*Author Pov*
Juna berjalan menuju kantin seorang diri karena Haikal sedang pergi ke toilet dan meminta Juna untuk pergi lebih dulu, sekalian memesankan makanan untuknya juga.
Jam istirahat baru berjalan beberapa menit, tetapi kantin sudah cukup ramai oleh para siswa yang berbondong-bondong mencari makan siang.
Juna berjalan perlahan sambil memikirkan menu apa yang akan ia beli.
Bakso?
Soto?
Atau nasi goreng?
Saat sedang menimbang-nimbang pilihan, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok yang cukup familiar. Sania.
Gadis itu duduk sendirian di salah satu meja pojok kantin sambil memakan makan siangnya.
Tidak ada Febi, tidak ada teman-teman lainnya. Hanya dirinya sendiri.
Juna menghentikan langkahnya sejenak. Melihat gadis itu sendirian membuatnya teringat pada pertengkaran yang terjadi antara Sania dan Riri beberapa waktu lalu.
Sampai sekarang keduanya masih belum berbaikan. Haikal pernah bilang kalau itu memang konsekuensi dari tindakan Sania sendiri.
Juna menghela napas pelan. Sejujurnya ia merasa sedikit tidak enak. Namanya memang bukan penyebab utama pertengkaran mereka, tetapi ia sadar kalau dirinya ikut terseret di dalam masalah itu.
Karena itulah, saat melihat Sania duduk sendirian seperti sekarang, Juna merasa ragu.
Haruskah ia menghampiri? Atau membiarkannya sendiri?
Setelah berpikir beberapa detik, Juna akhirnya memutuskan berjalan ke arah meja itu.
"Hai, San."
Sania yang sedang fokus memakan makan siangnya langsung mendongak. Gadis itu sedikit terkejut melihat Juna berdiri di samping mejanya.
"Oh... hai." sapanya ragu.
"Boleh duduk?" tanya Juna.
Sania mengangguk pelan. "Boleh."
Juna menarik kursi di hadapan Sania lalu duduk. Beberapa detik suasana menjadi canggung. Biasanya kalau mereka berbicara pasti ada Riri atau Febi di dekat mereka. Sekarang hanya ada mereka berdua.
"Sendirian?" tanya Juna akhirnya.
"Iya."
"Febi?" tanyanya lagi.
"Lagi ke perpustakaan katanya."
"Oh." Juna mengangguk pelan.
Sania kembali menyuapkan makanannya. Entah kenapa jantungnya sedikit lebih berisik dari biasanya.
Sudah cukup lama ia menyukai Juna, namun setelah kejadian dengan Riri, ia merasa tidak sebebas dulu untuk mendekati pemuda itu.
Bukan karena Riri melarangnya. Justru karena ia mulai menyadari kalau dirinya sempat bertindak terlalu jauh.
"Lo gimana?" tanya Sania akhirnya.
"Hah?"
"Pertandingan kemarin."
"Oh." Juna tertawa kecil sambil sedikit mengangguk.
"Masih capek." jawabnya lagi.
Sania ikut tersenyum.
"Menang ya?"
"Iya."
"Susah banget?"
"Susah."
Juna bahkan langsung mengangguk tanpa berpikir.
"Sumpah susah banget."
"Padahal kalian menang." ucap Sania sambil tersenyum melihat Juna yang terlihat antusias setelah pertandingan mereka.
"Justru itu masalahnya."
"Maksudnya?"
"Karena hampir kalah."
Sania terkekeh pelan mendengar jawaban Juna.
Juna lalu mulai menceritakan pertandingan mereka kemarin. Tentang bagaimana mereka sempat tertinggal poin. Tentang bagaimana Genta hampir membuat semua orang terkena serangan jantung karena aksi nekatnya. Dan tentang bagaimana mereka berhasil membalikkan keadaan di menit-menit terakhir.
Sania mendengarkan dengan cukup serius, walaupun ia tidak terlalu mengerti sepak takraw, tapi melihat Juna bercerita dengan semangat membuatnya ikut tertarik.
"Lo keliatan seneng banget kalau ngomongin klub."
Juna terdiam sesaat lalu tersenyum. "Iya juga ya."
"Jadi sekarang klub kalian udah lumayan terkenal ya?"
Juna terkekeh mendengar pertanyaan Sania. "Nggak juga."
"Lah kemarin aja gue dengar banyak yang ngomongin kalian."
"Itu karena kita menang satu pertandingan."
"Ya tetap aja."
Sania mengaduk makanannya perlahan. Jujur saja, dulu ia memang memandang klub Harimau Putih sebelah mata.
Bukan karena membenci klub itu.
Tetapi karena ia menganggap mereka hanya sekumpulan siswa yang sedang bersemangat mencoba sesuatu yang baru.
Namun sekarang kenyataannya berbeda. Mereka benar-benar berkembang, bahkan berhasil lolos dari babak penyisihan.
Dan yang paling membuat Sania terkejut adalah melihat seberapa serius mereka menjalaninya.
"Kalian latihan terus ya?"
"Hampir setiap hari."
"Pantes."
"Pantes kenapa?"
"Pantes muka lo makin gosong." jawab Sania asal.
Juna langsung melotot. "Yeeeuhh!"
Sania terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertawa dengan cukup lepas. Juna yang melihat itu ikut tersenyum. Setidaknya suasana tidak secanggung tadi. Ada satu hal yang masih mengganjal di pikiran Juna, tapi ia ragu untuk mengatakannya.
Setelah menimbang-nimbang akhirnya pemuda itu memberanikan diri.
"San."
"Hm?"
"Lo sama Riri masih belum baikan?"
Pertanyaan itu langsung membuat senyum Sania menghilang. Gadis itu menunduk, memainkan sendok di tangannya.
"Belum." jawabnya pelan.
"Oh." Juna tidak tahu harus berkata apa lagi. Namun Sania justru melanjutkan. "Sebenernya gue pengen minta maaf."
Juna sedikit terkejut dengan pengakuan Sania. "Tapi?"
"Tapi gue gak tahu harus mulai dari mana." jawab Sania. Gadis menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapnnya lagi. "Gue udah keterlaluan waktu itu."
Juna memilih diam. Membiarkan gadis itu berbicara.
"Gue marah karena hal yang bahkan kalau sekarang gue pikirin lagi juga kedengarannya konyol." Sania tertawa hambar.
"Dulu gue pikir Riri sengaja deketin lo." akunya tiba-tiba yang membuat Juna hampir tersedak minumannya.
"Hah?"
"Iya."
"Lah kenapa?"
"Ya karena gue bodoh."
Jawaban itu membuat Juna tidak bisa menahan tawanya. Sania langsung melotot pada pemuda di sampingnya.
"Jangan ketawa!"
"Maaf, maaf."
"Tapi serius."
Juna akhirnya mengangguk. Ia mulai memahami kenapa Riri dulu mengatakan bahwa Sania cemburu.Meskipun sampai sekarang Juna masih merasa bingung, karena menurutnya hubungan dirinya dengan Riri tidak pernah lebih dari teman satu klub.
"Sebenernya...," ucap Juna pelan.
"Hm?"
"Riri juga masih kesel."
"Tau."
"Tapi gue rasa dia juga gak benci sama lo."
Sania terdiam mendengar ucapan Juna.
"Kenapa lo bilang gitu?" tanya gadis itu.
"Karena kalau dia beneran benci, dia pasti udah ngomong ke semua orang."
Sania langsung tertawa kecil. Itu memang terdengar seperti Riri.
"Dia masih sering ngomel soal lo sih."
"Wajar."
"Tapi dia gak pernah ngomong kalau mau putus pertemanan sama lo."
Kali ini Sania benar-benar diam. Ada sedikit harapan yang muncul di dalam dirinya. Walaupun kecil. Sangat kecil.
Tak lama kemudian Haikal datang membawa minuman botol di tangannya.
Begitu melihat Juna duduk bersama Sania, langkahnya langsung melambat. Ekspresinya bahkan terlihat seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang aneh.
"Gue ganggu?"
"Enggak." jawab Juna santai.
"Yakin?"
"Iya, udah duduk sini."
Haikal duduk di samping Juna, lalu menatap keduanya bergantian.
"Kenapa?" tanya Juna heran dengan tingkah temannya itu.
"Gak kenapa-kenapa."
"Tampang lo jelas kenapa-kenapa."
Haikal mengangkat bahu. "Gue cuma kaget."
Sania menggeleng geli. "Lebay."
"Iya mungkin."
Meskipun begitu, Haikal diam-diam merasa lega. Karena setidaknya Sania terlihat jauh lebih baik dibanding beberapa minggu terakhir.
Di sisa waktu istirahat mereka. Mereka bertiga habiskan dengan saling mengobrol ringan dan melemparkan beberapa candaan sambil menghabiskan makanan mereka, sampai akhhirnya bel istirahat berakhir akhirnya berbunyi. Siswa-siswa mulai meninggalkan kantin untuk kembali ke kelas masing-masing.
Juna berdiri sambil membawa nampan makanannya.
"Yaudah, gue duluan."
Sania ikut berdiri.
"Gue juga mau balik ke kelas."
Juna sempat berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berbalik.
"San."
"Ya?"
"Coba ngobrol lagi sama Riri."
Sania terdiam.
"Gue gak janji bakal berhasil ngobrol sama dia." ucap gadis itu pelan.
"Gak harus berhasil sekarang." Juna tersenyum kecil lalu melanjutkan, "Tapi setidaknya dicoba dulu."
Sania menatap Juna beberapa detik sampai akhirnya perlahan mengangguk.
"Iya, nanti gue coba."
"Good."
Juna kemudian berjalan pergi bersama Haikal. Meninggalkan Sania yang masih berdiri di dekat meja kantin.
Untuk beberapa saat gadis itu hanya memandangi punggung mereka yang semakin menjauh. Lalu tanpa sadar ia mengeluarkan ponselnya, membuka kontak seseorang. Nama yang selama beberapa minggu terakhir tidak pernah ia hubungi.
Riri.
Jarinya menggantung di atas layar. Ragu. Sungguh ia sangat ragu. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sania merasa dirinya harus mulai memperbaiki semuanya.
Mungkin tidak hari ini, mungkin juga tidak besok. Tetapi cepat atau lambat, ia tahu bahwa dirinya harus menghadapi masalah yang ia ciptakan sendiri. Dan mungkin percakapan singkat dengan Juna hari ini adalah langkah pertama menuju ke sana.
Sementara itu di koridor sekolah, Juna dan Haikal berjalan berdampingan menuju kelas mereka.
"Kok lo tadi bisa tiba-tiba duduk sama Sania?" tanya Haikal.
"Ya ketemu aja, terus ngobrol deh."
"Cuma ngobrol?"
"Iya." jawab Juna santai.
Haikal menyipitkan mata menatap Juna.
"Lo kenapa sih?" tanya Juna risih dengan tatapan Haikal.
"Gak kenapa-kenapa." jawab temannya itu sambil mengedikan bahunya.
"Muka lo jelas kenapa-kenapa."
Haikal tertawa kecil. "Lagian lo memang sering nyeret diri sendiri ke masalah orang lain."
Juna terdiam, lalu ikut mengedikan bahunya pelan. "Mungkin."
Namun jauh di dalam dirinya, ia hanya berharap satu hal. Bahwa suatu hari nanti, saat tim Harimau Putih berhasil melangkah lebih jauh lagi, mereka bisa merayakannya bersama. Tanpa ada lagi jarak yang memisahkan persahabatan yang pernah terjalin begitu dekat.