*Author Pov*
Babak penyisihan pertama yang berlangsung selama satu minggu akhirnya selesai. Bagi sebagian tim, minggu itu menjadi akhir perjalanan mereka. Namun bagi Harimau Putih, itu baru permulaan.
Sore itu seluruh anggota klub berkumpul di gedung olahraga sebelum latihan dimulai. Pak Ridwan berdiri di depan mereka dengan selembar kertas di tangannya. Wajah pria itu terlihat jauh lebih cerah dibanding beberapa bulan lalu saat klub sepak takraw mereka bahkan belum memiliki anggota yang cukup.
"Seperti yang sudah kita tahu, babak penyisihan pertama sudah selesai dan tim kita menjadi salah satu tim yang berhasil lolos ke babak berikutnya."
Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. Radi bahkan bersiul cukup keras sampai mendapat tatapan dari Pak Ridwan.
"Walaupun demikian," lanjut Pak Ridwan, "jangan dulu merasa puas. Perjalanan kita masih panjang. Semakin jauh kalian melangkah, semakin kuat lawan yang akan kalian hadapi."
Mereka semua mengangguk, karena mereka sudah melihat sendiri bagaimana kerasnya pertandingan pada babak penyisihan kemarin.
"Lalu berkat hasil yang kalian dapatkan, pihak sekolah memutuskan untuk memberikan tambahan anggaran untuk klub sepak takraw."
"YEES!"
Sorakan langsung pecah. Radi bahkan hampir melompat dari tempatnya.
"Pak, berarti kita bisa beli bola baru?"
"Bisa."
"Net baru?"
"Bisa."
"Jersey baru?"
Pak Ridwan mengangkat alis.
"Itu tergantung anggarannya cukup atau tidak."
"Yah..."
Gelak tawa langsung terdengar dari anggota yang lain. Bahkan Alvian sampai menggeleng melihat tingkah murid-muridnya.
"Satu lagi," ucap Alvian setelah suasana kembali tenang.
"Kalian juga jangan lupa kalau sebentar lagi ada Ulangan Tengah Semester."
Beberapa orang langsung mengeluh.
"Pak..."
"Belum apa-apa udah ngeluh duluan."
"Tapi ujian lebih serem dari pertandingan."
"Radi."
"Iya Pak."
"Diam."
Semua kembali tertawa.
Alvian menatap mereka satu per satu. "Karena ada ujian, latihan tidak akan seintens sebelumnya sampai minggu ujian selesai."
Mata Radi langsung berbinar.
"Alhamdulillah."
"Tapi bukan berarti kalian boleh malas. Kalau nilai kalian ada yang jeblok, saya yang pertama marah."
Wajah bahagia Radi langsung hilang seketika. Rio yang berdiri di samping Alvian hanya terkekeh pelan.
Terkadang ia merasa Alvian memang punya bakat khusus untuk membuat anak-anak itu takut sekaligus hormat.
"Kalau begitu pemanasan."
"Siap!"
Mereka semua segera bergerak ke lapangan. Saat yang lain mulai melakukan peregangan, Juna berjalan menuju gudang untuk mengambil perlengkapan latihan.
Di dekat pintu gudang ia melihat Riri sedang merapikan beberapa papan skor yang mereka gunakan saat pertandingan kemarin.
"Ri."
"Ya?"
"Nanti hati-hati kalau ambil keranjang bola."
Riri mengangkat kepala. "Kenapa?"
"Kemarin si Genta bikin rusak bagian bawahnya."
Dari tengah lapangan terdengar suara protes.
"Woy! Jangan fitnah!"
"Itu emang gara-gara lo."
"Bukan salah gue!"
"Terus salah siapa? hantu?"
Genta langsung menunjuk Radi. "Itu gara-gara dia duduk di atas keranjang."
Radi membela diri.
"Gue cuma duduk bentar."
"Bentar pala lo."
Juna hanya menggeleng geli sebelum kembali menoleh ke arah Riri.
"Pokoknya hati-hati aja."
"Oke."
Jawabannya singkat. Terlalu singkat. Juna sedikit mengernyit. Biasanya Riri akan menimpali dengan komentar atau candaan.
Tapi kali ini tidak.
"Apa?" tanya Riri heran melihat Juna yang masih menatapnya.
"Kenapa lo?" Juna justru balik bertanya pada gadis di depannya.
"Gak kenapa-napa kok."
"Yakin?"
"Iya."
Juna menatapnya beberapa detik. Namun akhirnya ia hanya mengangkat bahu.
"Oke deh." ucapnya.
Setelah itu ia kembali ke lapangan. Sementara Riri kembali menundukkan kepalanya.
Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa sedikit kesal setiap kali melihat Juna terlalu dekat dengan Sania. Padahal ia sendiri tidak punya hak apa pun untuk merasa seperti itu. Tapi justru itulah yang membuatnya semakin kesal.
Di sisi lain, seseorang memperhatikan semua itu. Genta.
Pemuda itu sedang melakukan peregangan ketika tanpa sengaja melihat interaksi singkat antara Juna dan Riri.
Tidak ada yang aneh sebenarnya. Mereka hanya berbicara sebentar. Tetapi Genta cukup mengenal Riri untuk tahu kalau gadis itu sedang tidak berada dalam suasana hati terbaiknya. Anehnya, Juna sama sekali tidak menyadarinya.
"Malah bengong."
Suara Haikal membuatnya tersadar.
"Hah?"
"Mikirin apa?"
"Gak ada."
"Bohoooong." Haikal menyeringai. "Keliatan banget ege."
Genta mendecak. "Latihan aja sana."
"Berarti bener."
"Sana." usir Genta yang membuat Haikal tertawa kecil lalu kembali bergabung dengan yang lain.
Sedangkan Genta hanya menghela napas. Semakin lama, semakin sulit baginya untuk mengabaikan perasaannya sendiri.
Latihan hari itu berlangsung jauh lebih santai. Fokus mereka bukan lagi fisik seperti beberapa minggu terakhir.
Alvian juga lebih banyak memperbaiki teknik dasar dan pola permainan.
"Juna."
"Siap."
"Kalau menerima servis jangan terlalu mundur."
"Siap."
"Radi."
"Iya Pak."
"Jangan kebanyakan ngomong."
"Pak, itu bakat alami."
"Tidak perlu dibanggakan."
Tawa langsung pecah lagi. Suasana latihan terasa jauh lebih ringan dibanding biasanya. Mungkin karena mereka berhasil melewati babak penyisihan pertama atau mungkin karena untuk pertama kalinya mereka benar-benar merasa menjadi sebuah tim.
Saat waktu istirahat tiba, semua langsung duduk berhamburan di pinggir lapangan. Riri membagikan botol minuman satu per satu seperti biasanya.
"Ini."
"Thanks."
"Ini juga."
"Terima kasih manager."
"Radi, kalau minum jangan langsung habis."
"Kenapa?"
"Nanti keselek."
"Tenang."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Radi langsung batuk karena minum terlalu cepat. Semua orang tertawa melihat karna yang begitu cepat hadir untuk Radi..
"Tuh kan." omel Riri.
"Sial."
Rio sampai menepuk-nepuk bahu adik kelasnya itu.
"Lo emang gak pernah belajar ya?"
"Belajar kok."
"Gak kelihatan."
Suasana hangat itu terus berlanjut. Tanpa mereka sadari, klub yang awalnya hanya sekumpulan orang asing kini perlahan berubah menjadi tempat yang selalu mereka rindukan setiap sore.
Menjelang magrib, latihan akhirnya selesai. Mereka mulai membereskan peralatan. Kali ini Genta sengaja berjalan ke arah gudang lebih dulu.
Ia melihat Riri sedang berusaha mengangkat keranjang bola yang cukup berat.
"Sini." ucap pemuda itu sambil mencoba mengambil keranjang yang di pegang Riri.
"Gak usah."
"Udah Sini, gue bantuin."
"Gue bisa kok."
"Riri." Nada suara Genta sedikit lebih tegas.
Mau tidak mau Riri melepaskan pegangannya dan menghela napas panjang. "Nihh, Makasih ya."
"Sama-sama."
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju gudang. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar.
"Lo capek?" Tanya Genta akhirnya.
"Sedikit."
"Kelihatan sih."
Riri terkekeh kecil. "Emangnya kelihatan banget?"
"Iya."
"Parah."
"Enggak juga."
Mereka kembali terdiam. Namun kali ini suasananya tidak begitu canggung seperti tadi. Mungkin justru terasa sedikit lebih nyaman. Seperti dua orang yang sudah cukup sering bersama sehingga tidak perlu terus-menerus mencari topik pembicaraan.
"Ri."
"Hm?"
"Lo lagi banyak pikiran?"
Riri menoleh. Pertanyaan itu membuatnya sedikit terkejut, karena sejak tadi tidak ada seorang pun yang benar-benar menyadari perasaannya. Kecuali Genta.
"Kenapa nanya gitu?" tanya Riri sambil menatap Genta dari samping.
"Insting."
Riri tertawa kecil. "Jawaban apaan tuh."
"Gue serius."
Ia menatap Riri sebentar lalu memalingkan lagi tatapannya ke arah koridor yang sedang mereka lewati. "Gue cuma ngerasa lo lagi gak baik-baik aja." ucap Genta lagi.
Untuk sesaat Riri tidak tahu harus menjawab apa. Karena anehnya, kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat.
Dan tanpa sadar, senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
"Gue baik-baik aja kok." ucap Riri sambil tersenyum tipis.
Genta hanya mengangguk mengerti. Meski dalam hati ia tahu jawaban itu belum sepenuhnya jujur. Namun untuk sekarang, ia tidak berniat memaksa, karena ada beberapa hal yang memang membutuhkan waktu. Dan untuk pertama kalinya, Genta merasa dirinya tidak keberatan untuk menunggu.