*Author Pov*
Juna semakin gugup saat mereka berada di bangku pemain, menunggu tim lawan bersiap-siap. Ia tidak menyangka jika yang menjadi lawan mereka adalah pemenang klub antar sekolah daerah beberapa bulan lalu.
Apalagi berada di bangku pemain di hadapan banyak orang seperti ini benar-benar menambah tekanan untuk dirinya. Walaupun ia juga pernah berada di posisi ini saat lomba pencak silat, tetapi bukan berarti ia terbiasa. Justru saat-saat seperti inilah yang tidak di sukai olehnya.
Rio sangat menyadari jika anggota timnya kembali gugup, apalagi setelah tahu jika lawan mereka langsung berlevel cukup tinggi. Jika boleh jujur, ia pun jadi tidak yakin apakah mereka bisa bertanding dengan baik. Tetapi setidak percaya diri Rio, ia tidak ingin membuat anggotanya semakin merasa gugup dan tidak percaya pada kemampuan mereka.
"Kita akhirnya sudah berada di titik ini, walaupun ini baru babak penyisihan pertama, tetapi untuk kita pertandingan ini juga adalah titik awal kita untuk bangkit dan berkembang. Kalah menang bukanlah menjadi prioritas kita sekarang, yang penting kita bermain sebaik mungkin agar tidak mengecewakan orang-orang yang sudah mendukung kita dan mempercayakan kemampuan kita." ucap Rio pada anggotanya.
Alvian pun menyetujui ucapan Rio dan ikut memberikan mereka semangat. Bukan hanya sebagai pelatih, tetapi juga sebagai orang yang mempercayai kemampuan mereka semua.
"Kalian sudah latihan berbulan-bulan untuk hari ini," ucap Alvian.
Pria itu menatap satu per satu anak didiknya.
"Saya tahu kemampuan kalian belum sempurna. Saya juga tahu lawan kita lebih berpengalaman."
Radi menelan ludah. Genta langsung menegakkan punggungnya. Sedangkan Juna menatap lurus ke arah pelatih mereka.
"Tapi pengalaman tidak selalu menentukan hasil pertandingan. Yang menentukan adalah siapa yang mampu bermain lebih tenang dan lebih disiplin saat berada di lapangan."
Alvian menunjuk kepala mereka masing-masing.
"Musuh terbesar kalian sekarang bukan tim lawan."
"Lalu siapa, Pak?" tanya Radi.
"Diri kalian sendiri."
Semua terdiam.
"Kalian kalah sebelum bertanding kalau terus memikirkan seberapa hebat lawan kalian."
Alvian tersenyum tipis.
"Mainkan sepak takraw seperti saat kalian latihan. Jangan mencoba menjadi pemain hebat dalam satu hari."
Ucapan itu membuat suasana sedikit lebih ringan. Rio mengangguk setuju.
"Betul. Jangan mikirin skor. Jangan mikirin penonton. Jangan mikirin kalau mereka juara daerah."
Rio lalu menunjuk ke arah lapangan.
"Fokus satu bola dalam satu waktu."
Juna menarik napas panjang. Perlahan rasa tegang di dadanya mulai berkurang. Tidak hilang sepenuhnya. Tetapi setidaknya ia tidak lagi merasa sesak seperti tadi.
Dari tribun penonton, Riri memperhatikan anggota timnya yang sedang berkumpul. Tangannya menggenggam clipboard yang sejak tadi ia bawa. Jujur saja, dirinya juga ikut gugup. Bahkan mungkin lebih gugup dibanding para pemain.
Karena kali ini ia tidak bisa membantu apa pun saat pertandingan dimulai. Ia hanya bisa menyaksikan, menunggu, dan berharap.
"Lo tegang juga ya?"
Riri menoleh. Di sampingnya ternyata sudah ada Haqi yang baru kembali dari kamar mandi. Entah sudah berapa kali pemuda itu bolak balik ke kamar mandi karena gugup
"Kelihatan banget?" tanya Riri.
"Banget."
Riri menghela napas.
"Gimana gak tegang coba? Ini pertandingan pertama mereka."
Haqi tersenyum kecil.
"Gue juga tegang."
"Loh?"
"Gue kan bagian dari tim juga."
Riri tertawa pelan.
"Kirain Kak Haqi santai aja."
"Santai dari mana?"
Haqi menggeleng.
"Kalau mereka kalah gue pasti sedih. Kalau mereka menang gue pasti seneng. Sama aja."
Mendengar itu, Riri kembali melihat ke arah lapangan. Entah kenapa perasaannya sedikit lebih tenang.
Di sisi lain arena pertandingan, tim lawan sedang melakukan pemanasan. Beberapa pemain melakukan juggling menggunakan bola takraw.
Ada yang melakukan smash latihan, ada pula yang mencoba servis berkali-kali.
Gerakan mereka terlihat sangat rapi. Sangat terbiasa, sangat terlihat lebih berpengalaman.
Radi yang melihat itu langsung menepuk bahu Juna.
"Jun."
"Hm?"
"Kalau gue pingsan nanti, tolong bawa pulang ya."
Juna langsung menahan tawanya.
"Lo lebay."
"Serius."
"Please jangan bikin gue tambah gugup ya!."
"Yeuuu kocak!"
Genta yang mendengar percakapan mereka langsung ikut menyahut.
"Kalau lo pingsan gue foto dulu."
"Woy!"
"Terus gue jadiin wallpaper grup."
"Kurang ajar!"
Rio yang mendengar mereka mulai bercanda akhirnya tersenyum lega. Setidaknya suasana hati timnya perlahan membaik.
Tidak lama kemudian terdengar suara panitia melalui pengeras suara.
"Pertandingan berikutnya akan segera dimulai. Mohon seluruh pemain bersiap memasuki lapangan."
Jantung Juna kembali berdetak lebih cepat. Ini dia saat yang mereka tunggu-tunggu, sekaligus saat yang mereka takuti.
Alvian berdiri.
"Oke."
Semua langsung fokus.
"Kita masuk lapangan."
Juna berdiri terlebih dahulu. Disusul Radi, lalu Genta.
Mereka saling menatap sebentar, namun tidak ada yang saling berbicara. Tetapi masing-masing memahami perasaan yang sama.
Gugup, tegang, bersemangat, takut, dan antusias saling mereka rasakan sekarang.
Semuanya bercampur menjadi satu. Rio melangkah mendekati mereka.
Ia mengulurkan tangannya ke tengah.
"Harimau Putih."
Seketika yang lain ikut menumpukkan tangan mereka.
"Harimau Putih!"
teriak mereka bersama.
"Lawan rasa takut kalian."
"Siap!"
"Tunjukkan hasil latihan kita."
"Siap!"
"Main sampai akhir!"
"Siap!"
Sorakan kecil terdengar dari tribun tempat Riri duduk. Gadis itu tanpa sadar ikut tersenyum lebar saat melihat mereka berjalan memasuki lapangan pertandingan.
Sorot lampu arena terasa jauh lebih terang dibanding lapangan sekolah. Tribun yang terisi penonton membuat suasana terasa semakin besar.
Langkah Radi sedikit kaku, Genta mencoba terlihat santai walaupun telapak tangannya mulai berkeringat.
Sedangkan Juna terus mengatur napasnya. Ia mengingat semua latihan yang pernah dilakukan.
Semua nasihat Rio, semua arahan Alvian, dan semua kerja keras mereka. Ia tidak boleh menyia-nyiakan itu.
Tim lawan sudah lebih dulu berdiri di sisi lapangan mereka. Salah satu pemain bahkan terlihat sangat percaya diri.
Tatapannya tajam namun sikapnya terlihat tenang. Seolah pertandingan ini hanyalah rutinitas biasa.
Berbeda jauh dengan Juna dan teman-temannya yang baru pertama kali tampil di kompetisi sebesar ini.
Namun anehnya, melihat ekspresi lawan justru membuat Juna semakin tenang. Sebisa mungkin Juna dan yang lainnya berusaha untuk lebih rileks, kalau mereka terus gugup itu sama saja mereka kalah sebelum berperang.
Tidak lama pluit panjang terdengar. Kedua tim dipanggil menuju tengah lapangan.
Seorang wasit berdiri di tengah dan meminta masing-masing kapten untuk berdiri di depannya. Wasit memberikan isyarat untuk mereka berjabat tangan satu sama lain sebagai tanda permainan yang adil dan sportif.
"Gue harap kita bisa saling bermain dengan baik."
"Gue juga."
"Semoga pertandingan kita seru." ucap sang kapten lawan lagi.
Percakapan singkat terjadi di antara kedua kapten klub.
Setelah itu mereka kembali ke posisi masing-masing. Wasit memeriksa susunan pemain.
Petugas pencatat skor sudah bersiap, dan panitia pertandingan memberikan aba-aba terakhir.
Rio berdiri di luar garis lapangan sambil memperhatikan semuanya.
Tangannya mengepal tanpa sadar.
Ini bukan lagi latihan, bukan lagi simulasi, dan bukan pula pertandingan persahabatan melawan White Lily ataupun Elang.
Ini adalah pertandingan resmi pertama mereka.
Langkah awal Harimau Putih untuk kembali dikenal.
Juna menatap bola takraw yang berada di tangan wasit. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Suara penonton mulai memudar di telinganya, yang tersisa hanyalah lapangan, rekan satu timnya, dan bola yang sebentar lagi akan dimainkan.
Wasit mengangkat tangan.
"Kedua tim siap?"
"Siap!"
"Siap!"
Pluit diletakkan di bibir sang wasit.
Juna mengepalkan tangannya. Radi memperbaiki posisi berdirinya. Genta menatap lurus ke depan. Dan tepat saat suara pluit pertama menggema di seluruh arena pertandingan, perjalanan Harimau Putih di kompetisi antar sekolah akhirnya benar-benar dimulai.