16 – Teror di Malam Hari

1083 Words
  “Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang,” usul Marcel sembari melempar selimut di tangannya kembali ke tempat tidur. Tak ada jawaban. Marcel menoleh pada Reta dan melihat bagaimana tatapan wanita itu masih terpaku pada sprei berlumuran darah itu. Lebih dari kecelakaan yang nyaris mencelekainya di supermarket, wanita itu tampak lebih terguncang dengan situasi ini. Ini mengingatkan Marcel pada insiden kamera tersembunyi di apartemen Reta. “Kau baik-baik saja?” Marcel menghampiri Reta. “Ya,” jawab Reta. Namun, Marcel melihat tangan wanita itu mengepal erat. “Sebaiknya kita pergi sekarang,” ucap Marcel lagi. “Kita harus pergi dari sini dan pindah ke tempat yang lebih aman.” Marcel sudah akan meraih tangan Reta, tapi wanita itu menarik tangannya dan membalas, “Tidak.” Marcel menatap Reta, agak kaget dengan reaksi gadis itu. “Jika aku pergi sekarang, mereka akan berpikir jika aku ketakutan. Aku ... tidak akan pernah menunjukkan itu pada mereka,” ucap Reta penuh tekad. Meski begitu, Marcel tak bisa mengabaikan ketakutan Reta. Bagaimanapun wanita itu mencoba menyembunyikannya ... Marcel menghela napas. “Malam ini, sepertinya kau harus tidur di kamar bawah,” ucapnya. “Memang itu rencanaku,” balas Reta seraya berbalik dan keluar dari kamar itu. Marcel menyusul Reta dan menutup pintu kamar itu. Ia ingin memeriksa ke sekitar villa, tapi ia tidak mungkin meninggalkan Reta sendirian. Ketika mereka di depan kamar bawah, Reta tampak ragu untuk masuk. Marcel berinisiatif masuk lebih dulu dan memeriksa kamar itu. Marcel memastikan jendelanya terkunci sebelum dia keluar lagi dan memberitahu Reta, “Semua aman.”  “Kau saja yang berlebihan,” sahut Reta sembari melewati Marcel dan masuk. Marcel tak menanggapi wanita itu dan kembali masuk ke kamar itu, lalu menutup pintunya. Wanita itu bahkan tak repot-repot mengucapkan terima kasih pada Marcel. Reta langsung naik ke tempat tidur dan di depan mata Marcel, wanita itu menyelipkan ponselnya ke dalam kaus yang dipakainya. Marcel menghela napas. “Aku tidak akan memburu itu malam ini,” janji Marcel. “Aku mana bisa percaya padamu?” sinis Reta. “Seolah kau pernah percaya padaku,” balas Marcel. Reta mendengus pelan, lalu menepuk bantal di dekatnya. “Kemarilah. Ayo tidur.” “Aku sedang tidak ingin main-main denganmu, jadi tidurlah,” ucap Marcel sembari duduk di lantai di samping tempat tidur dengan punggung bersandar di sisi tempat tidur. “Kau akan tidur di situ?” tanya Reta ragu. “Ya,” jawab Marcel. Marcel bisa mendengar gerakan Reta yang mendekat padanya, lalu tiba-tiba, kepala wanita itu sudah bersandar di bahu Marcel. “Kenapa kau tidur di sini? Toh, nanti akhirnya kau akan naik ke tempat tidur,” ucap Reta. “Tidak akan,” balas Marcel. “Kau yakin?” Reta berbisik di telinga Marcel. Marcel menghela napas. “Apa yang kau inginkan?” “Kau. Di tempat tidurku,” ucap Reta. “Kau bilang, kau ingin tidur malam ini. Jadi, berhenti membuang waktumu bicara hal tak penting dan tidurlah,” balas Marcel. “Kenapa? Kau akan menyelinap pergi?” dengus Reta. Marcel melirik Reta. Itukah yang wanita ini khawatirkan? Dia bahkan tak sedikit pun ingin menunjukkan ketakutannya, tapi ini ... “Aku tidak akan pergi ke mana pun. Entah itu keluar kamar ini atau naik ke tempat tidur, jadi tidurlah.” Marcel memejamkan mata. Namun, Reta tidak langsung menurut dan mundur. Kepalanya masih bersandar di bahu Marcel. Hingga kemudian, wanita itu berkata pelan, “Kau ... benar-benar menyebalkan.” Reta akhirnya mundur dan berbaring di tempat tidur. Marcel menunggu selama beberapa waktu sebelum menoleh ke belakang dan mengecek Reta. Wanita itu meringkuk di balik selimut. Marcel menghela napas. Kenapa wanita ini begitu keras kepala? Dia hanya perlu mengulurkan tangan pada Marcel. Namun, betapa pun takutnya wanita ini, Marcel tahu, dia tidak akan pernah melakukannya. Justru, semakin dia menghadapi hal seperti ini, dia akan semakin bertekad untuk membuat Marcel pergi. Karena dia menyadari adanya bahaya. Pada akhirnya, wanita itu memilih menyingkirkan Marcel karena tak ingin melihat Kirana sedih jika sesuatu terjadi pada Marcel. Tidakkah dia berpikir, apa yang akan terjadi pada Kirana jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Reta? Apa yang harus Marcel lakukan agar wanita itu membiarkan Marcel berada di sampingnya? *** Reta terbangun karena mendengar suara ketukan di jendela. Reta menoleh ke tempat Marcel berada dan pria itu sudah berdiri. “Aku akan mengecek keluar,” ucap pria itu. Reta seketika turun dari tempat tidur dan menyusul pria itu. “Aku ikut.” Reta limbung karena tiba-tiba berdiri. Namun, Marcel menangkap tubuhnya. Marcel menghela napas. “Kurasa, ada cara lebih cepat.” Pria itu mendudukkan Reta di tepi tempat tidur, lalu dia pergi ke jendela kamar itu dan membuka tirainya. Namun, tak ada siapa pun di sana. “Jika aku pergi ke luar pun, dia mungkin sudah pergi. Dan bisa jadi itu adalah pengalih perhatian hingga siapa pun itu bisa menyusup masuk ke sini,” Marcel berkata sembari menoleh menatap Reta. “Dia sudah pernah masuk ke tempat ini sekali. Tak ada jaminan dia tidak akan melakukannya lagi.” Reta mengernyit. Sekarang ... apa yang harus ia lakukan? Rasanya teror itu semakin lama semakin dekat dengannya. Dan karena itu, Marcel ... “Menyerahlah,” Marcel berkata, membuat Reta yang tadinya menunduk, menatap pria itu lagi. Apa maksud pria itu? “Berhentilah mendorongku pergi,” Marcel berkata. “Jika sesuatu terjadi padamu, Nona Kirana akan sangat sedih. Dia akan menyalahkan dirinya.” Reta memalingkan wajah. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Marcel, Kirana juga akan merasa seperti itu. “Aku bisa melindungi diriku,” Marcel berkata. “Jadi, aku bisa sekalian melindungimu.” “Aku tidak butuh ...” “Kalau begitu, biarkan aku bekerja denganmu,” Marcel menyela kata-kata Reta. “Sebagai asisten pribadimu.” Reta menatap pria itu, terkejut dengan penawarannya. “Jika kinerjaku buruk, kau bisa memecatku,” ucap Marcel. “Itu alasan yang lebih masuk akal untuk menyingkirkanku.” Reta mengerjap. Harus ia akui, ia tergoda dengan penawaran pria itu. “Kau sudah lihat sendiri, apa pun yang kau lakukan selama ini tak cukup untuk membuatku pergi. Jadi, jika kau tak mau menyerah, setidaknya kau harus menemukan cara lain, kan?” sebut Marcel. “Dan jika kau membiarkanku berada di dekatmu selama dua puluh empat jam, kau mungkin akan menemukan cara itu.” Reta tahu saran pria itu terdengar gila, tapi ... Reta tergoda. Jika dipikir-pikir, dengan kesempatan ini, Reta bisa membuat Marcel jatuh cinta padanya dan memanfaatkan perasaan pria itu untuk mengusirnya nanti. Cara lain untuk mengusir Marcel. Ya. Reta membutuhkan itu. Apa pun caranya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD