VII.2: LAKU DENA

530 Words
(BACA PART SEBELUMNYA DULU KARENA ADA PERUBAHAN ALUR) 6/12/21 Dena membenarkan bajunya dan duduk dengan benar. Menghadap ke arah Adisti dan tersenyum kecil. Dia beranjak dari sana dan berjalan mendekati Adisti. “Lo nunggu gue?” tanya Dena setelah sampai di depan Adisti lalu ia menarik kursi di sebelah Adisti untuk duduk di depan Adisti kemudian menyulut rokooknya dan menghembuskannya ke wajah Adisti. Sebenarnya, ADisti risih dengan itu sampai dia harus mengibaskan tangannya sendiri di depan wajahnya untuk menghalangi asap yang berhembus sampai ke wajahnya. Namun, ketika Adisti mengibas – ngibaskan tangannya itu, Adisti merasakan sakit di pergelangan tangannya. Reaksi diam sambil melihat pergelangan tangannya sendiri membuat Dena terkekeh kecil. “Parah lo, Git.” Kata Dena menghentikan gerakan bercumbuunya dengan orang asing itu. Gita menoleh tanpa mengucapkan apa – apa. Sedetik kemudian, tangan Adisti di tarik oleh Dena dan ditunjukkannya ke arah Gita yang sudah terkekeh begitu ia mengerti apa yang hendak ditunjukkan oleh Dena. Gita tidak perduli dan melanjutkan acara ciumaan yang tadi sempat tertunda itu. “Gita mantan atlit taekondo yang gagal.” Kata Dena melepaskan tangan Adisti lalu terkekeh begitu mendengar gumaman tidak jelas dari Gita. Mereka seolah – olah tidak bisa diganggu. Mereka sedang menikmati itu. Bahkan sang laki – laki seperti tidak rela melepaskan bibir Gita walaupun hanya sedetik hanya untuk membalas perkataan dari seorang Dena yang kini menyesap rokokknya lagi. “Jadi kak, apa tugas yang kata kak Gita itu dari kakak?” tanya Adisti tidak mau berlama – lama ada di sana. Dena mengangguk, “iya. Gue punya tugas buat lo tapi bukan tentang mata kuliah. Gapapa kan?” tanya Dena dengan senyuman so manis di mata Adisti. Adisti tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya diam sambil mengeryitkan dahinya tidak mengerti, untuk urusan diluar mata kuliah bukan tugas artinya. Itu hanya suruhan dan perintah memaksa dari seorang Dena untuk seorang Adisti. Dia sendiri tidak mengerti, kenapa harus dia yang melakukannya. “Lo kenal Rizal ‘kan?” tanya Dena kepada Adisti yang masih menatapnya dengan tatapan tanda tanya. Sebenarnya, Adisti hanya mengenalnya dengan namanya saja. Wajahnya juga. Dia tidak kenal secara baik dengan Rizal. Untuk apa juga. Adisti merasa bahwa dirinya tidak perlu mengenal Rizal karena bisa saja Rizal menjadi masalah untuknya. Mungkin sekarang terjawab. Rizal bisa saja menjadi masalah untuknya ketika Dena menerangkan tugasnya. “Pacarin Rizal.” Katanya singkat dan sangat jelas. Telinga Adisti benar – benar di uji. Dia? Harus berpacaran dengan Rizal? Mantannya Dena? Yang bahkan sama sekali tidak di kenalnya? Barusan. Sebelum ke sini saja Rizal sudah menatapnya dingin, berbicara kepada Gita dan di depan Adisti untuk pertama kalinya. Rizal yang super dingin dan tidak tersentuh itu? Benarkah? Dena menyuruhnya seperti itu? Untuk apa? “Gue ga nerima penolakan.” Kata Dena. “Lo musti nerima dan lo musti ngelakuinnya.” Ucap Dena lagi kemudian dia menyesap rokokknya lagi. “Tapi gimana kak?” tanya Adisti takut. “Itu bukan urusan gue. Kalo lo ga bisa, lo bakal jadi babu gue selama gue kuliah di sini.” Ancam Dena. “Gue tunggu sampai tiga bulan.” Kata Dena lagi. Yang bisa Adisti lakukan hanya diam dan bengong. “Apa lagi ini?” tanyanya untuk diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD