*Author Pov*
"Ngapain Ri lo bengong gini di sini?" tanya Haikal yang sedang bertugas mengambil buku tugas di ruang guru.
Pemuda itu menatap heran Riri yang sedang berdiri tidak jauh dari ruang guru.
"Lo lagi di hukum apa gimana?" tanya kembali.
"Tadi gw mau ke ruang guru tapi lagi ada rapat. Ini gw baru balik dari wc trus tuh liat anak kucing di sana." jawabnya sambil mengedikan dagunya pada sesuatu yang ada jauh di depan sana.
"Ya samperin gih, ngapa bengong di sini? ntar kesambet lo yang ada." ucap Haikal.
Tanpa berkata apapun lagi, Haikal meninggalkan Riri yang masih berdiri diam. Melihat Haikal pergi ke arah yang sama yaitu ruang guru, Riri berlari-lari kecil mengikuti Haikal.
"Hehe, bareng ya."
Haikal hanya menganggukkan kepalanya, mereka berjalan beriringan menuju ruang guru yang berada di depan sana. Sesekali Riri melirik kearah Haikal. Ia ragu apakah ia harus menanyakan kedekatan Juna dengan Sania akhir-akhir ini pada Haikal yang notabene adalah teman dekat Juna atau kah lebih baik ia tidak usah bertanya?
"Ngapa lo lirik-lirik? Gw tahu kalau gw ganteng, lirik-lirik nanti lo naksir loh."
"Dih pede. Kok lo pede kayak Genta sih? cukup Genta aja yang pede nya selangit. Lo kaga usah ikutan." ucap Riri sambil tertawa geli.
Haikal langsung mendengus. “Jangan samain gue sama makhluk itu. Dia mah udah beda level.”
Riri terkekeh pelan. “Kasihan banget kalau dia denger.”
“Justru harus banget dia denger.”
Mereka terus berjalan menyusuri koridor menuju ruang guru. Suasana sekolah cukup ramai karena jam istirahat belum benar-benar berakhir. Beberapa siswa berlalu lalang membawa buku, sebagian lagi masih sibuk mengobrol dengan teman-temannya.
Riri melirik Haikal lagi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sampai akhirnya Haikal menghentikan langkahnya.
“Kalau ada yang mau di omongin. Ngomong aja dah, gak usah lirik-lirik.”
“Hah?”
“Kalau mau nanya ya nanya. Jangan kayak maling ngincer dompet orang.”
Riri langsung nyengir canggung. “Kelihatan ya?”
“Banget.”
Mereka kembali berjalan. Riri menggigit bibir bawahnya sebentar.
“Kal...”
“Hm?”
“Lo kan temenan deket sama Juna.”
Haikal mengangguk.
“Iya.”
“Nah...”
“Lanjut.”
Riri mendadak bingung sendiri. Tadinya ia ingin bertanya santai, tapi sekarang malah terasa aneh.
“Aduh lupa.”
“Bohong.”
“Beneran.”
“Bohong.” ucap Haikal lagi.
Riri mendecak kesal. “Yaudah iya. Gue mau nanya sesuatu.”
“Silakan.”
Riri menggaruk pipinya pelan.
“Juna sama Sania deket ya sekarang?”
Haikal menoleh menatap Riri dari samping. Tatapannya langsung membuat Riri ingin kabur.
“Cuma itu?”
“Apaan sih?”
“Gue kira pertanyaan penting.”
“Ya itu penting!”
“Buat siapa?”
“Buat... buat gue lah!”
Haikal malah tertawa yang membuat Riri langsung memajukan bibirnya kesal.
“Lo jangan ketawa mulu napa?”
“Maaf. Cuma lucu aja.”
“Apanya yang lucu?”
“Lo nanyanya kayak wartawan infotainment.”
Riri mendengus dengan jawaban asbun pemuda itu. Sementara Haikal akhirnya hanya mengangkat bahu.
“Kalau menurut gue sih biasa aja.”
“Biasa aja?”
“Iya.”
“Tapi mereka sering ngobrol.”
“Karena kita manusia juga butuh sosialisasi, Ri.”
“Makan bareng juga.” ucap Riri lagi seakan mencari jawaban yang dia inginkan.
“Karena kebetulan.”
“Sering ketemu.”
“Karena sekolahnya sama, kan sering ketemu juga sama lo.”
Riri langsung melotot pada Haikal yang selalu punya jawaban masuk akal dengan pertanya-pertanyaan gadis itu.
“Lo bantu siapa sih?”
“Gue bantu logika.”
Mereka berhenti di depan ruang guru. Pintu masih tertutup karena rapat belum selesai, bahkan terlihat beberapa siswa lain juga terlihat menunggu di dekat sana.
Haikal bersandar ke dinding.
“Gue serius, Ri.”
“Apa?”
“Lo terlalu mikirin itu.”
Riri terdiam.
“Kadang orang ngobrol ya cuma ngobrol.”
“Tapi—”
“Dan kadang orang makan bareng ya cuma makan bareng.”
Riri memalingkan wajah.
“Lo gak ngerti.”
“Nah. Berarti ada yang lebih dari itu.”
Riri langsung menggeleng cepat. “Enggak.”
“Bohong lagi.”
“Beneran.”
Haikal hanya tersenyum tipis. Ia tidak melanjutkan godaannya. Karena meskipun Riri terus mengelak, ekspresinya sudah cukup menjelaskan banyak hal.
Tidak lama kemudian rapat selesai. Para guru mulai keluar satu per satu dari ruangan. Haikal segera masuk untuk mengambil buku tugas yang diminta wali kelasnya.
Sementara Riri menunggu di luar. Matanya tanpa sadar kembali melihat ke arah halaman sekolah. Anak kucing yang tadi ia lihat ternyata masih ada.
Seekor kucing kecil berwarna putih-oranye yang sedang duduk di bawah pohon. Riri tersenyum kecil, ia berjalan mendekat.
“Meong...” Kucing itu menatapnya sedikit takut-takut.
“Lucu banget sih lo.”
Riri berjongkok perlahan. Untungnya kucing itu tidak kabur. Ia bahkan mendekat beberapa langkah.
“Laper ya?” tanya Riri sambil membuka tasnya.
Untung masih ada sedikit roti yang belum sempat ia makan. Ia merobek sebagian kecil lalu meletakkannya di tanah.
Kucing itu langsung menghampiri dan mengendus nya sebelum di makan. Riri tertawa kecil melihatnya makan dengan lahap.
“Pantes kurus.”
“Ngapain?”
Suara itu membuat Riri menoleh. Haikal sudah berdiri di belakangnya sambil membawa setumpuk buku di tangannya.
“Kasih makan.”
“Buat gue ada?”
“Enggak.”
“Pelit.”
Riri terkekeh.
“Kucing lebih lucu.”
“Berarti gue jelek?”
“Lumayan.”
“Wah makasih.” jawab Haikal tanpa antusias sama sekali.
Mereka kembali berjalan menuju kelas masing-masing. Sebelum berpisah di persimpangan koridor, Haikal sempat menghentikan langkahnya.
“Ri.”
“Hm?”
“Jangan terlalu dipikirin.”
“Apaan?”
“Yang tadi.”
Riri langsung tahu maksudnya.
“Siapa yang mikirin?”
“Lo.”
“Enggak.”
“Yaudah.”
Haikal tersenyum tipis lalu berjalan pergi meninggalkan Riri yang hanya bisa mendecak pelan.
***
Jam pelajaran berikutnya berjalan cukup lambat. Setidaknya menurut Riri. Buku pelajaran terbuka di depannya.
Guru sedang menjelaskan materi dari depan kelas, namun fokusnya sesekali menghilang. Pikirannya kembali teringat percakapannya dengan Haikal.
Atau lebih tepatnya teringat pada Juna.
Riri langsung menggeleng pelan.
“Fokus, Riri.” gumamnya.
Ia mencoba kembali mencatat materi. Untungnya kali ini berhasil, sampai bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Suara kursi bergeser langsung memenuhi kelas, suara riuh saling mengobrol pun kembali menghiasa ruangan kelas tersebut .
Semua siswa tampak lega.
“Akhirnya selesai juga.”
Febi meregangkan tubuhnya sementara Riri membereskan buku-bukunya ke dalam tas.
“Lo langsung pulang?” tanya Febi.
“Enggak. Gue ada kumpulan dulu.”
“Oh oke.” ucap Febi sambil mengangguk mengerti.
Beberapa detik kemudian suasana menjadi sedikit canggung, karena nama yang tidak disebutkan tetap terasa hadir di antara mereka.
Sania.
Riri diam, bahkan Febi juga ikut terdiam. Sampai akhirnya Febi tersenyum kecil.
“Hati-hati ya baliknya.”
“Iya.”
“Jangan sampai lupa untuk istirahat.”
“Iyaa, iyaaa.”
Percakapan sederhana itu membuat suasana sedikit mencair. Meski begitu, keduanya masih sama-sama berhati-hati. Seolah takut mengatakan hal yang salah.
Gedung olahraga sudah cukup ramai ketika Riri tiba. Rio sedang membantu Alvian memindahkan beberapa bola.
Radi dan Genta masih sibuk bercanda. Sedangkan Juna terlihat sedang melakukan pemanasan ringan bersama Haqi.
“Ri!” Genta langsung melambaikan tangan.
“Kenapa?”
“Liat gue gak?”
“Liat.”
“Ganteng gak?”
Riri langsung memutar mata. “Enggak.”
“Bohong.”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Genta!”
“Siap!”
Rio yang melihat keributan itu hanya menggeleng.
“Lo kalau sehari gak ganggu Riri emang bisa sakit ya?”
“Bisa.” jawab Genta cepat.
Semua langsung tertawa. Bahkan Haqi yang biasanya lebih pendiam ikut tersenyum. Suasana klub memang selalu seperti ini.
Ramai, berisik, tapi menyenangkan.
Riri berjalan menuju meja kecil tempat ia biasa menyimpan catatan. Ia mulai menyiapkan botol minuman dan perlengkapan latihan.
Sesekali pandangannya mengarah ke lapangan. Ke arah para pemain yang sedang berlatih. Matanya sempat berhenti pada Juna.
Pemuda itu sedang berlatih menerima servis. Gerakannya jauh lebih baik dibanding pertama kali bergabung. Bahkan sekarang ia sudah menjadi salah satu pemain yang cukup diandalkan.
Mungkin karena itulah Riri ikut merasa bangga.
“Ngeliatin siapa?”
Suara Genta tiba-tiba muncul di sampingnya membuat Riri hampir melonjak.
“Astaga!”
“Hahaha.” tawa Genta melihat gadis itu yang kaget sambil memegai dadanya.
“Lo bikin kaget!”
“Maaf-maaf. Tapi serius tadi liatin siapa?” tanya Genta sambil sedikit menyeringai.
“Gak ada.” jawab Riri cepat.
“Juna?”
“Bukan.”
“Pasti Juna.”
“Bukan!”
“Berarti Juna.”
Riri mengambil handuk kecil lalu melemparkannya ke arah Genta. Dan tentu saja Genta malah tertawa makin keras.
Latihan berjalan cukup serius. Mengingat babak berikutnya masih menunggu mereka. Alvian juga beberapa kali menghentikan permainan untuk memperbaiki posisi pemain.
“Kaki jangan terlalu maju!”
“Fokus!”
“Jangan diam aja!”
Suara pelatih mereka terus terdengar memenuhi gedung olahraga. Keringat mulai membasahi lantai.
Napas para pemain juga semakin berat, namun tidak ada yang mengeluh. Karena mereka tahu perjalanan mereka masih panjang.
Saat waktu istirahat tiba, semua langsung duduk di pinggir lapangan. Radi menerima botol minuman dari Riri.
“Terima kasih, manajer terbaik.”
“Baru juga dikasih minum.”
“Ya emang terbaik.”
“Penjilat.”
“Enggak kok.”
Rio tertawa kecil melihat tingkah mereka. Di sisi lain, Juna menerima botol minumannya lalu mengucapkan terima kasih seperti biasa.
Sederhana. Tapi entah kenapa membuat Riri tersenyum tipis. Mungkin karena Juna memang selalu begitu. Tidak banyak bicara.
Tapi tidak pernah lupa menghargai orang lain.
Latihan berlanjut sampai menjelang selesai. Ketika semua mulai membereskan peralatan, suasana kembali ramai oleh candaan.
Radi dan Genta berdebat soal siapa yang paling banyak melakukan kesalahan saat latihan. Haikal ikut menimpali.
Rio malah sibuk menertawakan mereka. Sementara Riri memperhatikan semuanya dari kejauhan. Tanpa sadar senyum kecil muncul di wajahnya.
Terlepas dari segala masalah yang sedang terjadi. Terlepas dari konflik dengan Sania yang belum selesai. Dan terlepas dari perasaannya sendiri yang masih membingungkan.
Setidaknya ada satu hal yang pasti. Ia suka berada di sini, bersama mereka, bersama klub yang sudah menjadi bagian penting dari hari-harinya. Dan tanpa ia sadari, dari sisi lapangan, seseorang juga memperhatikannya.
Genta.
Pemuda itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali bergabung dengan keributan teman-temannya. Untuk saat ini, ia tidak ingin memikirkan terlalu jauh.
Karena beberapa hal memang tidak bisa dipaksa. Dan mungkin, ia hanya perlu berjalan sedikit lebih lama lagi.