Lima Puluh

1106 Words
*Author Pov* Latihan tanding kali ini dimenangkan oleh Elang. Tidak seperti sebelumnya, walaupun tim Juna kalah dari White Lily, selisih skor mereka tidak terlalu jauh. Namun hari ini berbeda. Sejak babak pertama dimulai, Harimau Putih benar-benar kesulitan mengejar ritme permainan Elang. Serangan mereka beberapa kali berhasil dipatahkan dengan mudah. Bahkan pertahanan tim Elang terasa jauh lebih rapat dibanding lawan-lawan mereka sebelumnya. Hingga peluit akhir dibunyikan, skor mereka tertinggal cukup jauh. Suasana lapangan langsung dipenuhi suara napas lelah para pemain. Beberapa menjatuhkan diri ke lantai lapangan begitu pertandingan selesai. Haikal bahkan langsung terlentang sambil mengangkat tangan. “Gue mau mati aja rasanya,” keluhnya dramatis. “Lebay,” sahut Genta sambil duduk di dekat net sambil mengusap wajahnya dengan handuk. Walaupun begitu, napasnya sendiri terdengar cukup berat. Juna duduk sambil menunduk. Keringatnya membasahi pelipis dan lehernya. Dadanya bahkan masih naik turun karena permainan tadi benar-benar menguras tenaga. Di sisi lain, Rio terlihat berbaring di pinggir lapangan sambil menatap langit-langit gedung olahraga. Wajahnya penuh keringat namun bibirnya justru membentuk senyum tipis. Capek. Tapi seru. Suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Rio menoleh dan mendapati Gusti, ketua klub Elang, berdiri sambil menyilangkan tangan di d**a. “Gue akui tim lo hebat,” ucap Gusti sambil tersenyum miring. Rio langsung terkekeh kecil. “Thanks.” “Next kita siap latihan tanding lagi sama kalian.” Rio pun bangkit duduk sebelum akhirnya berdiri berhadapan dengan pemuda itu. Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar. “Tentu! gue juga berharap kita bisa latihan tanding lagi setelah pertandingan antar sekolah nanti.” Gusti menyambut uluran tangan itu mantap. “Kita gak sabar buat ngelawan kalian secara resmi di sana.” Rio tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya. “Gue yakin gue bisa ngelewatin kalian semua.” Senyum meremehkan kembali terlihat di wajah Gusti. “Kalau begitu gue sama anak-anak harus latihan ekstra keras supaya gak disusul sama lo dan tim lo.” Mereka berdua tertawa kecil. Walaupun tadi mereka bermain serius di lapangan, suasana di luar pertandingan tetap terasa santai dan penuh respek. Tak lama kemudian beberapa anggota klub Elang mulai memanggil Gusti untuk segera berganti baju. “Oke, gue duluan,” ujar Gusti. “Sip.” Sebelum pergi, Gusti sempat melirik ke arah anggota tim Harimau Putih yang masih kelelahan di pinggir lapangan. “Tim lo punya potensi gede,” katanya lagi pada Rio. “Tinggal dibentuk aja mental mainnya.” Setelah mengatakan itu, Gusti pun pergi menyusul anggota timnya. Rio memperhatikan punggung pemuda itu beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil sendiri. Ucapan tadi bukan sekadar basa-basi. Dan Rio tahu itu. “Woy kapten.” Suara Haikal membuat Rio menoleh. “Apa?” “Lo masih sanggup berdiri gak?” Rio langsung melempar handuk kecil ke arah Haikal. “Bacot.” Tawa kecil langsung terdengar di antara mereka. Walaupun kalah cukup telak, entah kenapa suasana mereka tidak benar-benar buruk. Memang ada rasa kecewa, tapi di saat yang sama, mereka juga sadar kalau pertandingan tadi memberi banyak pelajaran. “Gila sih,” gumam Radi sambil duduk selonjoran. “Servis mereka susah banget ditebak.” “Iya,” sahut Juna pelan. “Sama pertahanan mereka rapet.” “Makanya tadi gue bilang jangan asal maksa nyerang,” timpal Haqi yang sejak tadi berdiri sambil memperhatikan mereka. Genta mengangguk kecil. “Tapi kita sempet beberapa kali nembus pertahanan mereka kok.” “Walaupun ujungnya mental lagi,” balas Haikal cepat. “Heh, diem.” Riri yang sedari tadi mencatat skor pertandingan hanya tersenyum kecil melihat mereka saling menyalahkan setengah bercanda seperti itu. Walaupun wajah-wajah lelah jelas terlihat, suasana tim mereka masih tetap hangat. Tidak ada yang benar-benar marah satu sama lain. Pak Alvian yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya bertepuk tangan pelan. “Oke, kumpul dulu semuanya.” Mereka pun bergerak mendekat walaupun masih dengan napas yang belum benar-benar stabil. Pak Alvian berdiri di tengah mereka sambil melipat kedua tangan di d**a. “Memang sayang sekali di latihan kali ini kita tertinggal cukup jauh,” ucapnya tenang. “Tapi tentu saja ini juga jadi pengalaman yang sangat baik buat kalian.” Semua langsung diam mendengarkan. “Hari ini kalian menghadapi lawan yang jauh lebih disiplin,” lanjutnya. “Dan kalian juga bisa lihat sendiri di mana kelemahan tim kita.” Radi menunduk kecil sambil mengusap tengkuknya yang basah keringat. “Kita terlalu gampang panik waktu ditekan,” gumamnya pelan. Pak Alvian mengangguk. “Itu salah satunya.” Ia lalu melirik satu per satu anggota timnya. “Tapi gue juga lihat perkembangan kalian.” Semua kembali mengangkat kepala. “Hari ini kalian memang kalah jauh,” lanjutnya lagi. “Tapi kalian gak nyerah sampai akhir.” Kalimat itu membuat beberapa dari mereka sedikit tersenyum kecil. “Dan itu penting.” Pak Alvian berjalan pelan mendekati net. “Hari ini kita kesulitan mendobrak pertahanan mereka,” katanya lagi. “Tapi justru dari situ kita bisa belajar gimana cara ngebongkar pertahanan lawan yang kuat.” Juna memperhatikan pelatihnya dengan serius. “Kalian masih baru,” lanjut Pak Alvian. “Jadi jangan terlalu keras sama diri sendiri.” Suasana mendadak lebih tenang. “Gue lebih seneng lihat kalian kalah sambil belajar dibanding menang tapi gak berkembang.” Haqi mengangguk kecil setuju mendengar itu. “Yang penting sekarang,” sambung Pak Alvian, “kita evaluasi permainan hari ini.” “Siap!” jawab mereka hampir bersamaan. Pak Alvian tersenyum puas. “Nah gitu dong. Kita harus lebih semangat lagi.” Setelah briefing kecil selesai, mereka akhirnya mulai membereskan gedung olahraga kembali. Riri kembali mengumpulkan botol-botol minuman. Sementara yang lain membantu melepas net dan mengangkat keranjang bola. “Capek banget anjir,” keluh Haikal lagi sambil membawa keranjang bola. “Dari tadi ngeluh mulu kerjaannya,” ujar Genta sambil terkekeh. “Ya abis emang capek!” “Makanya latihan.” “Heh, kaya lo gak capek aja.” Genta hanya tertawa kecil sambil menggulung net bersama Radi. Sedangkan dii sisi lain, Juna membantu Riri memindahkan papan skor ke pinggir lapangan. “Ri.” “Hm?” “Makasih ya.” Riri menoleh bingung. “Makasih buat apa?” “Udah bantu kita nyiapin semuanya.” Riri tersenyum kecil. “Kan emang kerjaan gue sebagai manajer kalian.” Juna ikut tersenyum tipis sebelum kembali membantu membereskan barang-barang lainnya. Tidak lama kemudian anggota klub Elang berpamitan pulang lebih dulu. Putri bahkan sempat melambaikan tangan kecil pada Riri sebelum pergi meninggalkan gedung olahraga. “Dadah! next ketemu lagi ya!” “Iya!” Suasana gedung olahraga perlahan mulai sepi. Satu per satu lampu mulai dimatikan. Walaupun hari itu mereka kalah cukup telak, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar merasa ingin menyerah. Karena justru dari kekalahan itulah mereka sadar kalau perjalanan mereka masih sangat panjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD