*Author Pov*
Suara riuhan penonton terdengar untuk menyemangati para pemain termasuk Juna. Namun jujur saja, bukannya merasa semangat, Juna malah semakin merasa tertekan dengan permainan yang diberikan tim lawan.
Poin yang didapatkan oleh timnya tidak terlalu jauh tertinggal dan mereka hanya memiliki satu babak lagi untuk mengejar ketertinggalan poin.
Juna melihat teman-temannya yang sudah terlihat kelelahan akibat permainan cepat mereka saat mengejar poin pertama.
Dari bangku penonton, Kakak Juna dan juga Satria melihat Juna dan timnya dengan raut waswas. Mereka tentu mengharapkan kemenangan yang akan dibawa oleh tim adiknya itu, tetapi melihat tim lawan yang tidak memberi waktu untuk mengejar, cukup sulit untuk dihadapi.
"Apa mereka bisa mengejar ketertinggalan?" tanya Ina pada Satria yang duduk di sebelahnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin selama permainan masih berlangsung. Walaupun terlihat cukup sulit untuk tim Juna menghadapi tim lawan, namun selama peluit pertandingan belum berbunyi untuk berhenti, mereka masih memiliki kesempatan. Sekecil apa pun itu. Aku juga yakin kalau Juna juga temannya memiliki strategi yang bagus untuk melawan mereka." jawab Satria tanpa melepaskan pandangannya dari lapangan.
Juna menarik napasnya dalam-dalam. Mereka memerlukan delapan poin lagi untuk menyusul. Jika ia bisa memberikan kesempatan untuk melakukan service kill, itu akan menjadi kesempatan sempurna mereka untuk membalikkan keadaan.
Namun masalahnya, tim lawan seolah tahu apa yang sedang mereka incar.
Setiap kali Juna mendapatkan peluang menyerang, blok mereka selalu datang tepat waktu. Dan setiap kali Genta mencoba mengacaukan ritme permainan, lawan justru berhasil memaksa mereka bermain mengikuti tempo yang mereka inginkan.
Lalu setiap kali Radi mencoba mengambil risiko, bola selalu kembali ke area mereka. Seolah-olah mereka sedang berusaha mendobrak tembok yang tidak memiliki celah.
"Fokus!"
teriak Alvian dari pinggir lapangan.
"Jangan lihat skornya!"
Juna menggertakkan giginya pelan. Tidak melihat skor memang terdengar mudah, tetapi papan angka itu berdiri tepat di samping lapangan.
Terlalu sulit untuk tidak memperhatikannya, dan terlalu sulit pula untuk tidak memikirkan selisih poin yang semakin menekan mereka.
Tak!
Servis lawan kembali meluncur.
Radi menerima bola menggunakan paha lalu mengarahkannya ke Genta. Genta mengangkat bola dengan kaki bagian dalam Lalu Juna langsung bergerak. Tubuhnya melayang.
Brak!
Smash keras dilepaskannya ke sisi kiri lapangan.
Sorakan penonton langsung pecah, namun pemain belakang lawan berhasil menjangkaunya.
Bola kembali melambung.
"Genta!" Teriak Radi.
Genta berlari mengejar bola. Ujung kakinya masih berhasil menyentuh bola sebelum keluar lapangan.
Bola kembali naik.
Juna memutar tubuhnya. Kali ini ia tidak melakukan smash keras. Sebaliknya, ia mengirimkan bola tipis ke area kosong.
Lalu, Plak!
Bola jatuh. Poin untuk tim Juna.
"Yes!" Teriak Radi sambil mengepalkan tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak beberapa menit terakhir, mereka berhasil mendapatkan angka dengan pola permainan yang mereka bangun sendiri.
Juna menghembuskan napas panjang. Sedikit demi sedikit.
Satu poin, lalu satu poin berikutnya. Mereka tidak perlu mengejar semuanya sekaligus.
Di tribun penonton, Riri ikut berdiri tanpa sadar.
"Masuk! Masuk!" Teriaknya semangat.
Beberapa penonton di sekitar bahkan ikut memberikan semangat pada tim mereka, bahkan dari sekolah mereka sendiri memberikan yell-yell agar semakin membakar semangat tim Harimau Putih.
Rio yang berada tidak jauh darinya juga terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya. Ia memperhatikan perubahan permainan timnya.
Mereka masih tertinggal, tetapi kini mereka mulai bermain seperti saat latihan.
Tidak panik, tidak terburu-buru, dan yang paling penting, mereka mulai percaya pada kemampuan mereka sendiri.
"Itu baru mereka." gumam Rio pelan.
Permainan kembali berlanjut. Tim lawan mulai menyadari perubahan yang terjadi. Mereka tidak lagi menghadapi tim yang gugup seperti di awal pertandingan. Harimau Putih mulai berani melawan.
Mulai berani mengambil risiko, mulai berani menyerang.
Tak!
Tak!
Tak!
Reli panjang kembali terjadi. Sorakan penonton semakin ramai. Dengan cepat, Juna berlari ke kiri.
Radi bergerak ke belakang, sedangkan Genta menutup area depan.
Mereka bergerak semakin kompak. Latihan berbulan-bulan yang selama ini mereka jalani akhirnya mulai terlihat.
"Bagus!" teriak Alvian dari bangku pemain.
"Pertahanin!" Teriaknya lagi.
Tim lawan akhirnya melakukan kesalahan kecil. Bola servis mereka keluar beberapa sentimeter dari garis lapangan.
Dan Pluit wasit pun berbunyi, mendandakan poin kembali di dapatkan untuk Harimau Putih.
Selisih angka mulai menipis. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membangkitkan harapan.
"Anjir... bisa!" Ucap Radi sambil tersenyum lebar.
"Kita bisa kejar mereka!"
"Belum selesai! Jangan hilangin fokus kalian!" potong Juna cepat.
Walaupun begitu, ia juga merasakan hal yang sama. Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai, ia merasa mereka benar-benar memiliki peluang.
Genta menepuk bahu kedua temannya.
"Gue bilang juga apa."
"Lo bilang apa?"
"Gak tahu."
"Dasar."
Mereka bertiga tertawa singkat. Tawa yang berhasil mengurangi ketegangan di antara mereka. Namun tim lawan bukanlah juara daerah tanpa alasan.
Ketika selisih poin mulai mengecil, mereka langsung meningkatkan tempo permainan. Servis yang sebelumnya biasa saja kini mulai diarahkan ke sudut-sudut sulit. Serangan mereka menjadi lebih agresif dan pergerakan mereka juga jauh lebih cepat.
Juna langsung menyadari perubahan itu.
"Mereka tambah serius sekarang."
Radi mengangguk menyetujui perkataan Juna, namun matanya kini tidak lepas dari lawan mereka.
"Iya, gue setuju."
Permainan kembali berjalan sengit. Satu poin untuk Harimau Putih, latu poin untuk lawan. Lalu kembali bergantian. Tidak ada tim yang mau mengalah.
Waktu terus berjalan. Keringat semakin membasahi seluruh tubuh mereka.
Napas mulai terasa berat, kaki terasa semakin pegal. Tetapi tidak ada yang ingin berhenti. Tidak ada yang ingin menyerah.
Juna bahkan merasakan telapak kakinya mulai nyeri akibat terus melompat dan mendarat. Namun ia mengabaikannya.
Bola kembali datang, ia menerima, mengoper, bergerak, melompat, dan menyerang. Berulang kali, sampai dirinya sendiri tidak lagi menghitung berapa reli yang sudah terjadi.
"Juna!" Teriak Genta.
Bola melambung tinggi. Kesempatan emas untuk mereka.
Juna langsung berlari, matanya hanya fokus pada satu titik. Bola.
Ia melompat setinggi mungkin, tubuhnya berputar.
Brak!
Smash keras dilepaskan. Kali ini bahkan blok lawan terlambat bereaksi. Bola menghantam lantai lapangan.
Poin kembali di dapatkan untuk Harimau Putih.
Sorakan penonton langsung meledak.
"BAGUS!" Teriak Alvian.
Rio sampai ikut berdiri dari kursinya. Riri menepuk-nepuk bahu Rio dengan semangat.
Sedangkan di tribun lain, Ina dan Satria langsung tersenyum lebar.
"Itu Juna?"
"Iya." Jawab Satria sambil terkekeh.
"Hebat juga adik aku." Ucap Ina bangga sambil terus memperhatikan adiknya di lapangan.
Skor kini semakin dekat. Bahkan sangat dekat. Begitu dekat hingga tim lawan mulai terlihat tegang untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai, mereka terlihat tertekan.
Juna memperhatikan ekspresi mereka. Dan ia sadar. Lawan mereka juga manusia, mereka juga bisa gugup, mereka juga bisa melakukan kesalahan, dan mereka tidak sesempurna yang terlihat di awal pertandingan.
Pemikiran itu membuat kepercayaan dirinya tumbuh semakin besar di hati Juna.
Pluit kembali berbunyi. Pertandingan memasuki fase paling menegangkan. Selisih poin hanya tinggal beberapa angka.
Seluruh arena menjadi lebih berisik dibanding sebelumnya. Bahkan penonton yang awalnya netral mulai ikut larut dalam pertandingan. Karena siapa pun bisa melihat bahwa pertandingan ini jauh lebih sengit dari perkiraan.
Harimau Putih yang sempat tertinggal jauh kini berhasil bangkit dan memberikan perlawanan luar biasa.
Alvian mengepalkan tangannya. Rio menatap lapangan tanpa berkedip. Dan Riri menggenggam clipboard miliknya erat-erat.
Sedangkan Juna berdiri di posisinya. Napasnya berat, tubuhnya sunggung teramat sangat lelah. Tetapi matanya tetap menyala.
Ia menatap bola yang kini berada di tangan wasit.
Mungkin mereka masih tertinggal, mungkin peluang mereka masih kecil. Tetapi satu hal yang pasti, mereka tidak akan menyerahkan kemenangan ini begitu saja.
Dan ketika wasit memberikan aba-aba untuk servis berikutnya, seluruh anggota Harimau Putih sudah siap bertarung sampai poin terakhir.