*Author Pov*
Genta melirik ke arah Riri yang sedang menulis sesuatu di bukunya. Sejak mereka kembali dari kantin siang tadi, gadis itu memang tidak banyak bicara.
Tidak sampai murung, tetapi jelas tidak secerah biasanya. Padahal sebelum berangkat ke kantin, Riri masih sempat bercanda dengan Febi dan mengomel karena tugas sekolah yang menumpuk. Namun setelah melihat Juna duduk bersama Sania, suasana hatinya seperti berubah begitu saja.
Dan yang paling membuat Genta kesal adalah dirinya bisa menyadari perubahan itu dengan sangat jelas. Ia tahu kapan Riri sedang senang. Ia tahu kapan Riri sedang kesal. Bahkan ia tahu kapan gadis itu hanya pura-pura baik-baik saja.
Sayangnya, semakin banyak hal yang ia ketahui tentang Riri, semakin sulit pula baginya untuk mengabaikan perasaannya sendiri.
Genta mengembuskan napas panjang. Entah sudah berapa kali ia melakukan itu hari ini.
"Lo ngapa sih?" tanya teman sebangkunya yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya.
"Hah?"
"Dari tadi hela napas mulu."
Genta menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Galau gw."
Temannya langsung tertawa. "Buset. Seorang Genta galau?"
"Kenapa emangnya?"
"Soalnya biasanya lo yang bikin orang lain galau."
Genta hanya mendecak pelan.
Biasanya ia memang tidak pernah terlalu memikirkan soal hubungan atau perasaan. Jika menyukai seseorang, ya tinggal didekati. Jika tidak berhasil, ya sudah.
Namun kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya ia merasa takut. Takut kalau orang yang ia sukai ternyata tidak pernah melihatnya lebih dari sekadar teman.
"Masalah cewek?" tebak temannya.
Genta mengangguk pelan.
"Kalau orang yang lo suka ternyata suka sama orang lain gimana?"
Pertanyaan itu membuat temannya ikut terdiam beberapa saat.
"Oh." Jawab temannya singkat.
"Nah."
"Emang dia suka sama orang lain?" tanya temannya lagi.
Genta kembali melirik ke arah Riri. Gadis itu masih menulis tanpa menyadari dirinya sedang diperhatikan.
"Gak tahu."
"Lah?"
"Gw beneran gak tahu."
Jawaban itu memang jujur, karena sampai sekarang Riri tidak pernah mengakui apa pun. Tetapi ekspresi wajahnya sering kali mengatakan hal yang berbeda.
Di sisi lain, Riri sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi dirinya menjadi sumber kegelisahan seseorang. Gadis itu masih menatap buku catatannya, meskipun sejak beberapa menit lalu tidak ada satu pun kalimat yang berhasil ia tulis.
Pikirannya terus berputar pada kejadian di kantin. Bukan karena Juna berbicara dengan Sania. Melainkan karena ekspresi Sania yang terlihat jauh lebih ceria dibanding beberapa hari terakhir.
Riri menghela napas pelan. Ia dan Sania memang belum benar-benar berbaikan. Mereka masih berbicara seperlunya di kelas, tetapi hubungan mereka tidak lagi senyaman dulu. Hal itu membuatnya tidak nyaman. Bagaimanapun juga, Sania adalah salah satu teman terdekatnya sejak awal masuk sekolah.
"Ri."
Suara Febi membuatnya tersadar.
"Hm?"
"Lo ngelamun lagi."
"Nggak."
"Bohong."
Riri menoleh malas.
"Ngapain gue bohong?"
Febi menyandarkan dagunya di meja. "Gue penasaran."
"Penasaran apaan?"
"Penasaran kenapa muka lo berubah setiap kali ada Juna."
Riri hampir menjatuhkan pulpennya.
"Apa sih!"
"Nah tuh."
"Apa?"
"Kalau gak ada apa-apa kenapa panik?"
Riri langsung menutup buku catatannya.
"Febi."
"Iya?"
"Diam."
Febi tertawa kecil. "Oke, oke."
Meski begitu, senyum jahil di wajahnya tidak menghilang.
***
Sore harinya latihan kembali berlangsung. Gedung olahraga sudah menjadi tempat yang terasa akrab bagi mereka sekarang.
Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai. Pantulan bola rotan. Teriakan Rio dan Alvian. Semuanya sudah menjadi bagian dari rutinitas mereka.
"Radi! Kaki kiri dulu!"
"Siap!"
"Juna, jangan terlalu buru-buru!"
"Iya, Kak!"
"Haikal, fokus!"
"Fokus kok!"
"Kebanyakan ngomong berarti gak fokus." Teriak Alvian dari pinggir lapangan.
Bahkan Riri yang sedang mencatat jalannya latihan ikut tersenyum melihat ekspresi kesal Haikal.
Latihan hari itu berlangsung cukup lancar. Semangat kemenangan di pertandingan sebelumnya masih terasa.
Meski begitu, Alvian terus mengingatkan mereka untuk tidak cepat puas.
"Kalian baru menang satu pertandingan."
Mereka semua langsung memperhatikan.
"Kalau mau bertahan lebih lama di kompetisi ini, kalian harus terus berkembang."
Rio mengangguk setuju.
"Jangan sampai kemenangan kemarin malah bikin kalian lengah."
"Siap!" jawab mereka serempak.
Setelah itu latihan kembali dilanjutkan. Menjelang waktu istirahat, beberapa anggota tim mulai terlihat kelelahan. Radi bahkan langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai.
"Gue resmi jadi karpet."
"Karpet apaan?"
"Karpet masjid."
"Kenapa masjid?"
"Soalnya pengen rebahan terus."
Semua langsung tertawa mendengar kekonyolan Radi dalam menjawab.
Riri berjalan membawa beberapa botol minuman.
"Nih."
"Terima kasih, Manager tercinta."
"Jangan aneh-aneh."
"Padahal gue tulus."
"Justru itu yang bikin aneh."
Radi langsung pura-pura sakit hati. Sementara itu Genta menerima botol minum dari tangan Riri.
"Thanks."
"Sama-sama."
Mereka sempat saling menatap beberapa detik. Hanya sebentar. Namun cukup membuat Genta kembali mengingat obrolannya dengan teman sebangku tadi siang.
Kalau orang yang lo suka ternyata suka sama orang lain gimana?
Pertanyaan itu masih belum memiliki jawaban. Karena sampai sekarang ia belum benar-benar tahu apa yang dirasakan Riri.
Yang ia tahu hanyalah satu hal. Ia ingin terus berada di dekat gadis itu. Sesederhana itu.
Latihan berakhir ketika matahari mulai tenggelam. Langit sore berubah jingga keemasan. Satu per satu anggota klub mulai membereskan peralatan.
Haikal dan Radi bertugas menggulung net. Juna membawa keranjang bola. Sedangkan Rio membantu Alvian mengecek jadwal latihan berikutnya.
Seperti biasa, Riri sibuk mengumpulkan barang-barang yang tersisa. Saat sedang membawa papan skor kecil, seseorang tiba-tiba mengambil sebagian barang dari tangannya.
"Eh."
"Biar gue bantu."
Riri menoleh dan mendapati Genta sudah berdiri di sampingnya.
"Loh, gak usah."
"Udah, sini."
Tanpa menunggu jawaban, Genta mengambil papan itu. Riri hanya bisa menggeleng kecil. Kadang pemuda itu memang suka bertindak sesuka hati.
Mereka berjalan berdampingan menuju gudang peralatan. Suasana di sekitar mereka terasa tenang. Hanya ada suara langkah kaki dan beberapa anggota klub yang masih berbicara dari kejauhan.
"Ri."
"Hm?"
"Lo masih kepikiran soal Sania?"
Pertanyaan itu membuat Riri sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Genta masih mengingatnya.
"Sedikit."
"Udah coba ngobrol lagi?"
Riri menggeleng. "Belum."
"Kenapa?"
"Gak tahu."
Ia memang tidak tahu harus memulai dari mana. Semuanya terasa canggung sekarang. Padahal dulu mereka bisa mengobrol berjam-jam tanpa masalah.
Genta mengangguk pelan.
"Pelan-pelan aja."
Riri menatapnya. Menunggu Genta melanjutkan ucapannya.
"Kalau emang masih temenan, pasti ada jalannya."
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat hati Riri terasa sedikit lebih ringan.
"Makasih."
Genta tersenyum kecil. "Sama-sama."
***
Seperti biasa, grup klub kembali ramai. Radi mengirim foto dirinya yang sedang berbaring dengan kompres di kaki.
Radi_Boi :
Besok kalau gue gak bisa jalan, tolong dorong pake gerobak.
Haikal :
Males.
Radi_Boi :
Temen macam apa kalian.
Juna :
Temen yang realistis.
Radi_Boi :
Sakit hati gue.
Riri tertawa kecil membaca percakapan mereka. Baru saja ia hendak meletakkan ponselnya, sebuah notifikasi pribadi muncul.
Genta.
Riri membuka pesan itu.
Genta :
Udah makan?
Riri tersenyum kecil.
Riri :
Udah. Lo?
Genta :
Udah juga.
Beberapa detik kemudian muncul pesan lagi.
Genta :
Tadi latihan lumayan ya.
Riri :
Lumayan capek.
Genta :
Yang capek kan kita.
Riri :
Ngurus kalian lebih capek.
Genta :
Ouch.
Riri kembali tertawa. Entah kenapa mengobrol dengan Genta selalu terasa ringan. Tidak ada tekanan. Tidak ada rasa canggung.
Semuanya mengalir begitu saja.
Mereka terus bertukar pesan. Membahas latihan, membahas pertandingan berikutnya, membahas Radi yang selalu punya cara aneh untuk mengeluh. Sampai tanpa sadar waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Genta :
Tidur sana.
Riri :
Lo juga.
Genta :
Siap manager.
Riri :
Jangan telat besok.
Genta :
Kalau telat dihukum gak?
Riri :
Iya.
Genta :
Takut banget.
Riri :
Bagus.
Genta tersenyum sendiri melihat balasan itu. Untuk pertama kalinya sejak siang tadi, pikirannya terasa jauh lebih tenang.
Mungkin memang masih banyak hal yang belum pasti. Mungkin perasaannya masih berjalan sendirian. Tetapi setidaknya hari ini ia berhasil membuat Riri tersenyum. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup. Karena tanpa disadari oleh siapa pun, hubungan mereka perlahan mulai berubah.
Bukan lagi sekadar rekan satu klub, bukan pula sekadar teman yang kebetulan sering bersama. Melainkan dua orang yang mulai menemukan kenyamanan satu sama lain, sedikit demi sedikit, tanpa terburu-buru.