*Author Pov*
Selama latihan hari itu, Riri sama sekali tidak bisa meredakan rasa marahnya pada Sania. Ia merasa jika Sania sudah keterlaluan, Riri tahu mungkin saja Sania merasa cemburu atau apapun itu tetapi sampai tidak memberikan pesan yang di titipkan, bukankah itu sudah di luar batas? bagaimana jika pesan itu pesan penting?
Riri juga tahu kalau dirinya juga salah karena tidak mengecek ponselnya, tetapi tetap saja hal ini membuat Riri marah pada Sania.
"Ngapa lo masih cemberut aja sih?" tanya Genta saat mereka sedang beristirahat setelah berlatih antar tim seperti biasanya.
"Lo masih kesel sama si Sania?" tanya nya lagi.
"Gimana gak kesel coba? menurut gw dia itu keterlaluan. Oke gw juga salah di sini karena gak ngecek ponsel jadi gak baca chat di grup ataupun chat dari Juna, tapi kan bukan berarti dia bisa bersikap kaya gitu." sungut nya.
"Ya mungkin dia lupa."
"Gak tau deh. Pokoknya gw harus nanya secepatnya kenapa dia begitu sama gw. Kalau alesannya karena dia cemburu sama gw, bulshit banget deh."
"Cemburu sama lo?" tanya Genta sambil mengerutkan keningnya.
"Sania naksir Juna, dan dia ngira gw juga naksir Juna. Padahal gw deket sama Juna juga kaya gw deket sama lo. Kita deket karena satu klub." jelas Riri.
"Heee. Sania naksir Juna toh."
"Kenapa? lo juga naksir Juna?"
"Heh, sembarangan! gw masih doyan cewek ya." jawabnya sambil mengacak-acak rambut Riri gemas.
Genta tersenyum kecil saat melihat Riri misuh-misuh sambil merapihkan anak rambutnya.
"Ngomong-ngomong, nanti abis latihan hari ini gw mau mampir ke toko roti yang baru buka itu. Lo mau ikut gak?" tanya Genta.
Kadang Riri masih saja di buat geli dengan hal-hal yang di sukai oleh Genta. Badan setinggi dan muka lumayan sangarnya itu, ternyata sangat menyukai makanan manis, seperti cake dan roti. Pemuda itu pun tidak malu untuk mampir ke cafe atau toko kue yang biasanya jarang sekali di masuki oleh pelanggan pria.
Namun hal ini yang kadang membuat Riri sedikit tertarik dengan Genta. Pemuda itu seakan tidak peduli dengan tanggapan orang-orang, dia hanya melakukan apa yang dia sukai.
"Boleh, kebetulan gw juga lagi mau makan yang manis-manis." jawab Riri sambil tersenyum kecil.
Genta berdeham pelan ketika pelatih memanggil untuk berlatih kembali.
**
Riri memainkan kaki nya di tanah, seraya menunggu Genta yang tengah berganti baju. Gadis itu menunggu Genta di parkiran motor sambil sesekali memainkan ponselnya.
Satu pesan masuk di w******p nya, pesan itu dari Sania.
|"Besok sebelum latihan gw mau ngobrol sama lo."
Dengan cepat Riri membalas pesan tersebut.
| "Ok, besok di gedung olahraga sebelum latihan."
Pas saat ia mengirimkan pesan itu, Genta datang dengan tas khususnya yang selalu ia bawa saat latihan. Tas berisi seragam sepak takraw nya juga sepatu khusus untuk permainan tersebut. Juga beberapa bola rotan yang sengaja ia bawa, kalau-kalau ia ingin latihan mandiri.
"Lo mandikan?" tanya Riri tiba-tiba.
Genta mendengus pelan lalu tertawa, "Iya lah, gw sama anak-anak itu selalu mandi dulu setelah latihan. Yaaah, walaupun kadang kita langsung pulang juga sih kalau udah terlanjur capek."
Riri menaiki motor Genta dan memegang jok belakang motor tersebut.
"Pegangan yang bener, kalau jatuh gw gak nanggung." kata Genta.
"Duuh udah buruan jalan."
"Pegangan atau gw kebut motor gw?"
Riri berdecak kesal lalu memegang jaket yang di kenakan oleh Genta.
"Riri."
Nada suara tegas Genta membuat Riri mau tidak mau memegang pinggang Genta erat.
Entah kenapa tiba-tiba wajah Riri memenas. Pipi nya mengeluarkan semburat merah dan senyum tipis di bibirnya. Sedangkan Genta, menahan senyum dan menjalankan motornya untuk segera pergi ke toko kue yang mereka maksud.