Tujuh Puluh Tiga

1357 Words
*Author Pov* Selama latihan dan juga belajar membuat Juna sedikit keteteran dalam mengerjakan keduanya. Terlebih ia juga tidak ingin membuat keluarganya kecewa jika ia mendapatkan hasil ulangan yang tidak baik. "Gimana otak lo?" tanya Haikal yang sedang memakan kacang di sela jam kosong karena guru mereka sedang melaksanakan rapat. "Untung gak meleduk sih. Cuma berasep." jawab Juna ngasal. Haikal terkekeh. "Btw lo masih bakal latihan sampai ujian nanti?" Juna mengangguk. "Iya, karena ini kesempatan yang sudah kami dapatkan dengan susah payah. Klub basket juga kan?" "Yoi, katanya anak kelas satu juga jangan sampai malas hanya karena beberapa yang turun saat pertandingan adalah pemain inti yang memang kelas dua dan tiga." Juna mengangguk paham. "Lo tetep jadi pemain inti klub basket?" "Iya, untuk sementara gue masih jadi salah satu anak kelas satu yang jadi anggota inti bareng Jeno sama Bagas." Juna kembali mengangguk. Sebenarnya ia cukup tidak enak dengan Haikal, karena pemuda itu juga meminta Haikal untuk bergabung di klub sepak takraw. "Ngomong-ngomong lo ada masalah sama Riri?" tanya Haikal tiba-tiba. "Hah?" "Lo ada masalah sama Riri? Kayaknya tuh cewek jutek abis ke lo, kenapa?" Juna mengangkat bahunya. "Enggak tahu. Gue juga bingung." "Terus gimana Riri sama Sania? Masih marahan juga?" "Itu juga gue gak tahu. Waktu kapan hari gitu, pas gue ke kantin duluan, gue ngeliat si Sania masih makan sendiri gitu. Karena gue gak tega dan ngerasa bersalah, jadi gue samperin dia. Dan selebihnya lo kan tahu karena kita makan bareng satu meja. Jadi kalau lo tanya apa Riri masih marahan sama Sania, gue gak tahu." Haikal terdiam beberapa saat. Lalu menatap Juna dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. "Apa?" "Kadang gue heran sama lo." "Kenapa lagi?" tanya Juna bingung. "Lo tuh pinter." "Terima kasih. Gue tau kok kalo gue pinter." "Tapi kadang juga bego." "Hah? maksud lo?" Haikal menggeleng pelan. "Udahlah." "Apaan sih?" "Biarin." Juna hanya bisa mengernyit bingung dengan Haikal. Bel pulang sekolah berbunyi tidak lama kemudian. Suasana kelas langsung berubah ramai. Sebagian besar siswa bergegas membereskan buku mereka. Ada yang langsung pulang, ada juga yang menuju perpustakaan untuk belajar kelompok. Juna memasukkan buku ke dalam tas sambil menghela napas panjang. Mereka berjalan keluar kelas bersama. Di lorong sekolah, siswa-siswa berlalu lalang memenuhi hampir setiap sudut bangunan. Beberapa membawa buku, sebagian lagi sibuk membahas materi yang akan keluar saat ujian. Juna baru saja hendak menuju gedung olahraga ketika seseorang memanggilnya. "Juna." Ia menoleh. Sania berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Oh, Hai San." "Boleh ngobrol bentar?" Juna mengangguk. "Boleh." Haikal yang melihat itu langsung memberi kode seolah berkata gue duluan sebelum pergi meninggalkan mereka. Sania terlihat sedikit canggung. Sudah cukup lama mereka tidak berbicara berdua seperti ini. "Lo sibuk?" "Enggak juga sih." jawab Juna santai. "Oh." Hening sesaat. "Jadi? Ada apa? Lo mau ngomong apa?" tanya Juna saat Sania hanya diam. Sania memainkan tali tasnya pelan. "Sebenernya gak ada apa-apa sih." "Lah?" "Gue cuma mau bilang semangat buat ujiannya." Juna sempat terdiam sebelum tersenyum canggung sambil menggarung rambutnya yang tidak gatal. "Oh. Lo juga." Sania ikut tersenyum. "Dan semangat juga buat pertandingan selanjutnya." "Makasih." "Mudah-mudahan klub kalian bisa terus menang." Juna mengangguk. "Aamiin." Percakapan mereka sebenarnya sederhana. Namun entah kenapa Sania terlihat sedikit lebih tenang setelah mengatakannya. "Yaudah deh, gue duluan." "Oke. Hati-hati." Juna memperhatikan Sania yang berjalan menjauh. Ia tidak tahu kalau dari lantai dua gedung yang berbeda, seseorang tanpa sengaja melihat percakapan itu. Riri. Gadis itu sedang menuju perpustakaan ketika matanya menangkap sosok Juna dan Sania yang sedang berbicara. Ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun melihat mereka berdiri berdua saja sudah cukup membuat perasaannya kembali tidak nyaman. Gadis itu mengalihkan pandangan, lalu memilih melanjutkan langkahnya. Gedung olahraga masih cukup ramai ketika Juna tiba. Rio sudah datang lebih dulu. Begitu juga dengan Radi yang sedang melakukan pemanasan sambil mengeluh. "Kenapa lagi?" tanya Juna. "Paha gue sakit." "Karena kemarin latihan." "Kenapa kita harus latihan?" "Karena ada pertandingan." "Kenapa ada pertandingan?" Rio yang mendengar itu langsung menyahut. "Kalau banyak nanya tambah sepuluh putaran." Radi langsung diam. Juna hanya tertawa sambil melakukan pemanasan. Tidak lama kemudian Genta datang. Pemuda itu membawa buku Matematika di tangannya. Hal yang masih terasa aneh untuk dilihat. Untuk latihan terkahir hari ini Alvian hanya fokus pada pengulangan teknik dasar dan menjaga kondisi fisik mereka. Tidak ada latihan berat. Tidak ada simulasi pertandingan panjang. Namun bukan berarti mereka bisa santai. "Radi, fokus kaki tumpunya!" "Siap!" "Genta, timing!" "Siap!" "Juna, lebih cepat baca arah bola!" "Siap!" Suara Alvian terus terdengar memenuhi lapangan. Rio yang hari itu ikut berlatih juga beberapa kali memberikan koreksi. Sesekali mereka berhenti untuk minum, kemudian kembali mengulang gerakan yang sama. Walaupun melelahkan, semuanya berjalan cukup baik. Hingga akhirnya Alvian meniup peluit panjang. "Berhenti." Mereka langsung menghampiri pelatih mereka. Alvian memperhatikan satu per satu wajah muridnya. "Saya tahu kalian capek." Tidak ada yang membantah. "Saya juga tahu kalian ingin fokus ujian." Mereka tetap diam. "Tapi jangan lupa satu hal." Alvian berhenti sejenak. "Kalian sudah sampai sejauh ini bukan karena bakat saja." Semua memperhatikan. "Kalian sampai di sini karena konsisten." Rio mengangguk pelan. Sedangkan Juna mendengarkan dengan serius. "Jadi walaupun porsi latihan dikurangi, jangan sampai berhenti bergerak." Alvian menunjuk mereka satu per satu. "Lari kecil, stretching, latihan dasar, dan minimal jaga kondisi badan." Mereka mengangguk bersamaan. "Karena setelah ujian selesai, kita akan langsung kembali fokus ke pertandingan." Kalimat itu membuat semangat mereka kembali muncul. Benar, setelah ujian ini selesai. Babak berikutnya sudah menunggu mereka. *** Hari-hari berikutnya berlalu cukup cepat. Materi ujian yang semakin banyak. Tugas semakin menumpuk, bahkan ruang klub kini lebih sering dipakai untuk belajar dibanding rapat tim. Suatu hari Juna masuk ke ruang klub dan mendapati Radi sedang tertidur di atas meja. Buku terbuka di depannya, pulpen masih berada di tangan. Melihat pemandangan itu membuat Juna tertawa kecil. "Radi." panggil Juna namun tidak ada jawaban. "Radi." panggilnya sekali lagi. Sekali lagi Radi sama sekali tidak menjawab. Akhirnya Juna mengambil penghapus lalu melemparkannya pelan. Tepat mengenai kepala Radi. "AWW!" Radi langsung bangun. "Gila lo." "Belajar apa tidur?" tanya Juna langsung. "Belajar." jawab Radi sambil mengucek matanya yang masih berat. "Jelas-jelas lo ngorok." ucap Juna lagi. "Itu proses memahami materi." Juna menggeleng geli. Tak lama kemudian Genta masuk membawa beberapa lembar latihan soal. "Liat nih." "Apa?" "Gue berhasil ngerjain dua halaman." Radi menatapnya. "Sendiri?" "Iya dooongg." ucapnya bangga. "Wihhhh." "Kenapa wih?" "Bangga aja." ucap Radi asal. Penghapus lain melayang ke arah Radi. Kali ini dari Genta. Di tengah kesibukan itu, hubungan Riri dan Sania masih belum benar-benar membaik. Mereka masih bertahan dengan emosinya masing-masing. Febi yang berada di tengah-tengah sering kali menjadi orang yang paling bingung. Kadang ia makan bersama Riri. Kadang bersama Sania. Atau terkadang jika dalam keadaaan yang mengharuskan kedianya untuk duduk bersama, mereka hanya saling diam dalam suasana yang canggung. Riri sendiri mulai mencoba fokus pada hal lain. Pada ujian, pada klub, dan pada tugas-tugas yang harus ia selesaikan. Walaupun sesekali perasaannya masih terusik saat melihat Sania dan Juna berbicara. Sementara itu, Genta mulai menyadari sesuatu. Semakin lama ia memperhatikan Riri, semakin sulit baginya untuk berpura-pura biasa saja. Awalnya ia mengira itu hanya rasa penasaran. Atau sekadar ingin dekat dengan teman satu klub. Namun sekarang ia tidak bisa lagi berbohong pada dirinya sendiri. Masalahnya hanya satu. Juna. Nama itu selalu muncul di pikirannya. Bukan karena Juna melakukan kesalahan. Justru karena Juna tidak melakukan apa-apa, dan itulah yang membuat semuanya terasa rumit. Suatu saat saat mereka berjalan pulang dari latihan, Genta memperhatikan Juna yang sedang berbicara santai dengan Rio di depan. Pemuda itu menghela napas pelan. "Kenapa?" tanya Radi. "Enggak." "Lo ngelihatin Juna mulu." "Enggak apa-apa." "Curiga gue." "Apaan sih." Radi mendorong kesal bahu temannya itu. Sedangkan Radi hanya tertawa. Genta memilih mempercepat langkahnya. Untuk sementara, ia tidak ingin memikirkan hal itu dulu. Ujian saja sudah cukup membuat pusing. Hari-hari terus berjalan. Ujian semakin dekat, dan tanpa mereka sadari, satu fase penting dalam perjalanan mereka perlahan mendekat. Karena setelah semua lembar soal selesai dikerjakan. Setelah semua nilai keluar, setelah rutinitas sekolah kembali normal. Mereka akan kembali berdiri di lapangan yang sama. Mengenakan seragam yang sama, dan berjuang untuk tujuan yang sama. Babak berikutnya dari kompetisi sepak takraw sudah menunggu mereka. Dan kali ini, Harimau Putih datang bukan lagi sebagai tim yang diremehkan. Melainkan sebagai tim yang mulai diperhitungkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD