Orang Yang Tidak Pernah Benar-Benar Hadir
BAB 1
Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan deras yang gaduh seperti amarah, melainkan hujan panjang yang tenang dan melelahkan.
Butiran air memukul kaca jendela apartemen kecil itu tanpa jeda, meninggalkan jejak samar yang perlahan meluncur turun seperti air mata yang terlalu lelah untuk jatuh dengan cepat.
Langit di luar tampak muram. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti bayangan gelap di bawah langit Jakarta yang nyaris tak memiliki bintang. Lampu kota mulai menyala satu per satu, membentuk pemandangan indah yang biasa membuat orang merasa hangat.
Namun tidak bagi Arelia.
Perempuan itu duduk diam di sudut sofa abu-abu dekat jendela, memeluk kedua lututnya yang terlipat. Sweater krem longgar yang dikenakannya menutupi sebagian jemarinya yang dingin. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang terurai berantakan di bahu, beberapa helai menempel di pipinya karena udara lembap.
Arelia selalu terlihat cantik dengan cara yang sederhana.
Bukan tipe perempuan yang mencolok ketika memasuki ruangan, tetapi seseorang yang akan membuat orang menoleh untuk kedua kalinya. Kulitnya putih pucat dengan wajah lembut yang selalu terlihat tenang. Matanya besar namun redup, seperti menyimpan terlalu banyak hal yang tidak pernah benar-benar ia ucapkan. Bibirnya tipis kemerahan alami, sering kali tersenyum kecil meski sebenarnya sedang sedih.
Dan malam ini, matanya terlihat jauh lebih lelah dari biasanya.
Di atas meja kecil di depannya, secangkir teh chamomile sudah dingin sejak satu jam lalu. Uap hangatnya menghilang perlahan, sama seperti antusiasme Arelia malam ini.
Jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Arelia melirik layar ponselnya lagi.
Kosong.
Tidak ada pesan baru.
Tidak ada telepon.
Tidak ada ucapan.
Perempuan itu menarik napas panjang sebelum menghembuskannya perlahan, seolah bahkan untuk merasa kecewa pun dirinya sudah terlalu lelah.
Hari ini ulang tahunnya. Dua puluh enam tahun. Biasanya orang akan merasa bahagia di hari ulang tahun mereka. Setidaknya merasa sedikit spesial. Namun bagi Arelia, hari ini terasa seperti hari biasa yang kebetulan menyakitkan.
Ia sebenarnya tidak meminta hadiah mahal. Tidak membutuhkan kejutan romantis. Bahkan makan malam sederhana pun sudah cukup.
Yang ia inginkan hanya satu hal kecil. Diingat. Itu saja.
Arelia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Samar. Buram terkena tetesan hujan.
Kadang ia bertanya-tanya, sejak kapan dirinya mulai merasa asing di hubungan ini?
Dulu semuanya tidak seperti ini.
Dulu Renz adalah seseorang yang selalu berhasil membuatnya merasa dipilih. Lelaki itu memang tidak romantis, tetapi caranya hadir selalu terasa nyata. Saat Arelia sakit, Renz akan datang membawa obat tanpa banyak bicara. Saat Arelia menangis karena pekerjaannya berantakan, Renz hanya duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya sampai perempuan itu tenang.
Renz tidak pandai mengucapkan “aku sayang kamu.”
Namun dulu, Arelia bisa merasakannya. Sekarang? Entahlah.
Hubungan mereka tetap berjalan seperti biasa. Mereka masih bertukar kabar. Masih tidur di apartemen yang sama. Masih membahas vendor pernikahan di akhir pekan. Masih memanggil satu sama lain dengan nada yang familiar.
Tetapi semua terasa seperti rutinitas. Kosong. Hampa.
Seperti dua orang yang terlalu lama bersama sampai lupa bagaimana cara benar-benar saling melihat.
Suara pintu apartemen terbuka membuat Arelia menoleh pelan.
Renz masuk sambil melepas dasi hitamnya dengan satu tangan. Kemeja abu-abunya kusut dan sedikit basah di bagian bahu terkena hujan. Rambut hitamnya tampak acak-acakan, sementara wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja.
Lelaki itu tinggi, dengan bahu lebar dan rahang tegas yang membuatnya selalu terlihat dingin. Tatapannya tajam, tetapi malam ini kosong oleh rasa lelah. Ia bahkan tidak langsung menyadari bagaimana Arelia memperhatikannya sejak tadi.
“Macet banget,” gumamnya pelan.
Tidak ada pelukan. Tidak ada senyum. Tidak ada, “Hai.” Arelia diam. Renz berjalan menuju kulkas, mengambil sebotol air mineral dingin, lalu meminumnya setengah tanpa jeda. Setelah itu, ia mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya melirik Arelia sekilas.
“Kamu belum tidur?”
Pertanyaan sederhana itu terdengar begitu biasa. Terlalu biasa. Seolah malam ini bukan sesuatu yang spesial. Seolah hari ini hanyalah tanggal biasa di kalender.
Arelia menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. Senyum tipis yang nyaris tidak terlihat.
“Belum.”
Renz mengangguk pelan lalu duduk di sofa sebelahnya. Sofa itu cukup kecil untuk membuat bahu mereka hampir bersentuhan, tetapi entah kenapa tetap terasa jauh. Aroma hujan dan parfum maskulin Renz bercampur samar memenuhi ruangan.
“Besok aku mungkin pulang lebih malam lagi,” katanya sambil memijat pelipis. “Ada revisi proyek.”
Arelia menunduk menatap jemarinya sendiri.
“Oh.”
Hanya itu jawabannya. Dan lagi-lagi Renz tidak sadar ada sesuatu yang salah. Padahal sejak tadi perempuan itu menunggunya mengingat. Satu ucapan kecil. Satu kalimat sederhana. Selamat ulang tahun.
Apa sesulit itu? Arelia menggigit bagian dalam bibirnya pelan. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Lucu sekali.
Dulu ia selalu mengagumi sifat tenang Renz. Lelaki itu tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa menenangkan. Saat bersama Renz, Arelia merasa aman.
Namun sekarang, ketenangan itu berubah menjadi jarak.
Dan diam Renz terasa seperti tembok yang makin hari makin sulit ditembus.
“Lia.”
Suara lelaki itu memecah lamunannya.
“Hmm?”
“Kamu marah?"
Arelia menoleh pelan. Akhirnya sadar juga, pikirnya.
Namun sebelum ia sempat menjawab, Renz kembali berkata,
“Aku capek banget hari ini.”
Dan anehnya, kalimat itu terdengar seperti pembelaan. Bukan penjelasan. Bukan permintaan maaf.
Arelia menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum lagi. Senyum yang terlalu sering ia pakai untuk menyembunyikan rasa kecewa.
“Aku nggak marah.”
Renz memandangnya sebentar lalu mengangguk kecil seolah percaya begitu saja. Selalu begitu.
Renz tidak pernah benar-benar mencoba memahami ketika Arelia berkata “nggak apa-apa.”
Karena bagi lelaki itu, selama Arelia diam, berarti semuanya baik-baik saja. Padahal tidak. Sama sekali tidak.
Hening kembali memenuhi ruangan.
Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Cahaya birunya memantul samar di wajah mereka berdua. Di luar, suara hujan masih turun tanpa jeda. Sampai akhirnya ponsel Arelia berbunyi. Satu notifikasi masuk.
Ucapan ulang tahun dari teman kantornya. Arelia menatap layar itu lama.
“Happy birthday, Lia! Semoga selalu bahagia ya.”
Kalimat sederhana. Namun justru itu yang membuat dadanya terasa semakin penuh. Renz yang duduk di sebelahnya melirik sekilas.
“Siapa?”
“Temen kantor.”
“Jam segini masih chat?”
Arelia tertawa kecil. Tawa hambar yang terdengar nyaris seperti napas putus asa.
“Dia ngucapin ulang tahun.”
Sunyi. Untuk beberapa detik, semuanya terasa berhenti. Renz menatap Arelia. Lalu ke layar ponselnya. Lalu kembali ke wajah perempuan itu. Dan di situlah akhirnya lelaki itu sadar. Ekspresinya berubah samar.
“…Hari ini ulang tahun kamu?”
Pertanyaan itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Arelia. Bukan karena Renz lupa. Tetapi karena cara ia mengatakannya terdengar seperti seseorang yang baru mengingat jadwal meeting yang terlewat. Bukan perempuan yang katanya akan ia nikahi.
Arelia menunduk cepat sebelum matanya benar-benar basah.
“Iya.”
Renz mengusap wajahnya kasar.
“Lia, aku—”
“Aku ngerti,” potong Arelia cepat.
Ia tersenyum lagi.
Terlalu sering tersenyum untuk seseorang yang sedang terluka.
“Kamu capek.”
Renz terlihat bersalah untuk pertama kalinya malam itu. Namun hanya sebentar.
Karena sesaat kemudian ia kembali menghela napas panjang dan berkata,
“Aku kerja buat masa depan kita juga.”
Kalimat itu membuat Arelia diam.
Lagi. Aneh. Kenapa setiap kali dirinya kecewa, Renz selalu berhasil membuatnya merasa bersalah karena kecewa? Seolah kebutuhan untuk diperhatikan adalah sesuatu yang egois.
“Aku nggak bilang kamu salah kerja.”
“Ya terus maunya apa?”
Nada suara Renz mulai berubah. Bukan marah. Tapi defensif.
Dan Arelia sudah terlalu hafal nada itu. Nada yang selalu muncul setiap kali hubungan mereka mulai membahas perasaan.
Perempuan itu bangkit perlahan dari sofa sebelum semuanya berubah menjadi pertengkaran kecil seperti biasanya.
“Nggak apa-apa.”
“Lia.”
“Aku ngantuk.”
Padahal bohong. Ia hanya tidak ingin menangis di depan Renz.
Arelia berjalan menuju kamar dengan langkah pelan. Lampu apartemen yang redup membuat bayangannya terlihat kecil dan kesepian. Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya, suara Renz kembali terdengar.
“Lia.. aku.. mmm..maaf.”
Kalimat itu terdengar begitu kosong.
Seperti janji yang diucapkan hanya karena merasa harus. Bukan karena benar-benar ingin. Arelia memejamkan mata sesaat. Lalu tersenyum kecil tanpa menoleh.
“Iya.”
Pintu tertutup. Dan akhirnya air matanya jatuh juga. Satu. Lalu banyak.
Arelia menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar keluar kamar. Bahunya bergetar pelan sementara air mata terus jatuh membasahi pipi.
Entah kenapa rasa sakit malam ini terasa lebih besar dari sekadar ulang tahun yang dilupakan.
Mungkin karena ini bukan pertama kalinya.
Mungkin karena perempuan itu mulai sadar bahwa yang paling menyakitkan bukanlah dilupakan…
melainkan merasa tidak lagi dianggap penting oleh seseorang yang paling ia cintai.
Di luar kamar, suara televisi masih terdengar samar. Renz tidak menyusulnya. Dan malam itu, di tengah suara hujan yang tak kunjung reda, Arelia menyadari satu hal kecil yang diam-diam menakutkan. Ia masih bersama Renz. Masih mencintainya mungkin.
Namun entah kenapa…
ia sudah mulai merasa sendirian.
“Dia tetap di sini. Tapi tidak pernah benar-benar hadir.”
“Semua harus sadar, sepi juga bisa datang dari seseorang yang dicintai.”