*Author Pov*
Di hari kedua babak penyisihan pertama, mereka datang setelah jam pelajaran berakhir karena tim Harimau Putih hanya diberikan kompensasi libur saat pertandingan tim mereka saja. Selebihnya mereka hanya boleh melihat pertandingan yang lain sepulang dari sekolah.
Pak Ridwan pun tidak bisa mengatakan apa pun. Bagaimanapun, itulah aturan yang diberikan pihak sekolah pada mereka. Klub sepak takraw Harimau Putih baru berjalan beberapa bulan dan pihak sekolah masih ingin melihat sejauh mana perkembangan mereka.
"Eh, Jun. Hari ini kalau lo mau pergi duluan bareng Rio sama yang lain, duluan aja. Gue disuruh Pak Kamil bantu bawa peralatan IPA dari gudang."
"Kita tunggu aja. Lagian cuma ambil barang kan?" jawab Juna sambil memasukkan buku ke dalam tas.
"Terserah sih kalau mau nunggu, tapi kalau dirasa lama kalian pergi duluan gak apa-apa kok."
Setelah bel pulang berbunyi, Juna segera membereskan buku-buku pelajarannya. Mereka memang sudah berencana pergi ke gedung olahraga kota untuk menonton pertandingan penyisihan hari itu.
Namun saat berjalan menuju gerbang sekolah, Juna tiba-tiba berhenti.
"Oh iya!"
"Apa lagi?" tanya Genta.
"Klub basketnya Haikal tanding hari ini! Astaga, gue lupa."
"Oh iya juga."
Beberapa hari lalu Haikal memang sempat mengeluh karena jadwal pertandingan basket sekolahnya bentrok dengan jadwal latihan Harimau Putih.
"Ri, tahu gak klub basket putra jam berapa tandingnya?" tanya Juna pada Riri yang sedang berdiri sambil memainkan ponselnya.
Riri menoleh. "Hm? Kalau gak salah sekitar jam tiga sore deh. Kenapa?"
"Pengen nonton bentar."
"Lo pengen dukung Haikal atau pengen kabur dari pertandingan sepak takraw?" tanya Riri curiga.
"Ya dua-duanya, toh hari ini kita gak ada jadwal tanding."
Mereka akhirnya memutuskan menuju lapangan basket terlebih dahulu sebelum berangkat ke gedung olahraga tempat pertandingan sepak takraw berlangsung.
Lapangan basket sekolah terlihat jauh lebih ramai dibanding biasanya. Beberapa siswa memenuhi tribun sederhana yang tersedia.
Bahkan teriakan para pendukung terdengar silih berganti.
"Wah."
Radi yang baru datang bersama Haqi tampak sedikit terkejut.
"Rame juga."
"Ya iyalah. Basket sekolah kita lumayan terkenal." jawab Rio.
Mereka berjalan menuju tribun. Tak sulit menemukan Haikal, tubuhnya yang tinggi membuatnya cukup mencolok dibanding pemain lain.
"Itu tuh." tunjuk Riri.
Haikal sedang melakukan pemanasan bersama anggota timnya. Pemuda itu terlihat fokus, sama sekali tidak menyadari kedatangan teman-temannya.
"Anjir, keren juga ya si Haikal." gumam Genta.
"Merinding gue." jawab Juna sambil terkekeh.
"Biasanya dia keliatan kayak manusia rebahan. Kalau latihan Takraw aja dia kaya orang yang paling tidak minat di antara kita semua."
Juna tertawa kecil mendengar ucapan Genta. Memang sulit membayangkan Haikal yang sering mengeluh dan bercanda ternyata bisa terlihat cukup serius di lapangan.
Tak lama kemudian pertandingan dimulai, dengan tanda pluit berbunyi.
Ketika bola dilempar ke udara, kedua tim langsung bergerak cepat.
"WOY HAIKAL!" Teriak Genta.
Haikal yang sedang berlari hampir saja menoleh.
"Jangan diganggu g****k!" tegur Rio.
"Siapa tahu semangat."
"Itu namanya distraksi."
Pertandingan berjalan cukup sengit. Juna yang biasanya hanya fokus pada sepak takraw mulai memahami kenapa banyak siswa menyukai basket.
Permainannya cepat. Perpindahan bola berlangsung dalam hitungan detik.
Kadang satu serangan berhasil diselesaikan dengan mudah. Kadang harus berakhir dengan perebutan sengit.
"Masuk! Masuk!"
Riri ikut berteriak ketika Haikal berhasil mencetak angka.
"Buset."
Juna menoleh.
"Apaan?"
"Semangat banget lo."
"Ya temen kita main."
Pertandingan berlangsung sekitar satu jam. Dan setelah perjuangan cukup panjang, tim basket sekolah mereka berhasil memenangkan pertandingan.
Begitu peluit akhir berbunyi, para penonton langsung bersorak.
"Menang!"
"Yoooo!"
Genta sampai berdiri dari bangkunya. Sementara Haikal yang baru selesai bermain tampak berjalan ke pinggir lapangan sambil menyeka keringat.
Begitu melihat teman-temannya, ekspresinya langsung berubah.
"Kalian ngapain di sini?"
"Dukung lo lah kocak."
"Mbohong."
"Beneran."
Haikal menatap mereka satu per satu.
"Tumben."
"Ya masa cuma lo yang gak kita dukung."
Senyum tipis muncul di wajah Haikal. Meski hanya sesaat.
"Yaudah makasih."
"Buset, sopan banget."
"Hari ini aja."
Karena waktu sudah mulai sore, mereka akhirnya berpamitan. Haikal masih harus mengikuti evaluasi bersama tim basketnya. Mau tidak mau hari ini Haikal tidak ikut pergi bersama tim sepak takrawnya.
Sedangkan Harimau Putih harus berangkat ke gedung olahraga untuk menyaksikan pertandingan penyisihan berikutnya.
Di perjalanan, suasana terasa jauh lebih santai dibanding kemarin. Beban pertandingan pertama sudah sedikit berkurang.
Mereka berhasil melewati satu rintangan, meskipun masih ada banyak pertandingan yang menunggu.
Saat sesampainya di gedung olahraga, beberapa pertandingan sudah berlangsung. Suasana tribun cukup ramai.
Rio segera mencari jadwal pertandingan hari itu.
"Kita lihat tim yang kemungkinan jadi lawan kita berikutnya."
Semua langsung mendekat, karena memang itulah tujuan utama mereka datang hari ini.
Belajar, mengamati, dan mencari kelemahan lawan.
Pertandingan pertama yang mereka tonton berlangsung cukup menarik. Dua tim bermain dengan gaya yang berbeda.
Satu tim mengandalkan servis keras, sedangkan tim lainnya lebih mengutamakan pertahanan.
"Kalau lawan yang ini, kita bakal susah."
Genta menunjuk salah satu tim.
"Kenapa?"
"Servis mereka ganas banget."
Rio mengangguk setuju. "Mereka memang salah satu unggulan."
"Kalau yang satunya?"
"Pertahanan mereka kuat."
Juna memperhatikan permainan di lapangan dengan serius.
Semakin banyak pertandingan yang ia lihat, semakin ia menyadari bahwa dunia sepak takraw jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Masih banyak pemain yang lebih hebat. Masih banyak tim yang lebih berpengalaman. Namun anehnya, hal itu justru membuatnya semakin bersemangat. Bukan karena takut, melainkan tertantang.
Menjelang pertandingan berakhir, mereka duduk santai di tribun sambil mencatat beberapa hal penting.
Riri sibuk menulis, Rio memperhatikan pola permainan, dan Haqi sesekali memberi komentar.
Sementara Genta dan Radi tetap menjadi sumber keributan utama.
"Kalau gue lawan dia pasti menang."
"Lo lawan siapa?"
"Itu yang nomor tiga."
"Dia nasional, Goblok."
"Oh."
Radi langsung tertawa keras.
"Nasional katanya."
"Ya kan belum dicoba."
"Lo dicoba sekali langsung pulang naik ambulans."
"Kurang ajar."
Mereka kembali tertawa. Rio hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adik-adik kelasnya. Namun di balik semua candaan itu, ia merasa lega.
Timnya mulai berkembang. Bukan hanya kemampuan bermain mereka. Tapi juga hubungan mereka sebagai sebuah tim.
Dan bagi Rio, itu sama pentingnya dengan kemenangan.
Karena ia tahu, pertandingan berikutnya akan jauh lebih sulit, dan satu-satunya cara untuk melewatinya adalah tetap bergerak maju bersama.
Sementara di tengah riuhnya tribun dan suara pertandingan yang masih berlangsung, Harimau Putih perlahan mulai mempersiapkan diri untuk tantangan berikutnya.
Tantangan yang mungkin akan menjadi ujian terbesar mereka sejauh ini.
***
Saat pertandingan terakhir hari itu selesai, sebagian besar penonton mulai meninggalkan tribun.
Beberapa tim terlihat berkumpul bersama pelatih mereka untuk melakukan evaluasi singkat. Ada yang tersenyum puas karena kemenangan, ada pula yang hanya duduk diam dengan wajah kecewa setelah mengalami kekalahan. Juna memperhatikan semuanya dari tempat duduknya.
Baru dua hari berada di kompetisi ini, tetapi rasanya ia sudah belajar banyak hal.
"Kok malah bengong?" tanya Rio yang duduk di sampingnya.
Juna menggeleng pelan. "Gak apa-apa."
"Bohong."
Rio mengenal ekspresi itu. Biasanya Juna sedang memikirkan sesuatu.
"Gue cuma mikir aja."
"Mikir apa?"
Juna menatap lapangan yang perlahan mulai kosong.
"Kalau kemarin kita kalah, mungkin sekarang posisi kita kayak mereka."
Rio mengikuti arah pandangan Juna. Di sudut lapangan, terlihat beberapa pemain dari tim yang kalah sedang membereskan barang-barang mereka dengan wajah muram.
"Ya bisa jadi."
"Sedih juga ya."
Rio tersenyum kecil.
"Itu yang namanya pertandingan."
Juna menoleh.
"Maksudnya?"
"Semua orang datang dengan harapan menang. Semua orang latihan keras. Semua orang punya alasan kenapa mereka ingin maju ke babak berikutnya."
Rio berhenti sejenak. "Tapi pada akhirnya, gak semua bisa lanjut." lanjutnya.
Juna terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuatnya memahami sesuatu.
Kemarin mereka menang, namun kemenangan itu tidak membuat mereka otomatis menjadi tim terbaik.
Masih ada banyak pertandingan yang harus mereka lewati, masih ada banyak tim kuat yang menunggu.
"Makanya jangan cepat puas." lanjut Rio.
"Gue tahu."
"Bener tahu?"
"Iya."
Rio terkekeh sambil menepuk pundak Juna.
"Bagus."
Tak jauh dari mereka, Genta dan Radi kembali ribut karena memperebutkan sisa camilan yang dibawa Riri.
"Woy itu punya gue!"
"Siapa cepat dia dapat!"
"Itu bukan aturan hidup!"
"Mulai sekarang jadi aturan!"
Riri sampai harus menarik plastik makanan itu sebelum keduanya benar-benar bergulat di tribun. Haqi yang melihat kejadian tersebut hanya memijat pelipisnya.
"Kenapa sih setiap hari mereka ribut terus?"
"Kalau mereka gak ribut malah aneh." jawab Rio santai.
Mereka semua tertawa. Suasana ringan seperti itu membuat rasa lelah seharian terasa sedikit berkurang.
Ketika matahari mulai tenggelam, rombongan Harimau Putih akhirnya bersiap pulang. Sebelum keluar dari gedung olahraga, Alvian memanggil mereka lebih dulu.
"Sebentar."
Mereka langsung berkumpul. Alvian menatap satu per satu muridnya.
"Hari ini kita tidak latihan."
Seketika wajah Radi terlihat lega.
"Alhamdulillah."
"Tapi."
Kata sambung itu langsung membuat semua orang waspada.
"Besok latihan kembali seperti biasa."
Ekspresi lega Radi menghilang seketika. Genta bahkan sampai menepuk pundaknya sambil tertawa.
"Kasihan."
"Diam lo."
Alvian menggeleng pelan melihat tingkah mereka.
"Lihat pertandingan itu baik-baik dan kalian pelajari. Kalian harus belajar dari mereka. Pelajari kelebihan mereka, elajari kesalahan mereka. Karena semakin jauh kita melangkah, lawan yang akan kita hadapi juga semakin kuat."
Semua langsung mengangguk serius. Mereka tahu Alvian benar.
Babak penyisihan pertama memang berhasil mereka lewati, namun perjalanan mereka masih panjang. Sangat panjang.
Dan tanpa mereka sadari, tantangan yang jauh lebih besar sudah menunggu tepat di depan mata.