IX : TERJEBAK
Begitu Rizal selesai dengan urusannya ‘membantu’ Adisti menyimpan buku di tempatnya, dia benar – benar pergi tanpa sepatah katapun untuk Adisti. Tidak tahu saja, Adisti sudah hanpir mati gara – gara menahan nafasnya karena terlalu dekat dengan Rizal yang bahkan sama sekali tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun.
Setahu Adisti.
Ketika sadar bahwa dia sudah sendirian disana, Adisti bergegas menuju meja yang tadi dipakainya untuk mengerjakan tugasnya. Lalu menyusul Rizal yang sudah terlebih dahulu ada di pintu keluar perpustakaan.
Saat Adisti melihat punggung Rizal yang mencapai pegangan pintu untuk keluar dari perpustakaan, dia melangkahkan kakinya cukup pelan. Sangat pelan sampai dia menyadari jika Rizal tengah memaksa membuka pintu itu untuk dirinya.
“Ke – kenapa, Kak?” tanya Adisti begitu dia sampai di dekat pintu yang akan ia lewati untuk keluar dari sana.
Selanjutnya, yang dilakukan Rizal hanya menyuruh Adisti mencoba membuka pintunya tanpa sepatah katapun. Mata Adisti yang masih saja tidak dapat menyembunyikan kekagumannya terhadap Rizal kini dengan terpaksa dialihkan untuk melihat apa yang sudah Rizal suruh.
Dia mencoba mendorong dan menarik pintu perpustakaan itu tapi yang ia herankan bahwa pintu itu tidak bergerak sama sekali. Dia membeku di tempat kemudian menatap Rizal sekali lagi.
“Udah dikunci.” Kata Rizal kemudian dia menatap ponselnya.
Adisti menelan ludahnya. Dia benar – benar merasa sangat asing dengan suasana ini. Dia benar – benar tidak bisa ada di sini dengan Rizal yang bahkan membuat suasana menajdi canggung dan udara di sana cukup mendingin setelah Rizal mengeluarkan ponselnya.
Sebenarnya, Adisti juga membawa ponselnya. Namun, dia tidak punya orang untuk dihubungi. Dia benar – benar tidak ada teman yang bisa dihubungi untuk sekedar membukakan kunci dari pintu perpustakaan itu. Mungkin Rizal juga sedang menghubungi seseorang.
Adisti tidak perlu khawatir tentang itu.
Harapan Adisti.
Tapi, harapannya pupus ketika melihat Rizal berjalan ke arah kursi yang bahkan digunakan untuk belajar beberapa orang yang membutuhkannya. Kemudian kepalanya terbaring di atas meja itu.
“Ma – maaf kak Rizal.” Kata Adisti membuka permbicaraannya.
“Hmm.” Jarab Rizal dengan cuek dan tanpa menatap Adisti yang kini sudah duduk di depannya.
Adisti mengikuti Rizal karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Satu – satunya harapan adalah Rizal membantunya keluar dari sini dan dia bisa pulang ke rumah dengan selamat. Walalupun nenek dan kakeknya mungkin saja tidak ada di rumah, tapi Adisti harus pulang tepat waktu. Meskipun sekarang sudah sangat telat untuk pulang tepat waktu.
“Kakak ga ngehubungin siapa – siapa gitu buat keluar dari sini?” tanya Adisti pelan setelah memikirkan apa yang harus ditanyakan dengan kalimat yang benar – benar sopan tanpa menyinggung Rizal sedikitpun.
Kemudian, yang dilakukan Rizal adalah menunjukkan ponselnya yang mati alih – alih menjawab pertanyaan dari Adisti barusan.
“Lowbat.” Kata Rizal setelah Adisti cukup lama diam sambil menatap ponsel Rizal yang benar – benar mati total.
Adisti menarik nafasnya kemudian melihat baterai di ponselnya. Baterainya delapan puluh tujuh persen terlihat dari indikatornya. Sangat awet karena Adisti sama sekali tidak pernah lama – lama memakai ponselnya.
Jika harus menjelajah dunia maya, Adisti melakukannya setelah tugas dan ada waktu luang untuk itu. Sedangkan di kampus, waktu luangnya tidak sebanyak yang ada di rumah.
“Lo aja.” Kata Rizal lalu membangkitkan kepalanya menatap Adisti yang tidak paham maksud dari ucapan Rizal barusan.
“Hah?”
Rizal mungkin sudah tertawa jika kepribadiannya bukanlah Rizal yang seperti itu. Adisti di depannya sangat menggemaskan. Dia hanya mengatakan satu kata namun sangat lucu. Dalam hati, Rizal mengatakan itu dengan sangat lantang.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Beberapa menit kemudian ketika Adisti mengatakan bahwa dirinya tidak punya teman untuk dihubungi, Rizal benar – benar bingung terhadapnya.
“Beneran?” tanya Rizal untuk kesekian kalinya.
Adisti menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk kecil, “sori kak. Tapi aku bener – bener ga punya temen yang bisa diandalkan saat suasana seperti ini.” Ucap Adisti.
Rizal menggelengkan kepalanya, “gapapa.” Katanya, “kita tunggu penjaga aja.” Lanjutnya kemudian dia menyimpan lagi kepalanya di atas meja.
Adisti yang merasa jika dirinya tidak punya kerjaan apapun kini bangkit berdiri dan mengambil beberapa buku lagi. Ketika sudah mengambil buku yang ia perlukan, Adisti menimbang – nimbang untuk duduk di hadapan Rizal atau tidak.
Dia tidak enak untuk belajar di hadapan Rizal. Takut – takut dia akan menganggu waktu istirahat untuk Rizal.
“Lo seriusan mau belajar?” kata Rizal begitu Adisti menarik kursi satu bangku dihadapan Rizal.
Adisti menyesal membuat saura yang cukup bising sehingga membangunkan Rizal dari posisinya. Kemudian, Adisti mengangguk dengan polosnya dan benar – benar akan melanjutkan tugasnya yang belum selesai sedikit lagi.
“Di situasi ini?” kata Rizal lagi mempertanyakan hal yang menurut Adisti tidak perlu ditanyakan.
Adisti mengerutkan keningnya, “emangnya kenapa, kak?” tanya Adsiti.
Pertanyaan dari Adisti itu membuat Rizal menggeleng kemudian tersenyum tipis. Rizal menggumamkan sesuatu sebelum kembali ke posisi asalnya. Sayangnya, Adisti tidak mendengar itu.
Adisti yang sedang mengerjakan tugasnya merasakan getaran ponselnya pada saku celananya. Dia menggentikan sejenak aktivitasnya kemudian segera mengangkat ponselnya. Dia tersenyum kecil begitu melihat siapa yang memanggilnya.
“Hallo, nek.” Kata Adisti membuat orang di sebrang sana terkekeh kecil.
Neneknya ada di sberang sana mendengar suara riang Adisti, dia tidak perlu lagi khawatir tentang Adisti. “Lagi apa, Dis?” tanya Neneknya ketika sadar dirinya terlalu lama diam dan membiarkan Adisti menunggunya.
Adisti berdesis, “aku lupa ngasih tau nenek, kalo aku masih ada kerja kelompok di perpustakaan hari ini.” Kata Adisti kemudian menatap Rizal yang bergeming di posisinya. “Aku masih diperpustakaan dan bakal pulang bentar lagi.” Ucap Adisti mengecil ketika menyebutkan dirinya akan pulang sebentar lagi.
Tentu saja seperti itu. Adisti tidak tahu bagaimana dirinya akan keluar nanti. Bagaimana dan kapan tentu saja Adisti tidak bisa menentukannya, jadi dia menjawab kurang yakin pada bagian itu.
“Jadi kamu telat pulang?” tanya neneknya, “hati – hati nanti pulangnya, Dis. Udah mulai gelap.” Kata Neneknya dengan suara yang bahkan sangat menyiratkan kekhawatiran seorang ibu pada anaknya.
Adisti tersenyum begitu mendengar suara neneknya yang lembut dan sangat khawatir terhadapnya. “Iya nek, bentar lagi selesai kok.” Kata Adisti melihat tugasnya yang benar – benar hampir selesai. Tinggal menyalinnya dan selesai. Adisti begitu yakin jika dirinya akan menyelesaikannya sekitar 10 menit lagi.
“Ya udah, hati – hati, Dis.”