Empat Puluh Lima

1036 Words
*Author Pov* Esok harinya, sesampainya Riri di sekolah, gadis itu berjalan cepat menuju kelasnya. Langkahnya cukup lebar dan tergesa, berbeda dari biasanya. Jujur saja, sejak semalam bahkan dari beberapa hari yang lalu rasa kesal itu belum juga hilang dari hati Riri. Setiap kali mengingat bagaimana ia hampir terlambat datang latihan karena pesan yang tidak disampaikan, dadanya kembali terasa panas. Apalagi setelah ia tahu kalau Juna sudah dua kali memastikan pesan itu pada Sania. Riri juga sadar kalau dirinya juga salah karena tidak mengecek ponselnya. Tapi tetap saja, hal itu terasa keterlaluan baginya. Begitu sampai di kelas yang sudah cukup ramai karena bel pelajaran pertama sebentar lagi berbunyi, Riri langsung melihat Sania yang sedang mengobrol bersama Febi di bangku dekat jendela. Sania tampak biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Namun hal itulah yang justru membuat emosi Riri semakin naik. Alih-alih menghampiri dengan tenang seperti yang sudah ia niatkan tadi, refleks Riri justru menggebrak meja mereka cukup keras. Brak! Suara itu membuat beberapa siswa di kelas langsung menoleh kaget ke arah mereka. Bahkan Febi sampai terlonjak kecil. “Kenapa lo pagi-pagi udah gebrak meja aja?” tanya Febi sambil mengernyit bingung melihat tingkah temannya itu. Namun Riri sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan itu. Tatapannya lurus pada Sania. “Maksud lo apa sih, San?” tanyanya tanpa basa-basi. Sania terlihat sedikit terkejut, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah datar. “Hah? Maksud lo apaan? lo salah minum obat apa gimana?” Riri menarik napas kasar. “Udah deh, gw cuma mau lo jawab cepat dan jujur,” katanya dengan nada tertahan. “Maksud lo apa gak ngasih pesan yang dititip Juna ke lo buat gw?” Untuk sesaat Sania terdiam. Tatapannya berubah sedikit gugup, walaupun cepat-cepat ia tutupi. “Apa maksud lo? pesan apaan?” kilahnya pura-pura tidak tahu. Riri tertawa kecil, tapi terdengar sinis. “Gak usah pura-pura gak tahu deh.” Kini beberapa teman sekelas mulai benar-benar memperhatikan mereka. Suasana kelas yang tadi ramai perlahan berubah lebih hening. Seakan pusat pagi itu adalah mereka berdua. “Gw tahu lo naksir Juna,” lanjut Riri terus terang. “Tapi bukan gini juga dong caranya. Kalau itu pesan penting gimana? hah?” Sania langsung menatap tajam ke arah Riri. “Apaan sih,” balasnya mulai terpancing emosi. “Bukannya itu salah lo sendiri ya karena gak lihat chat grup? terus sekarang lo nyalahin gw karena kesalahan lo sendiri? apa lo gak mikir kalau hal itu juga nyusahin gw?” Riri terdiam sesaat mendengar nada bicara Sania yang mulai meninggi. Namun bukannya mereda, emosinya justru ikut naik. “Oke, gw salah karena gak cek HP gw,” jawabnya cepat. “Tapi bukan berarti lo bisa cuek buat gak nyampein pesan itu ke gw kan?” Riri menatap Sania lekat. “Gw tanya deh, apa gw pernah pura-pura lupa kalau ada temen lo nitip pesan ke lo waktu lo gak bisa dihubungin?” Sania tidak langsung menjawab. Dan diamnya justru membuat Riri semakin kecewa. “Terus sekarang lo begini ke gw?” lanjutnya lagi. “Sumpah, gw gak nyangka.” Febi yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya berdiri dan mencoba menengahi sebelum pertengkaran mereka semakin besar. “Guys, udah, cukup. Kalian jangan keras-keras dulu,” ucap Febi sambil menahan lengan Riri pelan. Ia lalu menatap kedua temannya bergantian. “Jadi sebenarnya ini ada apa sih? kenapa kalian berdua sampai ribut gini?” Riri langsung menjawab lebih dulu, “Ini Sania, kemarin pas jam istirahat Juna titip pesan ke dia buat gw kalau tempat latihan pindah dan bukan di sekolah. Tapi dia gak nyampein itu ke gw.” Nada kesalnya masih sangat terasa. “Gw tahu gw juga salah karena gak ngecek chat grup. Tapi bukannya keterlaluan kalau dia gak bilang apa-apa ke gw?” Febi terlihat mulai memahami situasinya. Ia lalu menoleh ke arah Sania. “Apa bener gitu, San?” Sania menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Iya…” “Kenapa gak lo sampaikan?” tanya Febi lagi. “Waktu itu gw lupa kalau Juna nitip pesan.” “Lupa?” ulang Riri cepat. Gadis itu mendengus kesal. “Sori San, tapi Juna sendiri bilang ke gw kalau dia sampai dua kali memastikan pesan itu ke lo.” Wajah Sania langsung berubah. “Ya terus kenapa?” balasnya mulai defensif. “Cuma gara-gara gitu aja kok lo sewot banget sih?” “Cuma?” Riri menatap tidak percaya. “Kalau bukan Genta yang kasih tahu tempat latihannya pindah, gw bisa telat banget datang ke sana!” “Ya itu salah lo sendiri!” “Point nya bukan di situ!” Suara mereka kembali meninggi. Beberapa murid yang tadinya hanya melirik kini benar-benar memperhatikan. Bahkan ada yang mulai berbisik-bisik kecil. Sania berdiri dari duduknya. Kini tatapannya tajam ke arah Riri. “Latihan, latihan.” ucapnya sinis. “Klub baru kebentuk aja songong banget. Sok-sokan latihan serius.” Riri mengernyit mendengar perkataan dari Sania. Namun sebelum sempat membalas, Sania kembali bicara. “Kayak yakin bakal menang aja.” Namun tanpa Riri sangka kalimat berikutnya yang keluar dengan nada mengejek. “Klub sampah.” Suasana kelas seketika hening. Riri benar-benar terdiam beberapa detik. Syok. Ia tidak menyangka Sania akan berkata sejauh itu. Bukan hanya soal dirinya tapi juga klub yang selama ini mereka perjuangkan bersama. Tangannya sampai mengepal kuat di sisi tubuhnya. “Lo ngomong apa tadi?” tanya Riri pelan, namun nadanya jauh lebih menyeramkan. Sania masih menatapnya tanpa mundur. “Gw bilang klub kalian itu—” “Oke cukup!” Febi langsung memotong cepat sebelum situasi semakin buruk. Gadis itu berdiri di tengah mereka. “Sania, perkataan lo udah keterlaluan,” ucapnya serius. “Sebaiknya lo minta maaf sekarang juga sama Riri.” Namun Sania justru tertawa kecil sinis. “Minta maaf?” ulangnya. Ia meraih tasnya kasar. “Jangan harap.” Setelah mengatakan itu, Sania langsung pergi meninggalkan kelas. Suasana kelas masih terasa tegang bahkan setelah Sania keluar. Riri berdiri diam di tempatnya. Dadanya naik turun menahan emosi. Febi menghela napas panjang. “Ri…” Namun Riri hanya menggeleng pelan. “Gw lagi males ngomong dulu.” Ia lalu berjalan menuju bangkunya sendiri. Meninggalkan banyak tatapan penasaran dari teman-teman sekelas mereka. Dan sejak pagi itu suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD