Enam Puluh Tujuh

1910 Words
*Author Pov* Juna menarik napasnya dalam-dalam. Mereka membutuhkan delapan poin lagi untuk menyusul. Jika ia bisa memberikan kesempatan untuk melakukan serangan yang bersih, mereka masih memiliki peluang untuk membalikkan keadaan. Di sampingnya, Genta mengusap keringat yang mengalir dari pelipisnya. Radi menepuk kedua pahanya beberapa kali. Mereka semua kelelahan, namun tidak ada satu pun yang berniat menyerah. Pluit kembali berbunyi. Pertandingan dilanjutkan. Sorakan penonton kembali memenuhi gedung olahraga. Bola kembali dilambungkan dan pemain lawan melakukan servis. Tak! Radi menerima bola itu dengan cukup baik. Bola melambung ke arah Juna. Pemuda itu dengan cepat langsung mengopernya pada Genta. "Genta!" Genta bergerak cepat. Tubuhnya berputar. Tak! Bola melesat keras menuju area lawan. Namun pemain belakang lawan masih mampu mengangkat bola tersebut. "Balik lagi!" teriak Rio dari pinggir lapangan. Juna segera bergerak dengan cepat. Mereka kembali masuk ke dalam reli panjang. Bola terus berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Tak! Tak! Tak! Suara benturan bola rotan terdengar silih berganti. Jelas terlihat para penonton mulai berdiri dari tempat duduk mereka. Pertandingan semakin menegangkan. "Fokus!" teriak Alvian. Juna menggertakkan giginya, kakinya terasa berat dan paru-parunya seperti terbakar. Namun ia tetap bergerak. Tetap mengejar setiap bola. Karena ia tahu, jika mereka lengah sedikit saja, pertandingan akan berakhir. Tak! Sebuah smash keras datang dari lawan, namun Radi berhasil mengangkatnya. Juna langsung bergerak maju, tepat ketika bola berada tepat di atas kepalanya. Detik itu ia teringat semua latihan yang mereka jalani. Semua omelan Alvian, semua latihan tambahan, dan semua rasa sakit di kaki dan pundaknya. Juna melompat. Tak! Bola meluncur tajam ke sudut kosong pertahanan lawan. Poin kembali di dapatkan untuk Harimau Putih. Sorakan seketika langsung meledak. "Bagus!" "Pertahanin!" "Kita masih bisa!" Teriak Rio dengan semangat. Papan skor kembali bergerak. Selisih mereka semakin tipis, dan untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai, wajah pemain lawan mulai menunjukkan kegelisahan. Mereka sadar Harimau Putih belum menyerah. Pertandingan memasuki poin-poin kritis. Suasana gedung olahraga semakin panas, bahkan beberapa penonton dari pertandingan lain ikut menyaksikan pertandingan mereka. Papan skor menunjukkan angka yang membuat jantung siapa pun berdebar. Selisih hanya satu poin. Satu poin. Setelah tertinggal jauh sebelumnya. Juna mengatur napasnya, tangannya sedikit gemetar. Genta yang berdiri di sampingnya menepuk pundak Juna. "Jun." "Hm?" "Kita bisa." Juna menoleh dan menatap Genta. Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai, Genta terlihat benar-benar serius. Tidak ada candaan. Tidak ada senyum jahil. Hanya keyakinan. Juna mengangguk pelan. "Kita bisa." Servis berikutnya menjadi milik mereka. Radi berdiri di belakang garis. Seluruh gedung seakan menahan napas menunggu pemuda itu melakukan servis. Tak! Bola melambung. Permainan kembali berlangsung. Lawan bertahan dengan sangat baik, mereka tidak memberi celah sedikit pun. Namun Harimau Putih juga tidak mau kalah. Juna terus bergerak. Genta terus menyerang. Dan Radi terus menjaga ritme permainan. Mereka bermain seperti satu kesatuan, seperti tim yang benar-benar telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Padahal beberapa bulan lalu mereka bahkan tidak tahu bagaimana cara bermain sepak takraw dengan benar. Tak! Tak! Tak! Bola terus berpindah. Semakin lama reli berlangsung, semakin besar tekanan yang dirasakan kedua tim. Hingga akhirnya pemain lawan melakukan kesalahan kecil. Bola yang diterimanya terlalu tinggi. Genta pun langsung melihat kesempatan itu, kesempatan yang tidak akan pernah ia sia-sia kan. Matanya menyipit, senyum tipis muncul di wajahnya. "Gotcha." Tubuhnya bergerak cepat untuk mendapatkan bola itu. Semua orang mengira ia akan melakukan smash keras. Termasuk tim lawan. Tiga pemain lawan langsung bersiap menahan serangan. Namun di detik terakhir, Genta mengubah arah tendangannya. Bola hanya melambung tipis. Sangat tipis. Dan jatuh tepat di area kosong. Tak! Hening sesaat. Lalu sorakan penonton meledak memenuhi gedung olahraga. "MASUK!" "MASUK!" "POIN!" Radi langsung melompat kegirangan dan berlari memeluk seluruh timnya. Juna membelalakkan matanya, seakan ia tidak percaya dengan apa yang sudah mereka raih saat ini. Bahkan Rio sampai berdiri dari bangkunya, rasanya ia pun ingin bergabung dan memeluk mereka semua. Alvian bahkan sampai tertawa tidak percaya. Serangan tipuan itu benar-benar berhasil. Dan poin tersebut membawa mereka unggul untuk pertama kalinya. Wajah tim lawan terlihat tegang, mereka tidak menyangka bisa disusul setelah memimpin cukup jauh. Namun pertandingan belum selesai. Mereka masih memiliki kesempatan, begitu pula Harimau Putih. Semua kembali ke posisi masing-masing. Juna menatap papan skor lekat-lekat. Satu poin lagi. Hanya satu poin lagi. Jantungnya berdetak semakin cepat. Seluruh tubuhnya terasa panas. Bukan karena lelah, melainkan karena tekanan. Tak! Servis kembali dilakukan. Pertandingan berjalan dengan cepat sekarang. Semua pemain mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Tidak ada yang mau kalah, tidak ada yang mau menyerah. Hingga akhirnya sebuah kesalahan kecil terjadi. Bola dari tim lawan menyentuh net. Pluit panjang berbunyi. Priiiiiiit! Juna, Radi, Haikal, Haqi dan Genta membeku. Seolah otak mereka belum mampu memproses apa yang baru saja terjadi. Lalu wasit mengangkat tangan menunjuk ke arah Harimau Putih. "Pertandingan dimenangkan oleh Harimau Putih!" Detik berikutnya semua suara meledak menjadi satu. Radi berteriak keras, Genta melompat seperti orang kesurupan. Haqi tertawa lepas, lalu Rio sendiri sampai memukul udara karena terlalu senang. Sementara Juna, Pemuda itu hanya berdiri diam. Ia Menatap papan skor seakan tidak percaya. Mereka menang. Mereka benar-benar menang. Bukan latihan tanding, bukan pula pertandingan persahabatan. Melainkan pertandingan resmi antar sekolah, dan mereka berhasil melewati babak pertama. Perlahan senyum muncul di wajahnya. Semakin lama semakin lebar. Sampai akhirnya ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Entah karena lelah, entah karena lega. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa menjadi bagian dari Harimau Putih. *** Juna menutup wajahnya dengan handuk kecil yang diberikan Riri setelah permainan berakhir. Mereka masih tidak menyangka jika mereka berhasil mengalahkan tim lawan dengan selisih poin yang sangat tipis. Kalau saja tadi Genta tidak melakukan serangan tipuan di poin-poin akhir, mungkin sekarang mereka sedang duduk dengan wajah lesu karena tersingkir di babak pertama. Setelah pertandingan itu, Juna memang sengaja memisahkan diri dari anggota yang lain. Tadinya ia bingung harus menghabiskan waktu di mana. Lalu tanpa sengaja ia melihat taman kecil yang berada di belakang gedung olahraga. Sore itu taman masih cukup ramai. Beberapa peserta dari sekolah lain masih berlalu-lalang sambil membawa tas olahraga mereka. Ada juga yang duduk di bangku taman, sekadar beristirahat setelah pertandingan. Juna memilih duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Angin sore itu berhembus pelan. Untuk pertama kalinya sejak pertandingan selesai, ia benar-benar bisa bernapas lega. Saat mengikuti kejuaraan pencak silat, tentu saja ia juga merasa senang ketika menang. Namun kemenangan yang diraih bersama tim seperti ini terasa berbeda. Sangat berbeda. Ia teringat bagaimana mereka pertama kali berlatih. Dari tidak tahu apa-apa tentang sepak takraw, dari berkali-kali gagal menerima bola, dimarahi Alvian hampir setiap latihan. Sampai akhirnya mereka bisa berdiri di lapangan pertandingan resmi dan memenangkan babak penyisihan. Memikirkan semua itu membuat dadanya terasa hangat. Juna tidak ingin memperlihatkan sisi melankolisnya kepada siapa pun, termasuk kakaknya sendiri. Karena itulah ia memilih menghilang sebentar saat anggota tim yang lain sedang merayakan kemenangan pertama mereka. "Ngapain lo di sini?" Juna tersentak kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul. Ia menurunkan handuk kecil dari wajahnya dan melihat Riri berdiri beberapa langkah dari tempatnya duduk. "Astaga, lo bikin gue kaget." Riri berjalan mendekat lalu duduk di bangku taman yang sama. "Yang lain nyariin lo." "Oh iya?" "Iya." Tidak ada yang berkata-kata lagi. Mereka hanya diam menikmati suasana sore yang mulai teduh. "Lega?" tanya Riri tiba-tiba. Juna mengangguk pelan. "Lega banget." "Karena menang?" "Bukan cuma itu." Riri menatapnya sekilas. "Terus?" Juna menghela napas panjang. "Gue gak nyangka bisa sampai sini." Riri tersenyum tipis. "Padahal baru lolos penyisihan pertama." "Iya sih. Tapi rasanya tetep beda." Juna menatap langit yang mulai berubah warna. "Awalnya gue cuma ikut karena diajak Rio." "Terus?" "Terus sekarang gue malah pengen menang." Riri terkekeh kecil. "Nah itu dia." "Apa?" "Lo udah ketularan penyakit Rio." Juna tertawa. Mungkin memang benar. Rio selalu bicara soal membangun kembali Harimau Putih. Tentang membuktikan kalau klub mereka layak diperhitungkan. Tentang tidak menyerah sebelum benar-benar kalah. Tanpa sadar, semua itu mulai memengaruhi dirinya. "Eh." "Hm?" "Lo tadi hampir nangis ya?" tanya Riri santai. Juna langsung tersedak ludahnya sendiri. "Apaan sih, Enggak ya!" "Yang bener?" "Nggak!" "Yakin?" "Yakin!" Riri tertawa puas melihat ekspresi panik Juna. "Gue cuma bercanda kali." "Lo nyebelin asli." Mereka kembali tertawa bersama. Untuk sesaat ketegangan yang sedari tadi memenuhi tubuh Juna menghilang begitu saja. Di sisi lain gedung olahraga, Radi sedang berjalan mondar-mandir. "Gue yakin dia diculik." Genta menatapnya datar. "Siapa yang mau nyulik Juna?" "Ya siapa tahu." "Kalau nyulik orang biasanya nyari yang berharga." Radi langsung melotot. "Lo menghina Juna?" "Gue menghina logika lo." Haikal yang duduk di dekat mereka hanya menggelengkan kepala. "Aneh banget sih kalian." Rio yang sedari tadi memperhatikan sekitar akhirnya menghela napas. "Paling juga lagi nyendiri." "Nangis?" tanya Radi. Rio tertawa kecil. "Bisa jadi." "Gak mungkin." "Kenapa?" "Soalnya dia gengsi." Semua langsung tertawa. Memang benar. Kalau ada anggota tim yang paling gengsi memperlihatkan emosinya, mungkin Juna salah satunya. Tidak lama kemudian Juna dan Riri kembali ke area tim. "NAH KAN!" Teriak Radi. Juna mengernyit mendengar teriakan Radi. "Apa?" "Ketemu juga orang hilang." "Apaan sih." "Lo kemana aja?" "Duduk bentar." Radi menyipitkan mata. "Abis nangis ya?" Juna langsung mengambil botol minum dan melemparkannya ke arah Radi. Bukannya marah, Radi tertawa kencang sambil menghindar. "Nah kan marah." "Bacot lo." Genta yang melihat itu ikut tertawa. "Untung menang." "Kalau kalah pasti kalian lebih berisik lagi." "Justru kalau kalah kita diem semua." "Benar juga." Alvian yang baru datang menghampiri mereka menggelengkan kepala. "Baru menang sekali udah ribut." Mereka semua langsung diam. "Pak." "Iya?" "Kita tadi main jelek gak?" tanya Radi. Alvian terdiam sejenak. "Lumayan." "Wah syukurlah." "Tapi tetap jelek." Senyuman Radi langsung hilang sedangkan yang lain tertawa melihat ekspresinya. "Kalian menang karena berjuang sampai akhir." Alvian menatap satu per satu anak didiknya. "Tapi kalau mau lolos lebih jauh, permainan seperti tadi belum cukup." Mereka semua langsung kembali serius, karena mereka tahu Alvian tidak sedang bercanda. Tim yang mereka hadapi tadi memang kuat. Namun masih ada banyak tim yang lebih kuat lagi. "Jangan puas dulu." Alvian melanjutkan. "Pertandingan berikutnya akan lebih berat." Semua mengangguk. Mereka memahami hal itu. Sangat memahami. *** Sore mulai berganti menjadi petang. Beberapa pertandingan hari itu juga sudah selesai dilaksanakan. Panitia mulai mengumumkan jadwal pertandingan berikutnya. Para peserta yang masih bertahan terlihat sibuk mencatat nama lawan mereka. Rio berdiri memperhatikan papan informasi. Juna ikut mendekat. "Lawan kita siapa?" Rio membaca daftar yang tertempel. Beberapa detik kemudian wajahnya berubah serius. "Hmm." Juna langsung ikut melihat, dan seketika ia mengerti kenapa Rio bereaksi seperti itu. "Itu..." "Iya." Juna menelan ludah. Nama sekolah yang tertera bukan nama asing. Mereka pernah mendengarnya berkali-kali. Salah satu tim yang cukup diperhitungkan di kompetisi tahun ini. "Berat." ucap Juna pelan Rio mengangguk menyetujui ucapan Juna, "Berat." Namun anehnya, kali ini Juna tidak merasa takut seperti sebelumnya, ia justru ada sedikit rasa bersemangat yang muncul. Mereka sudah melewati satu pertandingan sulit. Mereka sudah membuktikan bahwa mereka bisa menang. Mungkin mereka belum hebat, mungkin mereka masih tim baru. Tetapi mereka bukan lagi kumpulan pemain yang kebingungan seperti beberapa bulan lalu. "Rio." "Hm?" "Kita bisa kan?" Rio menatap adik kelasnya itu, lalu tersenyum lebar. "Sampai peluit terakhir berbunyi?" Juna ikut tersenyum. "Iya." "Kita selalu punya kesempatan." Juna mengangguk mantap. Di belakang mereka, suara Radi dan Genta kembali terdengar saling berdebat mengenai siapa yang paling berjasa dalam kemenangan tadi. Haikal ikut menyela, Riri sibuk mencatat sesuatu di buku kecilnya. Sedangkan Haqi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Suasana yang ramai itu membuat Rio tersenyum semakin lebar. Perjalanan mereka masih panjang. Masih banyak pertandingan yang harus dihadapi. Masih banyak lawan kuat yang menunggu. Namun untuk hari ini, mereka berhak menikmati satu kemenangan kecil yang sudah diperjuangkan dengan susah payah. Dan jauh di dalam hati mereka masing-masing, semangat untuk melangkah lebih jauh mulai tumbuh semakin besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD