*Author Pov*
Hari latihan tanding dengan klub Elang akhirnya tiba. Mereka akan bertanding di lapangan sekolah Rio setelah mendapatkan izin dari pihak sekolah. Latihan tanding akan dilaksanakan pukul empat sore. Karena itu, sejak pulang sekolah Juna dan yang lainnya langsung membereskan gedung olahraga. Memasang net, menyapu sedikit area lapangan, juga merapikan bola-bola yang akan digunakan nanti.
Suasana gedung olahraga sore itu terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya. Bahkan semua orang terlihat sibuk dengan tugas masing-masing.
“Ri, lo rapihin bola aja sama buat minum sport drink. Yang masang net biar gue sama Genta,” ucap Radi sambil membawa gulungan net yang siap dibentangkan.
Riri menganggukkan kepalanya. “Oke.”
Gadis itu pun membawa botol-botol minuman milik anggota klub lalu berjalan keluar gedung olahraga untuk mencucinya.
Saat tengah berlari kecil keluar, seseorang memanggilnya dari belakang.
“Eh, tunggu!”
Riri menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Terlihar seorang wanita datang sambil membawa beberapa botol di kedua tangannya.
“Haah… haah… lo larinya cepet juga,” katanya sambil sedikit terengah.
“Lo manajernya klub Elang kan?” tanya Riri. “Ada apa?”
Wanita itu mengangguk.
“Lo mau cuci botol juga kan? gue mau ikut. Gue gak sempet bikin sport drink di sekolah tadi.”
Riri tersenyum kecil dan tersenyum.
“Ohh, boleh.”
Mereka akhirnya berjalan bersama menuju wastafel panjang yang berada di luar gedung olahraga.
Sore itu udara terasa cukup hangat. Matahari mulai turun perlahan, meninggalkan cahaya jingga samar di halaman sekolah.
“Gue denger dari kapten klub, ini latihan tanding kedua kalian ya?” tanya wanita itu sambil mulai mencuci botol yang ia bawa.
“Iya,” jawab Riri. “Yang pertama lawan White Lily.”
“Ahhh… White Lily.” Wanita itu mengangguk paham. “Klub pendatang baru yang memang cukup susah dilawan.”
Riri tertawa kecil.
“Lumayan bikin panik juga sih waktu itu.”
Wanita itu ikut tertawa.
“Ngomong-ngomong, nama gue Putri,” katanya sambil mengulurkan tangan yang sudah dikeringkan. “Lo Riri kan? salam kenal ya.”
“Salam kenal juga.”
“Oh iya,” lanjut Riri penasaran. “Kenapa lo datang duluan? padahal anak-anak klub lo belum datang.”
Pasalnya Putri memang sudah ada sejak mereka masih membereskan gedung olahraga tadi.
“Rencana awalnya gue datang bareng anak-anak klub,” jelas Putri panjang lebar. “Tapi habis pulang sekolah gue ada urusan gak jauh dari sini. Jadi sekalian aja langsung ke sini sambil bawa tas yang udah gue siapin dari semalam.”
“Ohh gitu.”
“Ya tentunya setelah izin sama ketua klub dulu sih,” tambah Putri sambil terkekeh kecil.
Riri ikut tertawa kecil mendengarnya.
Mereka pun lanjut mengobrol santai sambil mencuci botol-botol yang akan digunakan nanti. Sesekali obrolan mereka diselingi tawa kecil yang membuat suasana terasa lebih nyaman walaupun baru saling mengenal.
“Jujur aja ya,” ucap Putri tiba-tiba. “Gue lumayan penasaran sama klub kalian.”
Riri menoleh.
“Kenapa?”
“Soalnya belakangan nama klub kalian lumayan sering dibahas.”
“Dibahas gimana?”
“Katanya klub kalian baru aktif lagi, tapi perkembangannya cepet.”
Riri tersenyum kecil mendengar itu.
“Anak-anaknya emang niat banget latihan.”
“Kelihatan sih,” jawab Putri sambil melirik ke arah gedung olahraga. “Tadi gue liat dari luar aja udah rame banget.”
Riri ikut menoleh ke arah gedung olahraga.
Dari luar saja sudah terdengar suara Radi dan Haikal yang entah sedang berdebat soal tinggi net.
“Woy! ini udah miring!” teriak Haikal dari dalam.
“Bukan miring, lo aja yang berdirinya gak lurus!” balas Radi.
Putri langsung tertawa kecil.
“Anak klub lo rame juga ya.”
“Banget,” jawab Riri cepat sambil menghela napas pasrah. “Kadang berisiknya bikin pusing.”
“Tapi seru.”
Riri terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Iya sih.”
Entah kenapa sejak bergabung di klub itu, hari-harinya memang terasa jauh lebih ramai dari sebelumnya.
Setelah sekitar sepuluh menit, mereka pun selesai mencuci botol dan kembali masuk ke dalam gedung olahraga bersama-sama.
Namun setelah masuk, mereka langsung berpisah menuju area klub masing-masing.
Riri segera membuat sport drink langsung di dalam botol milik anggota satu per satu. Ia sudah hafal botol milik siapa saja bahkan tanpa perlu melihat nama.
Sesekali ia menuliskan sesuatu di papan kecil yang ia gunakan untuk mencatat kebutuhan latihan.
Sementara itu di tengah lapangan, Genta dan Radi masih sibuk memasang net.
“Tarik dikit lagi!”
“Lo aja sini yang tarik!”
“Yaelah sensitif amat.”
Riri hanya menggeleng kecil melihat mereka.
Tak lama kemudian Juna datang menghampiri meja manajer sambil mengusap keringat di lehernya.
“Ri, minum gue yang mana?”
Riri menunjuk salah satu botol.
“Yang tutup hitam.”
“Thank you.”
Namun baru saja Juna hendak mengambilnya, tangan lain lebih dulu meraih botol itu.
“Punya gue ternyata.”
Genta langsung meminum isi botol tersebut santai.
“Itu punya Juna!” protes Riri cepat.
Genta berhenti minum lalu menatap botol di tangannya.
“Hah?”
Juna langsung tertawa melihat ekspresi panik Genta.
“Makanya jangan asal ambil.”
“Anjir, gue kira punya gue.”
Riri langsung tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak sibuk tadi.
“Makanya dilihat dulu.”
“Yaudah sini tuker.”
Genta menyerahkan botol itu pada Juna dengan wajah tidak bersalah.
“Tenang aja Jun, belum gue ludahin.”
“Najis.”
Tawa kecil kembali terdengar di sekitar mereka.
Suasana yang awalnya cukup tegang karena latihan tanding perlahan berubah lebih santai.
Riri melirik sekilas ke arah Putri yang juga sedang menyiapkan beberapa barang sambil sesekali berbicara dengan anggota klubnya.
Tak lama setelah semuanya selesai, Rio akhirnya menyuruh anak-anak yang lain melakukan pemanasan.
“Oke, semuanya pemanasan dulu!” serunya.
Juna dan yang lainnya segera melakukan peregangan lalu berlari kecil mengelilingi lapangan. Sementara Rio berdiri di pinggir lapangan memperhatikan semuanya dengan serius. Tatapannya beberapa kali berpindah dari satu pemain ke pemain lainnya.
Ia tahu latihan tanding kali ini penting untuk mengukur kemampuan tim mereka sejauh ini. Sekitar setengah jam kemudian, anggota klub Elang akhirnya datang lengkap. Mereka membawa beberapa tas besar dan bola rotan tambahan.
Suasana gedung olahraga terasa semakin penuh. Ketua klub Elang berjalan menghampiri Rio sambil tersenyum ramah.
“Terima kasih sudah ngajak kami latihan tanding,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. “Semoga kita bisa main secara jujur dan adil.”
Rio langsung menyambut uluran tangan itu dengan semangat.
“Tentu,” jawabnya sambil tersenyum lebar. “Semoga latihan hari ini sama-sama bermanfaat buat tim kita.”
Mereka berjabat tangan dengan mantap.
Sementara di belakang Rio, anggota tim yang lain mulai bersiap di posisi masing-masing. Juna menarik napas panjang.
Radi memukul pelan kedua pipinya sendiri agar lebih fokus.
Sedangkan Genta terlihat meregangkan bahunya sambil sesekali bercanda dengan Haikal untuk mencairkan suasana.
Riri yang berdiri di dekat bangku pemain memperhatikan semuanya perlahan.
Entah kenapa, melihat tim mereka berdiri di lapangan seperti ini membuat dadanya ikut terasa penuh semangat.
Karena beberapa bulan lalu, klub ini bahkan nyaris tidak dianggap ada.
Namun sekarang mereka sudah sampai di titik ini.