Tujuh Puluh Dua

1621 Words
*Author Pov* Priiiit!! Juna, Genta, Radi, Rio, dan Haikal menghentikan latihan mereka. Keringat membasahi kaos yang mereka kenakan. Napas mereka masih memburu setelah hampir satu jam melakukan latihan tanpa banyak jeda. Mereka segera berkumpul mengelilingi Alvian yang berdiri di tengah lapangan sambil membawa papan kecil di tangannya. Alvian memperhatikan satu per satu wajah muridnya. "Cukup untuk hari ini." Kalimat itu langsung disambut suara lega dari beberapa orang. "Alhamdulillah..." gumam Genta sambil memegang dadanya. "Baru juga latihan segitu." komentar Rio. "Segitu kata lo?" protes Genta cepat. "Gue rasa paru-paru gue udah pindah tempat." Tawa kecil terdengar dari anggota yang lain. Alvian menggeleng pelan melihat tingkah mereka. "Kalian jangan senang dulu. Minggu ini kita masih latihan dua kali sebelum masuk masa ujian." "Yahhh..." "Keluhan tidak diterima." potong Alvian cepat. Semua langsung diam. "Justru karena sebentar lagi kalian ujian, latihan kita harus lebih teratur. Jangan sampai setelah ujian badan kalian kaku lagi seperti kemarin habis libur." Radi langsung mengangkat tangan. "Pak, kalau saya belajar sampai malam terus badan saya kaku gimana?" "Pemanasan." "Kalau masih kaku?" "Pemanasan lagi." "Kalau—" "Kalau masih kaku juga berarti kamu kurang gerak." Semua tertawa melihat wajah pasrah Radi. Alvian menutup papan kecilnya. "Sekarang pendinginan. Setelah itu baru pulang." Lima belas menit kemudian latihan benar-benar selesai. Mereka mulai membereskan bola dan perlengkapan yang digunakan. Riri yang sejak tadi mencatat hasil latihan berjalan menuju keranjang bola. Namun sebelum ia sempat mengangkatnya, seseorang lebih dulu mengambil pegangan keranjang itu. "Gue aja." Riri menoleh. Genta sudah dengan sigap mengambil keranjang bola tersebut. "Katanya bawah keranjangnya rusak." "Iya, gue tau." "Kalau jatuh?" "Ya tinggal dipungut." "Sini gue aja, lu pasti capek abis latihan." "Santai aja, udah diem, gue bantu, titik." Riri mendengus pelan walaupun akhirnya membiarkan Genta untuk membawa keranjang itu dan berjalan beriringan menuju gudang. Di belakang mereka, Haikal yang melihat pemandangan itu langsung menyenggol Juna. "Tuh." "Apa?" "Itu." Juna mengikuti arah pandangan Haikal. "Oh." "Cuma oh?" Juna mengangguk. "Iya, terus gue harus bilang apa?." Haikal memutar matanya. Kadang ia benar-benar heran dengan Juna yang bisa sangat peka saat bertanding, tapi sangat tidak peka untuk urusan lain. Setelah latihan berakhir, mereka tidak langsung pulang seperti biasanya. Alvian memang sengaja mengurangi porsi latihan menjelang ujian tengah semester, tetapi itu tidak membuat mereka benar-benar santai. Justru sekarang yang menjadi lawan mereka adalah tumpukan tugas dan materi pelajaran yang mulai berdatangan dari berbagai mata pelajaran. "Besok ada kuis Matematika kan?" tanya Haikal sambil memasukkan botol minumnya ke dalam tas. Radi yang sedang duduk di lantai ruang klub langsung menoleh. "Jangan ingetin gue." "Belajar sana." ucap Haikal santai. "Gue belajar kok." "Kapan?" Radi terdiam beberapa detik. "Minggu lalu." "Itu namanya bukan belajar." Juna yang sedang membereskan sepatu hanya tertawa kecil mendengar perdebatan mereka. Sudah beberapa hari terakhir obrolan mereka lebih banyak berputar soal ujian daripada pertandingan. Bahkan Rio yang biasanya selalu membahas strategi permainan sekarang lebih sering mengingatkan mereka untuk mengerjakan tugas sekolah. "Kalau nilai kalian anjlok gara-gara latihan, Pak Ridwan bisa ngamuk." "Itu yang gue takutkan." sahut Genta. "Kirain takut gak naik kelas." "Kalau gak naik kelas kan masih ada tahun depan." "Logika macam apa itu?" tanya Rio sambil melemparkan tisu pada Genta. Suasana ruang klub terasa jauh lebih santai dibanding beberapa minggu lalu saat mereka sedang menghadapi pertandingan penyisihan. Tidak ada lagi wajah tegang, tidak ada lagi pembahasan soal lawan, tidak ada lagi latihan tambahan sampai malam. Untuk sementara, mereka kembali menjadi siswa biasa. *** Keesokan harinya suasana sekolah jauh lebih ramai. Banyak siswa memanfaatkan jam istirahat untuk belajar kelompok. Perpustakaan yang biasanya cukup lengang mendadak penuh, bahkan beberapa meja di koridor sekolah dipenuhi siswa yang sedang membuka buku. Saat jam istirahat kedua, Juna menemukan Radi dan Genta duduk di tangga belakang gedung sambil membawa buku. Melihat pemandangan itu, Juna sampai berhenti berjalan. "Kenapa?" tanya Radi. "Gue kira kalian bolos." "Kurang ajar." Juna tertawa. "Serius, tumben belajar." Radi langsung menunjuk Genta. "Ini gara-gara dia." "Lah kok gue?" delik Genta pada temannya "Kemarin nilai latihan soal lo kan paling rendah." "Itu fitnah woy." "Pak Kamil sendiri yang ngomong." Genta langsung menutup wajahnya dengan buku. Juna dan Radi tertawa keras melihat reaksinya. Walaupun begitu, Juna akhirnya ikut duduk bersama mereka. Tidak lama kemudian Haikal datang membawa beberapa lembar fotokopi. "Nih." "Apa itu?" tanya Radi. "Rangkuman kisi-kisi ujian." Mata Radi langsung berbinar sambil mengambil kertas tersebut. "Sahabat gueeee." "Bukan buat disalin." "Wah." "Belajar." ucap Haikal lagi. "Wah." Haikal menggeleng pasrah. Kadang ia merasa dirinya seperti kakak yang harus mengurus tiga anak kecil sekaligus. Sepulang sekolah, mereka tidak pergi ke lapangan. Tidak ada latihan hari itu. Juna dan Radi pergi ke toko alat tulis untuk membeli beberapa keperluan ujian, sedangkan Haikal harus mengikuti latihan basket bersama timnya. Genta sendiri pulang lebih awal karena ibunya meminta bantuan membereskan gudang rumah. Untuk pertama kalinya setelah cukup lama, jadwal mereka benar-benar berbeda. Namun anehnya, Juna merasa sedikit tidak terbiasa. Biasanya sore hari selalu diisi suara bola takraw yang dipukul bergantian, biasanya ada teriakan Alvian. Biasanya ada keluhan Radi, atau ocehan Genta yang tidak pernah habis. Sekarang sore terasa jauh lebih sepi. Saat sampai di rumah, Juna langsung membuka buku pelajaran. Namun baru lima belas menit membaca, pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Ia menatap catatan yang ada di depannya, lalu menatap raket pencak silat yang tergantung di dinding. Lalu menatap tas latihan takraw yang berada di sudut kamar. Juna menghela napas pelan. Ternyata menjaga fokus untuk belajar tidak semudah yang ia kira. Malam harinya, Juna mendapat pesan dari Haikal. Hikal : Udah belajar? Juna langsung membalas. Lagi. Tidak lama kemudian muncul balasan. Hikal : Bagus. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedang berusaha membagi waktu antara sekolah dan olahraga. Semua orang juga melakukan hal yang sama. Radi dengan tugas-tugasnya, Haikal dengan basket dan pelajaran, Genta dengan segala kesibukan di rumah dan sekolah. Bahkan Rio yang sudah kelas akhir juga terlihat mulai sibuk mempersiapkan berbagai urusan akademik. Untuk sesaat, Juna menyadari sesuatu. Mungkin inilah bagian yang tidak pernah dilihat orang lain. Orang-orang hanya melihat pertandingan. Melihat kemenangan. Melihat latihan. Namun tidak banyak yang tahu bagaimana mereka tetap harus menjadi siswa biasa di sela semua itu. Tetap mengerjakan tugas, tetap belajar, tetap memikirkan nilai ujian, dan tetap berusaha menyeimbangkan semuanya. Juna menutup buku yang sudah selesai ia pelajari malam itu. Di luar jendela, langit sudah benar-benar gelap. Babak berikutnya memang masih menunggu. Namun untuk sekarang, fokus mereka bukan pertandingan. Melainkan ujian yang tinggal menghitung hari. Karena sebelum menjadi atlet sekolah, mereka tetaplah siswa yang harus bertahan menghadapi satu lawan yang sama menakutkannya. Soal ujian. *** Di perpustakaan, Juna sedang mencari referensi untuk tugas sejarah ketika ia melihat Haikal duduk di meja pojok. Tumpukan buku tepat berada di depannya. Juna langsung mendekat. "Lo lagi ngerjain apa?" "Tugas Biologi, lo udah?." "Belum, mana banyak banget lagi." "Makanya." jawab Haikal sambil tetap mengerjakan tugas tersebut. Juna menarik kursi lalu ikut duduk dan mulai membuka buku tugasnya juga. Beberapa menit kemudian Radi muncul. Lalu disusul Genta. Tanpa direncanakan, mereka berempat akhirnya belajar di meja yang sama. Awalnya cukup tenang. Lima belas menit pertama berjalan normal. Dua puluh menit berikutnya mulai muncul bisik-bisik. Tiga puluh menit kemudian suasana berubah. "Eh ini jawabannya apa?" tanya Radi sambil memperlihatkan pertanyaan soal pada Genta. "Tanya guru." jawab Genta yang masih sibuk menghitung angka-angka di depannya. "Haikal." "Apa?" "Ini maksudnya apa?" "Baca pertanyaannya." "Udah." "Terus?" "Tetap gak ngerti." Haikal memijat pelipisnya. Kadang ia merasa kesabarannya benar-benar diuji saat bersama mereka. Juna hanya terkekeh sambil melanjutkan catatannya. Walaupun sering ribut, belajar bersama seperti ini memang terasa lebih ringan. Riri yang kebetulan lewat perpustakaan berhenti ketika melihat mereka. Dari balik rak buku ia memperhatikan sebentar. Radi sedang menunjuk buku dengan wajah bingung. Genta sibuk mencoret-coret kertas. Juna sedang menjelaskan sesuatu. Sedangkan Haikal terlihat seperti guru les yang hampir menyerah. Riri tidak bisa menahan senyumnya. Pemandangan seperti itu terasa jauh berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Saat klub baru terbentuk, mereka nyaris tidak saling mengenal. Sekarang mereka sudah seperti teman yang terbiasa menghabiskan waktu bersama. Bahkan di luar latihan. "Ngapain berdiri di situ?" Riri menoleh ke arah Rio yang baru datang. "Enggak." Rio mengikuti arah pandang adiknya. "Oh." Pemuda itu juga ikut tersenyum kecil. "Berisik ya?" "Banget." "Tapi lumayan." Riri mengangguk pelan. Lumayan. Mungkin itu kata yang tepat. Karena tanpa mereka sadari, klub yang awalnya hanya berisi orang-orang asing kini perlahan berubah menjadi tempat yang nyaman untuk kembali. Hari-hari menjelang ujian terus berjalan. Tugas mulai menumpuk. Materi pelajaran semakin banyak. Bahkan waktu latihan yang sudah dikurangi tetap terasa sulit untuk dibagi dengan waktu belajar. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh ingin keluar dari klub. Tidak ada yang menyerah. Mereka hanya menyesuaikan langkah. Belajar ketika harus belajar, berlatih ketika harus berlatih. Dan saling membantu ketika ada yang kesulitan. Juna menyadari hal itu saat melihat ruang klub yang mulai kosong. Satu per satu anggota pulang setelah menyelesaikan tugas mereka. Radi membawa tumpukan fotokopi. Genta membawa buku yang akhirnya benar-benar ia pelajari. Haikal yang masih sibuk mengecek catatan. Sedangkan Rio sedang berbicara dengan Alvian mengenai jadwal latihan setelah ujian selesai. Semuanya berjalan seperti biasa. Tidak ada pertandingan. Tidak ada sorak sorai penonton. Tidak ada tekanan untuk menang. Namun justru di momen-momen sederhana seperti inilah mereka semakin terlihat sebagai sebuah tim. Bukan hanya karena bermain sepak takraw bersama. Melainkan karena mereka tumbuh bersama. Dan tanpa mereka sadari, ikatan itu menjadi jauh lebih kuat daripada saat pertama kali klub Harimau Putih dibentuk. Juna menutup bukunya dan menatap lapangan kosong dari jendela ruang klub. Net takraw masih terpasang. Bola-bola latihan tersimpan rapi di gudang. Untuk sementara lapangan itu akan sedikit lebih sepi karena ujian. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang khawatir, karena mereka tahu setelah semua ini selesai, mereka akan kembali ke sana. Kembali berlatih. Kembali berkeringat. Kembali mengejar target berikutnya. Babak kedua masih menunggu. Perjalanan Harimau Putih juga masih panjang. Dan mereka berniat untuk melangkah sejauh mungkin bersama-sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD