Chapter 1
Sebuah kediaman terlihat ramai. Bukan karena adanya pesta atau acara meriah yang didatangi oleh para tamu undangan. Semua itu disebabkan oleh pertemuan besar Keluarga Rajendra. Siapa yang tidak mengenal keluarga yang telah memiliki gurita bisnis sejak pertengahan abad dua puluh, hingga menjadi salah satu keluarga terkaya di Indonesia.
Untuk keturunan Rajendra yang memimpin keluarga tersebut adalah Wigaman Rajendra, anak dari Haryono Rajendra yang wafat sepuluh tahun silam. Wigaman hanya memiliki saudara perempuan bernama Rania yang kini memilih fokus menjalani profesi kedokteran dan lebih banyak terlibat tugas kemanusiaan di daerah konflik.
Oleh karena itu, Haryono menunjuk Wigaman sebagai Presider Grup Rajendra untuk menggantikan posisinya dalam surat wasiat. Sebagai pimpinan Rajendra, sudah menjadi tugas Wigaman untuk memastikan tongkat estafet keberlanjutan penerus Grup Rajendra itu ada dan pastinya juga adalah keturunan langsungnya.
Wigaman memiliki tiga orang anak. Mereka adalah Laksamudira Rajendra, Sintami Mekar Rajendra dan Nagaru Cendika Rajendra. Ketiga anak Wigaman dikaruniai dengan penampilan yang menawan. Wajah rupawan dan tubuh proporsional. Terutama Laksamudira yang seolah menjadi anak impian semua orang.
Laksa yang selalu menjadi juara dalam bidang akademik, tetapi tidak sombong. Laksa yang gagah berani, tetapi bukan pemain wanita dan Laksa yang kaya raya, tetapi sangat murah hati terhadap sesama. Wigaman tentu bangga memiliki anak seperti Laksa. Sampai suatu ketika, Wigaman dikecewakan oleh Laksa, hanya karena seorang wanita.
Anak kedua Wigaman, yaitu Sinta tak jauh berbeda dengan bentuk fisik Laksa yang mempesona. Tubuh tinggi semampai seperti model, iris mata kecokelatan dan kulit putih pucat menjadikannya sangat populer di dunia maya. Kerap tampil modis dan menggunakan barang bermerek, tidak membuat Sinta angkuh. Meski beberapa orang, terutama wanita seusianya kadang segan jika melihat sosoknya. Hanya saja, seperti Laska, wanita itu juga mengecewakan Wigaman. Sebuah skandal yang membuat Wigaman murka.
Satu-satunya yang menjadi kebanggaan Wigaman sekarang ini ialah Nagaru Cendika Rajendra. Bungsu yang juga memiliki penampilan menawan seperti kedua kakaknya. Belum lagi kemampuan memakau dalam hal bisnis. Bahkan setelah Laksa mengundurkan diri dari Grup Rajendra, Nagaru dengan cepat mengambil alih jabatan CEO tersebut.
Wigaman sangat menaruh kepercayaan kepada Nagaru yang belum pernah mengecewakannya. Hanya saja, berbeda dari Laksa dan Sinta, maka sifat Nagaru bagai bongkahan es kutub yang dingin, keras, dan tak ragu menunjukkan jati dirinya sebagai keturunan Rajendra yang berkuasa. Meski begitu, Nagara tak tampak seperti anak orang kaya songong yang cuma bisa tahu pamer harta keluarganya. Pria itu selalu bisa membuktikan kemampuannya, entah dalam hal bisnis atau membangun koneksi dengan pebisnis besar lainnya.
Pada sebuah ruangan, anak-anak Wigaman telah berkumpul. Selain itu juga hadir sepupu Wigaman ataupun keponakannya. Meski mereka bukan penerus langsung Grup Rajendra, tetapi perusahaan yang mereka jalankan banyak berafiliasi dengan Grup Rajendra. Bahkan sepupu Wigaman yang menjadi kepercayaan Wigaman memimpin salah satu anak perusahaan Grup Wigaman.
Pintu ruangan itu terbuka dan sosok Wigaman mulai masuk ditemani oleh pengacaranya. "Kalian semua sudah datang," sapanya langsung duduk pada kursi bagai seorang raja.
"Aku tahu kalian adalah orang-orang sibuk, jadi aku tidak akan membuang waktu kalian," ujar Wigaman menyampaikan maksud pertemuan tersebut.
Jika anggota keluarga lain menatap Wigaman dengan wajah antusias, maka berbeda dengan Laksa dan Sinta yang sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan ayah mereka.
"Nagaru akan segera menikah. Jadi aku tidak ingin kalian akan menjadi bingung dan salah memberi pernyataan kepada media atau orang lain jika ada yang bertanya," ungkap Wigaman sontak membuat seisi ruangan menjadi terkejut.
Kecuali calon pengantin, Nagaru. Lelaki itu malah asyik meraih cangkir kopi dan menyeruputnya dengan pelan.
"Wigaman, aku tidak pernah mendengar Nagaru memiliki kekasih," komentar Pramu, sepupu Wigaman.
"Benar, Mas Nagaru tidak pernah terlihat berkencan," tambah Amelia--anak tunggal Pramu, sekaligus sepupu Nagaru sendiri.
Wigaman tertawa. "Apakah perlu Nagaru menikah dengan kekasihnya? Aku tahu bahwa dia sering jalan bersama wanita, tapi Nagaru belum membawanya langsung kepadaku sebagai calon istrinya."
Wigaman tidak serta merta berusaha menjodohkan Nagaru dengan wanita pilihannya. Ia memberi kesempatan anak laki-lakinya itu untuk menunjukkan pujaan hati lelaki itu dan apabila dirinya menyukainya, maka Nagaru dapat menikahi wanita itu.
"Lalu kau sudah memilihkan calon untuk Nagaru?" Pertanyaan lain datang dari Yunita--sepupu Wigaman yang lainnya.
"Ya. Dia akan menjadi istri sempurna untuk Nagaru yang memenuhi harapanku," jawab Wigaman, lalu memberikan lirikan kepada Laksa dan Sinta.
"Nagaru, apa kau menyetujui pilihan Ayah?" tanya Laksa tanpa ragu.
"Laksa!" seru Wigaman emosi mendengar hal itu.
Senyum tersungging pada bibir Nagaru. "Ya, kurasa Ayah memilihkan wanita yang terbaik bukan?" balasnya santai.
"Tentu saja," tukas Wigaman cepat. "Pilihan yang benar-benar sesuai dengan keinginanku."
Mata Wigaman beradu dengan Laksa. Masih tampak ada tembok tinggi yang menghalangi keharmonisan kedua pria itu.
Sinta hanya menghela napasnya. "Kuharap ... pernikahan ini akan berjalan baik," tambahnya memberi tatapan lekat kepada Nagaru.
Pertemuan Keluarga Rajendra tersebut kemudian ditutup dengan makan malam bersama. Meski kabar pernikahan Nagaru cukup mengejutkan, tetapi Wigaman masih enggan membagikan tentang calon istri anaknya itu. Wigaman ingin menunjukkan hal itu pertama kali kepada Nagaru sendiri.
"Aku pulang, kuharap rencana pernikahanmu akan lancar," ujar Laksa yang berdiri di depan pintu kediaman utama Rajendra.
Nagaru mengangguk singkat. "Aku akan mengunjungi Aruna dan Atala jika ada waktu luang," balasnya ikut membahas tentang anak Laksa.
"Pernikahan tidaklah semudah yang kau bayangkan, Nagaru." Sinta berujar, masih berdiri di sana juga. "Aku mungkin memulainya dengan cara yang tidak baik, tetapi ... setelahnya jauh lebih berat."
Nagaru tersenyum tipis. "Terima kasih perhatian Mbak Sinta. Tapi ... seringlah berkunjung ke sini."
Sinta tersenyum membalas, "Ya, tadi Ayah telah memintaku makan lebih banyak. Berarti dia telah sedikit melunak bukan?" candanya menjadikan Laksa ikut tersenyum.
"Tinggal menunggu waktu, sampai Ayah akan memintamu kembali tinggal di sini. Dia hanya memiliki satu anak perempuan," ucap Laksa yang yakin dengan hal itu.
"Mas Laksa juga pasti begitu," balas Sinta yang selalu merasa sedih setiap kali mengingat momentum pengusiran ayah mereka terhadap Laksa beberapa tahun lalu.
"Tidak akan terjadi. Aku tidak memimpikan hal itu," balas Laksa yang bahkan mengingat saat ayahnya melarang kedua anaknya memakai nama Rajendra.
Meski terdapat masalah yang merenggangkan hubungan Wigaman dengan Laksa dan Sinta, tetapi hal itu tidak berlaku bagi Nagaru yang tetap harmonis dengan kedua kakaknya tersebut.
Akhirnya Nagaru lah yang mengantar kepulangan kedua kakaknya tersebut. Usai masuk kembali ke dalam rumah, ia menemukan ayahnya sedang berdiri di depan sebuah foto besar yang terpajang di dinding. Foto tersebut adalah foto dari Ajeng Saraswati, istri dari seorang Wigaman, sekaligus ibu dari tiga orang anak.
"Jika Ibumu masih hidup, dia pasti bahagia dengan kabar pernikahanmu," ujar Wigaman menyadari kehadiran Nagaru yang berdiri di sebelahnya.
Nagaru terdiam. Sejak kecil hingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini, foto dari ibunya selalu terpajang di sana. Selalu mengingatkannya akan wajah sang ibu yang tak pernah dilihatnya secara langsung. Lebih tepatnya tidak mengingatnya mungkin, karena ... untuk hadir ke dunia, ibunya berjuang melahirkannya hingga meregang nyawa.
"Ya, Ibu pasti bahagia."
♤♤♤
Pertemuan keluarga telah selesai, bukan berarti Nagaru langsung bisa bersantai-santai. Setumpuk dokumen telah menunggunya untuk diperiksa. Dokumen yang tersaji dalam bentu kertas, tetapi bernilai miliaran hingga triliunan.
Nagaru yang bergelimang harta, kedudukan serta penampilan menarik selalu menjadi pusat perhatian. Namun ketika matahari telah menyingsing menuju kegelapan, di sana lah seorang pria sedang duduk di meja kerjanya. Seorang diri dengan kepala yang dipenuhi oleh pikiran yang seolah tak berujung.
Nagaru sejak kecil sadar bahwa hidupnya tidak akan pernah bisa bersantai dalam waktu yang lama dan bebas. Apalagi sejak Laksamudira dan Sinta meninggalkan rumah yang menyisakan dirinya dan ayahnya. Jika selama ini Nagaru harus memikul beban untuk melanjutkan bisnis Grup Rajendra, maka kali ini dirinya juga diberi tanggung jawab untuk memiliki keturunan yang menjadi penerus selanjutnya.
Pria itu selalu yakin akan kemampuannya. Jika masalah bisnis, maka Nagaru bisa dengan cepat menggunakan otak untuk mencari jalan keluar dan menyelesaikannya. Namun ia sadar bahwa tantangan selanjutnya tidak sebatas menggunakan pikiran saja.
Helaan napas dilakukan Nagaru. Pria itu bangkit dan berdiri menghadap jendela besar yang berada di belakang kursi kerjanya. Nagaru seolah bisa menatap masa depan kehidupan pernikahannya. Rumit dan tragis.
♤♤♤