti.
Jika bisa, ia akan tinggal di sini sampai besok dan pergi ke kampus seperti biasa di pagi harinya. Namun, dia menyadari satu hal.
Besok adalah hari Sabtu. Banyak kelas regular yang libur dan kebanyak kelas nonregular yang masuk. Yang artinya, Adisti akan sia – sia diam di sini semalaman. Dia tidak ada jadwal mata kuliah besok.
“Kenapa?” tanya Rizal begitu melihat Adisti mengacak – ngacak rambutnya.
“Kak, bisa ga kakak hubungi temen kakak buat ke sini, bukain pint uterus aku bisa pulang masih sore gini.” Ucap Adisti putus asa.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Gue masukin akun gue aja di hp lo.” Kata Rizal pelan.
Lagi – lagi Adisti termenung, “huh?” katanya secara refleks.
Rizal tersenyum kecil, “hp gue low.” Kata Rizal mengingatkan.
Kini Adisti mengerti ucapan Rizal barusan. Maksudnya, Rizal akan memasukkan akun instagramnya di handphone milik Adisti agar bisa menghubungi temannya untuk membuka kunci perpustakaan ini.
Adisti mengangguk, “boleh.” Kata Adisti pelan lalu menyerahkan ponselnya kepada Rizal. “Batre lo masih awet jam segini.” Kata Rizal pelan kemudian mengotak – ngatik ponsel milik Adisti.
Sambil menunggu Rizal menghubungi temannya, Adisti beres – beres dulu di mejanya. Suapaya nanti dia bisa langsung keluar dari sana. Ketika membuka tasnya, Adisti menemukan ada kotak makan siang.
Benar juga, tadi siang dia tidak makan dan dia membawa roti untuk dimakannya siang tadi. Dia benar – benar lupa karena tertidur tadi. Dia benar – benar baru ingat bahwa dirinya tidak memakan apapun setelah bubar kelas pertama tadi.
Dia mengeluarkannya kemudian menarik baju Rizal. Rizal sekarang ada di dekat Adisti. Ada di mejanya dan duduk di atas meja yang tadi Adisti pakai untuk belajar. Adisti sebenarnya berniat menawarkan roti isi s**u dan coklat yang ia buat di rumah tadi pagi setelah sarapan. Namun, melihat Rizal yang susah payah menghubungi teman – temannya melalui akun i********: miliknya, Adisti mengurungkan niatnya.
Dia mungkin akan menawarkannya setelah seseorang bisa dihubungi oleh Rizal.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Gimana? Bisa?” tanya Adisti begitu melihat Rizal yang menyerahkan ponsel Adisti kepadanya.
Rizal mengangguk pelan, “bisa.” Katanya.
Adisti tersenyum kemudian menyodorkan kotak makan siangnya. “Ini aku buat tadi pagi kak, siapa tau kakak laper.” Kata Adisti pelan.
Rizal kini mengubah posisi duduknya menjadi di kursi di depan Adisti. “Roti tawar?” tanya Rizal pelan.
Adisti menggeleng peplan, “ada isinya. s**u putih sama meses coklat.” Kata Adisti menjelaskan detailnya. “Kakak ada ga suka sama dalemannya?” tanya Adisti pelan.
Jika boleh jujur, Rizal pernah makan roti dengan isi yang sama namun tidak pernah terlihat selezat ini. Mungkin Rizal lapar untuk sekarang. Mungkin, ya mungkin.
“Gue boleh makan nih?” tanya Rizal pelan.
Untung saja di perpustakan kampusnya ada yang mesin minuman, mereka mungkin bisa mendapatkan beberapa untuk sekarang.
Adisti mengangguk, “boleh kak.” Ucapnya pelan.
Sekali lagi, Adisti benar – benar tidak menyangka bahwa Rizal seperti yang sekarang di lihatnya. Menurut orang – orang dingin, tapi menurut Adisti, Rizal bisa menjadi hangat seperti sekarang.