Nagaru telah menerima informasi akan calon istrinya dari Wigaman. Ayahnya itu memberinya kesempatan untuk melihat dan meninjau secara langsung akan wanita yang akan dinikahinya itu. Jika telah setuju, maka Wigaman akan mengatur rencana pertemuan dengan keluarga sang wanita.
Dengan kata lain, Wigaman memiliki berbagai opsi akan calon istri Nagaru. Tidak sulit baginya mencari keluarga yang ingin diajak berbesanan dengannya, tetapi Wigaman juga tak sembarang memiliki keluarga hanya karena sesama pengusaha.
"Sashina Lopika Brahtama."
Nagaru menyebut nama wanita yang biodatanya telah berada di atas meja kerjanya. Lengkap dengan data pendukung yang lain seperti foto-foto Sashina dengan berbagai angle shot.
"Ibunya adalah pemilik saham terbesar salah satu perusahaan farmasi. Sedangkan ayahnya adalah Guru Besar Fakultas Hukum sebuah perguruan tinggi negeri, mantan seorang hakim," jelas Triyo, selaku sekretaris Nagaru yang sebelumnya telah mendapat informasi itu terlebih dahulu dari sekretaris Wigaman.
Nagaru mengabaikan profil orang tua Sashina yang menurutnya telah diperhitungkan oleh ayahnya secara baik-baik. Ia juga menilai kombinasi dari latar belakang Sashina begitu kuat, ibu yang keturunan konglomerat dan ayah yang sangat terpelajar.
"Dia masih kuliah?" Alis Nagaru terangkat begitu mendapati bagian kolom latar belakang pendidikan Sashina.
"Dia sudah semester tujuh dan sementara melaksanakan Kerja Kuliah Nyata," ujar Triyo telah mendapatkan informasi sejauh itu.
"Kenapa dia tidak kuliah di luar negeri? Kurasa orang tuanya sanggup melakukan hal itu?" Nagaru bertanya. Ia tahu bahwa pilihan Sashina bukanlah yang terakhir, sehingga berusaha mengabaikan sejenak fakta bahwa bakal calon istrinya itu masihlah seorang mahasiswi.
"Sashina adalah anak tunggal."
Cukup satu penjelasan untuk membuat Nagaru mengerti akan hal itu. Ia pun beralih dan mengambil foto-foto Sashina yang terlihat kalem.
"Mahasiswi hubungan internasional, hobi bermain kuda, pernah ikut lomba balerina dan aktif mengikuti acara sosial hingga tingkat Asia." Nagaru bergumam, menyimpulkan isi dari biodata Sashina. Namun kini ia fokus kepada wajah Sashina yang tak dipungikirinya manis daripada dengan kesan cantik. Namun Nagaru tidak ingin memuji lebih jauh, takut itu hanya tipuan riasan saja.
"Apakah Ayahku sedikit kehilangan akalnya? Perempuan itu masih berumur dua puluh tahun," tukas Nagaru bangkit dari kursinya. Ia menyoroti usia Sashina yang beda delapan tahun darinya. Sedikit lagi, maka Sashina mungkin akan menganggapnya om-om.
"Tapi melihat hobi dan kegiatan Sashina, sepertinya dia juga wanita yang tidak suka bertingkah," balas Triyo seolah memberi pembenaran akan pilihan Wigaman.
"Mungkin saja sebagian hal itu dipaksakan oleh orang tuanya. Mbak Sinta saja dulu diminta oleh Ayahku untuk belajar bermain piano, meski Mbak Sinta lebih suka bermain golf." Nagaru berujar dan merasa seluruh kegiatan Sashina layaknya seperti anak konglomerat lainnya. Sama seperti teman-teman perempuannya sewaktu masih sekolah.
"Jadi anda ingin menolak pertemuan dengan Sashina dan langsung melihat yang lainnya?" tanya Triyo saat Nagaru mulai memakai kembali jas hitamnya.
Nagaru melirik Triyo sekilas. "Tidak baik hanya menilai dari selembar kertas," balasnya menepuk bahu sekretarisnya itu. "Ayo kita menuju ruang rapat. Aku akan memikirkan hal itu selanjutnya."
Triyo hanya tersenyum kecil dan mulai mengikuti sang bos untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia selama ini telah melihat berbagai wanita yang diajak jalan oleh Nagaru atau berkencan sekadar melepas penat. Semuanya merupakan wanita berkelas, pebisnis yang andal atau memiliki penampilan layaknya model papan atas. Belum pernah ia melihat Nagaru terlibat dengan wanita yang lebih muda, apalagi seorang mahasiswi.
♤♤♤
"Sashi!"
Seorang wanita menyugar rambutnya ke belakang, usai berbalik ke arah orang yang memanggil namanya. Tubuh proporsional, penampilan modis dan wajah yang glowing tak terelakkan, membuat wanita itu selalu menjadi pusat perhatian.
"Apaan sih Beno? Aku sibuk memilih hidangan makan siang nanti." Sashina atau akrab dipanggil dengan sebutan Sashi. Mahasiswi semester tujuh yang sekarang menjalani KKN pada salah satu kecamatan di Bekasi.
"Yaelah Shi, tinggal pesan nasi kotak aja ribet. Ada perubahan nih dalam acara seminar proker kita," balas Beno sudah memasang wajah paniknya.
Alis Sashina terangkat. Seingatnya susunan acara seminar program kerja KKN-nya sudah sangat sempurna. Bahkan untuk dekorasi kantor camat, ia dan teman satu kecamatannya rela mengeluarkan uang pribadi yang sebenarnya tidak diperlukan.
"Aku, Adel, Mira, Anna sama Eca sudah sudah sepakat semalam buat pesan prasmanan langganan rumahku kalau ada acara," ujar Sashina yang secara tak langsung tidak menyetujui konsumsi seminar proker KKN mereka dengan nasi kotak.
Beno selaku Koordinator Kecamatan hanya menatap dongkol Sashi. Namun setelah mendengar empat nama wanita lain yang sudah setuju dengan Sashi, maka dirinya hanya bisa berpasrah. Bersama dengan Sashi, maka kelima wanita itu merupakan bendaraha dari masing-masing kelurahan teman KKN-nya. Sashi adalah Bendahara Kecamatan yang tentunya menjadi pionir untuk mengatur segala bentuk rencana anggaran di kecamatan mereka ber-KKN.
"Oke, terserah untuk konsumsi nanti. Tapi kau harus mendengar masalah perubahan acara seminar kita," tukas Beno memilih mengalah masalah makan siang nanti.
Sashi tersenyum penuh kebanggaan, karena berhasil membuat sang Korcam menyerah. "Apa sih perubahannya? Paling juga Pak Camat minta perubahan jam bukan?"
Beno menghela napas sekilas. "Bukan itu, tapi ... kita mendapat satu narasumber lagi. Jadi si narasumber baru ini bakal hadir dan bisa memberi semacam masukan bagi proker kita."
"Oh ya? Siapa dia? Jangan-jangan Pak Walikota? Atau bahkan gubernur?" Sashi mencoba menebak orang yang membuat Beno sampai terkejut seperti sekarang.
"Nagaru Rajendra," ungkap Beno.
"Apa? Siapa? Nagaru?" Sashi tampak kebingungan. Tak pernah mendengar nama itu.
Sedangkan Beno sudah memasang wajah lesunya. "Kau sebagai anak sospol pasti tidak familier dengan namanya. Tapi aku," tunjuknya pada dirinya sendiri. "Aku sebagai anak ekonomi sudah sering mendengar namanya."
"Oke, itu tidak menjawab pertanyaanku. Jadi si Nagaru ini siapa sampai harus ikut seminar proker kita?" Sashi merasa Nagaru mungkin tak lebih pejabat yang bekerja di kantor dinas wilayah Bekasi.
"Dia anggota keluarga Grup Rajendra. Salah satu konglomerat di Indonesia. Nagaru ini bakal hadir, karena proker kita di pasar. Grup Rajendra adalah pendiri sekaligus pemilik pasar tersebut," jawab Beno dengan hati-hati.
"Yah, kalau gitu tinggal ubah susunan saja. Persingkat waktu sambutan lainnya atau acara hiburannya ditiadakan," ujar Sashi dengan enteng.
Beno mendengkus. "Kau bisa berkata seperti ini, karena tidak tahu siapa Nagaru. He's hot like hell."
Jika Sashi tadi tak terlalu tertarik akan sosok Nagaru ini, tetapi setelah mendengar ucapan Beno, ia melangkah mendekati Korcamnya iti lalu tersenyum miring. "Benarkah?"
"Yeah, soal penampilan Nagaru sepadan dengan wajah aktor, tapi sifatnya ... dingin dan terkenal kejam dalam dunia bisnis," balas Beno tidak ingin Sashi salah sangka dulu anak sosok Nagaru ini.
Sashi berdecak. "If he's hot like hell, it's because he's a dragon, Naga-ru." Ia mengumpamakan Nagaru seperti Naga yang bisa menyemburkan api dari mulutnya.
"Capek bicara sama kau Shi, lebih baik aku mulai mengurus perubahannya," ujar Beno memilih menyingkir dari hadapan Sashina.
Sedangkan Sashi hanya menyipitkan mata melihat kepergian Beno. Teman KKN, sekaligus satu SD sampai SMP dengannya. Maka tak heran keduanya sudah tak canggung untuk mengobrol sampai berdebat seperti tadi.
"Oke, mari kita lihat sosok Nagaru, apakah sesuai deskripsi Beno yang katanya hot like hell," gumam Sashi mulai mengeluarkan ponselnya.
Namun sebelum Sashi sampai pada laman pencarian, sebuah panggilan masuk dan membuat matanya membeliak. Segera ia harus mengangkatnya, sebelum seseorang akan datang dan mengecek keadaannya secara langsung.
"Halo, Ibu?" sapa Sashi mengangkat telepon dari ibunya.
"Kamu di mana sekarang?"
"Di mana lagi? Tentu saja kantor camat, bentar lagi bakal seminar proker jadi tidak usah khawatir kalau Sashi nggak angkat teleponnya, karena sibuk."
"Padahal Ibu sudah bilang, kau lebih baik KKN di kedutaan saja seperti teman jurusanmu lainnya."
Sashi menghela napas, karena sang ibu kembali mengungkit masalah pilihan KKN-nya. "Sudah berlalu, okay? Sashi juga sudah hampir seminggu di sini."
"Baiklah, tapi usahakan untuk mengosongkan jadwalmu sebentar malam."
Ucapan sang ibu menjadikan Sashi terkejut. "Loh mana bisa begitu, kabur dari tempat KKN? Kalau Ayah sampai tahu, dia bisa marah."
"Ayahmu sudah setuju dan bicara sama dosen pembimbing lapanganmu."
Perkataan tersebut membuat Sashi heran, karena sampai membuat ayahnya rela melakukan hal itu. Menjadikan koneksi ayahnya untuk kepentingan pribadi.
"Memang ada apa sampai Ayah bahkan setuju?" tanya Sashi mulai melihat kedatangan teman KKN lainnya memasuki aula kantor camat.
"Acara makan malam."
"Apa?"
"Aku dan Ayahmu telah mengatur acara pertemuan makan malam dengan sebuah keluarga."
"Untuk apa?" tanya Sashi ingin buru-buru menutup telepon agar bisa fokus mempersiapkan seminar proker KKN-nya.
"Datang saja. Ibu akan mengirimkan sopir menjemputmu. Pertemuan malam ini mungkin akan mengubah hidupmu dalam sekejap."
Ucapan sang ibu tak ayal membuat Sashi bergidik ngeri. Sashi seolah merasa ada sesuatu yang akan terjadi padanya. Seperti perubahan acara seminar prokernya hari ini, terlalu tiba-tiba dan tidak terduga.
♡♡♡