Setelah kejadian itu, Adisti benar – benar tidak bisa memikirkan appaun lagi. Bahkan tugas kelompoknya tidak ia sentuh ketika sampai di rumah. Dia langsung memikirkan bagaimana caranya mendekati Rizal dan menjadikannya sebagai pacar sebagaimana yang di ‘tugass’kan oleh Dena.
Mengenalnya saja tidak bisa. Apalagi memacarinya. Mana dia hanya diberikan waktu dalam tiga bulan. Apakah dirinya harus memilih untuk menjadi babunya Dena saja selama dia kuliah? Tapi, walaupun Adisti tahu jika satu tahun lagi Dena akan lulus dari kampusnya, itu tidak bisa menjadi jaminan.
Bahkan mata kuliah bahasa Indonesia saja dia dan sekelompoknya tidak lulus apakah Dena akan lulus tepat waktu? Pertanyaan itu yang berhasil membuat Adsiti dilemma. Dirinya tidak bisa memilih antara keduanya. Dia juga tidak bisa dan tidak ingin terlibat dalam sebuah amsalah. Namun, secara tidak langsung Adisti sudah cukup masuk ke dalam zona masalah yang sedari lama ia hindari. Dia tidak ingin namun dia sudah masuk dan sulit untuk keluar jika ia masuk seperti itu.
Adisti benar – benar kalut.
Dia membuka ponselnya untuk menjernihkan pikiran. Dia berselancar di dunia maya yang bahkan tidak banyak orang mengetahui akunnya. Akun privat yang bahkan sama sekali ia tidak mengikuti siapapun dan hanya di isi oleh beberapa tulisan dan gambar tangan dari Adsiti itu tidak banyak di gemari. Hanya segelintir orang yang kadang – kadang menyukai dan meninggalkan komentar baik di istragramnya.
Tidak banyak, namun cukup membuat Adisti merasa senang ketika mendapatkan komentar pujian untuk gambarnya atau bahkan hanya untuk tulisannya saja. Dia sudah punya ratusan followers dengan tanpa nama dirinya yang tercantum di sana.
“Dis, besok kamu bisa ijin pulang cepet ga?” tanya neneknya di luar kamarnya.
Terburu – buru Adisti bangun dari rebahannya dan membuka pintu kamarnya. Dari dulu memang seperti itu. Adinda tidak diijinkan untuk berbicara dengan lawan bicara di halangi oleh benda mati di depannya. Maka dari itu, Adisti membuka pintu untuk langsung bertemu dengan lawan bicaranya.
“Kenapa, Nek?” tanya Adisti pelan.
Neneknya tersenyum begitu Adisti membukakan pintu untuknya dan menajwab panggilannya dengan senyuman.
“Besokkan jum’at. Nenek sama Kakek mau ke Bandung. Sabtunya, kamu libur ‘kan?” tanya neneknya tersenyum.
Ada sedikit hal yang mengganjal di d**a Adisti begitu kata ‘Bandung’ disebutkan. Meskipun sudah lama sekali, masih saja luka itu terasa. Luka dimana Adisti harus meredakannya dengan duduk sendirian semalaman dan tertidur dalam kondisi duduk seperti itu. Bahkan kadang – kadang Adisti pernah tidak tertidur walaupun besoknya ada jawal kelas pagi.
“Maaf, Nenek harus menjumpai teman nenek yang suaminya meninggal. Nenek tidak bisa ke sana sendiri.” Kata neneknya menyentuh pundak Adisti yang sedikit menegang tadi.
Kemudian, sadar dari lamunannya, Adisti menggeleng dan tersenyum kecil. “Gapapa, Nek.” Katanya pelan menyembunyikan sedikit luka di hatinya walaupun tidak terlalu tersembunyi dengan sempurna, “aku masih ada tugas, mungkin sabtu sama minggu aku akan sibuk di perpustakaan kota buat cari referensi.” Katanya lagi.
Neneknya mengangguk pelan, “jadi, pada intinya kamu tidak bisa ikut nenek sama kakek?” tanya neneknya memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
Adisti mengangguk, jika dipaksa pun, mungkin Adisti tidak akan pernah mengunjungi kota itu. Walaupun kata orang kota itu sangat indah. Namun, bagi Adisti, kota yang indah itu adalah mimpi buruknya.
* * * * * * * * *. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Adisti sudah dikampusnya lagi. Dia tidak tidur semalam karena neneknya menyebutkan kota yang tidak ingin didengarnya.
Mungkin hari ini tidak akan sebaik kemarin jika saja dosen mata kuliah ke tiga sampai pulang nanti membatalkan kelasnya karena alasan yang bahkan tidak pernah ingin Adisti tahu.
Menurut kabar yang beredar, dosennya itu menghandari pernikahan salah satu direktur besar fakultas mereka. Menjadikan mereka semua memprioritaskan orang - orang itu daripada anak murid didiknya.
Kampus mungkin saja tutup sore nanti. Adisti baru saja melihat jam tangannya dan dijam itu, waktu menunjukkan jam 10.15 waktu setempat. Oleh karena itu, Adisti memutuskan untuk pergi ke perpustakaan agar dia bisa mengerjakan tugas yang kemarin sudah pernah tertinggal.
Ketika Adisti masuk ke perpustakaan kampus itu, suasananya sepi. Lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena hari Jum'at, juga dosen kebanyakan membatalkan kelasnya, murid yang lain meluangkan waktu untuk hal lain di luar kampus.
Berbeda dengan Adisti. Dia lebih senang ada diluar rumah walaupun tidak sampai malam. Ada batasan yang tidak bisa ia lewati. Kakek neneknya sudah berusaha menjaganya. Jadi, untuk menjaga hal yang sama dia tidak pernah membuat mereka khawatir.
Adisti berjalan menuju rak untuk materi bahasa Indonesia dasar yang bahkan sudah banyak buku yang berdebu. Tidak terawat? Tentu saja tidak.
Perpustakaan ini lebih baik daripada perpustakaan yang ada di kampus lain. Selain buku cukup lengkap, disini banyak sekali tempat membaca. Ruangannya luas.
Mungkin saja penjaga perpusnya tidak pernah datang sampai ke ujung sini. Ke ujung dimana Adisti sekarang berdiri.
Adisti lebih senang seperti ini. Santai dan tenang. Sepi dan sejuk. Dia tidak bisa mendapatkan ketenangan seperti ini semenjak semalam. Cukup hari ini yang berat. Dia tidak ingin merasakan luka lama lagi.
Tangannya meraih beberapa buku dan membawanya ke daerah yang ada tempat duduknya dan mengerjakan beberapa kalimat dan beberapa hal yang harus di masukkan ke dalam tugasnya.
Adisti benar - benar larut dalam tugasnya sampai pada akhirnya tugas itu selesai. Dia tidak memperhatikan waktu sekarang. Dia masih ada di sana ketika jam tangannya menunjukkan pukul setengah lima sore.
Dia berdiri secara tergesa - gesa lalu mengambil buku dan menyimoannya dengan tergesa - gesa pula. Sampai - sampai buku itu ada yang akan terjatuh mengenai kepalanya. Dia sudah pasrah melihat buku yang akan menimpa kepalanya.
Namun, setelah memejamkan mata dan menunggu rasa sakit di jatuhi buku cukup tebal itu, Adisti tidak merasakan apa - apa. Kemudian di menatap buku yang ada tepat di atasnya. Melayang dengan satu tangan mencengram vuku itu.
Dia berbalik dengan cepat dan menemukan seseorang yang sudah membantunya barusan.
"Kak Rizal?"
* * *